Selain sebagai teman berantem lempar-lemparan sandal, rebutan
remote televisi, rebutan jatah makanan dari Bapak kalau beliau pulang dari
suatu acara atau pengajian, salah satu hikmahnya punya adik laki-laki yang
usianya tidak beda jauh denganku adalah aku bisa belajar banyak darinya.
Dari percakapan-percakapan dengannya, aku bisa mengetahui
beberapa hal terkait perempuan dalam pandangan laki-laki. Seperti beberapa
hari lalu setelah aku mengintip WA Stories miliknya. Dari fotonya itu aku
melihat ia berdiri di depan salah seorang syaikh yang terlihat sedang
menandatangani sebuah buku. Aku chat dia.
“Ngengken ne cuy? Ngedeh ttd o? (Ngapain nih cuy?
Minta ttd ya?)” tanyaku.
“Pastilah... Minta ttd sama ulama, bukan sama artis.”
Jleb.
“Haha, mantaaap djiwa. Trus apa tuh kata-kata yang ditulisin
beliau?”
“Itu yang ada di status.”
“Evi gak bisa baca Arab gundul (baca: tanpa harakat).”
“Nasihat takwa, sama nasihat untuk ghodul bashor
(menundukkan pandangan).”
“Ih, kok bisa pas gitu nasihatnya? Wkwk~”
“Soalnya beliau sangat memahami godaan para pemuda, wkwkwk.
Di bookfair banyak akhwat."
“Nah, nah, jangan curi-curi kesempatan sekalipun cuma
bayangan di bookfair.”
“Ya Allaah, godaan itu berat. Nggak cuma di bookfair, di bus
juga kadang.”
“Nunduk dooong~”
“Ya merekanya sih tertutup. Matanya aja yang kelihatan, tapi berias
(dandan).”
Jadi barangkali memang sangat pas, ketika diwasiatkan kepada
adikku kalimat ini oleh Syaikh Wahid Abdussalam Bali (yang kudengar dari adikku
merupakan salah satu ulama dan penulis terkenal di Mesir):
Bisa baca nggak? Kalo nggak, berarti kita sama, hehehe. Ini nih,
ditulisin adikku:
أُوْصِي نَفْسِي وَ إِيَّاكَ بِحِفْظِ اللِسَانِ، وَ
غَضِ البَصَرِ، وَ مُرَاقَبَةِ اللهِ، الفَقِير اِلَى الله، وَاحِيد بَاليِ ٩ ١٤٣ه
“Aku mewasiatkan kepada diriku dan kepadamu untuk menjaga lisan, menundukkan pandangan, dan mendekatkan diri kepada Allah.” --Wahid Bali, 1439 H
Maa syaa Allah, wasiat yang luar biasa. Baarakallaahu fiikum
Syaikh. Semoga selalu menjadi pengingat bagi adikku, bagiku, dan bagi siapa pun
yang membaca ini. kembali ke soal percakapanku dengan adikku, barangkali
kelihatannya itu hanya percakapan biasa. Tetapi bagiku, percakapan itu memiliki
makna yang sangat dalam, juga menjadi sebuah peringatan keras. Tentang
bagaimana seorang perempuan seharusnya menempatkan dirinya ketika berada di
luar rumah. Tentang bagaimana seharusnya laki-laki mengambil alih dunianya
ketika dihadapkan pada sesuatu yang bukan seharusnya ia pandang.
Dear akhawaat, kalau kamu mengatakan bahwa perintah menundukkan pandangan
itu hanya untuk laki-laki saja, maka kamu salah. Ketahuilah bahwa di samping
laki-laki (QS. An-Nur: 30), perempuan juga dihadapkan pada perintah yang sama
terkait menundukkan pandangan itu (QS. An-Nur: 31). Bahkan untuk perempuan
lebih detail lagi daripada itu. Menjaga auratnya kecuali yang biasa tampak, mengulurkan
jilbabnya, juga menjauhkan diri dari segala perasaan ‘ingin dilihat’ oleh yang
bukan mahram.
Sampai di situ kemudian timbul pertanyaan, kenapa sih Islam ngekang
kita banget sebagai perempuan? || Ya nggak laaah, kamunya aja yang suka gagal
paham. :p Makanya jangan lebih suka kepoin artis daripada kepoin Ustadz/Ustadzah
yang luar biasa ilmunya. :p
Permasalahan yang katanya Islam terlalu mengekang perempuan
ini bahkan telah selesai jauuuuh sebelum kita-kita ini dilahirkan. Buktinya?
Ini nih, aku pernah membaca hadits ini di buku Prophetic Parenting: Cara
Nabi Saw. Mendidik Anak karya Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid yang best
seller itu. Sekalian saja yaa kukutip persis hadits-nya di sini karena menurutku
hadits ini lua biasa sekali. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Shahih-nya.
