Pages

Jumat, 17 Agustus 2018

Renungan Hari Kemerdekaan RI ke-73: Menyiapkan Generasi untuk Masa Depan


Belajar memahami apa yang terjadi hari ini adalah ikhtiar untuk memahami sejarah hari ini di masa depan.

Kita tidak tahu seperti apa sejarah hari-hari ini akan ditulis di masa depan. Kelak, anak-anak kita akan bertanya, “Apakah benar dahulu terjadi demikian? Apakah benar peristiwanya demikian?” Aku sendiri banyak menanyakan itu pada ayahku, dan betapa beliau mampu menjelaskannya sebagai seseorang yang pernah hidup di masa itu.

Memori masa kecilku merekam sebuah peristiwa yang tidak kuketahui apa maknanya, tergambar dengan jelas bayangan ketika ayahku menggelindingkan drum-drum minyak tanah jualan kami ke belakang rumah setelah  mengosongkan minyaknya dari drum-drum itu, karena kalau-kalau minyak-minyak itu menjadi suluh untuk membakar rumah kami yang begitu mudah dijangkau karena tepat berada di pinggir jalan lintas kabupaten. Dan soal mengapa kami harus mengungsi tidur di rumah kakek yang jauh dari jalan lintas tersebut. Kata beliau, “Oh, itu zaman ninja. Waktu itu terjadi pembantaian pada para ulama. Mirip seperti yang terjadi belakangan ini.” Kemudian suatu kala, saat aku bertanya perihal sekte-sekte tertentu dalam agama yang dianggap sesat namun masih banyak pengikutnya, beliau mengatakan, “Dulu waktu Evi masih kecil, Bapak bahkan pernah mengalami ‘ketegangan’ yang jauh lebih daripada ini.” Beliau lalu menceritakan pengalamannya, pun demikian cerita dari Ibu.

Setelah dewasa, dalam usaha untuk memahami banyak hal, barulah aku mengerti bahwa setiap apa pun dari keduanya adalah pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Teringat ketika menjelang keberangkatanku untuk menimba ilmu ke Jogja, beliau menyodorkan buku yang aku lupa persisnya apa judulnya, tapi kalau tidak salah, “Bunga Rampai Aliran Sesat di Indonesia”. Aku tak habis pikir, kekhawatiran beliau bahwa aku akan ikut organisasi macam-macam terkesan berlebihan (waktu itu lagi marak-maraknya soal Gafatar kalau tidak salah). Juga, bacaan seperti itu terlalu berat untukku yang saat itu belum terbiasa membaca buku selain buku-buku fiksi. Pada akhirnya buku itu justru tak pernah terbaca hingga hari ini.

Kemudian ketika semester dua, aku mendapat tugas makalah yang luar biasa, kebetulan itu sekaligus tugas untuk akhir semester. Karena sulit mengumpulkan referensi, aku memilih untuk mengerjakannya di rumah. Kampus sudah libur, sementara deadline tugas juga di antara waktu libur itu. Betapa kemudian aku merasakan manfaat dari ‘harta berharga’ ayahku. Ketika aku bertanya referensi tentang suatu topik yang harus kutulis dalam makalah, beliau dengan sigap beralih ke koleksi buku-bukunya sembari mengatakan, “Oh itu, iya itu ada di buku ini.” Aku takjub, membuktikan seorang pembaca sejati yang bisa langsung konek dengan buku yang pernah dibacanya. Dengan segala keterbatasan teknologi, ketaktersediaan toko buku yang benar-benar lengkap di kota kami, tak membatasi ruang beliau untuk belajar. Tak hanya menyiapkan buku-buku sebagai aset generasi, juga pola pikir dan penanaman keimanan yang lahir dari kedalaman pengetahuan. Melihat diriku hari ini adalah tentang apa yang berusaha kedua orangtuaku wujudkan pada anak-anaknya.

Hal yang sama kutemukan dalam buku Prophetic Parenting: Cara Nabi Saw. Mendidik Anak karya Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dikatakan bahwa salah satu dukungan yang baik terhadap anak adalah mendukung anak untuk melakukan kebaikan, misalnya mendorong mereka untuk membeli buku-buku dan mewariskan kepadanya buku-buku yang kita miliki (hlm. 193). Maa syaa Allah, dan bukankah hari ini kita juga hidup dari kitab-kitab warisan para ulama? Dari pemikiran-pemikiran mereka?  Maka sama pentingnya untuk memahami pula apa yang bisa kita pelajari dari ulama dan para intelektual hari ini.

Lantas, jika kita hari ini hanya mengedepankan menjadi hits demi sebuah popularitas, sekadar mengikuti gaya kekinian tanpa menggali ilmu yang ada di dalamnya, dan lupa bahwa setiap diri kita... yang paling dasar, bertugas menyiapkan generasi selanjutnya, akan bagaimana kita di hadapan anak-anak kelak? Bagaimana menjelaskan semua peristiwa-peristiwa hari ini kelak jika kita tidak berusaha memahaminya sejak kita adalah bagian di dalamnya?

Padahal, salah satu tujuan pembentukan keluarga menurut Al-Qur’an adalah untuk melahirkan keturunan-keturunan yang baik (QS. Ash-Shaffat: 100-101, QS. Al-Furqan: 74). Jangan pernah menyerah oleh kegilaan-kegilaan yang terjadi hari ini, karena suatu saat di masa depan, anak-anak kita akan tumbuh dan dibesarkan oleh teknologi dan dunia yang lebih gila dari hari ini. Sudah selayaknya bagi kita hari ini untuk terus belajar, mengkaji, memahami, agar kelak lahir generasi-generasi yang beriman, tangguh, dan penuh budi pekerti; mencintai agama, nusa, dan bangsanya.

Anak-anakku, semoga kelak kalian demikian. :’)

Dirgahayu Republik Indonesia ke-73, aku merenung banyak di peringatan kemerdekaanmu hari ini. Aku barangkali bukan warga negara yang bisa memberikan banyak hal dibanding dengan apa yang telah engkau berikan kepadaku; tapi kelak, akan ada anak-anak bangsa yang jauh lebih bisa memahamimu dibanding aku hari ini. :')


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))