Brakkk! Hasna
membanting pintu keras-keras. Ummi yang sedang duduk membaca majalah di ruang
tamu sampai terkejut. Wajahnya murung. Hasna bahkan tidak mengucap salam dan
hanya mencium tangan Ummi asal-asalan. Gadis sebelas tahun itu pun langsung
masuk ke kamarnya.
Ummi beranjak mengikutinya, tetapi
kamar itu dikunci.
“Hasna... Ada apa, sayang?” tanya
Ummi sembari mengetuk pintu kamar Hasna.
Tidak ada jawaban.
“Hasna, ganti baju trus makan dulu
yuk. Ummi sudah siapkan sayur lodeh kesukaan Hasna,” kata Ummi lagi, berusaha
membujuk anak bungsunya.
Lagi-lagi tidak ada jawaban, tetapi
itu tidak membuat Ummi menyerah. Dibujuknya gadis itu dengan segala cara, yang
pada akhirnya tidak berhasil.
Ummi mendesah pelan. Bagaimanapun,
sepertinya hal ini harus dibicarakan pada Abi.
* * *
Sudah sebulan ini Hasna merengek
minta dibelikan HP. Pasalnya, teman-temannya di sekolah hampir semuanya
memiliki alat komunikasi itu. Hanya Hasna dan seorang laki-laki yang bernama
Akbar yang belum punya. Lagi pula kabarnya Akbar juga akan segera dibelikan HP
oleh ayahnya sebagai hadiah memenangkan lomba mewarnai tingkat kecamatan.
Kalau Akbar saja tinggal menunggu
waktu, lantas bagaimana nasib Hasna? Ia tidak mau lagi cuma jadi pendengar
ketika teman-temannya sibuk membicarakan game seru yang mereka mainkan
di ponsel berbasis Android itu. Belum lagi kalau mereka sibuk bertanya tentang
akun-akun sosial media yang katanya kekinian itu.
“Hasna, IG kamu apa? Sini aku follow.”
“Hasna, nama akun Twitter
kamu apa? Follow punyaku dong, nanti aku folback!”
“Stiker di LINE itu lucu-lucu yaa.
Kalo mau ngehubungin aku lewat LINE aja, biar bisa tukeran stiker lucu!”
Hasna berusaha menutup telinganya
rapat-rapat. Seolah belum cukup, salah satu temannya tiba-tiba menyeletuk, “Eh,
Hasna kan gak punya HP Android, teman-teman.”
Itu suara Abel, teman sekelasnya
yang terkenal paling cerewet.
“Ya ampun, masa sih?” teman-teman
yang lain bersorak tidak percaya. Mereka melirik kasihan pada Hasna yang sedari
tadi hanya diam.
Hasna mencoba ber-istighfar,
seperti yang diajarkan Ummi-nya untuk melawan rasa marah dan sedih. Namun,
keriuhan teman-temannya yang setiap kali jam istirahat membicarakan tentang game
dan keseruan memiliki ponsel itu lama-lama membuatnya tidak tahan. Jadilah ia
murung setiap kali pulang sekolah. Rasanya ia sangat kesal, sementara Ummi dan
Abi sama sekali tidak mau menuruti keinginannya.
“Kalo Ummi jadi Hasna, Ummi pasti
pengen punya HP Android!” isaknya suatu kala, ketika berulang kali menyampaikan
keinginannya itu.
“Sayang, kalo Hasna jadi Ummi, Hasna
pasti nggak pengen membelikan anak Hasna HP Android karena tau barang itu
sedikit banget manfaatnya. Kalo Hasna benar-benar butuh, suatu saat nanti pasti
akan Ummi dan Abi belikan.”
Begitulah. Rengekan Hasna tidak
pernah bisa membuat Ummi dan Abi luluh. Hasna mogok ngomong sama Ummi!
* * *
Hari ini adalah hari ketiga Hasna
mogok ngomong sama Ummi dan Abi. Ummi dan Abi jadi khawatir. Akhirnya, setelah
berdiskusi panjang lebar, dengan mendengarkan pendapat kakak laki-laki Hasna,
Kak Iman, Ummi dan Abi pun memutuskan membelikan Hasna HP Android. Mereka
mengajak Hasna ke salah satu toko eletronik yang ada di mal dekat rumah.
Berdasarkan saran Kak Iman, akhirnya
terpilihlah sebuah ponsel yang didukung Android seperti yang diinginkan Hasna.
Fiturnya cukup lengkap, meski harganya tidak terlalu mahal. Hasna pun menenteng
kantong plastik berisi kotak ponsel itu dengan senyum lebar. Ia tak
henti-hentinya memandangi kotak itu dan tidak sabar untuk membukanya di rumah.
