Pages

Sabtu, 01 Maret 2014

Segores Kata tentang Tertawa


Photo's from christinastoll.wordpress.com

Beberapa orang yang tidak benar-benar mengenalku atau hanya melihatku sekilas akan berpikiran aku ini tipe orang serius. Dan itu salah besar! Aku jauh dari kata itu. Aku boleh dibilang cukup bersyukur dari zaman SD sampai sekarang mempunyai teman-teman sekelas yang tidak terlalu serius (meskipun mungkin ada beberapa yang tipe serius sih). Well, tidak serius dalam artian tidak kaku dan bisa membuat tertawa.

Dari dulu aku punya teman sekelas yang semua anak-anaknya suka ngelucu, ngelakuin hal-hal konyol dan nggak penting yang bikin ketawa, ngelanggar peraturan (ini jarang yaa), sampai ngomongin orang atau hal-hal yang lagi-lagi nggak penting, begitu seterusnya. Rasanya menyenangkan bisa sejenak melupakan hal-hal serius yang penting banget itu dengan tertawa walau pada akhirnya kita harus sama-sama menyadari bahwa tawa itu harus terhenti. Ya, ada kalanya kita harus mengambil jeda; berpikir bahwa kita tidak selamanya bisa terus tertawa. Sesekali kita perlu duduk berpikir, menatap ke depan, lalu duduk menunduk untuk kembali berpikir dan memetakan kehidupan kita di detik berikutnya.

Waktu terus bergulir dan kita tidak pernah bisa tahu apa yang akan terjadi di detik-detik berikutnya. Ya, aku sengaja tidak bicara menit; karena bahkan satu atau sepersekian detik saja hal-hal tak terduga bisa terjadi dengan mudahnya. Boleh jadi saat ini kita tertawa, tapi apakah kita pernah tahu bahwa di detik-detik berikutnya kita akan menangis? Terkadang kita hanya bisa menebak, dan seringkali salah. Sungguh, Tuhan punya lebih dari semilyar teka-teki yang tak bisa kita tebak dengan mudah. Mereka benar, hidup ini penuh misteri.

Kita pernah tertawa hanya untuk menyembunyikan sesuatu yang harus kita sembunyikan. Sesuatu yang kita tidak ingin orang lain tahu. Tawa yang itu… yah, kita sama-sama tahu, rasanya menyakitkan. Palsu. Tapi di saat seperti itu, kita butuh tertawa. Tertawa yang benar-benar tertawa. Tertawa yang tulus. Tertawa dari hati. Kita jarang berpikir bahwa saat kita bersedih bahkan ada banyak hal yang sebenarnya bisa membuat kita tertawa. Tertawa dan bersyukur atas segala yang telah kita miliki. Yah, tentu kita tahu dan menyadari bahwa rasa terkadang lebih berkuasa daripada pikir. Oh bukan, bukan begitu. Kita hanya membiarkan rasa lebih berkuasa daripada pikir.

Tertawa, tapi tidak berlebihan. Bersyukur kita masih bisa tertawa.
Dalam keadaan apa pun, akan ada orang-orang yang ingin melihat kita tertawa.
Tertawalah, selagi kita masih bisa tertawa.
Dan itu bukan berarti kita tidak punya waktu untuk berpikir.


23.02.2014, pada malam yang dingin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))