Suatu ketika, seorang teman datang kepadaku dan bercerita banyak hal tentang
kehidupannya; hal-hal mendalam yang tidak pernah diceritakannya kepada siapa
pun. Rahasia-rahasia yang dahulu berusaha disimpannya rapat-rapat sebelum
mengatakannya padaku waktu itu.
Ada orang-orang yang memang biasa saling berbagi rahasia. Ketika itu terjadi, maka itu menunjukkan kedekatan keduanya. Dan memang sedekat itulah kami. Jadi ketika dia datang dan mulai bercerita banyak hari itu, aku diam mendengarkan. Sampai ceritanya selesai, sampai ia tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan lagi selain bertanya, “Jadi menurutmu, aku harus bagaimana?”
Persoalannya sederhana, tapi cukup pelik juga untuk satu hal yang
melibatkan perasaan. Aku membayangkan aku akan sama bingungnya jika berada di
posisinya. Ada satu masalah yang harus diselesaikannya, dan itu lama sekali
sejak masalah itu terjadi—yang seharusnya ia bisa mengambil keputusan secepat
mungkin setelah peristiwa itu terjadi.
Aku berpikir lama untuk satu pertanyaan itu. Jadi ketika aku mengatakan hmm
dan tak kunjung bersuara lagi, dia menyela, “Melihatmu berpikir keras seperti
itu, aku jadi menyesal... seharusnya aku meralatnya sesegera mungkin setelah
hari itu.”“Ya, kamu memang seharusnya langsung mengatakannya hari itu. Atau meralatnya
setelah kamu sadar mengatakan itu,” kataku. Aku tidak bermaksud menyalahkannya
ataupun tidak menaruh empati pada sesalnya, hanya saja kita butuh keterbukaan
untuk menemukan penyelesaian.
“Benar kan,” desahnya. “Aku memang seharusnya melakukan itu.”
“Aku tidak memiliki solusi lain selain ...”
“Apa?”
“... kamu harus menjelaskannya kepada orang itu bahwa persetujuanmu
ketika itu barangkali tidak bisa dianggap serius. Kamu hanya terlalu mempertimbangkan
banyak hal ketika ingin mengatakan tidak.”
“Ev, itu nggak mungkin! Kamu yang bener aja dong,” sungutnya
“Yah, mau bagaimana lagi kan? Itu sudah memakan waktu yang sangat lama.
Kamu harus melakukannya jika tidak ingin membuatnya menjadi lebih lama lagi.”
“Iya, aku tahu. Tapi kan ...” Ia mendesah, sedikit frustrasi.
“Aku paham itu sangat berisiko, tapi itu satu-satunya solusi yang bisa
kutawarkan.”
“Maksudku adalah,” katanya, setelah mengambil napas beberapa kali, “jangan-jangan,
cuma aku yang menganggapnya seperti itu? Barangkali semuanya sudah selesai, menurut
dia.”
“Tapi ceritamu nggak mengatakan seperti itu,” tukasku.
“Iya, sih, tapi kadang-kadang aku berpikir itu cuma perasaanku saja,”
ungkapnya. “Aku yang baper, tahu maksudku kan?”
Aku mendesah. “Bisa jadi.”
“Kamu benar-benar tidak ada solusi lain selain itu? Aku tidak mungkin
melakukan itu, Vi. Dan aku juga tidak mungkin melibatkan orang lain sebagai
perantara di sini,” ujarnya. “Paling tidak, seharusnya ada solusi yang bisa membuatku
tetap terjaga.”
Terjaga.
Ah ya, benar juga. Bagaimanapun, kehormatan seorang perempuan dipertaruhkan
di sini. Ketika dia harus menjelaskan semuanya karena menurutnya ada hal yang
belum selesai sementara di sisi lain lawannya ternyata berpikir urusan mereka
telah selesai dan mengatakan bahwa ketidakselesaian itu hanya perasaan
temanku saja, maka tentu ia akan merasa malu—meski bisa dikatakan ia memiliki
80% untuk keyakinan bahwa semua itu belum selesai.
Tapi tetap saja kan, itu berisiko. Dan lawannya bisa saja mengelak,
sekalipun temanku benar soal keyakinannya itu. Jadi, memang harusnya ada solusi
yang mampu menjaga.
