Kepada L,
Tepat
di senja merah yang sudah lama sekali itu, aku melihatmu berjalan
terpincang-pincang. Kakimu seperti menolak untuk diajak menapak lantai yang
datar. Sesekali kamu berhenti, meringis kesakitan, lalu menyeka keringat yang
jatuh di sepanjang wajahmu. Dengan satu tangan masih memegang bola basket, dan
satu tangan yang kamu gunakan untuk mengibas sekaligus menyekap buliran itu,
kamu melakukannya dengan susah payah.
Aku
ingin membantumu, tapi kupikir bagaimana caranya? Menuntunmu berjalan, jelas
saja aku tidak bisa. Menawarkan membawa bola basketmu, itu juga bukan sesuatu
yang bisa kulakukan. Sepertinya akan sangat aneh jika aku yang asing bagi semua
orang di gedung ini tiba-tiba menghambur dan seolah sudah mengenalmu jauh lebih
dulu. Jadi, itulah mengapa akhirnya aku kembali menunduk dan menyelesaikan
bacaanku.
Aku
terlalu larut dalam bacaanku hingga tak menyadari berapa lama waktu sudah
berlalu sampai terdengar getaran pada pintu. Ketukanmu yang ragu-ragu itu
kemudian membuatku mengangkat kepala.
“Kalian
punya air minum? Kalau ada, boleh minta? Kebetulan persediaan air minum kami
habis, dan belum ada yang sempat keluar untuk membeli.”
“Oh
ya, ada. Tentu saja boleh,” kataku, bangkit lalu menerima botol tupperware
yang kamu ulurkan.
“Terima
kasih,” ucapmu begitu menerima botol yang telah kuisi penuh dengan air mineral
dari galon di sudut ruangan itu. “Omong-omong, kalian baru pindah ya?”
“Uhm,
itu... kami klub yang baru saja diresmikan oleh pihak universitas. Jadi tidak
bisa dikatakan pindah sebenarnya, ini ruang sekretariat pertama kami,” jelasku.
“Oh,
begitu,” gumammu. “Ya, ya. Aku sempat mendengar tentang Klub Sastra yang
berdiri secara independen dengan anggotanya yang produktif menelurkan karya di
media massa. Jadi itu kalian ya? Keren sekali.”
“Kami
nggak sekeren itu juga kok,” aku meralat, yang lebih terdengar seperti kurang
percaya diri daripada berusaha merendah. Tentu saja, klub kami tidak ada
apa-apanya dibanding klub basketnya yang sudah begitu banyak menuai prestasi.
“Oh
ya?” Dahimu berkerut. “Baiklah, selamat datang kalau begitu. Semoga kalian
betah di sini. Mungkin ruang sekretariat di sebelah kalian ini akan sangat
berisik. Yah, harap maklum saja bagaimana kalau cowok-cowok sedang berkumpul.
Sekali lagi terima kasih ya air minumnya.”
Kamu
menyeret langkah. Lalu aku mendengar mulutku bersuara, membuatmu berhenti dan
menoleh. “Uhm... kakimu apa tidak
apa-apa? Tadi aku melihatmu berjalan susah payah—”
“Oh,
ini.” Kamu reflek melihat ke bawah, mengikuti arah pandanganku. “Tidak apa-apa
kok. Hanya cedera biasa.”
Aku
mengangguk, dan kamu berlalu.
* * *
Setelah
senja itu, L, dan interaksi-interaksi kita yang tak terduga, aku mendadak
sering dihujani kata-kata. Lalu begitu saja lahir banyak puisi dan prosa. Aku
menjadi amat produktif. Dan kamu menjadi semacam komposisi yang kubutuhkan
untukku menulis. Aku sendiri tidak tahu bagaimana ia bermula. Rasanya
tiba-tiba, dan aku baru sadar ketika sesuatu dalam dada berpacu begitu kamu
ada. Lalu seperti tanpa diminta, takdir berkonspirasi mempertemukan kita.
Di
lantai 3 Gedung Student Center yang katamu sakral itulah tempatnya. Ruangan
kita bersebelahan, fakta itu membuat kamu dan aku tak jarang harus bertukar
sapa, meski hanya berupa senyuman-senyuman canggung dan ragu, atau kilatan
tatap sewaktu kita tak sengaja berpapasan di tangga.
Untuk
obrolan-obrolan kita yang tidak banyak itu, L, aku sedikit bersyukur.
Setidaknya dengan begitu aku bisa mengantisipasi kekonyolan-kekonyolan yang
mungkin saja kulakukan. Aku selalu payah jika harus berhadapan denganmu. Bahkan
untuk sekadar tersenyum atau menyapamu saja, otakku perlu berpikir keras.
Rasanya aneh, berpikir untuk hal-hal seremeh itu.
Lama
untukku menyadari dan memahami perasaan apa yang tengah bekerja di dalam diriku
sendiri. Kamu yang terasa jauh dan diam, dan aku yang tak berani terlalu banyak
kata. Kita yang terlihat bukan siapa-siapa dan tidak ada kepentingan apa-apa.
Tapi kemudian jantungku berdebar cepat. Lututku lemas. Kamu bahkan lebih dari
sekadar komposisi untuk puisi—yang ketika aku berusaha menyangkal fakta itu,
sesuatu seperti berhasil menyentak ke keluar.
Bayanganmu.
