Dahulu, kamu bertanya-tanya, seperti apa rasanya menjadi dewasa. Seperti apa rasanya jatuh cinta. Seperti apa rasanya memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan. Seperti apa rasanya bekerja dan memiliki gajimu sendiri.
Sekarang, kamu tahu, bahwa ternyata menjadi dewasa tidak sesederhana itu. Tak hanya fisikmu, jiwamu juga diharuskan untuk bertumbuh.
Karena menjadi dewasa berarti bersedia berdamai dengan ego. Menjadi dewasa berarti menyediakan ruang untuk kritik, rasa kecewa, juga berbagai emosi negatif yang mungkin kamu temui dalam perjalanan. Menjadi dewasa berarti bersiap terhadap berbagai kemungkinan, bahwa tidak semua yang kamu harapkan akan sesuai dengan kenyataan.
Bukan pada tahap kamu seusia berapa, melainkan pada setiap fase yang kamu lalui sejak mengenal perihal baik dan buruk, boleh dan tidak; semua adalah proses berlatih menjadi dewasa, yang telah Allah tetapkan sesuai dengan batas dan kadar kemampuanmu. Setiap fase memiliki tantangannya sendiri. Jika pada fase tertentu kamu merasa sungguh tidak sanggup, ingin menyerah, dan bahwa apa yang kamu alami terasa begitu berat dan tak sebanding dengan usiamu: Allah telah memilihmu, dan toh pada akhirnya kamu bisa melewatinya kan?
Terkadang, kamu berhenti sejenak, melakukan semacam monolog dan melihat jauh ke belakang; bahwa telah banyak yang kamu lalui dan itu semua tidak selalu menyenangkan. Luka, penyesalan, kecewa, tidak percaya diri, kamu sudah pernah merasakannya satu-satu. Bahwa waktu dan prasangka baik adalah obat, ternyata benar ya.
Ya, kamu berhasil melewatinya dan itu membuatmu ada di sini sekarang. Merenungi berbagai hal, bertanya banyak hal, menimbang-nimbang sebelum memutuskan satu dari sekian pilihan yang menyulitkan. Apa yang selanjutnya harus dilakukan, apa yang bisa dipersiapkan, apakah sudah cukup baik dalam melakukan berbagai hal. Kamu mencari tahu dan terus berupaya melatih diri tentang bagaimana cara terbaik untuk merespons hal-hal yang tidak kamu sukai. Kamu berupaya bisa sepenuhnya teguh memegang prinsip alih-alih hanya mengikuti apa yang dikatakan dan dilakukan orang-orang.
Lebih daripada itu, bukankah kamu pada akhirnya jadi lebih siap? Kamu tiba-tiba merasa dirimu begitu terlatih sehingga bisa mengatakan, "Aku sudah pernah mengalami ini sebelumnya. Sebagaimana Allah memudahkan yang sebelumnya, pasti kali ini Allah juga akan menolongku."
Allah memang tak pernah absen menyediakan pengalaman-pengalaman menyenangkan. Dengan itu, kamu mampu melangkah lebih yakin, lebih positif. Karena pada setiap hal, Allah selalu membuatnya berpasangan; laki-laki dan perempuan, siang dan malam, terik dan hujan, maka itu berarti pula... kesulitan akan senantiasa diiringkan dengan kemudahan. Semua itu dibutuhkan agar kamu cukup dewasa dalam menghadapi berbagai persoalanmu sebagai manusia.
Sekarang, kamu bertanya-tanya apakah kamu sudah cukup dewasa. Hm, kamu tidak akan pernah tahu sampai orang-orang melihat bagaimana caramu bersikap, caramu bertutur, caramu merespons setiap masalah. Dan soal apakah kamu cukup bijaksana dan adil untuk diminta memutuskan perkara, juga perihal menjaga amanah dan rahasia.
Pada akhirnya, tidak ada tolok ukur yang benar-benar pasti soal menjadi dewasa, mengingat manusia sendiri tak sempurna. Ada saat-saat di mana kita mengeluh, tak mampu mengontrol emosi, dan bersikap semaunya. Tetapi, di antara semua itu, kita bisa mengingat satu hal,
bahwa menjadi dewasa adalah sebuah proses, kita bisa mencobanya di berbagai kesempatan, bahkan saat sudah telanjur salah menempatkan diri sekalipun. Dan itu hanya bisa dilakukan ketika kita memahami bahwa kita sungguh tak punya kuasa atas diri kita juga orang lain;
hanya Allah yang punya. :')
"Menjadi dewasa adalah sebuah proses" ���������� Tulisan yang super tentang dewasa yang sesungguhnya.
BalasHapus