Pages

Sabtu, 10 Oktober 2015

[Cerpen] Lelaki Penjual Soal


Oleh: Evnaya Sofia

Ini bukan pertama kalinya bagiku. Melihat banyak lelaki dan perempuan paruh baya dengan pakaian―yang bisa dibilang sedikit lusuh―berkeliaran di dalam kampus. Bukan, bukan serupa mereka yang kerap kali memunguti sampah bekas air mineral usai acara besar yang digelar berbagai komunitas atau organisasi yang ada di kampus. Bukan pula penjaja minuman atau makanan keliling yang berusaha menuai rezeki dari kantong-kantong mahasiswa seperti kami. Menurutku, pekerjaan mereka terbilang unik. Dua tahun sejak aku melihat pekerjaan semacam itu, sampai saat ini aku hanya bisa menyebutnya sebagai... penjual soal.
Jika kau beberapa kali terpaksa harus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi karena tidak lulus tes jalur seleksi berkas nilai dan prestasi, maka kemungkinan besar kau pernah melihat mereka―atau bahkan membeli ‘barang dagangan’ mereka. Meskipun begitu―tentu saja, mereka tidak menjual soal bocoran yang akan diujikan, tetapi soal-soal dari tahun-tahun sebelumnya. Entah, meski menurutku cukup ‘unik’, aku justru lebih banyak bertanya kepada diriku sendiri. Pekerjaan semacam ini... adalah sebuah hasil dari proses berpikir kreatif dalam mencari rezeki ataukah ironi yang berkenaan dengan sulitnya mencari lapangan pekerjaan di negeri ini?
Mungkin salah satunya, atau bisa jadi gabungan antar keduanya yang memang memiliki ikatan kausalitas. Hingga detik ini, ketika telah sampai gelarku sebagai mahasiswa semester empat di salah satu perguruan tinggi favorit negeri ini, aku mengerucut pada satu kesimpulan bahwa bukan proses kreatif yang menjadikan mereka memilih pekerjaan itu, tetapi lebih karena sulitnya mencari lapangan pekerjaan sehingga mereka dituntut kreatif untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri
“Permisi, Mbak. Ini soalnya bisa dilihat dulu, ada kumpulan soal-soal ujian masuk kampus ini dilengkapi dengan pembahasannya,” sebuah suara menyentakku. Mengalihkan pandanganku dari gerombolan penjual soal yang gigih menawarkan paket soal pada calon-calon mahasiswa baru yang akan mengikuti tes ujian masuk dua hari ke depan.
 “Uhm―”
“Kalau Mbak mau, saya juga bisa memberikan privat khusus untuk pembahasan soal-soal ini,” ujarnya sebelum aku sempat meneruskan.
“Maaf, Pak. Saya mahasiswa di sini,” akuku.
“Oh,” ia terperangah. Langkahnya mundur perlahan dan bergegas berbalik meninggalkanku yang sedari tadi tak berkutik duduk di taman batu kampus.
“Pak!” aku mendengar mulutku bersuara. Mencegah, membuat lelaki paruh baya itu urung melangkah.
“Privat khusus?” Hanya itu yang tiba-tiba terucap, saat aku tidak tahu bagaimana harus menata kata demi kata agar tidak terdengar seperti sesuatu yang melukai di telinga lelaki itu.
“Ya,” jawabnya pendek. Tak ada penjelasan apa pun, sementara kepalaku masih dipenuhi berbagai macam pertanyaan.
“Oh, baiklah. Saya hanya bertanya, Pak. Terima kasih,” ujarku kemudian.
Dengan tertatih, lelaki paruh baya itu kembali meneruskan langkahnya. Membuatku tersadar, mungkinkah aku tengah meragukan sesuatu?
* * *