* * *
“Hei,
kamu di sini juga rupanya!” serumu, tampak begitu lega. Aku yang tadinya
berniat duduk di meja di sebelahmu mendadak mengurungkan niat dan beralih
mencari meja lain begitu menyadari kamu di situ. Tapi matamu terlanjur
menangkapku. Kamu menutup bukumu dan beralih kepadaku. Memintaku mengikutimu.
“Aku
bukan tipikal orang yang suka membaca, tapi sepertinya sekarang aku harus
benar-benar mulai belajar untuk menyukainya. Aku sudah mencobanya dengan
membaca buku yang sekiranya kusukai dari mata kuliah yang amat kusukai pula.
Sayangnya itu tidak membantu.” Oke, aku
harus mengakui ini pertama kalinya kamu berbicara banyak, dalam kalimat yang
panjang-panjang. Sebelum aku bahkan bisa mencerna dengan baik kata-katamu, kamu
berbalik. Aku mengerem langkah.
“Seorang
penulis kemungkinan besar adalah pembaca yang giat. Jadi kamu pasti seperti
itu.”
“Aku
hanya membaca novel dan yeah... sedikit tentang teori sastra.”
“Aku
tidak sedang ingin membaca yang seperti itu,” kilahmu. “Coba rekomendasikan
buku yang pernah kamu baca. Dari rak ini saja.”
Psikologi?!
Aku memekik menatap rak dengan kategori buku tempat kami berdiri. Yang benar
saja. aku belum satu pun menamatkan buku Psikologi, L. Kalau kamu bahkan bisa
membaca jauh apa yang dilakukan jantungku saat itu, aku mungkin tidak akan
setergesa itu menarik buku dari rak. Mengambilnya acak.
“Prophetic
Parenting?!” Keningmu berkerut. Butuh beberapa detik untuk mengambil alih
kendali dari keinginan merutuki diri sendiri. Kamu tertawa. “Terima kasih ya,
aku akan membacanya.” Kamu mengacungkan buku itu dan beranjak ke mejamu.
Aku
masih di situ ketika kamu beranjak, menutup wajah yang mendadak terasa panas.
* * *
L,
Aku
tidak pernah tahu apa definisi kebetulan. Seperti tidak tahunya kita bagian
mana dalam hidup yang sejatinya memang telah digariskan. Itu menjadi semacam
pukulan; karena tentang melihatmu, dan pertemuan-pertemuan tak diduga kita yang
terlampau sering itu, kini menjadi sesuatu yang butuh untuk kudefinisikan.
Dan
aku tidak suka itu. Aku tidak suka diriku yang terus menebak-nebak bagaimana
kamu terhadapku. Aku tidak suka diriku yang butuh banyak melihatmu. Lebih-lebih,
aku tidak menyukai diriku yang bergantung pada siapa pun selain-Nya, termasuk
kamu.
Hingga
hari ini, tepat dua tahun setelah kamu diwisuda—yang kemudian membuatmu hilang
entah ke mana, aku telah sempurna melupakanmu. Kamu pergi begitu saja dan aku
tidak benar-benar tahu apa yang terjadi setelah hari bahagiamu itu. Dan
barangkali memang benar, menulis bisa jadi semacam terapi. Rekaman ingatan dan
detik-detik menyakitkan akan kerinduanku itu membantu terciptanya sebuah buku
yang telah di-launching hari ini. Buku motivasi tentang bagaimana melupakanmu—atau
seseorang bagi orang lain, dan menjadikan-Nya ada di atas segala ingatan
tentang apa pun dan siapa pun.
Aku
di sini sekarang, di tengah keriuhan yang membahagiakanku. Aku hampir beranjak
dari kursiku—setelah kukira sesi booksigning itu telah usai—ketika
seseorang kembali menyodorkan sebuah buku.
Muhammad
Nur Abdul Hafizh Suwaid. Prophetic Parenting.
Tentu
saja, ini bukan buku karyaku! Kepalaku batal terangkat untuk melihat siapa yang
tersesat itu ketika kemudian mataku menangkap tulisan yang tertera di bawahnya.
Semacam daftar yang harus diisi.
Nomor
HP Ayahmu:
Alamat
rumahmu:
—aku
bermaksud mengkhitbahmu.
Dan
ini aku, Langit.
Aku
sontak mengangkat kepala. Napasku tercekat. Kamu menjulang di sana.
Merentangkan buku besar, yang kukenali sebagai... potongan karya-karyaku yang
pernah dimuat media massa. Yaa Rabbi...
“Selamat
atas kelahiran buku pertamamu. Kamu sudah berjalan cukup jauh, Aninda.
Beristirahatlah sejenak.” Kutundukkan kepalaku. Beristirahat untuk ini, L? Aku
bergumam sembari mengisi daftar itu. Dan... tentu, akan ada lebih banyak karya
setelah istirahat itu.
* * *
*Well, I’m just lucky to have this
short story being the winner of Short Story Writing Contest on ILF #2, held by SAC PPB UMY. You
did, L, and thanks for being real. :))
Wait, so L is real in your life, Ev? W-O-W
BalasHapusBtw, congratulation dear!! Um... You're great!
Who's this, btw? Sorry, I can't recognize youu~ m(__)m
HapusNo, he was not real--actualy, but, he is also real--in a different way. Complicated? Observe people, then write a story, you'll know. Wkwkwk.