Pages

Minggu, 09 Agustus 2015

[Book Review] Forgiven by Morra Quatro: Memaafkan yang Tak Terlupakan

Goodreads Image
Judul: Forgiven
Penulis: Morra Quatro
Penerbit: Gagas Media
Terbit: Cetakan I, 2010
Tebal: vi + 266 halaman
ISBN: 979-780-432-1

Forgiven, yang tak terlupakan...

Ini tentang kisah persahabatan yang tak terlupakan. Antara Karla, Will, dan empat laki-laki bernama Robby, Laut, Wahyu, dan Alfan. Mereka bersahabat sejak SMA. Alasannya sederhana, karena rumah mereka searah dengan sekolah dan selalu berangkat bersama-sama naik sepeda. Karla adalah satu-satunya perempuan dalam geng cowok tersebut, karenanya ada beberapa hal yang tidak bisa diceritakannya dan sebaliknya ada beberapa hal yang tidak bisa dibagi kelima anak laki-laki itu pada Karla. Meskipun Karla sempat protes, tapi toh persahabatan mereka tetap berjalan.

Di antara kelima lelaki itu, tentu saja, yang paling dekat dengan Karla adalah Will.

Yeah, Will-iam Hakim. Maniak Fisika yang menggilai Champagne Supernova. Pemenang Olimpiade Fisika Internasional di Brussel. Sahabatnya yang tak pernah bisa ia mengerti karena pikiran-pikirnnya yang tak tertebak, tapi mampu membuat fenomena-fenomena Fisika yang rumit menjadi sederhana.
“Kalo kamu lagi lari, misalnya, tubuhmu condong beberapa derajat ke depan. Itu karena kamu beradaptasi dengan tekanan udara. Tekanan udara lebih besar kalo kamu larinya tegak. Makanya butuh tenaga lebih banyak. Tapi dengan tubuh condong ke depan, dan larimu cepat, dan ada saat-saat ketika massa udara di atas dan depan tubuhmu lebih ringan.”
—William Hakim, halaman 38-39
Pada akhirnya, demi mengejar mimpi masing-masing, mereka harus berpisah. Wahyu diterima di UGM, Laut dan Robby kuliah di luar kota, Karla dipaksa ke Singapura untuk mengikuti masa persiapan kuliah di salah satu universitas di Amerika, dan Will... Karla tidak tahu entah ke mana anak itu. Ia mendatangi rumah Will untuk berpamitan tapi laki-laki itu tidak ada. Lama berselang sampai akhirnya Will muncul di Singapura untuk menemui Karla. Ia mengatakan ia juga akan kuliah di salah satu universitas di Amerika, Massachussetts International of Technology (MIT), tempat kakaknya, Nicholas, menempuh pendidikan.

Will berhasil mengejar mimpi-mimpinya di Amerika. Ia, Nicholas, dan beberapa orang tergabung dalam satu tim untuk sebuah proyek nuklir. Mempertemukannya dengan Chiara, seseorang yang kemudian menjadi istrinya. Untuk alasan yang tidak bisa diterima Karla, Will menyuruh Karla menjauh dari hidupnya ketika ia mengunjungi Will ke Boston—jauh sebelum Will menikah dengan Chiara.  

Selama rentang waktu Will menyuruhnya menjauh, Karla sempat bertemu dengannya di University City dalam sebuah acara. Ia dibantu oleh Bev, temannya yang menjadi anggota pers kampus karena saat itu Will bukan lagi orang yang bisa ditemui degan mudah. Semua orang mengenal kecerdasannya. Meskipun begitu mereka tidak bicara dan Karla memutuskan untuk menjalani kehidupan barunya bersama Troy, anaknya, Mama, dan Sean yang kini menjadi ayah tirinya.

Sampai akhirnya kabar itu datang. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi meledak dan kebakaran dengan dua korban meninggal dunia. Perusahaan itu merupakan tempat Will bekerja setelah perseteruan internalnya dengan Nicholas yang membuatnya dikeluarkan dari tim proyek nuklir itu. Satu-satunya yang tertuduh dan berhasil dibekuk SWAT sebagai pelakunya di lokasi kejadian adalah laki-laki itu, William Hakim.

Saat itulah Karla merasa benar-benar tidak cukup mengenal Will, meski mereka telah bersahabat selama sepuluh atau sebelas tahun. Karla tidak benar-benar yakin Will melakukannya sampai ia ingat sebuah tragedi ketika Robby keluar dari ruangan Pak Juandi dengan wajah lebam dan Will berkata, “Gue bisa ngeledakin kantornya kalo mau.”

Tapi, benarkah William Hakim, seseorang yang amat dikenal Karla yang melakukan itu?
Jika iya, untuk apa ia melakukannya?
Lalu, apa hubungannnya ia dengan isu teroris yang berkembang saat itu?

Well, kamu tidak akan mendapat jawabannya jika tidak membacanya sendiri. :p

Novel ini membuatku banyak menahan napas; hampir menangis di beberapa bagian. Begitu mendebarkan; membuatku menebak-nebak mengapa begini dan begitu bahkan sejak membaca prolognya yang menggambarkan pertemuan Karla dan Will di dalam sebuah penjara.