“Kalau begitu, kayaknya kamu harus langsung tanya sama Allah deh,”
ujarku. “Aku angkat tangan.”
Dan kami tidak menemukan apa-apa hari itu, selain pernyataan ‘harus
langsung tanya sama Allah’ dariku yang kemudian diiyakannya.
* * *
Lama sekali berlalu sejak ia datang kepadaku hari itu. Aku tidak tahu
apakah dia sudah mendapatkan jawabannya atau apa mengingat kesibukan kami
masing-masing, sampai suatu malam dia menelepon dan membicarakan soal itu
lagi. Seperti biasa, aku menanyainya kabar, dan begitu pun sebaliknya,
sesederhana ketika aku dan dia bertemu di lobi atau di mana pun yang memaksa
kami hanya bertukar hai karena terburu-buru.
“Ev, bayangkan suatu ketika kamu terbangun pagi-pagi ...”
“Itu tidak perlu dibayangkan, aku melakukannya setiap hari,” candaku.
“Ini serius, Evi! Coba dibayangkan saja,” dengusnya. Aku tertawa, dan
mengiyakan, karena lagi-lagi ini karena soal itu.
Dia mengambil napas, dan memulai, “Bayangkan, suatu ketika kamu
terbangun pagi-pagi ...”
“Ya,” responsku, dan aku benar membayangkannya.
“... dan kamu benar-benar terbangun pagi-pagi itu, Jadi ini bukan
aktivitas harian yang biasa dilakukan semua orang, tapi lebih seperti ketika ada
sesuatu yang menyentakmu tiba-tiba, atau membuatmu terjaga.”
Aku membayangkannya.
“Dalam kondisi setengah sadar, kamu beranjak ke pintu, hendak mengambil
air wudhu. Kamu berjalan dan kakimu menggesek sesuatu. Kamu mengucek mata beberapa
kali untu mengetahui bahwa itu adalah sebuah amplop. Berwarna pink lembut,
dan sangat cantik.”
“Waaah. Ada logo Hogwarts-nya nggak?” Aku menyebutkan salah satu nama
sekolah sihir di seri Harry Potter.
Dia tergelak, kemudian menanggapi leluconku, “Hogwarts nggak mungkin
menerima murid seperti kamu. Lagi pula, amplopnya nggak mungkin berwarna pink
kan?”
Mau tak mau aku tertawa juga. “Oke, lanjutkan,” kataku. “Kalau aku nggak
merespons, berarti aku sedang membayangkannya, oke?”
Dia melanjutkan, “Kamu mengambil amplop itu, mengeluarkan isinya, dan
taraaa... Itu adalah undangan sebuah pertunjukan!”
Yang benar saja, aku jarang menonton pertunjukan. Tapi aku membayangkannya.
“Undangan itu terlihat misterius. Kamu kaget, sekaligus penasaran. Jadi seketika
itu juga, kamu memutuskan untuk datang, meski kamu tidak tahu siapa saja di
bumi ini yang mendapat undangan demikian dan kamu bakal terancam terasing di
tengah orang-orang yang tidak kamu kenal. Tapi kamu memang menyukai itu, berada
di tengah-tengah orang asing yang tidak kamu kenal. Kamu menyukai gagasan itu
karena kamu tidak perlu repot memikirkan apa yang orang lain ketahui darimu,
apa yang orang lain pikirkan tentangmu.
“Tapi ternyata kamu salah ...”
Hm?
“Tidak ada orang asing di situ. Dan tidak ada siapa pun, kecuali kamu.”
Dia berhenti sejenak, mengatur napas. Dan sekarang aku membayangkan itu seperti
sesuatu yang menakutkan, mencekam—yang ternyata salah.
“Kamu adalah tamu spesial,” katanya. “Seolah tahu tempatmu di mana, kamu
melangkah masuk ke ruangan di alam gedung itu dan menaiki undakan, duduk di
kursi paling tinggi agar sejajar dengan layar besar yang berkedip-kedip
mengucapkan selamat datang. Saat itu kamu berpikir itu bukanlah undangan
pertunjuka, tapi undangan menonton film di bioskop. Dan lagi-lagi kamu salah, karena
di tempat yang terpisah dengan ruangan itu, semua pemeran telah bersiap-siap naik
ke atas pentas. Kamu hanya diperbolehkan menonton lewat layar itu, karena suatu
hal yang nanti akan kamu ketahui sendiri.”
