Pages

Kamis, 05 Januari 2017

2016 Reading Journey: 9 Buku Paling Berkesan



Sumber: dari sini
Yay! Akhirnya kamu mampir ke sini juga. :3 Sudah baca daftar keseluruhan buku yang kubaca di 2016 kan? Kalau belum, you’d better go to the previous post. Siapa tahu di list-nya ada yang sama dan kita bisa sharing bareng, hehe. Nih, aku kasih link-nya kalau mau mampir: 2016 Reading Journey: My Year in 33 Books. :p

Dan ini 9 buku paling berkesan (urutan tidak menunjukkan peringkat) yang kubaca di tahun kemarin~~ ^^//

1. The Fault in Our Stars by John Green

Aku dapat pinjaman buku ini dari Mbak Lae gara-gara dia pasang foto buku ini sebagai display pict BBM-nya. Dan karena beberapa kali aku mendengar kata orang bahwa buku ini bagus, jadi berasa surprised banget ada yang punya dan mau meminjamkan. Lalu jreeenggg... the book is in english. Antara bagaimana dan bagaimana waktu disodori buku itu, akhirnya aku membawanya pulang dan membacanya. TFiOS ini novel berbahasa Inggris pertama yang kubaca dalam sejarah kehidupanku, wkwk. Alhamdulillah aku masih sanggup memahami dan menyelsaikan sampai akhir, sampai mewek juga. :( Aku suka Gus, aku suka Hazel, but God... I love Isaac (yang tanpa tambahan Newton). Isaac yang konyol dan uhm, menyedihkan, aku belajar banyak darinya. I love him, ketika dia mengatakan ini pada Gus:

“When the scientists of the future show up at my house with robot eyes and they tell me to try them on, I will tell the scientists to screw off, because I do not want to see the world without him.”

Banyak novel dengan tokoh yang diceritakan mengidap penyakit, dan biasanya bikin nangis parah. But this one is different. Kita nggak dibikin nangis dan mellow karena kasihan sama tokohnya seperti novel-novel kebanyakan, tapi lebih dari itu justru karena karakter-karakter dalam novel ini begitu kuat, nggak cengeng, dan punya sisi lain untuk ditonjolkan selain dari penyakit atau kekurangan-kekurangannya itu. Aku suka ketika dua orang membicarakan sebuah buku dan saling berkomentar tentang buku itu, kamu akan menemukannya di sini; Gus dan Hazel yang menggilai An Imperial Affliction. Dan semacam nasihat banget untukku sewaktu Hazel mengatakan ini:

“There will come a time whe all of us are dead. All of us. There will come a time when there are no human beings remaining to remember that anyone ever existed or that our species ever did anything. There will be no one left to remember Aristotle or Cleopatra, let alone you. Everything that we built and wrote and thought and discovered will be forgotten and all of this, will have been for naught.

Maybe that time is coming soon and maybe it is millions of years away, but even if we survive the collapse of our sun, we will not survive forever. There was time before organism experienced conciousness, and there will be time after. And if the inevitability of human oblivion worries you, I encourage you to ignore it. God knows that what everyone else does.”

Sepertinya kita dan Augustus Waters, atau bahkan mungkin juga kebanyakan orang memiliki ketakutan yang sama. Ya kan? :) Terima kasih, Mbak Lae telah meminjamkan novel ini, dan maaf belum dibalikin sampe sekarang~ :”

2. Jalan Cinta Para Pejuang by Salim A. Fillah

Percaya atau tidak, ini karya pertama Ustadz Salim A. Fillah yang kubaca dan aku merasa sangat terlambat. Ini buku yang tidak bisa membuatku berhenti mengingat biasanya memerlukan kosentrasi dan waktu yang lumayan untuk membaca buku nonfiksi. Begitu menyentuh, membuat trenyuh, dan di beberapa bagian membuat menahan napas. Dari sini aku menyadari bahwa ternyata aku sangat kurang dalam sirah. Aku baru mengetahui saat-saat Nabi Ibrahim akan meninggalkan Hajar dan Ismail di Mekkah tanpa mengucapkan apa pun dan Hajar mengejarnya sambil bertanya berulang-ulang mengapa ia dan Ismail ditinggalkan sementara di sana amat kering dan tak ada siapa pun sebagai teman. Aku tergugu ketika Ibunda Hajar kemudian bertanya, “Apakah itu perintah Allah?” Lalu ketika Nabi Ibrahim mengatakan ya, Hajar pun menerimanya dengan ikhlas dan percaya bahwa Allah tidak akan membiarkannya begitu saja. Itu sisi lain dari kisah Nabi Ibrahim yang baru kuketahui. :’)

Aku juga dikenalkan pada Julaibib, dan sahabat-sahabat Rasulullah lain yang awalnya begitu asing. Buku ini menjadi pengingat, penyeru kebaikan, dan kata-kata Ustadz Salim yang indah ketika menuturkan soal jalan cinta dari pejuang-pejuang agama Allah begitu membuat bergetar, dan bahwa kita seharusnya banyak mengambil pelajaran dari kisah orang-orang yang dekat dengan Rasulullah tersebut.

3. Akatsuki by Miyazaki Ichigo

Aku mendapatkan rekomendasi soal buku ini dari Quartin ketika ia bercerita soal novel yang paling berkesan yang pernah dibacanya. Ini buku yang terbit di bawah tahun 2010, dan karena aku penasaran aku diam-diam merencanakan untuk membelinya secara online karena di toko buku sudah pasti tidak tersedia. Review-nya di Goodreads bagus, dan sebenarnya yang paling membuatku bertekad membaca novel ini adalah karena ini novel remaja Islami dan setting-nya di luar negeri. Aku selalu berharap bisa menulis yang seperti itu; sebuah kisah remaja yang manis dan romantis, mengambil latar tempat yang belum pernah kukunjungi, tapi juga menyisipkan nilai-nilai Islam.

