Pages

Rabu, 05 Februari 2020

[Untitled] Act 1

Musim dingin mulai memasuki masa-masa puncaknya. Jika bukan karena kerja keras para pekerja kebersihan, hampir mustahil bagi Rania bisa berkendara melewati sepanjang jalan protokol yang dipenuhi gundukan salju mengingat ini musim dingin pertamanya di negara itu. Sebelum tiba dan menetap di wilayah lingkaran arktik itu, ia pernah membaca bahwa salju bahkan bisa mencapai betis orang dewasa bila sedang parah-parahnya. Maka terbilang cukup nekat, karena kalau saja Rania bisa sedikit menunggu, baik Emilie maupun Gunnar tentu tak akan membiarkannya pergi sendirian. 

Ia bukan tak takut atau apa, tapi ini masalah tanggung jawab. Selagi ia masih bisa menyelesaikannya, tak sampai hati rasanya jika meminta Gunnar dan Emilie mengantarnya setelah bekerja seharian. Lagi pula, saat itu Maiken dan Odin tidur cukup nyenyak. Ia bisa menggunakan waktu luang itu untuk berbelanja. Tak akan butuh waktu lama, Emilie dan Gunnar memiliki semacam master list kebutuhan rumah tangga yang bisa ia gunakan setiap kali berbelanja. Ia hanya tinggal mengecek beberapa barang yang habis dan membelinya di supermarket langganan keluarga itu. 

Rania baru saja tiba dari REMA 1000 dan sedang memindahkan belanjaannya ke beberapa kompartemen, ketika tiba-tiba pintu rumah host family-nya diketuk dengan tergesa. Host family-nya jarang menerima tamu, hampir seluruh penduduk yang tinggal di wilayah itu sibuk bekerja di luar rumah. Kalaupun ada, itu pasti Grandma. Wanita lanjut usia--namun masih cukup kuat untuk diajak hiking--yang tinggal berdampingan dengan host family-nya.

Ia mengenal Rania beberapa hari setelah gadis itu tiba. Mereka cukup dekat, sesekali ia mengajak Rania mengobrol jika dilihatnya gadis itu tengah mengajak Maiken dan Odin bermain di halaman depan. Pun tak jarang mereka diundang ke rumah wanita untuk sekadar minum teh dan menikmati waffle buatannya. 

"Rania... Rania... Kau ada di dalam? Tolong bantu aku!" Suara Grandma beradu dengan ketukan pintu, seiring Rania berjalan melewati ruang tengah menuju depan. 

"Rania, tolong aku!" Napasnya terengah, seolah pasokan oksigen dalam paru-parunya sebentar lagi akan habis. "Seseorang... seseorang... mati di kabinku!" 

Rania spontan berjengit. Kalimatnya tertahan di ujung lidah, namun Grandma buru-buru meralat, "T-tentu a-aku t-tidak berharap demikian! Tapi sungguh, orang itu seperti terlihat tak bernyawa!" 

Rania menyambar snowsuit dan boots anti airnya, tanpa membuang waktu berlari mengikuti Grandma. Hampir saja ia terpeleset. Kepanikan membuatnya lupa bahwa halaman yang beku membuatnya menjadi licin. Mereka masuk ke dalam kabin milik Grandma dan tergesa berlari melewati lorong yang menghubungkan deretan kamar dengan ruang tengah. Di pintu nomor dua koridor sebelah kanan itu Grandma memberi isyarat untuk membuka pintu. Alih-alih menyadari isyarat Grandma, Rania justru reflek mendobraknya. 

"Auww!" Suara seseorang mengaduh dari dalam seiring pintu menjeblak terbuka. Ya Tuhan, Rania bahkan lupa kalau pintu itu tentu tak mungkin terkunci setelah apa yang dikatakan Grandma soal seseorang mati dalam kabinnya tadi. 

Tapi tunggu! Yang terdengar mengaduh itu jelas suara manusia! Bukan ruh yang sedang bergentayangan (oke ini sebenarnya tak mungkin, tapi pikiran Rania begitu kacau), karena sesaat kemudian Rania dengan pasti melihat tubuhnya menjulang membelakangi pintu. 

