Dedicated for KaKaI Bi...
Oke, aku hanya ingin mengabadikan sekeping kenangan yang baru saja kita ukir lewat sebuah pertunjukan. Drama. Masih ingat bagaimana kita mempersiapkan semuanya dari awal? Semuanya melalui proses dan perjuangan yang panjang, tentu saja. And, here is it~
Ya,
semua proses itu dimulai dari sebuah forum kelas. Menantang hujan deras dan
bahkan tak peduli jika itu hari libur, kami sama-sama menepati janji untuk
datang dan berkumpul bersama di Sportorium untuk membahas segala hal tentang
kelas. Di akhir forum, tercetuslah pembahasan mengenai drama.
“Iya,
aku mikir dari kemarin-kemarin. Kenapa kita belum ada pembahasan sama sekali ya
tentang drama?” Begitulah ucapan Sulis yang kudengar kala itu.
Ketua
kelas kami, Syaiful, pun menawarkan pada forum siapa yang mau menjadi
konseptor. Beberapa orang menawarkan diri, di antaranya Sulis, Arif, dan Mbak
Rosmania. Dan aku adalah orang terakhir yang menawarkan diri bergabung dalam
tim konseptor tersebut.
Pertemuan
pertama antarkonseptor tepat pada hari Senin, di tanggal 15 Desember 2014. Saat
itu Mbak Ros mengajakku untuk bertemu di perpustakaan bersama Sulis sambil
menunggu Arif yang hari itu jadwal siaran radio. Sebelumnya aku dan Mbak Ros
sempat membahas konsep yang yang ditawarkan Mbak Ros dengan sisipan unsur
konselingnya. Pertemuan siang itu terpaksa gagal mengingat jadwal siaran Arif
yang ternyata tak sesuai dengan rencana kumpul kami.
Selepas
kuliah sore, kami akhirnya berkumpul berempat. Sulis menawarkan konsep kerajaan
ditambah dengan sisipan unsur konseling yang tadi siang telah dibahasnya berdua
dengan Mbak Ros. Kami memberikan usul satu sama lain dan terciptalah konsep
cerita yang utuh. Masalah dana? Ya, setelah melalui pertimbangan yang matang,
kami pun berhasil menentukan nominal yang harus dikeluarkan setiap orang demi
terselenggaranya acara tersebut. Keesokan harinya di waktu yang sama, kami
kembali berkumpul. Kali ini bersama ketua kelas dan Inggita, yang kami percaya
untuk menanggungjawabi soal lighting. Hari itu tim konseptor berbagi
tugas, Sulis menjadi koordinator dekorasi, Mbak Ros menulis naskah skenario,
Arif sutradara, dan aku mengurusi bagian keuangan serta mendapat PR dari Mbak
Ros untuk menulis puisi yang akan dibacakan sewaktu pertunjukan.
Setelah
kuliah, kami pun mengadakan sosialisasi ke teman-teman sekelas dibarengi dengan
pembagian naskah yang dikerjakan Mbak Ros dalam waktu semalam. Casting
dipandu oleh sutradara yang didampingi Fitri. Dilihat dari berbagai kriteria
yang telah ditentukan oleh konseptor dengan mengacu pada karakter tokoh dalam
cerita, terpilihlah pemeran-pemerannya. Setelah terpilih pemeran-pemerannya,
barulah kita memutuskan siapa-siapa yang menjadi tim dekorasi dan properti,
paduan suara, pembaca puisi, pewejang akhir, dan dokumentator serta operator.
Latihan
pertama dimulai hari Kamis, 18 Desember 2014. Tiap pemeran dipandu sutradara
untuk melafalkan dan melakukan penjiwaan terhadap dialognya sendiri dengan
benar. Meskipun kami memutuskan untuk menggunakan dubbing, tapi
penjiwaan dan pelafalan dialog tetaplah harus dilakukan untuk memudahkan proses
rekaman. Saat itu tim konseptor dan semua anak bertanggung jawab atas tugasnya
masing-masing. Arif dan Mbak Ros memandu pemain, Sulis dan anggota tim
dekorasinya merancang konsep dekor, dan aku mengurus soal keuangan sembari
membantu melatih Ega membaca puisi. Di sisi lain, tim penari juga sedang
berlatih.
