Pages

Senin, 04 April 2016

[MOVIE SCRIPT BLOG TOUR] Episode 6: Menebak Teka-teki Langit

Halo, semuanya~ ^^//
Ini adalah Movie Script Blog Tour OWOP (@oneweekonepaper), di mana setiap peserta yang sudah mendaftar mendapat tantangan untuk melanjutkan movie script yang telah dibuat oleh peserta sebelumnya. Dan saya, Evnaya, mendapat giliran keenam untuk menyelesaikan tantangan tersebut.
Untuk memahami jalan ceritanya, sila berkunjung ke:
Cerita sebelumnya: Para Artemis hanya memiliki waktu 58 menit lagi sebelum seorang pengunci yang ditawan terbunuh. Lalu Emily, anak Rinjani yang pemalu, menyadari ada yang aneh dengan kalimat yang dilontarkan Pria Bertopeng itu—yang diamini ketiga temannya. Mereka pun membagi tim untuk memecahkan kode dan menemukan apa yang disembunyikan pihak pengunci. Sementara itu, Radian terbangun dan memberi kode soal ‘mata-mata’ kepada keempat pengunci yang sadar.
EPISODE 6: Menebak Teki-Teki Langit
EXT. Jalanan Sepi.
SFX. Suara gedebuk dan kaleng yang jatuh terpelanting setelah mengenai kepala Rei.
Cyn: (posisi tiarap) Aww!
Rei: (kaget, mengusap-usap kepala, lalu berbalik ke belakang) Kemampuan larimu payah sekali!
Cyn: (bangkit, menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor) Memangnya kau pikir kau sedang bersama siapa?! Pemenang kejuaraan lari?
Rei: Hei, kita sedang memburu waktu, ingat? Kau sendiri yang bilang tidak ingin ada yang mati. Kalau aku sih, peduli amat dengan kakakku yang pintar itu. Toh sekarang aku sudah punya penghasilan sendiri.
Cyn: (menarik napas keras) Yang benar saja, kita sekarang satu tim!
Rei: Ya, ya, ya. Tidak perlu khawatir, Cyn. Abaikan saja soal kalimatku tadi. Kupikir, ini akan menjadi permainan paling seru dari games yang pernah kumainkan. Semacam game detektif?
Cyn: (melengos) Jadi katakan, di mana tempatnya? Kau berlari seolah kautahu banyak tentang tempat ini.
Rei: Apa kaupikir ini sudah cukup jauh dari markas mereka?
Cyn: Kukira kakiku akan patah jika kau mengajakku berlari lebih jauh lagi.
Rei: (menaikkan A\alis) Baiklah... Kurasa kita memang tidak perlu pergi terlalu jauh agar tidak membuat mereka curiga.
Rei: (menatap ke sekeliling bangunan-bangunan tua yang ada di jalanan tersebut). Kemari!
Cyn: (berjalan mendekati Rei)
SFX. Pagar besi berderit terbuka
Rei, Cyn: (berjalan mengitari bangunan tua berlantai 2 itu)
Cyn: Lewat sini! (berbisik, menunjuk pintu belakang yang tampak bobrok)
Rei: (berlari menghampiri Cyn)
SFX. Klik, pintu terbuka.
INT. Gedung Tua Berlantai 2, Lampu Temaram.
Rei: (berjalan cepat mengitari ruangan, meninggalkan Cyn yang bersandar kelelahan di tembok).
Cyn: Memangnya apa yang bisa dilakukan di tempat seperti ini? (menggumam sambil melempar dengan jijik sarang laba-laba di hadapannya)
Ruangan di dalam gedung tua itu serupa aula, dengan salah satu pintu di ujung sisinya yang mengantarkan pada sebuah lorong dengan kamar-kamar dan tangga menuju lantai dua. Tak ada apa-apa di sana, kecuali meja persegi yang kaki-kakinya tampak rapuh dimakan rayap, juga komputer tua yang teronggok di atasnya; persis di bawah tangga.
Rei: Ah, mari kulihat, apa kau bahkan bisa diajak bekerja sama (menyalakan komputer).
SFX Suara bip pelan.
Rei: (menarik tombol keyboard) AAAA!!
Cyn: Rei!! Hei, kau di mana?! (berlari ke arah suara).
Rei: (terduduk di lantai).
Cyn: Astaga, aku bahkan bisa melihat wajah pucatmu dengan jelas di penerangan redup macam ini!
Rei: (menunjuk ke keyboard komputer) Itu... tolong singkirkan itu!
