Pages

Kamis, 06 Agustus 2015

Sebenar Rindu

Hari ini, aku mendengar orang-orang berbicara tentang rindu.

Di sepanjang jalan, di dalam perjalanan kereta bawah tanah, di kedai-kedai kopi yang tak pernah lengang itu, orang-orang berkumpul dan bicara soal rindu.

Sesuatu bernama rindu itu, serupa apakah ia?

Rindu serupa sinar matahari musim semi—menyejukkan sekaligus menghangatkan.
Tidak, rindu serupa hela angin musim gugur yang menelisik masuk ke dalam tulang-tulangmu—membawa hampa dan sepi.

Aku tidak sedang merapal rindu, percayalah.
Tapi orang-orang itu, berbicara dan berdebat merupakan rindu. Bukankah semakin dirupakan ia semakin menjadi bukan rindu?

Orang-orang itu seringkali tak menyadari. Terlalu sibuk merupakan rindu, menempatkannya sesukanya, yang lantas membuatnya melupa. Bagaimana pun, rindu bisa melukai—jika kau tak menempatkannya di tempat yang seharusnya. Karena sejatinya, ia lebih pada ditujukan untuk siapa.

Sekeras apa pun orang-orang itu berusaha merupakan rindu, jika rindu untuk-Nya tidak menjadi nomor satu, tetap tidak akan mendapat apa-apa. Karena kepada-Nya, itulah sebenar rindu. Dan sebenar rindu, akan mengantarkanmu pada pertemuan dengan Rabb-mu.

Aku tidak sedang merapal rindu. Apa lagi sebenar rindu.
Karenanya, itu menyedihkan—melihat kau, aku, tak hanya sekadar mendengar orang-orang itu berbicara soal rindu.

Tapi kita, menjadi bagian orang-orang itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))