Latihan
dilakukan hampir setiap hari jika ada waktu senggang. Keesokan harinya, Arif
membagikan pada kami naskah skenario yng kini dilengkapi dengan detail adegan
untuk pentas, timing, dan lighting untuk setiap adegan, semuanya
dipetakan. Beberapa hari kemudian, kami pun rekaman dan tim dekor mulai membuat
properti yang akan digunakan untuk pentas.
Kerja
pertama tim dekor adalah membuat tiang-tiang gapura untuk pendopo kerajaan. Tim
dekor yang terdiri dari Sulis, Fitria Kie, Oche, Candra, dan Fendi berkumpul
dan berbagi tugas. Candra membeli bahan dan alat, sementara Oche dan Fendi
memotong dan mengecat gabus yang telah dibentuk dan akan dirangkai menjadi
tiang gapura. Aku yang sedari awal melihat kerja tim dekor menganggap mereka
kompak sekali. Satu sama lain saling berbagi tugas, kadang jadwal mereka
berbenturan dan salah satu tidak bisa hadir. Tetapi, tanpa direncanakan mereka
melakukan kerja shift. Pada saat salah seorang ada waktu senggang, maka ialah
yang mengambil posisi kerja di waktu itu. Di sisi lain juga mereka tak jarang
berkumpul dan bekerja bersama.
![]() |
|
Kerja tim dekor: Oche lagi serius tuh~
|
Di
sela-sela kerja, Sulis mengutarakan idenya padaku, “Aku pengen loh kita itu
kayak benar-benar jadi EO. Kita tunjukkan ke penonton, ini loh KaKaI Bi punya
acara. Ini loh suguhan drama dari kita. Jadi drama ini bukan hanya karena ada
tugas akhir, tapi memang benar-benar kita punya pertunjukan yang dipersembahkan
untuk penonton dan di sana kita jadi EO-nya.” Aku hanya mengiyakan, belum paham
apa yang dimaksud Sulis sampai ia memberikan gambaran, “Nah, ntar kita bikin co-card
buat kru, trus tamu undangan kita kasih snack.”
Yay!
Keren sekali membayangkan kami bisa merealisasikan semua itu. This is us.
KaKaI Bi. Kita punya pertunjukan. Ini drama kita. Kita EO di sini. Kata-kata
itu asli nampol banget. Lagi pula, dari awal sutradara bilang kalau kita jangan
terpaku pada kata tugas akhir, tapi benar-benar kita curahkan semuanya karena
kita bermaksud mempersembahkan yang terbaik untuk penonton.
Latihan,
latihan, latihan. Aku nggak tahu apa yang dirasakan pemain saat itu. Setiap
hari mereka harus latihan. Berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Pada
awalnya basecamp kami adalah Sportorium, tapi akhirnya berpindah-pindah
sampai akhirnya ketika gladi kotor kami latihan di Gedung Student Center. Saat
itu hari Sabtu. H-2 kami tampil. Di latihan terakhir hari itu, sutradara
meminta pemain untuk mengenakan kostum masing-masing untuk proses simulasi,
terutama penari, untuk menghindari hal-hal kecil yang menganggu saat pentas
nanti. Oh iya, masalah kostum, tim wardrobe alhamdulillah punya
link-link tersendiri yang membuat tampilan kami kece badai, hehe. Bahkan ketua
kelas dan sutradara jauh-jauh pergi ke Magelang fitting kostum untuk
pemain.
![]() |
| Tim penari minus Kinanti plus Panglima Prajurit |
![]() |
| Tim paduan suara lagi latihan nih~ |
Selain
proses latihan, terjadi keseruan juga pada proses take video untuk
adegan kesepuluh yang berupa flashback saat Ratu dan Raja memutuskan
untuk membuang bayi Kinanti. Kami mengambil lokasi di daerah Mranggen.
Kebetulan ada spot-spot yang sangat cocok untuk adegan di video tersebut. Taman
kerajaan. Bukit. Hutan. Semuanya berada dalam jangkauan. Di akhir take
untuk adegan pertama, aku iseng bertanya pada sutradara, “Rif, kamu kok bisa
tau ada spot yang pas banget buat taman kerajaan gini sih?” Jawabnya, “Hehe,
iya soalnya kadang kalo aku liat tempat itu pasti aku selalu simpen di otak
trus kepikiran ooh kayaknya ini bagus buat adegan ini, ini, ini, kalo pas bikin
film.” Aku manggut-manggut.