Dan taraaa... aku menemukannya di rak novel perpustakaan kampus. Alhamdulillah. Novel ini kemudian menjadi referensiku dalam belajar untuk menulis kisah remaja Islami nan manis. Tidak membosankan, dan perjalanan menjemput hidayah yang dialami Satoshi digambarkan secara halus dan pelan. Tidak menggurui, dan amat mengejutkan di beberapa bagian. Quartin nggak bisa move on dari buku ini, Ukh Nurul berharap mendapat suami seperti Satoshi, and so do I. :3

4. Kupinang Engkau dengan Hamdalah by Mohammad Fauzil Adhim

Ini buku yang wajib banget dibaca siapa pun; orangtua sebagai bekal untuk anak, pasangan suami istri sebagai bekal untuk memahami hakikat pernikahan, dan terutama untuk kita-kita yang sedang menyiapkan diri untuk menggenapkan separuh agama *uhuk. Banyak yang bicara soal keutamaan menikah muda, dan jauh sebelum hal itu menjadi topik yang hits, buku ini telah lebih dulu membahas itu. Pemaparannya sangat detail. Jauh dari kesan bikin baper, KEdH banyak memberikan arahan, menjawab persoalan-persoalan yang muncul saat proses taaruf, khitbah, maupun ketika akan melangsungkan pernikahan. Dan pastinya, membuat kita semangat untuk semakin membaikkan diri di hadapan Allah.

5. Ayat-ayat Cinta 2 by Habiburrahman El Shirazy
—aku sudah menulis review-nya di sini.

6. An Abundance of Katherines (Tentang Katherine) by John Green
 —aku sudah menulis review-nya di sini.

7. Lautan Langit by Kurniawan Gunadi

Sebenarnya buku ini terbilang sederhana, tidak ada yang menjadikannya amat istimewa. Tapi karena Kurniawan Gunadi begitu jujur, begitu lihai memotret sebuah peristiwa dan menyajikan makna dari sesuatu yang hanya bisa dibaca oleh hati dan pikiran yang jernih, serta dirinya yang seolah amat mengenalku, aku jadi sangat menyukainya. Dan terima kasih telah ‘menyuarakan’-nya lewat buku ini.

8. Dongeng Terlezat Sedunia by Ernita Dietjeria

Aku nggak tahu ternyata di usia segini membaca dongeng terasa sama mengasyikkannya seperti waktu kecil. Dan ketika mencari buku dongeng di iJak, aku menemukan ini. Buku ini berhasil menghiburku di sela kepenatan mengerjakan laporan magang, hehe. Terutama ketika melihat ilustrasi setiap cerita yang gambar dan pewarnaannya baguuus banget. Suka deh. Aku jadi dibawa ke suatu waktu saat menggemari majalah Bobo, atau ketika dulu kakak dan bapak sering mendongengiku dan adik setiap akan tidur.

Melihat ilustrasinya, aku dibuat mupeng dengan kue-kue ataupun makanan yang diceritakan dalam buku tersebut. Membacanya seperti bisa mencium aroma kue itu ketika matang dan disajikan di hadapanku. Jadilah setelah membaca dongeng-dongeng tersebut aku mendadak ingin makan es krim, permen, kue, onde-onde, dan donat. Sampai akhirnya aku kesampaian makan donat dan tertawa sendiri membayangkan dua bajak laut kembar yang nggak jadi merampok isi kapal (lupa apa nama kapalnya) karena mereka diserang dengan ratusan donat-donat yang menggiurkan dan lezat. Pelajaran yang didapat: cara efektif untuk melumpuhkan musuh adalah dengan memberinya makanan lezat. Wkwk.

9. Psikologi Usia Lanjut by Siti Partini Suardiman

Yay. Buku teks kuliah pertama yang berhasil kuselesaikan, setelah gagal menyelesaikan Psikologi Islam-nya Dr. Djamaludin Ancok & Fuat Nashori Suroso serta Psikologi Humanistik-nya Helen Graham. Suka banget dengan buku ini, bahasanya lugas dan mudah dipahami. Aku belajar banyak dari sini dan apa yang kudapat setelah membacanya sangat membantuku untuk memahami kondisi simbah-simbah di balai pelayanan sosial lansia yang menjadi tempat magangku. Tentu saja, buku ini menjadi panduanku juga dalam menyusun skripsi. :’)

Oke, itu dia beberapa buku yang membuatku terkesan sewaktu membacanya. Apakah buku-buku tersebut ada di daftar bacaanmu dan membuatmu terkesan juga? Let me know ya. :) Dan dengan ini Reading Challenge untuk 2016 telah selesai. Aku berharap bisa membaca lebih banyak buku lagi nanti. Thanks to iJakarta, yang telah memenuhi semua keinginanku sesuai dengan buku-buku yang ingin aku baca di waktu-waktu ‘kritis’ yang kualami. Juga BPAD Jakarta, yang membuatnya ada. Aku merasa diselamatkan dari masa-masa itu dan meski pada akhirnya banyak sekali buku yang tidak kubaca sampai selesai. Untuk para penulis, keep writing dan menghasilkan buku-buku terbaik ya. Doakan aku supaya segera menyusul. :))

2 komentar:

Komen, yuuuk ;))