Pages

Rabu, 24 Agustus 2016

Umur Panjang atau Umur Barakah?


Dari kejauhan, aku dan temanku melihat laki-laki tua itu tengah duduk di beranda. Seperti biasa, barangkali ia tengah sibuk menghabiskan waktu luangnya dengan mengisi buku kumpulan teka-teki silang. Kami pun berjalan mendekatinya.



Mendengar langkah kami berhenti tepat di hadapannya, laki-laki tua itu mendongak. Mengerjapkan mata dari balik kacamatanya beberapa kali, seperti berusaha mengingat. Aku tersenyum dan menjatuhkan tubuhku di kursi di sampingnya sementara temanku kemudian beralih ke seorang lelaki tua lainnya yang ada di sana.



“Sedang apa, Mbah?” aku bertanya. Retoris.



“Ah ini, lagi ngisi waktu luang, Mbak.  Daripada bengong-bengong tidak jelas,” ungkapnya. “Anda dari mana?”



Aku pun menyebutkan nama almamater kami yang kemudian disambung oleh cerita beliau pada rentang masa sebelum kampus kami berdiri. Setelah ceritanya hampir usai, aku dengan sopan menyela, “Ya, Mbah pernah menceritakan itu pada saya.”



“Oh ya?” laki-laki itu seperti tidak percaya.



“Ya, kita pernah bertemu tiga kali sebelum ini,” aku meyakinkan. Dan Anda memberi saya tips belajar Bahasa Jerman.



“Wah iya, saya lupa,” katanya, sambil tertawa. “Begitulah, Mbak, rasanya sulit sekali ya mengingat hal-hal yang baru. Seolah-olah otak saya ini penuh. Kalau memori komputer penuh, Anda bisa menghapus data-data lama dan memasukkan data-data baru. Tapi otak manusia tidak bisa seperti itu. Saya bisa mengingat semua yang pernah saya alami dengan jelas, tapi tidak dengan hal-hal yang baru. Aneh ya?”



Aku tersenyum tipis dan mengangguk.



Laki-laki tua itu melanjutkan, “Karenanya begitu Anda tadi datang, saya mengenali wajah Anda, tapi lupa nama Anda. Saya tidak berusaha mengingat ketika Anda menyebutkan nama karena saya tahu, saya akan lupa.”



“Oh iya, tidak apa-apa. Saya bisa mengerti,” kataku.



Kami kemudian berbicara banyak hal. Dan seperti pembicaraan dengan siapa pun yang ada di sana, aku selalu mendapat banyak pelajaran baru. Pelajaran-pelajaran kehidupan seperti mendisiplinkan diri yang bagaimanapun akan terasa lebih sulit dari mendisiplinkan orang lain, bersabar, solidaritas, dan banyak hal lainnya termasuk, uhm, me-review ulang pelajaran Sejarah Indonesia yang menurutku penting sekali untuk diingat.



Sampai kemudian beliau berkata, “Mengapa Tuhan membiarkan saya hidup sepanjang ini ya, Mbak?”



Aku terkejut, kemudian menatapnya serius.



“Anak-anak saya sudah selesai sekolah, sudah bekerja, dan mapan. Tugas saya sebagai orangtua untuk mengasuh, mendidik, dan membiayai sekolahnya sudah saya penuhi. Kemudian istri saya juga sudah lebih dahulu menghadap Tuhan. Sejak tahun 1993. Itu artinya sekarang sudah berapa tahun?”



Aku terdiam sejenak, menghitung. “Uhm, 23 tahun.”



“Nah, selama itu. Ingin rasanya saya segera menyusul istri saya, tapi sepertinya Tuhan belum mengizinkan. Saya ingin bermanfaat untuk orang lain, tapi sepertiya tidak sepenuhnya bisa dengan kondisi seperti ini. Waktu yang saya miliki rasanya sia-sia. Jadi, untuk apa sebenarnya Tuhan membiarkan saya hidup selama ini?”



Aku tercekat, benar-benar tidak menyangka akan mendengar pernyataan demikian. Aku ingin mengatakan bahwa di dalam agama yang kuyakini, dijelaskan bahwa tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadanya. Tapi kemudian kukatakan dengan versi yang bisa diterimanya, “Mbah bisa lebih banyak beribadah.”



“Itu sudah pasti,” katanya. Lalu kemudian ia bertanya lagi, “Kenapa ya?”