Grandma begitu shock di belakang Rania, bersandar pada dinding koridor sebelah kiri. Gerakan tangannya mengusap dada naik turun untuk melegakan sumbatan paru-paru terdengar begitu jelas di telinga Rania. 

Seolah semua hal tadi belum cukup mengejutkan baginya, seseorang yang tengah menjulang di hadapannya kini menatapnya, untuk kemudian berbisik pelan, "A-u-ri-ga?" 

Rania menelan ludah. Ia tidak sedang bermimpi. Tangkapan matanya begitu jelas membentuk bayangan laki-laki itu. Itu memang dia, si Beta Tauri. 
"Auriga?" Kini laki-laki itu yang terlihat tak yakin dengan apa yang dilihatnya, memanggilnya dengan nama yang Rania sebutkan saat mereka berkenalan dahulu.

"Rania."

Laki-laki itu mengernyit tak mengerti. Apakah gadis itu sedang berusaha mengoreksi ucapannya? Ia yakin tak sedang mengigau, ini benar gadis yang bertemu dengannya pada peristiwa Gerhana Matahari Total di Ternate beberapa bulan lalu. Dan di tempat ia menginjakkan kaki sekarang, yang beribu kilometer jaraknya dari tempat awal mereka bertemu, laki-laki itu yakin yang berdiri di hadapannya masih gadis yang sama. 

"Rania. Namaku Rania."

Butuh beberapa detik bagi laki-laki itu untuk mencerna informasi yang baru saja ia terima, sebelum berucap, "Jadi... bukan Auriga?"

Rania mengangguk, sekilas menatap ujung kakinya yang dibalut kaus kaki tebal, untuk kemudian dengan raut bersalah mengatakan, "Maaf, sudah membuatmu bingung." Ia mengambil jeda, dan mengakui, "Aku hanya, hm, tidak terbiasa memberitahu identitasku pada orang asing."

Sebongkah kecewa menelusup halus ke dalam jantung laki-laki itu, Rania membaca itu dari raut wajahnya. Memang salahnya tak menyebutkan nama sebenarnya, lebih-lebih pada seseorang yang telah menolongnya waktu itu. Rania seringkali berpikir ada banyak orang yang mungkin hanya akan ia temui sekali seumur hidup, namun ternyata laki-laki ini tak masuk dalam kategori itu. 

"Hei, apa yang kalian bicarakan di belakangku?!" Suara serak Grandma menginterupsi jeda keheningan yang terasa canggung. Kepanikannya telah reda dan ia sadar sepenuhnya sekarang. 

"Oh, maafkan aku, Grandma. Setelah apa yang kau katakan, aku hanya sedikit tidak percaya dengan apa yang kulihat," ujar Rania. Tentu yang dimaksudnya dengan "tidak percaya dengan apa yang kulihat" bukan semata-mata bahwa seseorang itu ternyata masih hidup, melainkan juga karena ia mengenal laki-laki itu.

Grandma melangkah, posisinya kini sejajar dengan Rania. "Maafkan aku, Rania. Aku begitu panik karena semalam laki-laki ini datang dengan gigil yang mengkhawatirkan. Ia sempat tersesat sebelum menemukan kabinku. Tubuhnya begitu kaku, setiap kali bicara suara giginya bergemeretak kencang. Hampir saja kukira aku sedang berhadapan dengan zombie!" 

Satu prinsip hidup Grandma: kejujuran berada di atas segalanya. Ia bahkan tak segan memperumpakan tamunya seperti zombie, dan itu diperdengarkan langsung di hadapannya. Tapi respons laki-laki itu sungguh di luar dugaan. Ia justru tertawa mendengar kejujuran Grandma. "Kukira memang aku separah itu, Gran--aku tentu boleh memanggilmu Grandma?" 

Grandma mengangguk. Ia memang biasa dipanggil seperti itu oleh siapa pun, termasuk tamu-tamu yang datang menginap di kabinnya. "Jadi, apa yang kau lakukan tadi? Pintumu tak terkunci saat aku mengetuk. Aku bahkan begitu panik ketika melihatmu tersungkur tak bergerak sehingga mengira kau mati."

