Pages

Senin, 16 Mei 2016

L, dan Rekaman Ingatan

Kepada L,
            Tepat di senja merah yang sudah lama sekali itu, aku melihatmu berjalan terpincang-pincang. Kakimu seperti menolak untuk diajak menapak lantai yang datar. Sesekali kamu berhenti, meringis kesakitan, lalu menyeka keringat yang jatuh di sepanjang wajahmu. Dengan satu tangan masih memegang bola basket, dan satu tangan yang kamu gunakan untuk mengibas sekaligus menyekap buliran itu, kamu melakukannya dengan susah payah.
            Aku ingin membantumu, tapi kupikir bagaimana caranya? Menuntunmu berjalan, jelas saja aku tidak bisa. Menawarkan membawa bola basketmu, itu juga bukan sesuatu yang bisa kulakukan. Sepertinya akan sangat aneh jika aku yang asing bagi semua orang di gedung ini tiba-tiba menghambur dan seolah sudah mengenalmu jauh lebih dulu. Jadi, itulah mengapa akhirnya aku kembali menunduk dan menyelesaikan bacaanku.
            Aku terlalu larut dalam bacaanku hingga tak menyadari berapa lama waktu sudah berlalu sampai terdengar getaran pada pintu. Ketukanmu yang ragu-ragu itu kemudian membuatku mengangkat kepala.
            “Kalian punya air minum? Kalau ada, boleh minta? Kebetulan persediaan air minum kami habis, dan belum ada yang sempat keluar untuk membeli.”
            “Oh ya, ada. Tentu saja boleh,” kataku, bangkit lalu menerima botol tupperware yang kamu ulurkan.
            “Terima kasih,” ucapmu begitu menerima botol yang telah kuisi penuh dengan air mineral dari galon di sudut ruangan itu. “Omong-omong, kalian baru pindah ya?”
            “Uhm, itu... kami klub yang baru saja diresmikan oleh pihak universitas. Jadi tidak bisa dikatakan pindah sebenarnya, ini ruang sekretariat pertama kami,” jelasku.
            “Oh, begitu,” gumammu. “Ya, ya. Aku sempat mendengar tentang Klub Sastra yang berdiri secara independen dengan anggotanya yang produktif menelurkan karya di media massa. Jadi itu kalian ya? Keren sekali.”
            “Kami nggak sekeren itu juga kok,” aku meralat, yang lebih terdengar seperti kurang percaya diri daripada berusaha merendah. Tentu saja, klub kami tidak ada apa-apanya dibanding klub basketnya yang sudah begitu banyak menuai prestasi.
            “Oh ya?” Dahimu berkerut. “Baiklah, selamat datang kalau begitu. Semoga kalian betah di sini. Mungkin ruang sekretariat di sebelah kalian ini akan sangat berisik. Yah, harap maklum saja bagaimana kalau cowok-cowok sedang berkumpul. Sekali lagi terima kasih ya air minumnya.”
            Kamu menyeret langkah. Lalu aku mendengar mulutku bersuara, membuatmu berhenti dan menoleh.  “Uhm... kakimu apa tidak apa-apa? Tadi aku melihatmu berjalan susah payah—”
            “Oh, ini.” Kamu reflek melihat ke bawah, mengikuti arah pandanganku. “Tidak apa-apa kok. Hanya cedera biasa.”
            Aku mengangguk, dan kamu berlalu.
* * *
            Setelah senja itu, L, dan interaksi-interaksi kita yang tak terduga, aku mendadak sering dihujani kata-kata. Lalu begitu saja lahir banyak puisi dan prosa. Aku menjadi amat produktif. Dan kamu menjadi semacam komposisi yang kubutuhkan untukku menulis. Aku sendiri tidak tahu bagaimana ia bermula. Rasanya tiba-tiba, dan aku baru sadar ketika sesuatu dalam dada berpacu begitu kamu ada. Lalu seperti tanpa diminta, takdir berkonspirasi mempertemukan kita.
            Di lantai 3 Gedung Student Center yang katamu sakral itulah tempatnya. Ruangan kita bersebelahan, fakta itu membuat kamu dan aku tak jarang harus bertukar sapa, meski hanya berupa senyuman-senyuman canggung dan ragu, atau kilatan tatap sewaktu kita tak sengaja berpapasan di tangga.
            Untuk obrolan-obrolan kita yang tidak banyak itu, L, aku sedikit bersyukur. Setidaknya dengan begitu aku bisa mengantisipasi kekonyolan-kekonyolan yang mungkin saja kulakukan. Aku selalu payah jika harus berhadapan denganmu. Bahkan untuk sekadar tersenyum atau menyapamu saja, otakku perlu berpikir keras. Rasanya aneh, berpikir untuk hal-hal seremeh itu.
            Lama untukku menyadari dan memahami perasaan apa yang tengah bekerja di dalam diriku sendiri. Kamu yang terasa jauh dan diam, dan aku yang tak berani terlalu banyak kata. Kita yang terlihat bukan siapa-siapa dan tidak ada kepentingan apa-apa. Tapi kemudian jantungku berdebar cepat. Lututku lemas. Kamu bahkan lebih dari sekadar komposisi untuk puisi—yang ketika aku berusaha menyangkal fakta itu, sesuatu seperti berhasil menyentak ke keluar.
            Bayanganmu.  
* * * 