Lidahku kelu. Dengan pengetahuanku yang masih minim, aku tidak mengantisipasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Dan aku bingung, maksudku, bagaimana caranya menjelaskan sesuatu dari perspektif yang kuyakini sebagai pandangan hidup itu dengan bahasa yang paling mudah dan bisa diterima? Dan ketika aku mencoba untuk menjawab, apakah itu bisa dibenarkan oleh sesuatu yang kuyakini itu?



Aku tidak tahu jawabannya, untuk pertanyaan-pertanyaanku sendiri itu. Jadi aku berpikir dan kemudian melihat realitas untuk memberikan jawaban kepadanya—yang kudapatkan selama Allah mengajariku banyak hal dari setiap peristiwa dalam kehidupan ini.



“Segala sesuatu di dunia ini terjadi karena sebuah alasan. Tuhan pasti punya alasan tentang itu, yang tidak bisa kita ketahui. Barangkali, dengan usia Mbah yang ...”



“81 tahun ...”



“Ya, 81 tahun itu, Mbah bisa menjadi inspirasi bagi Mbah-mbah yang lainnya karena dengan usia itu Mbah masih terlihat sehat, masih mampu untuk beraktivitas sendiri. Mbah juga bisa membantu yang lainnya untuk itu. Dan Mbah bisa mengingat ilmu yang Mbah pelajari dulu. Tidak semua orang diberikan kemampuan untuk itu,” kataku.



“Hmm, begitu ya,” katanya, mengangguk paham.



“Dan lagi, saya bisa belajar Bahasa Jerman.”



Laki-laki itu itu tertawa. Benar-benar tertawa. “Itu tidak bisa dijadikan alasan, Mbak,” katanya.



Aku ikut tertawa. Dan satu hal lagi, beliau ini orang Geologi. Aku teringat dulu pernah mempelajarinya sedikit.



“Dulu berarti belajar Astronomi juga ya, Mbah?”



“Geo itu artinya apa?”



Eh? “Bumi,” jawabku.



“Ya belajarnya tentang bumi, Mbak. Batuan, tanah, dan lain-lain.”



“Oooh, kalau sekarang Astronomi juga dipelajari, dan masuk ilmu Olimpiade juga meskipun namanya bukan Geologi sih, hehe. Tapi Geosains, atau Kebumian. Dan memang ada juga bidang khusus untuk Astronomi,” jelasku.



Laki-laki tua itu menangguk-angguk. Dan ketika mengetahui jam menunjukkan pukul 12 tepat, beliau meminta izin untuk makan siang dan kami pun pamit.



Danke schön,” ucapku, sebelum berlalu, sambil tersenyum.



Bitte schön,” jawab beliau.



Lalu, Ibu pembimbing menanyai kami banyak hal, lalu ketika kami ceritakan apa yang kami alami, beliau berkata, “Nah, terkadang kita berdoa kepada Allah untuk diberikan umur yang panjang. Kita berdoa tanpa tahu alasannya untuk apa. Kalau seperti itu yang terjadi, bagaimana?”



Aku berpikir sejenak, iya juga ya. Aku teringat sesuatu yang kubaca di salah satu buku karangan Mohammad Fauzil Adhim, katanya ketika ketika mengucapkan selamat kepada seseorang yang baru menikah, jangan ucapkan ‘semoga diberikan keturunan yang banyak’ tapi katakanlah, “Semoga pernikahan kalian barakah dan Allah membarakahi kalian (silakan cek ke buku Kupinang Engkau dengan Hamdalah, hehe). Dan barangkali demikian pula yang terjadi dengan perkara doa mengenai umur yang panjang, jadi aku mengatakan, “Mungkin sebaiknya kita meminta umur yang barakah, Bu?”



Mungkin.



Aku mengatakan mungkin karena memang benar-benar tidak tahu jawabannya. Tapi sejauh yang kupahami, jika sesuatu itu barakah, sesedikit apa pun nilainya, ia tidak akan pernah sia-sia. Ia akan memberikan manfaat, bagi apa pun dan siapa pun.



Dan aku baru akan mencari jawaban dari semua petanyaan di atas. Lalu, untuk soal umur, jika memang benar ynag kupahami itu, barangkali kita harus mulai meminta umur yang barakah, bukan umur yang panjang. Wallahu ’alam bisshawab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))