Pages

Kamis, 14 April 2016

Dakwah Ala Hasna


Brakkk! Hasna membanting pintu keras-keras. Ummi yang sedang duduk membaca majalah di ruang tamu sampai terkejut. Wajahnya murung. Hasna bahkan tidak mengucap salam dan hanya mencium tangan Ummi asal-asalan. Gadis sebelas tahun itu pun langsung masuk ke kamarnya.      
            Ummi beranjak mengikutinya, tetapi kamar itu dikunci.
            “Hasna... Ada apa, sayang?” tanya Ummi sembari mengetuk pintu kamar Hasna.
            Tidak ada jawaban.
            “Hasna, ganti baju trus makan dulu yuk. Ummi sudah siapkan sayur lodeh kesukaan Hasna,” kata Ummi lagi, berusaha membujuk anak bungsunya.
            Lagi-lagi tidak ada jawaban, tetapi itu tidak membuat Ummi menyerah. Dibujuknya gadis itu dengan segala cara, yang pada akhirnya tidak berhasil.
            Ummi mendesah pelan. Bagaimanapun, sepertinya hal ini harus dibicarakan pada Abi.
* * *
            Sudah sebulan ini Hasna merengek minta dibelikan HP. Pasalnya, teman-temannya di sekolah hampir semuanya memiliki alat komunikasi itu. Hanya Hasna dan seorang laki-laki yang bernama Akbar yang belum punya. Lagi pula kabarnya Akbar juga akan segera dibelikan HP oleh ayahnya sebagai hadiah memenangkan lomba mewarnai tingkat kecamatan.
            Kalau Akbar saja tinggal menunggu waktu, lantas bagaimana nasib Hasna? Ia tidak mau lagi cuma jadi pendengar ketika teman-temannya sibuk membicarakan game seru yang mereka mainkan di ponsel berbasis Android itu. Belum lagi kalau mereka sibuk bertanya tentang akun-akun sosial media yang katanya kekinian itu.
            “Hasna, IG kamu apa? Sini aku follow.”
            “Hasna, nama akun Twitter kamu apa? Follow punyaku dong, nanti aku folback!”
            “Stiker di LINE itu lucu-lucu yaa. Kalo mau ngehubungin aku lewat LINE aja, biar bisa tukeran stiker lucu!”
            Hasna berusaha menutup telinganya rapat-rapat. Seolah belum cukup, salah satu temannya tiba-tiba menyeletuk, “Eh, Hasna kan gak punya HP Android, teman-teman.”
            Itu suara Abel, teman sekelasnya yang terkenal paling cerewet.
            “Ya ampun, masa sih?” teman-teman yang lain bersorak tidak percaya. Mereka melirik kasihan pada Hasna yang sedari tadi hanya diam.
            Hasna mencoba ber-istighfar, seperti yang diajarkan Ummi-nya untuk melawan rasa marah dan sedih. Namun, keriuhan teman-temannya yang setiap kali jam istirahat membicarakan tentang game dan keseruan memiliki ponsel itu lama-lama membuatnya tidak tahan. Jadilah ia murung setiap kali pulang sekolah. Rasanya ia sangat kesal, sementara Ummi dan Abi sama sekali tidak mau menuruti keinginannya.
            “Kalo Ummi jadi Hasna, Ummi pasti pengen punya HP Android!” isaknya suatu kala, ketika berulang kali menyampaikan keinginannya itu.
            “Sayang, kalo Hasna jadi Ummi, Hasna pasti nggak pengen membelikan anak Hasna HP Android karena tau barang itu sedikit banget manfaatnya. Kalo Hasna benar-benar butuh, suatu saat nanti pasti akan Ummi dan Abi belikan.”
            Begitulah. Rengekan Hasna tidak pernah bisa membuat Ummi dan Abi luluh. Hasna mogok ngomong sama Ummi!
* * *
            Hari ini adalah hari ketiga Hasna mogok ngomong sama Ummi dan Abi. Ummi dan Abi jadi khawatir. Akhirnya, setelah berdiskusi panjang lebar, dengan mendengarkan pendapat kakak laki-laki Hasna, Kak Iman, Ummi dan Abi pun memutuskan membelikan Hasna HP Android. Mereka mengajak Hasna ke salah satu toko eletronik yang ada di mal dekat rumah.
            Berdasarkan saran Kak Iman, akhirnya terpilihlah sebuah ponsel yang didukung Android seperti yang diinginkan Hasna. Fiturnya cukup lengkap, meski harganya tidak terlalu mahal. Hasna pun menenteng kantong plastik berisi kotak ponsel itu dengan senyum lebar. Ia tak henti-hentinya memandangi kotak itu dan tidak sabar untuk membukanya di rumah.