            “Hei, kamu di sini juga rupanya!” serumu, tampak begitu lega. Aku yang tadinya berniat duduk di meja di sebelahmu mendadak mengurungkan niat dan beralih mencari meja lain begitu menyadari kamu di situ. Tapi matamu terlanjur menangkapku. Kamu menutup bukumu dan beralih kepadaku. Memintaku mengikutimu.
            “Aku bukan tipikal orang yang suka membaca, tapi sepertinya sekarang aku harus benar-benar mulai belajar untuk menyukainya. Aku sudah mencobanya dengan membaca buku yang sekiranya kusukai dari mata kuliah yang amat kusukai pula. Sayangnya itu tidak membantu.”    Oke, aku harus mengakui ini pertama kalinya kamu berbicara banyak, dalam kalimat yang panjang-panjang. Sebelum aku bahkan bisa mencerna dengan baik kata-katamu, kamu berbalik. Aku mengerem langkah.
            “Seorang penulis kemungkinan besar adalah pembaca yang giat. Jadi kamu pasti seperti itu.”
            “Aku hanya membaca novel dan yeah... sedikit tentang teori sastra.”
            “Aku tidak sedang ingin membaca yang seperti itu,” kilahmu. “Coba rekomendasikan buku yang pernah kamu baca. Dari rak ini saja.”
            Psikologi?! Aku memekik menatap rak dengan kategori buku tempat kami berdiri. Yang benar saja. aku belum satu pun menamatkan buku Psikologi, L. Kalau kamu bahkan bisa membaca jauh apa yang dilakukan jantungku saat itu, aku mungkin tidak akan setergesa itu menarik buku dari rak. Mengambilnya acak.
            Prophetic Parenting?!” Keningmu berkerut. Butuh beberapa detik untuk mengambil alih kendali dari keinginan merutuki diri sendiri. Kamu tertawa. “Terima kasih ya, aku akan membacanya.” Kamu mengacungkan buku itu dan beranjak ke mejamu.
            Aku masih di situ ketika kamu beranjak, menutup wajah yang mendadak terasa panas.
* * *
L,
            Aku tidak pernah tahu apa definisi kebetulan. Seperti tidak tahunya kita bagian mana dalam hidup yang sejatinya memang telah digariskan. Itu menjadi semacam pukulan; karena tentang melihatmu, dan pertemuan-pertemuan tak diduga kita yang terlampau sering itu, kini menjadi sesuatu yang butuh untuk kudefinisikan.  
            Dan aku tidak suka itu. Aku tidak suka diriku yang terus menebak-nebak bagaimana kamu terhadapku. Aku tidak suka diriku yang butuh banyak melihatmu. Lebih-lebih, aku tidak menyukai diriku yang bergantung pada siapa pun selain-Nya, termasuk kamu.
            Hingga hari ini, tepat dua tahun setelah kamu diwisuda—yang kemudian membuatmu hilang entah ke mana, aku telah sempurna melupakanmu. Kamu pergi begitu saja dan aku tidak benar-benar tahu apa yang terjadi setelah hari bahagiamu itu. Dan barangkali memang benar, menulis bisa jadi semacam terapi. Rekaman ingatan dan detik-detik menyakitkan akan kerinduanku itu membantu terciptanya sebuah buku yang telah di-launching hari ini. Buku motivasi tentang bagaimana melupakanmu—atau seseorang bagi orang lain, dan menjadikan-Nya ada di atas segala ingatan tentang apa pun dan siapa pun.
            Aku di sini sekarang, di tengah keriuhan yang membahagiakanku. Aku hampir beranjak dari kursiku—setelah kukira sesi booksigning itu telah usai—ketika seseorang kembali menyodorkan sebuah buku.
            Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Prophetic Parenting.
            Tentu saja, ini bukan buku karyaku! Kepalaku batal terangkat untuk melihat siapa yang tersesat itu ketika kemudian mataku menangkap tulisan yang tertera di bawahnya. Semacam daftar yang harus diisi.
            Nomor HP Ayahmu:
            Alamat rumahmu:
            —aku bermaksud mengkhitbahmu.
            Dan ini aku, Langit.
            Aku sontak mengangkat kepala. Napasku tercekat. Kamu menjulang di sana. Merentangkan buku besar, yang kukenali sebagai... potongan karya-karyaku yang pernah dimuat media massa. Yaa Rabbi...
            “Selamat atas kelahiran buku pertamamu. Kamu sudah berjalan cukup jauh, Aninda. Beristirahatlah sejenak.” Kutundukkan kepalaku. Beristirahat untuk ini, L? Aku bergumam sembari mengisi daftar itu. Dan... tentu, akan ada lebih banyak karya setelah istirahat itu.
* * *
*Well, I’m just lucky to have this short story being the winner of Short Story Writing Contest on ILF #2, held by SAC PPB UMY. You did, L, and thanks for being real. :))

2 komentar:

  1. Wait, so L is real in your life, Ev? W-O-W
    Btw, congratulation dear!! Um... You're great!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Who's this, btw? Sorry, I can't recognize youu~ m(__)m

      No, he was not real--actualy, but, he is also real--in a different way. Complicated? Observe people, then write a story, you'll know. Wkwkwk.

      Hapus

Komen, yuuuk ;))