Sesampainya di rumah, ia langsung
membuka kotak itu dan bersorak kegirangan. Akhirnya Hasna punya HP! Ia pun menghambur memeluk Abi dan Ummi.
“Makasih ya, Abi, Ummi. Sayang
banget deh, hehe,” cengir Hasna.
Abi mengelus kepala putri kecilnya
itu, lalu berujar, “Tapi, Hasna harus janji ya. Nggak boleh main HP kalau
waktunya ngaji ataupun belajar. Hasna harus bisa bagi waktu. Siap?”
“Siap, Bos!” seru Hasna, sambil
hormat ala-ala tentara seperti ketika mendapat perintah dari komandannya.
* * *
Seminggu setelahnya, Hasna menyadari
ternyata punya HP itu tidak seseru yang dibayangkannya. Ia harus meloncat
bangun ketika suara adzan dari HP-nya itu mengangetkannya setiap Shubuh. Ia
juga harus segera bangun dari tidur siang ketika adzan Ashar berkumandang.
Pokoknya, gara-gara suara adzan yang otomatis dari HP-nya itu, ia terpaksa
harus segera bangun. Padahal biasanya ia sedikit molor kalau tiap adzan
dibangunkan Ummi untuk shalat. Sekarang sudah tidak bisa lagi begitu. HP-nya
akan terus berbunyi nyaring kalau dia tidak juga mau bangun. Lama-lama Hasna
pun jadi terbiasa shalat tepat waktu, meski awalnya susah sekali.
Teman-temannya kini berhenti
membicarakannya. Hasna sekarang suka bergabung dengan mereka. Meski di HP-nya
tidak ada game seperti yang dimainkan teman-temannya karena Abi melarang
itu, ia tetap pede karena akhirnya punya akun media sosial. Mereka seringkali
berfoto bersama sehabis pulang les Bahasa Inggris di tempat kursus dekat
sekolah. Foto-fotonya juga tidak lupa dimasukkan ke Instagram. Melihat
itu, Ummi dan Abi hanya bisa geleng-geleng kepala.
Suatu
siang, Ummi masuk ke kamar Hasna dan melihat putri kecilnya itu sedang sibuk
mendekor kamar. Hasna menempel kertas origami yang sudah dibentuk lucu-lucu di
atas kertas karton tebal yang lebar. Di atasnya tertulis kata-kata semangat dan
motivasi seperti: Yuk, shalat tepat waktu! Rezekinya juga bakal tepat waktu!,
Senyum Itu Ibadah Lho!, Idolaku Itu... Rasulullah, Pastinya!, dan masih
banyak lagi.
Hasna pun iseng memotret satu kertas
origami berbentuk awan dengan tulisan “Senang? Alhamdulillah-nya Mana?”
dan memasukkannya ke Instagram. Dalam hitungan menit, foto itu pun
disukai sebanyak 20 orang. Salah satu guru Hasna di sekolah bahkan juga memberi
komentar tanda jempol. Hasna lantas kegirangan dan menunjukkan foto itu pada
Ummi.
“Nah, kalo gini Allah bakal makin
sayang deh sama Hasna,” ujar Ummi sambil tersenyum.
“Kok gitu, Mi?” Hasna mengernyit
bingung.
“Iya, itu sama aja kayak Hasna lagi
berusaha ngingetin orang lain untuk bersyukur. HP barunya jadi bermanfaat deh,”
jawab Ummi.
Hasna merenung sebentar, lalu
berkata, “Jadi kayak lagi dakwah gitu ya, Mi?”
Sesaat Ummi kaget mendengar ucapan
Hasna, tapi kemudian mengangguk mantap.
“Ya udah deh, ntar IG, Twitter,
LINE, aku penuhin semua deh pake foto tulisan begituan. Biar Allah tambah
sayang, siapa tau nanti aku jadi gampang ngafalin rumus Matematika. Hehehe,”
ungkap Hasna polos. Cengirannya lebar.
Ummi hanya bisa tertawa
mendengarnya. Hasna pun semakin semangat menggunting kertas origaminya dan
menulisi kata-kata motivasi juga hadits-hadits pendek yang pernah dipelajarinya
dalam pelajaran Al-Qur’an Hadits di sekolah. Ia menjadi tidak sabar untuk
menyelesaikan semua itu, memotret, lalu menyebarkannya di semua akun media
sosial miliknya. Kalau perlu ia akan mengajak semua teman-temannya untuk
melakukan hal yang sama. HP barunya buat dakwah, biar Allah makin sayang. Siapa
tahu nanti... eits, tapi nggak boleh salah niat ding!
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))