Hari ini, aku mendengar orang-orang
berbicara tentang rindu.
Di sepanjang jalan, di dalam perjalanan
kereta bawah tanah, di kedai-kedai kopi yang tak pernah lengang itu,
orang-orang berkumpul dan bicara soal rindu.
Sesuatu bernama rindu itu, serupa
apakah ia?
Rindu serupa sinar matahari musim
semi—menyejukkan sekaligus menghangatkan.
Tidak, rindu serupa hela angin
musim gugur yang menelisik masuk ke dalam tulang-tulangmu—membawa hampa dan
sepi.
Aku tidak sedang merapal rindu,
percayalah.
Tapi orang-orang itu, berbicara dan
berdebat merupakan rindu. Bukankah semakin dirupakan ia semakin menjadi bukan
rindu?
Orang-orang itu seringkali tak
menyadari. Terlalu sibuk merupakan rindu, menempatkannya sesukanya, yang lantas membuatnya
melupa. Bagaimana pun, rindu bisa melukai—jika kau tak menempatkannya di tempat
yang seharusnya. Karena sejatinya, ia lebih pada ditujukan untuk siapa.
Sekeras apa pun orang-orang itu berusaha
merupakan rindu, jika rindu untuk-Nya tidak menjadi nomor satu, tetap tidak akan
mendapat apa-apa. Karena kepada-Nya, itulah sebenar rindu. Dan sebenar rindu,
akan mengantarkanmu pada pertemuan dengan Rabb-mu.
Aku tidak sedang merapal rindu. Apa
lagi sebenar rindu.
Karenanya, itu menyedihkan—melihat kau,
aku, tak hanya sekadar mendengar orang-orang itu berbicara soal rindu.
Tapi kita, menjadi bagian orang-orang
itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))