Cyn: (melihat ke arah yang ditunjuk Rei, tertawa) Ya Tuhan, kau bahkan takut dengan kecoa! Ck. Benar-benar tidak bisa dipercaya!
Rei: (mendengus) Kau tahu kan, kita perlu memecahkan kode itu terlebih dahulu.
Cyn: Kau bilang kau sudah mengetahuinya?
Rei: Oh, please! Ingatan fotografismu yang cemerlang itu rupanya tidak sebanding dengan kerja otakmu ya? Jadi, aku memang sudah mengetahuinya, tapi baru sebatas kata kuncinya saja. dan deretan huruf yang kaulihat di layar itu perlu kita padukan dengan kata kuncinya untuk mendapatkan kode yang sebenarnya. Mengerti? Lalu, apa perlu kujelaskan juga kita kabur untuk menghindari rekaman CCTV yang ternyata di atap pun ada? Ah, kuharap Emily atau bahkan Joe bisa mengerti maksud dari pembagian tim ini. Kita berdua hanya perlu menjauh agar bisa menyusun strategi tanpa diketahui siapa pun.
Cyn: (manggut-manggut) Lalu bukankah penyusupan yang dilakukan Joe dan Emily akan sia-sia?
Rei: Yah, paling tidak dengan begitu kita bisa sedikit mengelabui mereka yang terus mengawasi kita. Berpura-pura bodoh kadang bisa jadi menguntungkan. Ayo, bantu aku memecahkan kodenya. Kata kuncinya adalah... LANGIT!
Cyn: Apa yang bisa kulakukan antara XINF QZCO RUEZ dengan LANGIT? (mengernyit bingung).
Rei: Ya Tuhan, apa kau bahkan pernah mendengar tentang chippertext?!
Cyn: (menggeleng polos).
Rei: (menjalankan mouse, membuka program kalkulator di komputer) Kita akan mulai mendekrip kodenya. Aku akan memberikan instruksi untuk menghitung dengan operasi modulus. Pastikan kau memasukkan angkanya dengan benar, oke?
Cyn: Ngg, aku tidak masalah dengan itu. Tapi, waktu kita... tinggal 43 menit lagi (melirik arloji, cemas).
Rei: Jika ada yang mati, itu sudah pasti bukan ayahmu. 12 mod 26?
CUT TO
INT. Markas Para Pengunci. Lorong-lorong dengan jajaran ruangan berpintu kaca.
Em: (berjalan mengendap).
Joe: (di belakang Emily, mengoceh) Bagaimana kita bisa masuk ke ruangan-ruangan ini jika pintunya saja dilengkapi panel sentuh sidik jari begini? Sudah pasti hanya mereka dengan identitas terdaftar yang bisa masuk. HHH! Seharusnya kutinju saja orang-orang gila itu ketika memaksaku ikut dengan mereka. Waktu tidurku bahkan sepertinya akan berkurang drastis!
Em: (mendadak berhenti).
Joe: (hampir menabrak Emily).
Em: Ssst! (menempelkan telunjuk di bibir).
Joe: (mengernyit).
Em, Joe: (mengintip ke dalam ruangan).
            Itu ruangan yang tadi sore dimasukinya ketika sadar setelah dibawa paksa oleh preman-preman kasar itu. Kini tampak beberapa orang mengenakan jas formal duduk mengitari meja kaca panjang yang dilengkapi panel-panel. Bersama mereka adalah para pengunci, dan Wijaya, satu-satunya yang dikenal Emily dan Joe. Mereka tengah fokus pada layar besar yang menunjukkan kode-kode yang dimasukkan ke sebuah kolom, enter, dan... ACCESS DENIED!
INT. Markas Pengunci. Dalam ruang pertemuan.
Pria jas 1 (berkacamata): Sepertinya mereka benar-benar memperkuat jaringan keamanannya.
Pria jas 2 (rambut putih): Pasti ada pihak-pihak yang berperan besar dalam hal itu.
Wij: (mendehem) Tentu, Tuan. Tapi, kami akan terus bekerja keras untuk bisa mendeteksi lokasinya.
Pria jas 4 (berhidung runcing): Berapa lama lagi kita akan menunggu? Mereka hilang sudah hampir sebulan! Sebulan!
Wij: (menunduk).
Pria jas 3 (mata berkantung): Kita bahkan sampai harus melibatkan anak-anak itu... Hm.
Wij: (tetap menunduk).
CUT BACK TO
INT. Gedung Tua Berlantai 2.