Keseruan-keseruan
itu selain dipicu oleh take satu adegan yang jatuhnya bisa beberapa
kali, kami juga dilihat oleh orang-orang sekitar yang terpana sambil
bertanya-tanya karena kami menggunakan kostum kerajaan di lokasi take
video yang notabene sebagian besar adalah bukit dan hutan.
“Mereka
benar-benar profesional tau. Udah pada dandan semua buat take video pake
kostum masing-masing. Makanya Syaiful nggak bisa ke sini buat tanda tangan
suratnya,” lapor Fitri di siang menjelang sore itu sesaat setelah ia kembali.
Ya, aku memintanya mencari tanda tangan Syaiful untuk surat peminjaman kursi
ruang sidang yang akan kami ajukan. Begitu surat lengkap dengan tanda tangan,
kami pun naik ke lantai satu. Namun sayang, ternyata kami terlambat karena
kantor TU sudah tutup. Pada saat yang sama di tempat yang berbeda, tim dekor
tengah bekerja. Mereka membuat kotak amal, pedang, tameng, dan lain-lain.
Bahkan khusus tim dekor perempuan sampai menginap di satu rumah untuk
menyelesaikan pekerjaan karena banyaknya properti yang kami butuhkan.
Di
hari Sabtu saat pemain dan tim paduan suara latihan di SC, Fitri yang merupakan
anggota tim dekor dan merangkap humas mencoba mengajukan surat peminjaman Ruang
Mini Teater PPB yang nanti akan kami gunakan pentas untuk simulasi latihan
sekaligus gladi bersih sebelum pentas. Tapi lagi-lagi semuanya di luar rencana
karena pada hari Minggu ruangan tersebut akan digunakan untuk acara.
Sore
harinya, sutradara dan Inggita ditemani aku dan Lina meluncur ke Ruang Mini Teater
tersebut untuk memastikan segalanya, mulai dari sound system, lighting,
panggung, sampai kondisi backstage. Kami memutuskan untuk menyewa sound
system dengan patungan antarkelas karena sound system yang
ada di sana ternyata tidak memuaskan.
Keesokan
harinya, kami pun latihan mengambil tempat di lantai 1 Gedung D setelah pindah
dari markas kami sebelumnya di lantai 2 Gedung Student Center. Beruntung saat
kami datang kemarin kami sudah melobi satpam untuk diizinkan menggunakan
ruangan tersebut untuk gladi. And there we are,
kami satu kelas berkumpul di latihan terakhir itu. Tim pemain yang menggunakan
kostum masing-masing, tim paduan suara, dan tim dekorasi dan properti. Saat itu juga tim dekorasi di-briefing
sutradara dan melakukan simulasi untuk properti tiap adegan. Sementara itu,
koordinator dekorasi dan properti memetakan lokasi properti yang akan
diletakkan sesuai dengan tata letak panggung.
![]() |
| Scene terakhir gladi kotor: Eh, ada Mas Sutradara (baju putih kiri) :D |
“Kawan-kawan,
selama ini kita sudah bekerja keras untuk acara ini. Aku tahu, tidak semua dari
kalian memiliki jiwa seni dan menganggap ini adalah sebuah tanggungjawab lalu
selesai. Hal itu juga yang mungkin membuat kita sering molor dalam hal waktu
latihan. Aku sangat mengerti itu. Tapi, kawan, kita sudah berbagi tugas. Dan di
sini aku bertanggungjawab atas kalian. Maaf kalau selama ini aku terkesan
otoriter atau terlalu mengatur kalian, karena pada saat itulah aku menjalankan
tugasku. Jadi, ketika pentas nanti, tampillah dengan legowo, dengan
ikhlas, karena saat pagelaran nanti adalah puncak dari semua kerja keras kita
selama ini.” Begitulan ungkapan sutradara kami. kami semua diam. Benar sekali,
kami sudah bekerja keras dan saat pentas adalah puncak dari semua itu.