            Sesampainya di rumah, ia langsung membuka kotak itu dan bersorak kegirangan. Akhirnya Hasna punya HP!  Ia pun menghambur memeluk Abi dan Ummi.
            “Makasih ya, Abi, Ummi. Sayang banget deh, hehe,” cengir Hasna.
            Abi mengelus kepala putri kecilnya itu, lalu berujar, “Tapi, Hasna harus janji ya. Nggak boleh main HP kalau waktunya ngaji ataupun belajar. Hasna harus bisa bagi waktu. Siap?”
            “Siap, Bos!” seru Hasna, sambil hormat ala-ala tentara seperti ketika mendapat perintah dari komandannya.
* * *
            Seminggu setelahnya, Hasna menyadari ternyata punya HP itu tidak seseru yang dibayangkannya. Ia harus meloncat bangun ketika suara adzan dari HP-nya itu mengangetkannya setiap Shubuh. Ia juga harus segera bangun dari tidur siang ketika adzan Ashar berkumandang. Pokoknya, gara-gara suara adzan yang otomatis dari HP-nya itu, ia terpaksa harus segera bangun. Padahal biasanya ia sedikit molor kalau tiap adzan dibangunkan Ummi untuk shalat. Sekarang sudah tidak bisa lagi begitu. HP-nya akan terus berbunyi nyaring kalau dia tidak juga mau bangun. Lama-lama Hasna pun jadi terbiasa shalat tepat waktu, meski awalnya susah sekali.
            Teman-temannya kini berhenti membicarakannya. Hasna sekarang suka bergabung dengan mereka. Meski di HP-nya tidak ada game seperti yang dimainkan teman-temannya karena Abi melarang itu, ia tetap pede karena akhirnya punya akun media sosial. Mereka seringkali berfoto bersama sehabis pulang les Bahasa Inggris di tempat kursus dekat sekolah. Foto-fotonya juga tidak lupa dimasukkan ke Instagram. Melihat itu, Ummi dan Abi hanya bisa geleng-geleng kepala.
            Suatu siang, Ummi masuk ke kamar Hasna dan melihat putri kecilnya itu sedang sibuk mendekor kamar. Hasna menempel kertas origami yang sudah dibentuk lucu-lucu di atas kertas karton tebal yang lebar. Di atasnya tertulis kata-kata semangat dan motivasi seperti: Yuk, shalat tepat waktu! Rezekinya juga bakal tepat waktu!, Senyum Itu Ibadah Lho!, Idolaku Itu... Rasulullah, Pastinya!, dan masih banyak lagi.
            Hasna pun iseng memotret satu kertas origami berbentuk awan dengan tulisan “Senang? Alhamdulillah-nya Mana?” dan memasukkannya ke Instagram. Dalam hitungan menit, foto itu pun disukai sebanyak 20 orang. Salah satu guru Hasna di sekolah bahkan juga memberi komentar tanda jempol. Hasna lantas kegirangan dan menunjukkan foto itu pada Ummi.
            “Nah, kalo gini Allah bakal makin sayang deh sama Hasna,” ujar Ummi sambil tersenyum.
            “Kok gitu, Mi?” Hasna mengernyit bingung.
            “Iya, itu sama aja kayak Hasna lagi berusaha ngingetin orang lain untuk bersyukur. HP barunya jadi bermanfaat deh,” jawab Ummi.
            Hasna merenung sebentar, lalu berkata, “Jadi kayak lagi dakwah gitu ya, Mi?”
            Sesaat Ummi kaget mendengar ucapan Hasna, tapi kemudian mengangguk mantap.
            “Ya udah deh, ntar IG, Twitter, LINE, aku penuhin semua deh pake foto tulisan begituan. Biar Allah tambah sayang, siapa tau nanti aku jadi gampang ngafalin rumus Matematika. Hehehe,” ungkap Hasna polos. Cengirannya lebar.
            Ummi hanya bisa tertawa mendengarnya. Hasna pun semakin semangat menggunting kertas origaminya dan menulisi kata-kata motivasi juga hadits-hadits pendek yang pernah dipelajarinya dalam pelajaran Al-Qur’an Hadits di sekolah. Ia menjadi tidak sabar untuk menyelesaikan semua itu, memotret, lalu menyebarkannya di semua akun media sosial miliknya. Kalau perlu ia akan mengajak semua teman-temannya untuk melakukan hal yang sama. HP barunya buat dakwah, biar Allah makin sayang. Siapa tahu nanti... eits, tapi nggak boleh salah niat ding!
* * *

---Telah diikutsertakan dalam Lomba Cerpen Anak Islami P&P UKI JAA UMY 2016, alhamdulillaah juara ketiga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))