Karena kebiasaannya di depan komputer untuk bermain dan mempelajari cara membuat game, Rei dapat dengan mudah menebak kode macam apa yang diberikan pria bertopeng itu beserta langkah-langkah untuk memecahkannya—hal yang tak diketahui kakaknya yang kelewat sibuk dan pintar itu bahwa adiknya banyak berkembang selama dua bulan terakhir ini. Setelah menyelesaikan tahap pertama, Rei pun memerintahkan Cyn untuk mengetik Sandi Vigenere di komputer tua itu.
Rei: Ya Tuhan, lama sekali kau bekerja! Jangan-jangan Sandi Vigenere ini merupakan sesuatu yang baru bagimu?
Cyn: (bibir mengerucut, mengetik) Terus saja merendahkanku!
Rei: Oke, oke, baiklah, cepat selesaikan. Jangan lupa simpan tabel sandi itu dengan ingatan fotografismu begitu kau menyelesaikannnya. Kita akan banyak membutuhkannya. Omong-omong, Emily benar, apa untungnya ya bagi mereka melibatkan kita?
Cyn: Aku sudah selesai!
Rei: (melonjak mendekat) Ayo kita pecahkan!
CUT TO
INT. Markas Penyekapan Para Pengunci. Ruang Pribadi Al.
Al: Tentu saja, Tuan, itu umpan yang sangat tepat untuk memancing kemarahan mereka (tertawa terbahak-bahak). Apa? Oh ya, tentu. Aset berharga itu kini amat lemah dan tidak sadarkan diri secara berkala, sesuai yang Anda minta. Begitu anak-anak itu tidak bisa menyelesaikan kodenya, tabung itu secara otomatis akan meledak. Dan aku akan memastikan keempat kurcaci yang emosional itu tidak melihat apa pun ketika tubuh si lemah itu dievakuasi.
SFX Ting. Suara pesan masuk.
Al: (memperbaiki posisi headset, menatap layar ponsel dengan nanar) Ada pesan dari agen kita, Tuan. Ya? Uhm, Penggagas terus berusaha melacak lokasi kita. Apa? Baik, akan kulakukan.
INT. Gedung Tua Berlantai 2.
Cyn: (memekik) BINTANG ORION?
Rei: Apa maksudnya ini?
Cyn: (mengangkat bahu).
Rei: Kita perlu kembali ke markas!
Tiga puluh menit setelahnya...
INT. Ruang penuh tabung.
Al: Halo, halo~
Dru: (membuang muka).
Ar: Cih!
Wid: Apa lagi, sekarang?!
Al: (tersenyum senang) O-ho, kalian terlalu berburuk sangka, tawanan-tawananku!
Jan: (mendengus keras).
Al: Ah, baiklah. Kalian tahu, anak-anak dan adik kalian tengah berusaha memecahkan kode itu. Coba kita lihat, apakah itu bahkan akan berhasil? Mengingat waktunya tinggal...
Jan, Dru, Ar, Wid: (serentak menoleh ke timer di tabung Radian).
Al: (menjentikkan jari) Benar sekali! Delapan menit! Jika dalam waktu delapan menit layar raksasa itu tidak memunculkan maksud dari kode yang telah dipecahkan oleh kerabat kalian, sebagai gantinya, tabung itu akan meledak.
INT. Markas Pengunci. Ruang pertemuan.
Wij: Jadi, kalian sudah memecahkan kodenya?
Cyn: (terengah-engah)
Rei: BINTANG ORION! Itu kodenya. Cepat siapkan komputermu! Astaga, waktu kita sebentar lagi! (napas memburu).
Wij: Lalu apa maksudnya itu?
Joe: (menguap) Em?
Em: Itu... uhm, Rigel? (ragu-ragu)
Wij: (mengetik kata-kata Emily di komputernya)
SFX Ting. Bunyi layar monitor raksasa. Bintang Orion, benar.
Joe: (bersorak).
SFX. Bip. Rigel. Jawaban salah.
Cyn: Sesuatu yang lain, Em?
Rei: (pasrah).
Em: Al... nitak, Alnilam, Mintaka?
Wij: (mengetik dengan cepat) Oke, ENTER!
SFX! Bunyi ping keras. FAILED! TIME IS OVER!
Layar mendadak hitam. Perlahan muncul setitik cahaya. Menerang, menerang, dan...
SFX. BOOM! Suara tabung meledak. Suara manusia menjerit. RADIAN!!!
Cyn, Rei, Joe, Em: (terperangah)
BERSAMBUNG...

Cerita selanjutnya akan dibawakan oleh Kak Zu. :))
---> Di Balik Rasi Bintang Orion

2 komentar:

  1. Eaaa, kodekodean lagi... keluarin aja semua ilmu astronomi di cerita ini...
    *nangis darah

    TAT

    tapi great job Ev,setidaknya masalah kode udah bisa diceklis) xDD

    BalasHapus

Komen, yuuuk ;))