dari
sepasang bingkai kaca
kutemui
kau dalam mata yang merupakan pagi
api
telah bereinkarnasi
menjadi
semangat yang kautanam dalam jeriji
jangan
berhenti
dunia
memang akan terik dengan sendirinya
dan
keras, seperti batu yang disimpan orang-orang dalam kepalanya
kau
sepercik dingin tertinggal dari pagi buta
yang
kuteduhkan di katupkatup petang usia
hidup
yang baik, Nak
sampai
waktu hendak pamit dari tangan kita
@evnaya_sofia | Yogyakarta, 15 Mei 2017
Aku sedikit
tidak percaya aku bisa menulis puisi. Yah, setidaknya begitulah aku menganggap
tulisan di atas itu; sebagai puisi. Sejujurnya selama ini aku menganggap
diriku tidak bisa menulis puisi. Karena setiap kali berusaha menulis puisi dan
membacanya, aku justru tidak bisa merasakan kata-kataku sendiri. Ada satu yang
tidak pernah bisa kumengerti dari puisi: magisnya. Dan siapa pun yang berusaha ‘membaca’
puisi, pasti akan mengerti apa yang kumaksud dengan ‘magis’ itu.
Puisi di
atas itu kutulis dalam waktu kira-kira duapuluh menit, dalam kondisi yang
sangat ‘penuh’. Entah, hukum the power of kepepet sepertinya sangat
berlaku dalam hal ini. Berawal dari kunjunganku ke balai pelayanan sosial untuk
lansia itu lagi, setelah disibukkan dengan penyusunan skripsi dan serangkaian
persiapan menjelang ujian pendadaran. Seorang pekerja sosial sekaligus
pembimbingku balai itu bercerita bahwa mereka baru saja selesai mengadakan
berbagai macam lomba untuk memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HALUN) yang sebenarnya
jatuh setiap akhir Mei, namun diperingati di balai pada pertengahan bulan.
Pembimbingku menginginkan agar ada salah seorang simbah yang melakukan stand
up comedy, atau melawak, dan semacamnya, namun beliau kesulitan untuk bahan
materinya. Waktu itu aku berpikir, mengapa tidak membaca puisi saja? Beliau pun
menyerahkan keputusan itu padaku, jika aku memang sempat untuk datang dan
mendampingi simbah.
Qadarullaah, aku baru memiliki waktu luang justru H-1
acara HALUN di panti akan dilaksanakan. Di sela-sela aktivitasku kemarin, aku
memang sudah berusaha mencarikan puisi yang sekiranya bisa dibaca oleh simbah-simbahku
tersayang itu. Aku tidak menemukan puisi yang kuinginkan, selain kemungkinan
bahwa mereka baiknya membawakan puisi-puisi perjuangan. Jadi kemudian
kuputuskan untuk menuliskannya sendiri; dengan membayangkan diriku adalah
mereka. Dengan mengingat semua pengalaman emosional bersama mereka;
membayangkan cara mereka memandang, berkata-kata, bercanda, sampai memberikan
nasihat kepadaku dan setiap anak muda yang bertugas di sana.
“Kamu
besok jangan seperti itu. Hiduplah dengan baik, segala yang kita terima ya
disyukuri. Di umurku yang hampir satu abad ini, sudah banyak yang aku rasakan.”
Puisi itu
lalu kuberikan pada seorang simbah yang menurutku bisa membacakannya. Ia mengambil
kacamatanya begitu menerima uluran kertas berisi teks puisi dariku, dan
membacanya.
“Ini karyanya
siapa?”
Aku
senyum-senyum.
“Wah,
besok jadi penyair ya.” Masih senyum.
“Kok
nggak ada judulnya ini?”
“Ngg,
aku bingung mau kasih judul apa. Hehehe,” kataku. “Mbah mau baca kan? Mau ya?”
“Nggak
ah, malu.”
Yaaaah. Sedikit
kecewa sebenarnya, hehe, tapi yaa setelah melalui serangkaian proses negosiasi,
aku bisa mengerti. Lagi pula, tidak ada yang lebih menyenangkan selain daripada
aku akhirnya bisa menulis sesuatu dari sudut pandang mereka; puisi tadi.
Aku tahu
mungkin puisi itu akan menjadi puisi yang tidak pernah terbaca oleh mereka. Tetapi
diberikan kesempatan mengenal mereka, ikut merasakan duka, cinta, dan
pengalaman mereka rasanya sudah lebih dari cukup dan menjadi sesuatu yang harus
selalu kusyukuri.
Dengannya,
suatu saat, aku akan bisa menulis lebih banyak lagi.
***
Mbah,
maaf aku akhirnya benar-benar tidak bisa hadir seharian tadi. Selamat Hari Lanjut
Usia Nasional; semoga menjadi lansia yang sehat, semangat, mandiri, mampu berkarya,
dan pastinya semakin taat pada-Nya, serta berguna bagi nusa dan bangsa. Terima
kasih telah memberiku banyak hal; doa, pengalaman, motivasi, dan nasihat-nasihat.
Semuanya akan menjadi bekal bagiku dalam menjalani kehidupan. Dan atas
semuanya, terima kasih telah dan selalu berusaha keras mengingat namaku, yang
aku tahu tidak pernah mudah. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))