Pages

Minggu, 23 Juni 2019

Qur'an Journaling #6: Memaafkan Seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ   رَحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nuur: 22)


Ayat ini turun berkaitan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang bersumpah untuk tidak lagi memberikan tanggungan kepada kerabatnya, Misthah bin Atsatsah. Ini disebabkan karena Misthah termasuk salah seorang yang ikut menyebarkan berita bohong mengenai Aisyah pada peristiwa haaditsatul ifki. Allah kemudian menegur sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq melalui ayat ini.

Allah menggunakan kata السَّعَةِ yang berarti kelapangan, secara harfiah berarti benar-benar cukup finansial (kaya). Allah tidak menggunakan kata 'banyaknya harta' secara langsung, akan tetapi penggunaan kata السَّعَةِ ini sekaligus memberikan kesan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan seseorang dengan kelapangan hati yang besar, ia sangat baik dan murah hati. 

Kemudian, mempelajari ayat ini mengingatkanku pada apa yang telah kupelajari di Qur'an Journaling hari ketiga. 

"Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. (Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim." (QS. Asy-Syura: 39-40).

Ketika membahas mengenai QS. Asy-Syuraa: 39-40 ini, Buya Hamka mengatakan bahwa tidaklah disebut keluar dari garis keimanan bila seorang mukmin membalas karena dianiaya. Seorang mukmin berhak mempertahankan diri. Lantas kemudian barangkali sebagian kita berpikir bahwa merupakan suatu kewajaran bila Abu Bakar Ash-Shiddiq bersumpah untuk tidak memberikan tanggungan kepada sepupunya, Misthah bin Atsatsah, bersebab perbuatan Misthah yang ikut menyebarkan berita bohong mengenai Aisyah. Ini bukan hanya soal Aisyah adalah putrinya, melainkan juga bahwa Aisyah adalah Ummul Mukminin, istri Rasulullah. 

Namun, dalam ayat 40 surah Asy-Syuraa Allah kemudian berfirman, "... tetapi barangsiapa memaafkan dan mencari jalan damai atau berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah." Ini adalah jalan dari Allah bagi mukmin yang ingin imannya sempurna. Hal demikian pula yang Allah anjurkan pada ayat 22 surah An-Nuur, agar Abu Bakar Ash-Shiddiq memaafkan dan berlapang dada. 

Selanjutnya, menurut Buya Hamka dalam tafsirnya mengenai ayat 22 surah An-Nuur ini, bahwa meskipun dalam kondisi marah seorang mukmin hendaknya tetap berlaku adil. Apa yang mereka lakukan tak lain karena terpengaruh oleh masifnya penyebaran berita bohong tersebut. Beberapa orang di antara mereka telah menerima hukumannya berupa 80 kali dera, maka yang demikian itu cukuplah bagi jiwa mereka.


Bagaimana pun, mereka termasuk orang-orang yang turut berhijrah dari Mekah ke Madinah dan ikut serta dalam berbagai upaya menegakkan agama Allah. 

Ayat ini juga menunjukkan kepada kita betapa mulianya Islam mengatur hubungan sesama manusia. Allah melarang kita menyimpan dendam, sebaliknya Allah mengajarkan kita menjadi hamba yang pemaaf sebagaimana Allah memerintahkan Abu Bakar untuk memaafkan Misthah dan tidak menghentikan bantuannya kepada kerabatnya itu. 

"Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?"

Maa syaa Allah.

Persoalan memaafkan ternyata bukan hanya antara kita dengan orang yang kita anggap salah, melainkan juga antara kita dengan Allah. Saking mulianya perkara memaafkan dan berlapang dada atas kesalahan orang lain ini, Allah memberikan jaminan berupa ampunan kepada hambanya yang mau memaafkan. Tidakkah kemudian kita berpikir bahwa barangkali kesalahan orang lain terhadap kita hanya setitik dibanding dosa-dosa kita kepada Allah? Tidakkah kita ingin Allah mengampuni dosa-dosa kita? Maka inilah kesempatan yang Allah berikan untuk kita meraih ampunan-Nya. 

Dan jalan itu pulalah yang dipilih oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq: memaafkan. Beliau sadar akan keterburu-buruannya kemudian mencabut sumpahnya dengan membayar kafarat serta meneruskan bantuannya kepada kerabatnya. Di sinilah kita bisa melihat bagaimana KUALITAS seorang sahabat Rasulullah; selalu taat dan bersegera dalam menjalankan perintah. 💓

Di sisi lain, ingatkah kita bahwa apa pun yang Allah perintahkan sejatinya pasti mengandung kebaikan untuk kita? Maka memaafkan juga demikian. Memaafkan membuat dada kita lapang, meningkatkan produktivitas kita baik secara spiritual, psikologis, maupun secara fisik. Dan yang paling penting, tentu menjadi jalan bagi kita untuk meraih ampunan dari Allah.

"Forgiveness isn't something you do for the person who wronged you, it's something you do for you." 
--Andrea Breandt, Ph.D, MFT
*

Referensi:

🍁 Tafsir Ibnu Katsir
🍁 Tafsir Al Azhar


#30HariQJ, powered by @thequranjournal.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))