Dari Asma’ binti Yazid Ibnus Sakan ra. bahwasanya ia datang
menghadap Nabi saw. yang saat itu berada di tengah-tengah para Sahabat. Dia (Asma’)
katakan, “Sesungguhnya aku adalah utusan kaum wanita kepadamu. Tidak ada
seorang wanita pun melainkan berkata seperti perkataanku dan berpendapat
seperti pendapatku, bahwasanya Allah swt. telah mengutusmu membawa kebenaran
kepada kaum laki-laki dan wanita. Kami beriman kepadamu dan mengikutimu.
Sesungguhnya kami, kaum wanita, terkurung dan terkungkung di
rumah-rumah kalian, menjadi pemuas syahwat kalian dan anak-anak kalian. Sementara,
kalian wahai kaum laki-laki, diberi kelebihan atas kami dengan shalat Jumat, shalat
jenazah, dan jihad di jalan Allah. Apabila kalian pergi berjihad, kamilah yang
menjaga harta kalian dan mendidik anak-anak kalian. Maka, amalan apa (yang
dapat kami lakukan) sehingga kami mendapatkan pahala seperti pahala kalian, wahai
Rasulullah?”
Rasulullah saw. berpaling ke arah para Sahabat kemudian
bertanya, “Pernahkah kalian mendengar perkataan seorang wanita yang lebih baik
dari pertanyaan wanita ini tentang perkara agamanya?” Mereka menjawab, “Tidak, wahai
Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Pergilah wahai Asma’ dan sampaikanlah
kepada para wanita yang mengutusmu, bahwasanya pelayanan yang baik dari salah
seorang di antara kalian kepada suaminya, mencari keridaannya, dan mengharap
kepuasannya, memiliki pahala yang sama dengan yang engkau sebutkan.”
Maa syaa Allah~ bagian mana coba yang kelihatannya nggak baik untuk perempuan?
Bahkan aktivitasnya di rumah saja pahalanya bisa sedemikian. Justru itu adalah
bentuk penjagaan Islam untuk perempuan. Bukankah perempuan shalihah itu adalah
perhiasan dunia?
Kalau di media sosial gimana? Kalo nggak ikutan update gitu,
ntar jadi kuno dong~
Nah, coba deh kalian kepoin Youtube-nya Hijab Alila. Aku
pernah lihat tim mereka bahas tentang #WanitaBersosmed (ini PR juga buatku
karena aku belum nonton secara lengkap, hehe).
Hm, sejauh yang kualami sih, di era media sosial ini hal itu
menjadi sesuatu yang dilematis. Kita sebagai perempuan juga ingin menjaga diri,
tapi ingin dakwah juga. Di dunia nyata, kita juga ingin berkontribusi untuk
masyarakat. Karena di zaman yang kritis ini, aku pribadi, merasa bersalah jika
mendiamkan semua yang kuketahui padahal itu adalah sebuah kebaikan. Sekarang
hanya masalah eksekusinya yang bagaimana, iya kan?
Lalu, bagaimanapun aku akan selalu berusaha mengingat
kata-kata Ustadz Bachtiar Nasir yang dalam kajian Tadabbur Al-Qur’an tentang kisah
Maryam Ibunda Nabi Isa as., yang sangat taat beribadah di mihrab dan menjaga kesuciannya,
kemudian Allah menurunkan untuknya makanan dari langit. Dari situ kita mendapat
pelajaran bahwa, perempuan sejatinya bisa memperoleh rezeki dengan menyucikan
dirinya. Dan itu juga yang menjadi salah satu sebab kewajiban mencari nafkah
ada pada laki-laki, karena perempuan bisa mendapatkan rezekinya di rumah dengan
menyucikan dirinya. Maa syaa Allah. Tapi ini bukan berarti perempuan
tidak boleh bekerja loh ya, perempuan boleh bekerja selama itu baik bagi
dirinya, tidak banyak mudharatnya, seizin suaminya kalau sudah menikah, dan
yang paling penting tetap harus menjaga kesuciannya.
Maa syaa Allah, memang Allah menciptakan
perempuan dan laki-laki itu untuk saling melengkapi. Dan hukum-hukum-Nya
disesuaikan dengan fitrah mereka. Nah, trus kalo LGBT, siapa melengkapi, siapa yang
dilengkapi ya? Uhm, tapi sejujurnya yang lebih parah sih pendukungnya.
Sekian~ ^^

Maa syaa Allah.. terharu 😢 Barakallahu fiik.. sangat bermanfaat ilmunya. semoga Allah istiqomahkan kita di jalan-Nya. Aamiin ya Rabb
BalasHapus