Dibanding denganmu, kematian lebih dekat denganku.
Dan dibanding denganku, kematian lebih dekat denganmu.
Entah mengapa, belakangan ini aku lebih sering berpikir
tentang kematian. Setiap kali berada di tengah jalan raya yang penuh kendaraan,
aku takut kalau-kalau kematianku tiba dengan cara yang tidak aku inginkan. Ya
Allah, jangan ambil aku dalam keadaan seperti ini, di tempat ini.
Kematian seperti sesuatu yang diam-diam berusaha mengakrabiku.
Aku dihadapkan pada hal-hal yang secara tak sengaja membawaku pada keakraban
dengannya. Diingatkan oleh orang-orang tentangnya. Melihat orang-orang yang dijemput
dengan mudah olehnya.
“Mbaaak, kemaren itu simbahnya ada yang meninggal. Dalam satu
hari itu ada 3 orang yang meninggal,” ungkap ibu pekerja sosial sekaligus
pembimbing magang dan skripsiku di balai kepadaku suatu ketika, setelah jeda
yang cukup lama aku tidak datang ke sana.
“Innalillaahi wa innailahi raaji’uun. Beruntun gitu
ya, Bu?”
“Iya, Mbak, kalo satu ada yang meninggal yang lainnya kayak
ngikut gitu lho.”
Lalu,
“Itu Mbah D kemarin meninggal, yang kamarnya di situ itu ...”
Sembari menunjuk sebuah pintu, laki-laki tua itu melanjutkan, “Tau kan?”
Aku mengangguk, mengikuti arah telunjuknya. Tiba-tiba hatiku
sedikit gerimis. Aku tidak mengenal dengan baik laki-laki yang dahulu menghuni
kamar yang kini telah ditinggalkan pemiliknya itu. Tapi aku kerap melihatnya
duduk di beranda, tersisihkan dari yang lain karena ketidakmampuannya untuk
memahami dan merespons setiap kata yang berusaha diucapkan orang lain
kepadanya. Aku hanya mencium jemari keriputnya yang tak pernah tersentuh oleh
air setiap kali kulihat ia duduk. Tapi toh hal-hal yang demikian singkat itu ternyata
juga membekas dalam diriku.
“Setiap saya lama nggak ke sini, selalu ada yang meninggal ya,”
kataku, lebih pada diri sendiri. Aku berpaling pada laki-laki tua itu, “Mbah nggak
sedih? Nggak nangis?”
Laki-laki tua itu tersenyum. “Yang namanya di tempat seperti
ini, kalo simbah-simbah ada yang meninggal itu ya wes biasa, Mbak. Bukan
sesuatu yang bisa ditangisi.”
Ah iya. Bagi mereka kematian ialah sesuatu yang teramat dekat. Mereka terbiasa
kehilangan satu dua teman dalam waktu sehari, atau bahkan ada kematian yang
hanya selang beberapa menit saja jedanya. Kematian menjadi sesuatu yang biasa
karena ia seolah ada di akhir fase kehidupan manusia. Padahal, seperti yang
kita ketahui, tidak selalu demikian.
“Simbah-simbah di sini itu, ibarat tinggal menunggu waktu
saja ...”
Kematian mengintai kita kapan saja, di mana saja, dan tak
peduli jika kita menginginkan kehidupan yang panjang. Lantas, mengetahui itu, sudahkah
kita mempersiapkan segalanya? Kita adalah orang-orang yang mengetahui dengan
pasti bahwa kita tidak akan pernah bisa siap dengan kedatangannya. Dosa yang
menggunung, kebaikan yang hanya setitik. Masih, kita enggan bergerak. Masih,
kita enggan berjuang. Masih, kita enggan belajar.
Aku berpikir barangkali Allah memanjangkan usia-usia kita
agar kita dapat lebih banyak lagi belajar, lebih banyak lagi memperbaiki diri,
lebih banyak lagi berdakwah, dan yang paling hakiki, lebih banyak lagi
beribadah kepada-Nya. Barangkali tidak banyak yang bisa kita lakukan dengan
segala keterbatasan ini, karenanya segala sesuatu butuh diperjuangkan. Kita harus
memperjuangkan diri kita menjadi baik, menjadi layak untuk didekati oleh
kematian. Kita dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci, maka dalam keadaan
demikianlah seharusnya kita kembali.
Waktu adalah kesempatan yang tidak bisa dibeli. Manfaatkan selagi
kita bisa. Jadikan kematian sesuatu yang akrab dengan diri kita, yang lekat
dalam ingatan. Karena selamanya, dengan keburukan yang kian memuncak, dan
kebaikan yang terus melandai, kita tak akan pernah benar-benar siap. Suatu ketika,
ia akan datang. Dan kita pasti kembali.
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ
لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ
“Dan setiap umat memiliki ajal (batas waktu). Apabila ajal-nya
tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS.
Al-A’raaf: 34)
Kematian adalah perpulangan
Dengan cara apa kita ingin pulang?
Dalam keadaan seperti apa kita akan pulang?
Yogyakarta, 5 Ramadhan 1438 H
—dalam upaya mengingatkan diri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))