Mungkinkah aku tengah meragukan sesuatu?
Pertanyaan itu muncul begitu saja kemarin, sesaat setelah pertemuanku dengan lelaki paruh baya penjual soal itu. Dan masih berlaku untuk hari ini, karena bagaimana pun aku belum menemukan sesuatu yang bisa kupastikan sebagai jawaban untuk mengusir pertanyaan itu. Kau boleh mengatakan ini terdengar seperti sesuatu yang sedikit menganggap remeh atau bahkan merendahkan sesuatu lainnya. Tetapi tidak, bukan itu sejatinya maksudku. Aku hanya penasaran, lelaki paruh baya penjual soal itu menawarkan sesuatu yang berbeda dari sekian penjual soal yang pernah menghampiriku dan mengiraku sebagai salah satu dari sekian pendaftar kampus ini hanya karena aku sering berkeliaran pada hari libur.
Aku mencari lelaki paruh baya itu; di antara sekian banyak manusia yang datang ke kampus hari ini.
Mataku sibuk mengamati orang-orang yang berlalu-lalang; para penjual soal―yang kini terlihat lebih gigih lagi―dan para pendaftar, yang sepertinya tak cukup peduli dengan kehadiran mereka. Adalah sebuah kewajaran, mengingat harga yang dibanderol untuk satu paket soal yang hanya lembaran fotokopian itu hanya beda tipis dengan harga satu buku cetak latihan soal yang telah dilengkapi CD simulasi, kunci jawaban, dan pembahasan.
Para penjual soal itu terus mendesak, menawarkan barang dagangannya yang lagi-lagi hanya mendapat pengabaian dari calon-calon mahasiswa. Mungkin ada beberapa yang terpaksa membeli karena iba, dan itu sudah cukup membuat mereka bahagia. Bisa jadi, uang itu menjadi hidupnya sehari itu.
Langkahku kian menapak. Aku tidak menemukannya, lelaki penjual soal itu. Seharusnya ini tidak terjadi. Seharusnya ia datang ke kampus hari ini. Padahal ini adalah hari yang penting mengingat esok seleksi ujian masuk akan dilaksanakan. Kau tahu maksudku, itu berarti hari ini adalah hari terakhir bagi mereka, para penjual soal, untuk mengais rezeki dari para calon mahasiswa baru.
            Pencarianku terhenti manakala kakiku sampai di jajaran kantin untuk mahasiswa. Aku memutuskan untuk menyerah dan melangkah masuk ke dalam kantin. Di hari libur seperti ini, kantin-kantin yang serupa jajaran kios itu biasanya tutup, kecuali satu kantin yang disebut-disebut memiliki menu soto terenak. Aku mendaratkan diriku di salah satu bangku yang masih kosong setelah memesan semangkuk soto ketika sayup-sayup terdengar seseorang tengah berceloteh tentang berbagai macam teori Ekonomi, yang lantas membuat telingaku sedikit sensitif karena aku adalah mahasiswa Ekonomi.
            Bola mataku memutari segala sisi. Mencari asal suara itu. Di tengah-tengah keramaian, dua meja jaraknya dari sebelah kiriku, aku mendapati dua orang laki-laki tengah serius mengobrol sambil tertawa-tawa. Kalau saja samar-samar aku tak mendengar apa yang mereka bicarakan, jelas aku tak akan mengira mereka tengah membicarakan teori-teori Ekonomi yang menguras otak itu. Bagaimana mungkin membicarakan teori-teori yang banyak membutuhkan penalaran bisa dilakukan sambil tertawa-tawa?
            Aku diam-diam mengamati keduanya. Tampak jelas di mataku dua figur lelaki itu. Satunya terlihat lebih muda, sedang asyik menyimak pemaparan teori Ekonomi serta rumus-rumusnya dari lelaki di hadapannya. Sementara lelaki yang lebih tua itu, berkacamata minus, tampak sibuk mencorat-coret sesuatu di atas kertas. Mereka lebih serupa kakak-adik daripada jika disebut ‘pengajar-pembelajar’.
            Pesananku datang. Dan laki-laki itu dengan fasih menjelaskan kepada sosok lebih muda di hadapannya tentang permasalahan ekonomi makro dan kebijakan yang diambil pemerintah untuk mengatasinya. Aku masih terus mendengarkan sampai lelaki pengajar itu menyebut-nyebut soal MEA. Ya, Masyarakat Ekonomi ASEAN di penghujung 2015 yang memungkinkan adanya perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN. MEA menjadi isu yang amat penting bagi Indonesia untuk turut serta mengembangkan diri dalam sektor perekonomian melalui perdagangan bebas; mencakup SDM atau tenaga kerja, arus barang dan jasa, arus modal, dan hal lainnya yang terkait.
            “Kamu tahu, ini bisa menjadi semacam bahaya bagi Indonesia ketika kita sebagai warga negara tidak siap akan itu,” lelaki pengajar berujar, setelah mengurai panjang perihal MEA yang disimak dengan baik oleh lelaki pembelajar―juga aku.
            Perlahan populasi manusia di kantin ini berkurang, memperbesar ruang dengarku terhadap perbicangan kedua lelaki itu.
            “Lalu bagaimana caranya supaya kita siap?”
            “Kalau boleh kubilang, ini bisa jadi semacam lingkaran setan. Nilai rupiah merosot tajam. UKM sulit berkembang. Parahnya lagi, kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah kita tidak banyak membantu.”
            “Kak, we are in 2015 now! Jadi bagaimana bisa kita menghadapi hal-hal semacam itu dengan kondisi seperti ini? Mungkin ini terdengar pesimistik, tapi apakah tenaga kerja kita, SDM kita mampu bersaing dengan mereka yang berasal dari negara lain?!”
            Alih-alih menjabarkan teori-teori ekonomi dan rumus-rumusnya itu, mereka sekarang lebih terdengar seperti sedang berdiskusi.
            “Apa jawabanmu?”
            “Aku tidak terlalu yakin. Itu saja.”
            “Begini...” lelaki berkacamata minus itu mendehem sejenak sebelum melanjutkan, “kita memang tidak bisa dikatakan seratus persen siap. Tetapi, masih ada waktu untuk mengembangkan diri. Paling tidak, kita perlahan bisa mengubah satu hal, dari segi SDM.”
            Lelaki yang lebih muda itu antusias, tampak tertarik dan tidak sabar menunggu kalimat-kalimat yang akan dilontarkan lawan bicaranya.
            “Kita bisa memperbaiki kualitas SDM kita sedikit demi sedikit, meskipun kelihatannya sangat mustahil tanpa kesadaran dari orang banyak juga pemerintah. Mereka perlu mengembangkan skill yang mereka punya, mendorong untuk berinovasi, dan yang paling sederhana namun cukup penting adalah kemampuan berkomunikasi dengan bahasa internasional.”
            “Tidak mudah untuk masuk ke ranah itu, Kak!”
            Laki-laki yang lebih tua itu bangkit, disusul yang lebih muda kemudian.
            “Kita bisa melakukannya melalui jalan pendidikan dan pemberdayaan, dan itu tidak harus dilakukan di sekolah formal mengingat sasaran kita tidak hanya generasi muda.”
            Adalah kalimat itu yang terakhir kudengar, sebelum lelaki yang lebih muda itu menyuarakan sesuatu yang entah apa. Pandangan mataku terfokus ke satu titik, ketika lelaki berkacamata minus dengan kemeja biru tua itu mengangkat tumpukan sesuatu dengan sebelah lengannya dan berjalan persis melewati mejaku.
            Lelaki itu... penjual soal?
* * *
           
