Pages

Rabu, 08 Maret 2017

Laki-laki 'Buku' dan Sedikit tentang Taaruf

Is it too difficult to find a boyfriend?”

Ouch. Menohok sekali. Sejenak aku terdiam; antara sedikit shock dan spontan ingin tertawa. Baru kali seseorang bertanya hal seperti itu padaku, and I’m surprised.
*

Selalu ada banyak hal mengejutkan ketika mengobrol dengan simbah-simbah di balai pelayanan sosial lansia tempatku magang kemarin itu. Termasuk yang satu itu tadi. Pada awalnya aku dan temanku sedang mengobrol dengan laki-laki tua yang lain, sementara ia baru saja selesai mengikuti bimbingan rohani. Ketika pembimbing rohaninya pergi, laki-laki itu duduk termenung di seberang tempat dudukku. Ia menatap jauh ke depan, seperti tengah memikirkan sesuatu yang berat. Tidak ada rutinitas seperti biasanya, membaca buku ataupun mengisi TTS. Aku tidak tega melihatnya sendirian, jadi aku pun menghampirinya.

“Mbah nggak baca?” Pertanyaan itu yang pertama kali terlontar ketika aku akhirnya mendarat di sampingnya. Rasanya sangat aneh melihat laki-laki tua itu tanpa buku.

I don’t know, I’m too lazy to do anything,” jawabnya.

Why? Bukannya seharusnya Mbah lebih semangat selesai bimbingan rohani?”

Yeah. Tapi prakteknya nggak mudah, you know.”

Aku mengangguk, membenarkan. Aku kemudian bertanya mengenai hasil bimbingnnya tadi.

No, I’m just asking whether it’s good for me to move to Semarang.”

You will move to Semarang?” Sesaat aku merasa sedikit khawatir.

That’s just a plan. There is my sister live in Semarang. Bu Kristin said that she and her husband will accompany me whenever I want to move to Semarang.”

Is it okay, uhm I mean, apakah di sana akan lebih baik nantinya? Have you told your children about this?”

I don’t know, but, at least, I have someone to go. Setidaknya saya punya seseorang untuk dituju, dan saya sudah pernah bilang ke anak-anak saya. Mereka menyerahkan semua pilihan itu kepada saya selama itu baik menurut saya.”

Aku kembali mengangguk. Sejenak kami tidak membicarakan apa pun. Ada perasaan iba, khawatir, dan sesuatu yang bahkan aku sendiri sulit untuk menjelaskannya. Setelah hening beberapa saat itu, aku pun kembali membuka percakapan, “Mbah, bacaan yang kemarin gimana?”

“Majalah itu? Saya belum selesai membacanya, dan ada beberapa buku lain yang belum saya selesaikan juga. Kamu suka baca juga nggak?”

Yes, I love reading too. But I usually read novel. Mbah suka baca novel juga kan ya? Mbah baca Bumi Manusia kan?”

Did I tell you that?” Ia menatapku dengan dahi berkerut. Aku tertawa sembari mengangguk. Laki-laki tua itu juga ikut mengangguk. Aku kembali bertanya, “So, who is your favorite writer?”

In Indonesia, my favorite is Pramoedya Ananta Toer. And in international, my favorite is Leo Tolstoy.” Jelas aku semacam salut gitu mendengar jawabannya. Meski kedua nama itu sama sekali tidak asing di telinga, tapi sampai saat ini belum satu pun dari karya keduanya yang kubaca. Jadi setelah itu bahasan kami adalah tentang buku. Aku mengatakan bahwa aku hanya sedikit membaca novel klasik Indonesia, di antaranya: Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, dan Layar Terkembang. Ketika aku menyebutkan judul-judul novel itu, di usianya yang 81 tahun laki-laki tua itu bahkan masih hafal nama penulisnya.

I read it all when I was in junior high school. Dan itu sudah lama sekali.” 

“Oh ya? How about Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck?”

“Karyanya Hamka kan? Saya juga baca itu, tapi lupa persisnya ceritanya bagaimana.”