Bagaimana pun tak tertebaknya pikiran Will, hal-hal yang telah dilakukannya, Will tetap seseorang yang berarti untuk Karla. Sebaliknya, saat orang-orang di sekitarnya disibukkan dengan berbagai hal dan Will merasa dilupakan, satu-satunya yang tetap bersamanya adalah gadis itu.
“You’re always the one who comes back, K.”
William Hakim, halaman 230
Meski dibumbui juga dengan soal cinta, tetap tidak mengurangi esensi persahabatan yang dikisahkan penulis dalam novel ini. Persahabatan antara Will dan Karla digambarkan begitu manis, meskipun diam-diam mereka saling menyukai.
“Akhirnya, ada beberapa hal yang aku nggak ahli ‘kan, K. I can’t tell you how I love you. That’s just—way beyond my vocabulary.”
William Hakim, halaman 251
Karakter-karakter yang ada dalam novel ini begitu kuat, begitu hidup. Terutama untuk dua tokoh utamanya, Karla dan Will. Karla digambarkan sebagai gadis yang kuat di samping masalah yang dihadapinya; keluarganya yang broken home, penolakan-penolakan yang diterimanya, termasuk ketika ia memutuskan untuk tetap memaafkan Will atas apa yang dilakukannya. Will sendiri digambarkan sebagai seseorang yang sangat percaya pada mimpi-mimpinya. Laki-laki yang sangat bangga dengan binder tebal yang di dalamnya terdapat berbagai rumus dan hasil eksperimennya. Dia yang selalu membawa-bawa teori Fisika, Kimia—atau apa pun itu yang terkait dengan eksakta—dalam setiap ucapannya untuk mengatakan hal-hal tertentu.
“Masing-masing kita ini seperti atom, K. Kecil, dengan jumlah muatan positif dan negatif yang berbeda-beda. Pada waktu muatan negatif menetralkan muatan positif, atau sebaliknya, pada kondisi tertentu, atom akan netral.”
—William Hakim, halaman 228
Yah, gara-gara William yang sering mengoceh tentang Fisika itu, sebagai pembaca, aku jadi mengetahui banyak hal baru terkait Fisika (atau paling tidak jadi ingat lagi tentang teori-teori yang sudah lama mengarat itu :D ). Tentang tekanan udara ketika seseorang berlari, kursi listrik, mesin pesawat terbang, titik cahaya dari beberapa konstelasi yang membentuk sepasang sayap bernama Champagne Supernova, dan Polaris yang karena adanya gerak semu menyebabkan bintang itu sedemikian rupa tetap terlihat pada posisi yang sama dari bumi.
“Karena rotasi dan revolusi bumi itu benda-benda langit terlihat tidak tetap. Tapi ada satu bintang yang letaknya terus sama dari bumi. Tau...?”

“Enggak.”

The North Star. Polaris.”
—Will dan Karla, halaman 109 
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah Karla dan Will ini. Aku suka cara penulis menggambarkan tentang melakukan kebaikan dan bahwa kebaikan apa pun yang kita lakukan akan kembali kepada kita dan mengaitkannya dengan Hukum Kekekalan Energi.
“Itu seperti hukum kekekalan energi. Kamu masih ingat hukum kekekalan energi? Energi tidak bisa diciptakan, tidak bisa dimusnahkan. Jadi, jumlah total energi, baik positif maupun negatif, dalam bentuk apa pun, di seluruh universe ini akan selalu sama. Energi yang kamu lepaskan, entah bagaimana caranya, akan kembali lagi kepadamu dengan jumlah yang sama. Meski sebesar biji zarrah pun itu.”
—William Hakim, halaman 228
Selain itu, juga diajarkan soal pemaafan—bagaimana kita memaafkan kesalahan orang lain.
Everyone makes mistakes. But only a few could forgive. Padahal ada banyak kesalahan yang hanya perlu dimaafkan, bukan dihukum. An eye for an eye will make us all blind.”
—Mama Karla, halaman 238
Over all, this is a highly recommended book. Penulis berhasil memadukan unsur Fisika, persahabatan, cinta, dan isu terorisme (cuma sedikit, sih) ke dalam kisah di dalamnya. Meskipun beberapa hal tidak digambarkan secara detil, itu menjadi bukan masalah. Memang, tidak semua yang dilakukan tokohnya adalah sebuah kebaikan. Akan tetapi, sebagai pembaca aku berusaha mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan si tokoh untuk tidak mengambil pilihan yang salah.
“Tuhan cuma memberi orang beberapa karakteristik, seperti elektron dan proton dan neutron dalam atom. Sisanya berjalan seperti hukum alam. Semua orang punya pilihan untuk menarik garis hidup mereka masing-masing.

Tapi, kita cuma dapat beberapa kesempatan seumur hidup—hanya beberapa kesempatan saja—yang bisa mengubah seluruh hidup kita. Sometimes we make bad choices.”
—William Hakim, halaman 248

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))