![]() |
| Sumber: dari sini |
Yay! Akhirnya kamu mampir ke sini juga. :3 Sudah baca daftar
keseluruhan buku yang kubaca di 2016 kan? Kalau belum, you’d better go to
the previous post. Siapa tahu di list-nya ada yang sama dan kita
bisa sharing bareng, hehe. Nih, aku kasih link-nya kalau mau
mampir: 2016 Reading Journey: My Year in 33 Books. :p
Dan ini 9 buku paling berkesan (urutan tidak
menunjukkan peringkat) yang kubaca di tahun kemarin~~ ^^//
1. The Fault in Our Stars by John Green
Aku dapat pinjaman buku ini dari Mbak Lae
gara-gara dia pasang foto buku ini sebagai display pict BBM-nya. Dan
karena beberapa kali aku mendengar kata orang bahwa buku ini bagus, jadi berasa
surprised banget ada yang punya dan mau meminjamkan. Lalu jreeenggg...
the book is in english. Antara bagaimana dan bagaimana waktu disodori buku
itu, akhirnya aku membawanya pulang dan membacanya. TFiOS ini novel
berbahasa Inggris pertama yang kubaca dalam sejarah kehidupanku, wkwk. Alhamdulillah
aku masih sanggup memahami dan menyelsaikan sampai akhir, sampai mewek juga. :(
Aku suka Gus, aku suka Hazel, but God... I love Isaac (yang
tanpa tambahan Newton). Isaac yang konyol dan uhm, menyedihkan,
aku belajar banyak darinya. I love him, ketika dia mengatakan ini pada
Gus:
“When the scientists of the future show up at my
house with robot eyes and they tell me to try them on, I will tell the
scientists to screw off, because I do not want to see the world without him.”
Banyak novel dengan tokoh yang diceritakan
mengidap penyakit, dan biasanya bikin nangis parah. But this one is
different. Kita nggak dibikin nangis dan mellow karena kasihan sama
tokohnya seperti novel-novel kebanyakan, tapi lebih dari itu justru karena
karakter-karakter dalam novel ini begitu kuat, nggak cengeng, dan punya sisi
lain untuk ditonjolkan selain dari penyakit atau kekurangan-kekurangannya itu. Aku
suka ketika dua orang membicarakan sebuah buku dan saling berkomentar tentang
buku itu, kamu akan menemukannya di sini; Gus dan Hazel yang menggilai An
Imperial Affliction. Dan semacam nasihat banget untukku sewaktu Hazel
mengatakan ini:
“There will come a time whe all of us are dead.
All of us. There will come a time when there are no human beings remaining to
remember that anyone ever existed or that our species ever did anything. There
will be no one left to remember Aristotle or Cleopatra, let alone you. Everything
that we built and wrote and thought and discovered will be forgotten and all of
this, will have been for naught.
Maybe that time is coming soon and maybe it is
millions of years away, but even if we survive the collapse of our sun, we will
not survive forever. There was time before organism experienced conciousness,
and there will be time after. And if the inevitability of human oblivion
worries you, I encourage you to ignore it. God knows that what everyone else
does.”
Sepertinya kita dan Augustus Waters, atau bahkan
mungkin juga kebanyakan orang memiliki ketakutan yang sama. Ya kan? :) Terima
kasih, Mbak Lae telah meminjamkan novel ini, dan maaf belum dibalikin sampe
sekarang~ :”
2. Jalan Cinta Para Pejuang by Salim A. Fillah
Percaya atau tidak, ini karya pertama Ustadz
Salim A. Fillah yang kubaca dan aku merasa sangat terlambat. Ini buku yang
tidak bisa membuatku berhenti mengingat biasanya memerlukan kosentrasi dan
waktu yang lumayan untuk membaca buku nonfiksi. Begitu menyentuh, membuat
trenyuh, dan di beberapa bagian membuat menahan napas. Dari sini aku menyadari
bahwa ternyata aku sangat kurang dalam sirah. Aku baru mengetahui
saat-saat Nabi Ibrahim akan meninggalkan Hajar dan Ismail di Mekkah tanpa
mengucapkan apa pun dan Hajar mengejarnya sambil bertanya berulang-ulang
mengapa ia dan Ismail ditinggalkan sementara di sana amat kering dan tak ada siapa
pun sebagai teman. Aku tergugu ketika Ibunda Hajar kemudian bertanya, “Apakah
itu perintah Allah?” Lalu ketika Nabi Ibrahim mengatakan ya, Hajar pun
menerimanya dengan ikhlas dan percaya bahwa Allah tidak akan membiarkannya
begitu saja. Itu sisi lain dari kisah Nabi Ibrahim yang baru kuketahui. :’)
Aku juga dikenalkan pada Julaibib, dan
sahabat-sahabat Rasulullah lain yang awalnya begitu asing. Buku ini menjadi
pengingat, penyeru kebaikan, dan kata-kata Ustadz Salim yang indah ketika
menuturkan soal jalan cinta dari pejuang-pejuang agama Allah begitu membuat
bergetar, dan bahwa kita seharusnya banyak mengambil pelajaran dari kisah
orang-orang yang dekat dengan Rasulullah tersebut.
3. Akatsuki by Miyazaki Ichigo
Aku mendapatkan rekomendasi soal buku ini dari
Quartin ketika ia bercerita soal novel yang paling berkesan yang pernah
dibacanya. Ini buku yang terbit di bawah tahun 2010, dan karena aku penasaran
aku diam-diam merencanakan untuk membelinya secara online karena di toko
buku sudah pasti tidak tersedia. Review-nya di Goodreads bagus, dan
sebenarnya yang paling membuatku bertekad membaca novel ini adalah karena ini
novel remaja Islami dan setting-nya di luar negeri. Aku selalu berharap
bisa menulis yang seperti itu; sebuah kisah remaja yang manis dan romantis,
mengambil latar tempat yang belum pernah kukunjungi, tapi juga menyisipkan
nilai-nilai Islam.