Aku mengangguk. Lalu tiba saatnya bahwa aku ingat temanku ingin berbicara dengan laki-laki tua itu. Sama sepertiku, ia juga ingin melatih kemampuan speaking. Dan sewaktu kemarin-kemarin laki-laki tua itu kuberitahu bahwa aku ingin berlatih Bahasa Inggris, ia senang sekali. Pernah suatu ketika aku terlalu gagu mengatakan sesuatu dalam Bahasa Inggris, jadi aku mengatakannya dengan Bahasa Indonesia dan ia langsung berkomentar, “In English, please.” Spontan saja aku langsung tertawa. Begitu pun ketika ia menjadi narasumber penelitianku, aku mengatakan, “You can answer my questions in English, or in Bahasa, that’s okay. But I will just ask you in Bahasa, okay?”

How about in Javanese?”

Aku tertawa. “Noooo. Not in Javanese, please, kayaknya saya bakal lebih paham kalau dijawab pake bahasa Inggris daripada Bahasa Jawa, Mbah.” Meskipun nggak gitu juga sih sebenarnya, haha. Tapi kalo Bahasa Jawa yang halus sih memang aku hanya mengerti beberapa kata saja. Mendengar jawabanku, ia tertawa lepas. Dan kadang memang seperti itulah laki-laki tua itu, tidak seserius kelihatannya. “Someday, if you want to improve your english by reading, I will lend you a novel, and it’s in english,” tambahnya.

Jadi kembali lagi ke soal temanku. Aku mengotak-atik ponsel menghubunginya, sembari mengatakan, “My friend want to know you, Mbah. Tapi dia nggak angkat nih.”

Who? Your boyfriend?”

“Ha?”

Is it your boyfriend?”

No, it’s my friend.”

You don’t have a boyfriend?”

“Hahaha. No, I don’t. I don’t have a boyfriend, Mbah.”

Why? Is it too difficult to find a boyfriend?”

Ouch. Nooo, not like that. But, I think I will not have a boyfriend until I’m being married.” Eaaaa.

“Kenapa begitu? Justru sebelum menikah seharusnya kamu penjajakan terlebih dahulu, supaya nanti ketika menikah tidak ada yang tidak sesuai dengan harapan.”

Sejenak aku berpikir: ini aku ngejelasinnya gimana coba kan? Tapi kemudian kujelaskan begini, “Uhmm, di agama saya diajarkan seperti itu, Mbah. Laki-laki dan perempuan dilarang berinteraksi melampaui batas. Jadi sebisa mungkin mereka harus menjaga jarak agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi saya punya prinsip yang diajarkan oleh agama saya sendiri.”

Laki-laki itu menyimak.

“Kalo yang namanya penjajakan, there’s a process called taaruf. Di proses taaruf ini, laki-laki maupun perempuan yang serius akan menikah bisa mengenal satu sama lain dengan perantara pihak ketiga. Jadi jika pun pada akhirnya proses itu batal atau tidak berlanjut, tidak akan ada pihak yang dikecewakan dan semuanya berlangsung baik. Begitu alasannya, Mbah.”

Laki-laki itu menganguk-angguk mendengar pernyataanku. Mungkin baru kali ini ia mendengar prinsip ajaran Islam dengan sedikit lebih detail. “That’s good,” ungkapnya.

Aku tersenyum. Sejauh ini aku menyadari bahwa ternyata tidak punya pacar itu masih menjadi hal yang tabu, setidaknya untuk beberapa pihak. Bahkan ada salah seorang simbah kakung lainnya pernah bertanya begini, “Karo sopo dolanane? Yangmu?”

“Ha? Saya ora Yang-yangan, Mbah.”

Lha ngopo?”

“Ya nggak apa-apa, Mbah, nanti aja kalau sudah nikah.”

“Ho-oh, ora usah mikir Yang-yangan saiki. Sekolah sing bener, biar besok iso dadi pegawai, entuk gaji akeh. Nek kamu diajak main sama laki-laki itu jangan mau, dikasi apa-apa itu jangan mau,” simbah kakung lain ikut berkomentar.

“Aamiin. Siaap, Mbah! Doain ya Mbah yaa.” Hahaha.

“Iyaaa, tak doa’ke. Semoga kamu dikasih laki-laki yang baik sama Gusti Allah.”

Aamiin :’)
  

1 komentar:

Komen, yuuuk ;))