Dahi laki-laki itu mengerut. Ia jelas bingung dengan pernyataan wanita tua di hadapannya. "Tersungkur?" 

"Maaf, Grandma, apa kau bisa menunjukkan kepadanya seperti apa yang kau maksud tersungkur tadi? Laki-laki ini sepertinya tak mengerti maksudmu," Rania membantu menjelaskan. 

"Oh, baiklah." Wanita itu kemudian merundukkan tubuhnya yang sedikit gemuk ke lantai, menunjukkan apa yang tadi dilihatnya dari laki-laki itu sampai ia mengira tamunya telah mati. Dan demi melihat cara wanita itu merundukkan tubuhnya di lantai, baik Rania maupun laki-laki itu hampir saja meledakkan tawa.

Rania menggiring wanita itu, yang kemudian diikuti si lelaki, menuju ruang tengah. Mereka duduk saling berhadapan, sementara gantian wanita itu yang kini terlihat bingung. 

"Saat kau melihatnya tadi, laki-laki ini sedang beribadah. Kami menyebutnya salat, dan ia sedang bersujud. Ia seorang Muslim sepertiku, seperti Emilie juga Gunnar," papar Rania, sembari menahan tawa. 

Berbanding terbalik dengan keseganannya menertawakan tingkah Grandma, wanita itu justru spontan tertawa. Dengan malu ia merutuki kebodohannya. Emilie dan Gunnar memang telah berpindah keyakinan beberapa bulan sebelum Rania tiba, tapi baik ketika berinteraksi dengan kedua orang itu maupun Rania, ia tidak pernah tahu bagaimana cara mereka beribadah. Dirinya sendiri bahkan juga bukan seseorang yang taat beragama. 

Mereka kemudian asyik berbincang. Grandma penasaran karena Rania dan tamunya terlihat seperti sudah saling mengenal. Rania mengatakan bahwa mereka bertemu pada acara pengamatan Gerhana Matahari Total di Ternate dan laki-laki itu sempat menolongnya dalam suatu hal, yang kemudian diiyakan pula oleh laki-laki itu. 

Lima belas menit mengobrol, Grandma tersadar kalau ia tadi sedang memasak sup saat mengunjungi kabin untuk menawarkannya pada laki-laki itu. Tapi apanyang dilihatnya membuatnya panik, dan beruntungnya laki-laki itu masih hidup. Ia tidak bisa membayangkan sesuatu yang mengerikan terjadi di dalam kabinnya. Wanita itu lantas beranjak menuju dapur, dan kesempatan itu digunakan juga oleh Rania untuk pamit. Lagi pula, ia khawatir Maiken dan Odin sudah bangun. 

Rania sedang mengenakan sepatu boots-nya ketika ia kemudian mendengar laki-laki itu berujar, "Baiklah, namamu Rania. Bukan Auriga. Aku akan mengingatnya." 

Rania mengucap terima kasih tanpa suara. 

"Kalau namaku, masih ingat?"

Alnath. Namamu Alnath. Namun, kalimat itu hanya menggumam dalam dirinya, dan yang diucapkan bibirnya justru, "Tentu."

"Ya, dari dulu namaku selalu seperti itu." Laki-laki itu mengulas senyum, yang bagi Rania justru terlihat dipaksakan. 

Rania berbalik memunggungi laki-laki itu dan berjalan menyeberangi halaman. Entah mengapa, perasaannya mendadak kacau. Laki-laki itu bisa saja tertawa, berkelakar, terlihat tak kehabisan topik bicara, saat mereka berbincang bersama Grandma tadi. Tapi, kekecewaan yang Rania sempat tangkap dari wajahnya tadi seperti menyiratkan sesuatu. Dan senyum yang dipaksakan itu, laki-laki itu jelas sedang menyindirnya. 

Entah bagaimana, jauh di dalam hatinya Rania merasa bahwa kekecewaan itu berkaitan dengan dirinya. Bukan hanya karena soal nama, tapi seolah lebih dari itu. 

Bersambung ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))