Hari
yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sedari pagi, masing-masing tim sibuk dengan
tanggungjawabnya masing-masing. Sejak pukul 6 kami sudah berkumpul. Tim
dekorasi sibuk mendekor ruangan dan mempersiapkan semuanya, begitu juga tim
pemain.
Sebelum pentas, aku meminta sutradara untuk melakukan briefing terakhir bagi keseluruhan tim. Semua alat komunikasi termasuk jam tangan dikumpulkan dalam satu wadah agar tidak menganggu konsentrasi. Aku, Arif, dan Sulis berbagi tugas. Arif didampingi Fitri dari tim dekor berada di backstage, aku mengkondisikan penari yang akan muncul dari luar, dan Sulis mengkondisikan operator sound dan lighting di sisi kanan panggung. Selama pentas, antara sutradara dan tim operator saling berkoordinasi via telepon genggam untuk menghindari masalah teknis. Selaku koordinator lapangan ketika pentas, Sulis lah yang bertugas menginstruksikan operator dan lighting.
| Tim dekor sedang menyiapkan taman |
| Naaah, ini dia mini taman hasil karya tim dekor, ada air mancurnya loh~ |
Sebelum pentas, aku meminta sutradara untuk melakukan briefing terakhir bagi keseluruhan tim. Semua alat komunikasi termasuk jam tangan dikumpulkan dalam satu wadah agar tidak menganggu konsentrasi. Aku, Arif, dan Sulis berbagi tugas. Arif didampingi Fitri dari tim dekor berada di backstage, aku mengkondisikan penari yang akan muncul dari luar, dan Sulis mengkondisikan operator sound dan lighting di sisi kanan panggung. Selama pentas, antara sutradara dan tim operator saling berkoordinasi via telepon genggam untuk menghindari masalah teknis. Selaku koordinator lapangan ketika pentas, Sulis lah yang bertugas menginstruksikan operator dan lighting.
“Gimana,
Rif? Aktor oke? Properti oke?” tanya Sulis.
“Oke,
semua oke.”
“Oke.
Sound lighting, ON!”
Begitulah
secara teknis semuanya berjalan dari awal sampai akhir, termasuk pemberian jeda
untuk setiap adegan. Baik operator maupun lighting, semuanya sudah di-briefing
sejak awal. Meskipun begitu, kesalahan teknis sempat terjadi beberapa kali dan
itu di luar kendali kami. Dan ini diaaa, operator sound dan lighting kita~
Oh ya, untuk konsep cerita, sesuai dengan yang kukatakan di awal, kami para konseptor menyatukan ide dan terbitlah sebuah konsep cerita yang utuh dengan judul “Pancasan” yang mengambil nama kerajaan dalam cerita kami.
| Dan ini Mas Imam, kru bagian dokumentasi kita |
Oh ya, untuk konsep cerita, sesuai dengan yang kukatakan di awal, kami para konseptor menyatukan ide dan terbitlah sebuah konsep cerita yang utuh dengan judul “Pancasan” yang mengambil nama kerajaan dalam cerita kami.
Pancasan
menceritakan tentang seorang penari bernama Kinanti yang tampil dengan
tariannya pada saat pesta rakyat tahunan istana. Ratu terpukau dan menawari
Kinanti untuk bergabung menjadi penari istana. Kinanti pun bersedia dan Ratu
tak sedikit pun meninggalkan waktu latihan Kinanti. Penasaran, Ratu meminta
Panglima Prajurit untuk mencari tahu tentang latar belakang Kinanti. Tak
disangka, Kinanti merupakan anak pertama Raja dan Ratu yang dibuang sewaktu
bayi karena syarat yang diberikan Ibu Suri untuk merestui Raja dan Ratu menikah
adalah anak pertama harus laki-laki. Kinanti pun mengetahui hal itu dari pertengkaran
yang ia dengar dari kamar Raja dan Ratu.
