Beberapa orang yang tidak benar-benar mengenalku atau
hanya melihatku sekilas akan berpikiran aku ini tipe orang serius. Dan itu
salah besar! Aku jauh dari kata itu. Aku boleh dibilang cukup bersyukur dari
zaman SD sampai sekarang mempunyai teman-teman sekelas yang tidak terlalu
serius (meskipun mungkin ada beberapa yang tipe serius sih). Well, tidak
serius dalam artian tidak kaku dan bisa membuat tertawa.
Dari dulu aku punya teman sekelas yang semua anak-anaknya
suka ngelucu, ngelakuin hal-hal konyol dan nggak penting yang bikin ketawa,
ngelanggar peraturan (ini jarang yaa), sampai ngomongin orang atau hal-hal yang
lagi-lagi nggak penting, begitu seterusnya. Rasanya menyenangkan bisa sejenak
melupakan hal-hal serius yang penting banget itu dengan tertawa walau pada
akhirnya kita harus sama-sama menyadari bahwa tawa itu harus terhenti. Ya, ada
kalanya kita harus mengambil jeda; berpikir bahwa kita tidak selamanya bisa
terus tertawa. Sesekali kita perlu duduk berpikir, menatap ke depan, lalu duduk
menunduk untuk kembali berpikir dan memetakan kehidupan kita di detik
berikutnya.
Waktu terus bergulir dan kita tidak pernah bisa tahu apa
yang akan terjadi di detik-detik berikutnya. Ya, aku sengaja tidak bicara
menit; karena bahkan satu atau sepersekian detik saja hal-hal tak terduga bisa
terjadi dengan mudahnya. Boleh jadi saat ini kita tertawa, tapi apakah kita
pernah tahu bahwa di detik-detik berikutnya kita akan menangis? Terkadang kita
hanya bisa menebak, dan seringkali salah. Sungguh, Tuhan punya lebih dari
semilyar teka-teki yang tak bisa kita tebak dengan mudah. Mereka benar, hidup
ini penuh misteri.
Kita pernah tertawa hanya untuk menyembunyikan sesuatu
yang harus kita sembunyikan. Sesuatu yang kita tidak ingin orang lain tahu.
Tawa yang itu… yah, kita sama-sama tahu, rasanya menyakitkan. Palsu. Tapi di
saat seperti itu, kita butuh tertawa. Tertawa yang benar-benar tertawa. Tertawa
yang tulus. Tertawa dari hati. Kita jarang berpikir bahwa saat kita bersedih
bahkan ada banyak hal yang sebenarnya bisa membuat kita tertawa. Tertawa dan
bersyukur atas segala yang telah kita miliki. Yah, tentu kita tahu dan
menyadari bahwa rasa terkadang lebih berkuasa daripada pikir. Oh bukan, bukan
begitu. Kita hanya membiarkan rasa lebih berkuasa daripada pikir.
Tertawa, tapi tidak berlebihan. Bersyukur kita masih bisa
tertawa.
Dalam keadaan apa pun, akan ada orang-orang yang ingin
melihat kita tertawa.
Tertawalah, selagi kita masih bisa tertawa.
Dan itu bukan berarti kita tidak punya waktu untuk
berpikir.
23.02.2014, pada malam yang dingin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))