            Aku memang memutuskan untuk menyerah saja setelah tak menemukan lelaki paruh baya kemarin itu. Sementara kali ini aku justru dikejutkan dengan kehadiran orang baru. Lelaki penjual soal, yang juga bisa kubilang terlihat berbeda dengan para penjual soal lainnya, termasuk lelaki paruh baya itu. Sedikit aneh jika seorang penjual soal berbicara tentang berbagai macam teori Ekonomi dan permasalahan riil yang terjadi sama mahirnya dengan bicara dosenku di ruang perkuliahan.
            Itulah mengapa aku juga penasaran pada laki-laki paruh baya kemarin yang ternyata tak hanya menjual soal, tapi juga menawarkan privat khusus untuk membahas soal-soal yang dijualnya. Tak hanya itu, ada hal lain yang lebih krusial daripada sekadar penawaran privat khusus yang diberikannya. Lalu laki-laki ini, yang membuatku terengah-engah berlari mengejarnya karena teledor meninggalkan kunci motornya di meja kantin juga menarik rasa penasaranku.
            “Mencari ini?” aku mengacungkan kunci motornya di udara ketika ia tengah sibuk merogoh-rogoh saku mencarinya.
            “Eh?” Mata laki-laki itu berbinar, nampak lega.
            “Kamu meninggalkannya di meja.”
            “Ah, ya... Aku tidak sadar telah melakukan itu. Terima kasih,” ujarnya sesaat setelah menerima uluran kunci motor itu dari tanganku.
            “Uhm, itu apa? Paket soal?” aku memberanikan diri bertanya, di samping pura-pura tidak tahu.
            “Iya. Paket soal yang kujual,” ia memburaikan senyum. “Dan yeah, bonus privat untuk pembelinya.”
* * *

