Pages

Selasa, 16 Mei 2017

Untukmu Kutulis Sajak Ini

dari sepasang bingkai kaca
kutemui kau dalam mata yang merupakan pagi
api telah bereinkarnasi
menjadi semangat yang kautanam dalam jeriji

jangan berhenti
dunia memang akan terik dengan sendirinya
dan keras, seperti batu yang disimpan orang-orang dalam kepalanya
kau sepercik dingin tertinggal dari pagi buta
yang kuteduhkan di katupkatup petang usia
hidup yang baik, Nak
sampai waktu hendak pamit dari tangan kita

@evnaya_sofia | Yogyakarta, 15 Mei 2017

Aku sedikit tidak percaya aku bisa menulis puisi. Yah, setidaknya begitulah aku menganggap tulisan di atas itu; sebagai puisi. Sejujurnya selama ini aku menganggap diriku tidak bisa menulis puisi. Karena setiap kali berusaha menulis puisi dan membacanya, aku justru tidak bisa merasakan kata-kataku sendiri. Ada satu yang tidak pernah bisa kumengerti dari puisi: magisnya. Dan siapa pun yang berusaha ‘membaca’ puisi, pasti akan mengerti apa yang kumaksud dengan ‘magis’ itu.

Puisi di atas itu kutulis dalam waktu kira-kira duapuluh menit, dalam kondisi yang sangat ‘penuh’. Entah, hukum the power of kepepet sepertinya sangat berlaku dalam hal ini. Berawal dari kunjunganku ke balai pelayanan sosial untuk lansia itu lagi, setelah disibukkan dengan penyusunan skripsi dan serangkaian persiapan menjelang ujian pendadaran. Seorang pekerja sosial sekaligus pembimbingku balai itu bercerita bahwa mereka baru saja selesai mengadakan berbagai macam lomba untuk memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HALUN) yang sebenarnya jatuh setiap akhir Mei, namun diperingati di balai pada pertengahan bulan. Pembimbingku menginginkan agar ada salah seorang simbah yang melakukan stand up comedy, atau melawak, dan semacamnya, namun beliau kesulitan untuk bahan materinya. Waktu itu aku berpikir, mengapa tidak membaca puisi saja? Beliau pun menyerahkan keputusan itu padaku, jika aku memang sempat untuk datang dan mendampingi simbah.

Qadarullaah, aku baru memiliki waktu luang justru H-1 acara HALUN di panti akan dilaksanakan. Di sela-sela aktivitasku kemarin, aku memang sudah berusaha mencarikan puisi yang sekiranya bisa dibaca oleh simbah-simbahku tersayang itu. Aku tidak menemukan puisi yang kuinginkan, selain kemungkinan bahwa mereka baiknya membawakan puisi-puisi perjuangan. Jadi kemudian kuputuskan untuk menuliskannya sendiri; dengan membayangkan diriku adalah mereka. Dengan mengingat semua pengalaman emosional bersama mereka; membayangkan cara mereka memandang, berkata-kata, bercanda, sampai memberikan nasihat kepadaku dan setiap anak muda yang bertugas di sana.

“Kamu besok jangan seperti itu. Hiduplah dengan baik, segala yang kita terima ya disyukuri. Di umurku yang hampir satu abad ini, sudah banyak yang aku rasakan.”

Puisi itu lalu kuberikan pada seorang simbah yang menurutku bisa membacakannya. Ia mengambil kacamatanya begitu menerima uluran kertas berisi teks puisi dariku, dan membacanya.

“Ini karyanya siapa?”

Aku senyum-senyum.

“Wah, besok jadi penyair ya.” Masih senyum.

“Kok nggak ada judulnya ini?”

“Ngg, aku bingung mau kasih judul apa. Hehehe,” kataku. “Mbah mau baca kan? Mau ya?”

“Nggak ah, malu.”

Yaaaah. Sedikit kecewa sebenarnya, hehe, tapi yaa setelah melalui serangkaian proses negosiasi, aku bisa mengerti. Lagi pula, tidak ada yang lebih menyenangkan selain daripada aku akhirnya bisa menulis sesuatu dari sudut pandang mereka; puisi tadi.

Aku tahu mungkin puisi itu akan menjadi puisi yang tidak pernah terbaca oleh mereka. Tetapi diberikan kesempatan mengenal mereka, ikut merasakan duka, cinta, dan pengalaman mereka rasanya sudah lebih dari cukup dan menjadi sesuatu yang harus selalu kusyukuri.

Dengannya, suatu saat, aku akan bisa menulis lebih banyak lagi.
***

Mbah, maaf aku akhirnya benar-benar tidak bisa hadir seharian tadi. Selamat Hari Lanjut Usia Nasional; semoga menjadi lansia yang sehat, semangat, mandiri, mampu berkarya, dan pastinya semakin taat pada-Nya, serta berguna bagi nusa dan bangsa. Terima kasih telah memberiku banyak hal; doa, pengalaman, motivasi, dan nasihat-nasihat. Semuanya akan menjadi bekal bagiku dalam menjalani kehidupan. Dan atas semuanya, terima kasih telah dan selalu berusaha keras mengingat namaku, yang aku tahu tidak pernah mudah. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))