Penasihat
Istana memberikan saran terhadap masalah tersebut. Namun, ia sendiri pun tidak
sadar jika nasihatnya turut serta memberikan sumbangsih untuk malapetaka besar
di wilayah kerajaan Pancasan. Sementara itu, saat dinobatkan menjadi Putri
Kerajaan, Kinanti yang dalam hatinya diam-diam ingin melakukan balas dendam
terhadap pihak kerajaan yang membuangnya sewaktu kecil pun melancarkan aksinya
saat acara tersebut. Semua petinggi istana mati terbunuh oleh hunusan keris
pusaka kerajaan yang dipegang Kinanti, kecuali Penasihat Istana yang kemudian
menyaksikan sendiri bagaimana bencana tanah longsor itu kemudian
meluluhlantakkan kerajaan Pancasan.
Setelah
dibacakan puisi dan wejangan akhir mengenai pesan moral dari drama tersebut, tim paduan suara pun masuk dan
Prajurit serta Penari turun mencari donasi bagi korban bencana longsor
Banjarnegara. Kami memang sengaja mengonsep bencana dalam cerita itu menjadi
bencana tanah longsor yang pada saat itu tengah menimpa Banjarnegara. Untuk
penggunaan Bahasa Jawa pada saat pembuka dan penutup, kami sendiri memang
berniat menghadirkan konsep Jawa yang utuh dalam kerajaan dengan latar klasik
tersebut. Karena itu juga semua tarian, musik gamelan, dan percakapan/dialog
pun kami atur sesuai dengan konsep tersebut. Penasaran seperti apa? Ini dia videonya~
Well, banyak hal yang kami dapat dalam mempersiapkan drama tersebut. Mulai dari membangun kekompakan, kerja sama, dan belajar membuang semua rasa egois yang menyangkut kepentingn pribadi. Mungkin ini pengalaman baru yang berharga untuk kami semua, dimana banyak dari kami yang berasal dari luar Pulau Jawa dan tidak mengerti tentang budaya Jawa, sedikit banyak dengan adanya drama tersebut kami jadi tahu. Misalnya saja, kami jadi tahu bagaimana gerakan penghormatan ala kerajaan, tata bahasa yang digunakan (sendhiko dawuh, dll.), serta hal-hal kecil seperti cara berjalannya orang-orang kerajaan, dan lain sebagainya.
Well, banyak hal yang kami dapat dalam mempersiapkan drama tersebut. Mulai dari membangun kekompakan, kerja sama, dan belajar membuang semua rasa egois yang menyangkut kepentingn pribadi. Mungkin ini pengalaman baru yang berharga untuk kami semua, dimana banyak dari kami yang berasal dari luar Pulau Jawa dan tidak mengerti tentang budaya Jawa, sedikit banyak dengan adanya drama tersebut kami jadi tahu. Misalnya saja, kami jadi tahu bagaimana gerakan penghormatan ala kerajaan, tata bahasa yang digunakan (sendhiko dawuh, dll.), serta hal-hal kecil seperti cara berjalannya orang-orang kerajaan, dan lain sebagainya.
| This is us |
| Ciyeee tim konseptor~ |
Big thanks to sutradara (Mas Arif), penulis skenario (Mbak Rosmania), tim pemain (Dian dkk.), tim dekorasi dan properti (Sulis dkk.), tim paduan suara (Dina dkk.), tim wardrobe (Fefe dkk.), pembaca puisi, pewejang, tim operator & lighting, serta dokumentator. Ketua kelas KaKaI Bi, Mas Syaiful, atas dukungan dan kemauannya untuk turut berlelah-lelah baik menjadi tim pemain maupun membantu segala kesulitan yang kami hadapi. Pokoknya kalian semua kereeen. Suksesnya acara tersebut adalah kerja keras kita bersama.
| Closing team: Makan-makaaan~ (baca: nunggu pesanan lama :D) |







pengen nangis baca artikelnya..
BalasHapusinget semua suka-duka kita...
Tetep kompak yah 👍
BalasHapusEga: hihi, kerasa banget yaa perjuangannya :))
BalasHapusMbak Lia: iya, Mbak. In syaa Allah :))
Good.
BalasHapusTetap Satukan Hati !
Perasaan saya jadi campur aduk, haru melihat perjuangan kalian, bangga melihat karya kalian, terimakasih atas totalitas dan kreativitasnya, semoga video ini menjadi obat rindu dimasa yang akan datang, kalian sangat mengisnpirasi. salam hangat untuk teman-teman KKI B dari Tarakan Kaltara.
BalasHapusTetap Berilmu beradab berdayaguna.