            Aku tidak memberitahu Al―lelaki penjual soal yang fasih berbicara teori Ekonomi itu―bahwa aku akan datang ke komunitasnya hari ini. Di ujung pertemuan kami kemarin, ia bercerita panjang lebar tentang komunitas jalanan yang dibinanya. Aku juga tidak menyangka kami akan berbicara banyak hal seperti itu. Al hanya menyuruhku datang kapan pun aku memiliki waktu luang. Pikirnya ia membutuhkan banyak relawan untuk komunitas itu dan barangkali aku bersedia membantu.
            Al tertawa mendengar pengakuanku bahwa aku tak sengaja mendengarkan semua pembicaraannya di kantin hanya karena telingaku teramat sensitif jika mendengar teori-teori Ekonomi, sementara aku lebih terkejut lagi saat mengetahui bahwa seorang calon sarjana Teknik Elektro ternyata mampu berbicara banyak hal mengenai Ilmu Ekonomi.
            Aku bertanya mengapa ia perlu repot-repot menjadi penjual soal, yang kemudian dijawabnya dengan senyuman kecil. “Seorang lelaki paruh baya melakukan seperti kamu lakukan. Menjual soal dan menawarkan privat khusus. Ia menghampiriku kemarin dan aku tidak sempat bertanya banyak hal tentang itu.”
            “Oh ya? Kamu bertemu dengannya hari ini?”
            Aku menggeleng. “Aku mencarinya tapi sepertinya ia tidak datang. Padahal, bukankah ini adalah hari terpenting bagi para penjual soal?”
            Al mengangguk, sebelum akhirnya ia berkelakar, “Mungkin ia takut bersaing denganku.”
            Aku menjejakkan kaki turun begitu bus mini yang kutumpangi melipir ke sisi trotoar. Mataku sibuk menerawang ke segala sisi. Ada banyak perkumpulan di sepanjang trotoar nol kilometer Yogyakarta ini. Perkumpulan mana yang merupakan komunitasmu, Al?
            Aku terus berjalan sambil mengamati masing-masing orang dalam perkumpulan-perkumpulan itu. Aku mencari sosok Al, satu-satunya orang yang akan menjadi kunci perhentianku. Mungkin aku akan terus mencari, menyusuri sepanjang trotoar ini, kalau mataku tidak tiba-tiba menangkap sosok yang amat kukenal berada dalam salah satu perkumpulan itu.
            “Pak!” aku berseru tertahan, berjalan cepat ke arah lelaki paruh baya penjual soal yang pernah kutemui beberapa hari lalu itu. Aku tak memedulikan pandangan orang-orang yang ada di sekitarnya yang tampak heran saat aku memanggil lelaki itu.
            Lelaki itu tak mengenaliku, tentu saja. Atau lebih tepatnya, sulit mengenaliku.
            “Mbak siapa?” salah seorang lelaki, yang usianya kemungkinan setara dengan bapak penjual soal itu bertanya padaku.
            “Siapa?” kali ini lelaki penjual soal itu yang bersuara.
            “Saya mahasiswa yang kemarin Bapak tawari paket soal ujian masuk kampus itu, Pak,” jawabku. “Bapak ingat?”
            Lelaki itu terdiam untuk beberapa saat, kemudian mengangguk-angguk sebelum mengatakan, “Oh iya, saya ingat.”
            Aku pun duduk bersimpuh, melupakan tujuan awalku mendatangi komunitas Al. Lelaki penjual soal itu bercerita banyak hal; hidupnya yang sebatang kara, kecelakaan parah yang menjadikannya seperti sekarang, perubahan profesinya dari tukang becak menjadi penjual koran dan soal-soal, termasuk tentang perkumpulan yang diikutinya bersama sejumlah lelaki dan perempuan lain yang ada di sana.
            Aku bisa kapan saja datang ke komunitas Al, tapi bertemu laki-laki penjual soal ini... aku tidak bisa memastikan kapan bisa bertemu dengannya lagi. Lagi pula, di kartu nama yang diberikan Al sudah tertera nomor ponselnya dan aku isa menghubunginya lain kali.
            “Jadi, seseorang membentuk komunitas ini untuk memberdayakan kami. Membina agar skill kami berkembang, membantu mengusahakan perbaikan perekonomian bagi kami,” lelaki penjual soal itu menjelaskan.