Aku mengatur bantal dan merebahkan tubuh di kasur, masih mendengarkan. Dan
membayangkan.
“Itu pertunjukan yang seharusnya menguras air mata, tapi kamu tidak
menangis. Kamu hanya mengeluarkan air mata, yang tidak sampai semenit—jadi
yah, aku tidak ingin menyebut itu sebagai menangis. Dan ketika pertunjukannya
usai, kamu terdiam cukup lama untuk kemudian tersenyum tipis dan bersyukur
dalam-dalam.”
Aku tidak tahan untuk tidak bertanya. “Kenapa aku melakukan itu?
Maksudku, yah, ini aku yang sedang tidak membayangkan yang bicara, kamu bahkan tidak
menceritakan detail pertunjukannya.”
“Kamu bersyukur karena kamu tidak terlibat dalam pertunjukan itu; karena
kamu bukan pemeran. Sutradaranya, penulis skenarionya, dan yang mengatur
semuanya ingin agar kamu tetap terjaga.”
Tunggu, aku ingat satu kata kunci itu. Terjaga.
“Persoalan dari kehadiran orang lain yang mengambil peran, itu adalah sebuah
konsekuensi dari bagaimana orang itu memilih jalan hidup. Kamu sudah memilih jalan
hidupmu sendiri; memilih untuk melibatkan-Nya dalam segala hal. Seperti bertanya
tentang cara untuk menyelesaikan persoalan itu, memohon agar Dia memberikan
keberanian dan kekuatan jika kamu memang harus melakukannya, serta tetap
menjagamu dalam keadaan apa pun.”
Aku terdiam, memaknai kalimat itu perlahan dan dalam-dalam. Aku hampir
menangis, dan sudah meneteskan air mata ketika mengatakan, “Sutradaranya, penulis
skenarionya, yang menyiapkan pertunjukan itu, Dia mencintaimu.”
“Ya,” katanya. “Padahal aku baru belajar mencintai-Nya, tapi aku sudah
mampu merasakan kasih sayang-Nya sebesar itu. Allah benar-benar menjagaku. Dan mungkin
ketidakberanianku mengatakan itu adalah cara Allah mencegahku, dan untuk itu
Dia memintaku menunggu.”
Aku mengusap pipiku, lalu berujar, “Selamat ya. Sekarang kamu bisa memiliki
harapan yang banyak.”
“Ev,” panggilnya. “Kalau suatu saat kamu menghadapi persoalan yang sama
dan satu-satunya cara yang bisa kamu lakukan untuk menyelesaikannya adalah
dengan konsekuensi kamu tidak terjaga, serahkan saja semuanya pada
Allah. Pasti ada cara lain untuk itu, dan kamu tidak perlu turun tangan untuk
jadi pemeran. Allah sudah mengatur skenario-Nya. Dan, terima kasih sudah
mendengarkan.”
Dan, terima kasih sudah berbagi.
* * *
Hai, terima kasih sudah membaca. Dan berkunjung ke
blog ini. :)) Yah, aku tidak menyangka tulisannya akan sepanjang ini, tapi
kemudian semuanya mengalir begitu saja, hehe. Uhm—tulisan ini sebenarnya kisah
nyata, tapi tentu saja... analogi soal ‘pertunjukan’ itu adalah murni
karanganku saja, hehe. Bukan apa-apa, aku cuma ingin menunjukkan sesuatu yang menurutku
penting untuk dipahami tapi kulakukan dengan cara yang kubisa. Maksudku, aku
nggak mumpuni untuk memaparkannya dalam bentuk artikel atau apa pun yang
bentuknya bukan seperti fiksi—dan barangkali aku akan menulis ini dalam bentuk
fiksi yang utuh suatu saat nanti. Jadi, begitulah akhirnya. Lagi pula, ini juga
semacam pengingat untuk diriku sendiri. :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))