Dan taraaa... aku menemukannya di rak novel
perpustakaan kampus. Alhamdulillah. Novel ini kemudian menjadi referensiku
dalam belajar untuk menulis kisah remaja Islami nan manis. Tidak membosankan,
dan perjalanan menjemput hidayah yang dialami Satoshi digambarkan secara halus
dan pelan. Tidak menggurui, dan amat mengejutkan di beberapa bagian. Quartin
nggak bisa move on dari buku ini, Ukh Nurul berharap mendapat suami
seperti Satoshi, and so do I. :3
4. Kupinang Engkau dengan Hamdalah by Mohammad
Fauzil Adhim
Ini buku yang wajib banget dibaca siapa
pun; orangtua sebagai bekal untuk anak, pasangan suami istri sebagai bekal
untuk memahami hakikat pernikahan, dan terutama untuk kita-kita yang sedang
menyiapkan diri untuk menggenapkan separuh agama *uhuk. Banyak yang bicara soal
keutamaan menikah muda, dan jauh sebelum hal itu menjadi topik yang hits, buku
ini telah lebih dulu membahas itu. Pemaparannya sangat detail. Jauh dari kesan
bikin baper, KEdH banyak memberikan arahan, menjawab persoalan-persoalan
yang muncul saat proses taaruf, khitbah, maupun ketika akan
melangsungkan pernikahan. Dan pastinya, membuat kita semangat untuk semakin
membaikkan diri di hadapan Allah.
5. Ayat-ayat Cinta 2 by Habiburrahman El Shirazy
—aku sudah menulis review-nya di sini.
6. An Abundance of Katherines (Tentang Katherine) by
John Green
—aku sudah
menulis review-nya di sini.
7. Lautan Langit by Kurniawan Gunadi
Sebenarnya buku ini terbilang sederhana, tidak
ada yang menjadikannya amat istimewa. Tapi karena Kurniawan Gunadi begitu
jujur, begitu lihai memotret sebuah peristiwa dan menyajikan makna dari sesuatu
yang hanya bisa dibaca oleh hati dan pikiran yang jernih, serta dirinya yang
seolah amat mengenalku, aku jadi sangat menyukainya. Dan terima kasih telah
‘menyuarakan’-nya lewat buku ini.
8. Dongeng Terlezat Sedunia by Ernita Dietjeria
Aku nggak tahu ternyata di usia segini membaca dongeng terasa
sama mengasyikkannya seperti waktu kecil. Dan ketika mencari buku dongeng di
iJak, aku menemukan ini. Buku ini berhasil menghiburku di sela kepenatan
mengerjakan laporan magang, hehe. Terutama ketika melihat ilustrasi setiap
cerita yang gambar dan pewarnaannya baguuus banget. Suka deh. Aku jadi dibawa
ke suatu waktu saat menggemari majalah Bobo, atau ketika dulu kakak dan bapak
sering mendongengiku dan adik setiap akan tidur.
Melihat ilustrasinya, aku dibuat mupeng dengan kue-kue
ataupun makanan yang diceritakan dalam buku tersebut. Membacanya seperti bisa
mencium aroma kue itu ketika matang dan disajikan di hadapanku. Jadilah setelah
membaca dongeng-dongeng tersebut aku mendadak ingin makan es krim, permen, kue,
onde-onde, dan donat. Sampai akhirnya aku kesampaian makan donat dan tertawa
sendiri membayangkan dua bajak laut kembar yang nggak jadi merampok isi kapal
(lupa apa nama kapalnya) karena mereka diserang dengan ratusan donat-donat yang
menggiurkan dan lezat. Pelajaran yang didapat: cara efektif untuk melumpuhkan
musuh adalah dengan memberinya makanan lezat. Wkwk.
9. Psikologi Usia Lanjut by Siti Partini Suardiman
Yay. Buku teks kuliah pertama yang berhasil kuselesaikan,
setelah gagal menyelesaikan Psikologi Islam-nya Dr. Djamaludin Ancok
& Fuat Nashori Suroso serta Psikologi Humanistik-nya Helen Graham.
Suka banget dengan buku ini, bahasanya lugas dan mudah dipahami. Aku belajar
banyak dari sini dan apa yang kudapat setelah membacanya sangat membantuku
untuk memahami kondisi simbah-simbah di balai pelayanan sosial lansia yang
menjadi tempat magangku. Tentu saja, buku ini menjadi panduanku juga dalam
menyusun skripsi. :’)
Oke, itu dia beberapa buku yang membuatku
terkesan sewaktu membacanya. Apakah buku-buku tersebut ada di daftar bacaanmu
dan membuatmu terkesan juga? Let me know ya. :) Dan dengan ini Reading
Challenge untuk 2016 telah selesai. Aku berharap bisa membaca lebih banyak
buku lagi nanti. Thanks to iJakarta, yang telah memenuhi semua
keinginanku sesuai dengan buku-buku yang ingin aku baca di waktu-waktu ‘kritis’
yang kualami. Juga BPAD Jakarta, yang membuatnya ada. Aku merasa diselamatkan
dari masa-masa itu dan meski pada akhirnya banyak sekali buku yang tidak kubaca
sampai selesai. Untuk para penulis, keep writing dan menghasilkan buku-buku
terbaik ya. Doakan aku supaya segera menyusul. :))

Aaaaa, sukak :3
BalasHapusSuka yang mana, Yas? :D
Hapus