Bagiku, salah satu bagian
penting dari sesuatu adalah tentang bagaimana cara memahaminya. Ketika
orang-orang ingin membuat kita dengan mudah memahami sesuatu, mereka akan
memberi kita perumpamaan-perumpamaan. Seperti mengatakan perlunya sikap rendah
hati dengan mengumpamakan padi yang semakin berisi semakin merunduk. Seperti
menyamakan batu yang retak karena tetes demi tetes air terus jatuh di atasnya untuk
sebuah usaha yang gigih.
Hal-hal demikian terkadang
memang diperlukan, yang dengannya segala sesuatu terasa lebih dekat. Yang
dengannya kita bisa melihat apa-apa yang terjadi di luar diri kita secara
nyata. Yang dengan itu, kita akan jadi lebih memahami hakikat sesuatu. Atau
peristiwa. Apa saja.
Maka pahamilah hujan. Yang
dalam terik berkepanjangan, menantinya membutuhkan kesabaran. Akankah tiba hari
ini? Sesungguhnya tak ada yang benar-benar pasti kecuali hal-hal yang telah
menjadi jaminan.
Hidup setelah matinya; tanaman
yang kita tanam, zaitun, anggur, dan berbagai macam buah-buahan. Hidup setelah
matinya; hujan adalah rahmat yang memuat pesan dari langit. Perumpamaan yang
dengannya Allah ingin kita memahami hakikat sesuatu.
وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً
فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ
يَسْمَعُونَ
“Dan Allah
menurunkan air (hujan) dari langit, dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang
tadinya sudah mati. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).” (QS.
An-Nahl: 65)
Maka pahamilah hujan. Yang
tanpanya, bumi tidak akan mampu bertahan. Yang dengannya, Allah ingin kita memahami
ayat sebelumnya bahwa ibarat bumi yang mati, demikianlah yang terjadi pada
peradaban manusia jika tidak Allah turunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk juga
rahmat.
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلا
لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ
يُؤْمِنُونَ
“Dan Kami tidak
menurunkan kitab (Al-Qur’an) ini kepadamu (Muhammad), melainkan agar engkau
dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, serta
menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS.
An-Nahl: 64)
Pahamilah hujan, yang dengan
kuasa-Nya Allah sendiri yang menyebarkannya di permukaan bumi. Maka tidak
dengan Al-Qur'an, Allah hanya menurunkannya pada satu manusia, Muhammad saw. Betapa
istimewanya. Yang agar dengan Al-Qur'an itu peradaban manusia kembali hidup dan
tertata, akhlak dan moral menjadi baik. Maka, Nabi Muhammad saw. perlu
mengajarkannya ke para sahabat, sahabat ke tabi’in, tabi’in ke tabiut
tabi’in, begitu seterusnya sampai kita hari ini.
Kemudian...
يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ
وَالنَّخِيلَ وَالأعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً
لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dengan (air
hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan
berbagai macam buah-buahan. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.” (QS.
An-Nahl: 11).
Hujan menumbuhkan yang kita
tanam, zaitun, kurma, dan anggur, yang selanjutnya perlu kita rawat. Meski
demikian, entah di kedalaman hutan atau bahkan tempat-tempat yang kita tak
pernah berpikir manusia bisa menjamahnya, selalu ada berbagai tumbuhan yang
tumbuh karena hujan tanpa perlu sedikit pun usaha kita untuk merawatnya.
Maka demikianlah Al-Qur'an itu
bagi kehidupan manusia. Adalah kewajiban kita untuk terus mendakwahkan
ayat-ayat-Nya, menebar benih-benih kebaikan untuk mengajak manusia
mengamalkannya. Kita tidak pernah tahu kelak benih mana yang akan menumbuhkan
keimanan di hati seseorang. Seperti ketika Allah menyebut zaitun, kurma, dan
anggur, di surah An-Nahl ayat 11, maka semuanya ibarat benih kebaikan yang
berusaha kita rawat dan kelak akan menumbuhkan keimanan pada orang-orang terdekat.
Sementara ketika Allah mengatakan “wa min kulli-tstsamaraat (berbagai
macam buah-buahan)”, maka itulah benih kebaikan yang dengan cara Allah bisa
tersebar kepada seseorang yang kita bahkan tidak berpikir pernah mengenalnya.
Meski usaha yang aku, kamu
lakukan untuk menebar benih kebaikan barangkali hanya sedikit, terus lakukan
dan jangan pernah berhenti. Itu akan tetap berarti bagi orang-orang terdekat,
atau orang-orang yang entah berada di mana. Cukup lakuakan tugas kita sebagai umat
terbaik, lalu biarkan hidayah Allah bekerja bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan semoga dengan itu, Allah
hidupkan kehidupan kita dengan rahmat Al-Qur'an. Allah tumbuhkan keimanan
kepada ayat-ayat-Nya sebagaimana Allah tumbuhkan bumi yang tadinya mati dengan
hujan.
* * *
—terinspirasi dari video lecture Ustadz Nouman Ali
Khan “Kemiripan Al-Qur’an dan Hujan” oleh NAK Indonesia yang kutemukan beberapa saat
setelah menulis Cara Memahami Hujan #1. Kemudian, aku juga menonton
versi lengkapnya: The Impact of the Qur'an on Our Lives. Sungguh, apa yang kutulis tidaklah ada
apa-apanya dibanding penjelasan Ustadz Nouman Ali Khan mengenai Al-Qur’an,
hujan, dan bagaimana pengaruhnya bagi kehidupan manusia di bumi. Materinya sangat
kaya dan benar-benar memberikan pemahaman baru tentang sesuatu yang mungkin
kita tidak pernah pikirkan sebelumnya. Recommended!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))