            “Ia mendorong kami untuk berwirausaha, memberikan saran produk atau jasa yang bisa kami jual atau ambil, dan berinovasi,” imbuh seorang perempuan yang sehari-harinya mengaku berprofesi sebagai pengamen.
            “Komunitas ini masih muda, baru sekitar empat bulan lalu kami pertama kali dikumpulkan. Tetapi kemudian banyak orang yang datang mengajari kami berbagai hal, termasuk berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta sedikit demi sedikit percakapan dalam bahasa Inggris,” seseorang lainnya bersuara.
            Aku tidak bisa berhenti mengagumi mereka. Ternyata rasanya memang berbeda jika kita bisa melihat langsung kerasnya kehidupan di jalanan.
            “Ya, katanya bahasa Inggris itu sangat perlu untuk kita mencari pekerjaan ke depannya. Mbak bisa bayangkan kami-kami yang sudah tua ini harus menghafal 5 kosakata dalam bahasa Inggris setiap harinya,” kini lelaki penjual soal yang kembali berbicara. “Oh ya, sepertinya Mbak ragu ya saya bisa memberikan privat khusus itu?”
            Aku menelan ludah. Bagaimana lelaki ini bisa tahu?
            “Mbak sampai perlu bertanya kepada saya kemarin itu,” katanya lagi.
            Orang-orang menyebutnya awkward moment, dan kini aku mengalaminya. Seseorang bisa menebak apa yang kupikirkan dan aku tidak bisa mengelak.
            “Itu sebenarnya hanya spontan terucap, Mbak. Habisnya seharian berjualan hanya laku 3 paket saja. untungnya Mbak mahasiswa, saya nggak tahu deh kalau Mbak beneran mau beli dan minta di-privat. Bisa jadi saya minta Mas Al untuk datang dan privat ke Mbak,” lelaki paruh baya itu tertawa.
            “Nah, ini Mbak, orangnya datang,” seorang ibu memberitahu. Aku lantas menoleh ke belakang. Dalam jarak satu setengah meter ke arah kami, lelaki itu tampak tidak kaget ada aku di komunitas ini―komunitasnya.
            Al mengucap salam dan meminta maaf atas keterlambatannya. Ia beralih ke arahku yang masih terlihat sedikit shock sambil tersenyum dan berkata, “Kemarin kamu bertanya mengapa aku harus repot-repot menjadi penjual soal dan tidak memilih pekerjaan paruh waktu lainnya, jawabannya karena aku menggantikan ayah angkatku―seseorang yang kamu cari. Aku sengaja menawarkan privat khusus untuk sekadar menarik pembeli, yang akhirnya malah kamu dengar lebih seperti diskusi karena bahasan kami berujung pada solusi untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN.”
            Aku masih belum mengatakan apa pun sampai ia kembali melanjutkan, “Kalau kamu merasa aneh mengapa sarjana Teknik Elektro sepertiku mahir berbicara banyak hal tentang teori Ekonomi dan permasalahannya, itu karena aku tengah bergelut di dalamnya―di komunitas ini. Ingat saat aku mengatakan bahwa kita harus menyiapkan warga negara ini agar mampu bersaing dalam MEA? Ini adalah solusi yang kutawarkan, satu-satunya hal yang bisa kulakukan dalam peranku sebagai mahasiswa, generasi muda negeri ini. Mungkin terlihat sederhana, tapi tidak sesederhana ketika kamu melakukannya.”
            Tenggorokanku tercekat. Kepingan puzzle itu kini tersusun sempurna. Membuatku bahagia dan amat malu pada saat yang sama. Bahagia karena aku dipertemukan dengan orang-orang dalam komunitas ini, dan malu karena mahasiswa Ekonomi sepertiku tidak tanggap terhadap permasalahan Ekonomi yang kemungkinan bisa mengancam negerinya sendiri. Aku malu pada Al, pada orang-orang dalam komunitas ini, lebih-lebih pada lelaki paruh baya penjual soal itu yang untuk berjalan saja ia harus tertatih mengingat kecelakaan besar yang menjadikannya sebagai seorang―uhm―tunanetra.
            Dan yang paling tinggi, aku malu pada Tuhan atas ke-’diam’-an dalam kesempurnaan ini.
* * *

*Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerpen dengan tema “Peran Mahasiswa dalam Menghadapi MEA” -- Pekan Menulis BEM FAI UMY beberapa bulan lalu.

3 komentar:

Komen, yuuuk ;))