![]() |
| Credit: footage.shutterstock.com |
Untuk teman-temanku,
Teman, tulisan ini sejatinya bukanlah apa-apa. Dan
yang menulisnya pun bukan siapa-siapa, hanya seorang ‘aku’ yang bersama kalian
dalam dua tahun terakhir sejak kita dipertemukan dalam kelas yang sama. Aku pun
berpikir bahwa pada dasarnya kita memiliki tujuan dan mimpi yang sama: menuntut
ilmu dan menjadi orang sukses di masa depan. Namun, ternyata egolah yang lebih
menguasai kita. Aku ataupun kalian sama-sama menolak berbaur satu sama lain.
Kita seolah mampu menatap dunia kita masing-masing tanpa membutuhkan bantuan
orang lain.
Pada akhirnya, waktu dan kebersamaanlah yang
mendewasakan kita. Perlahan, aku dan kalian sama-sama mencoba menaklukkan
tebing curam penuh batu ujian yang mungkin tak akan pernah mampu kita lewati
seorang diri. Aku dan kalian berusaha menembus pekatnya malam dengan setitik
cahaya pengetahuan yang kita miliki. Sedikit demi sedikit kita pun mulai saling
mengisi dan memahami. Saling mengisi bahwa ada banyak gelas kosong yang dapat
kita tuangi dengan air berupa ilmu dan pengetahuan yang nantinya dapat kita
teguk air-air pengetahuan itu bersama-sama sebagai penyejuk diri kita yang haus
akan ilmu. Memahami bahwa bahagia adalah saat kita semua bahagia, dan sedih
adalah saat salah seorang di antara kita terluka.
Teman, selama masa perjalanan yang kita lewati, tak
sedikit aku mereguk air kehidupan yang kautuang dalam gelasku. Semakin aku
mereguknya, semakin pula aku memahami bahwa tak ada yang tak patut disyukuri di
dunia ini. Sebagai siapa pun kita dilahirkan, maka sejatinya itulah yang
terbaik untuk kita. Namun, aku maupun kalian terlalu naif untuk menyadari dan
belajar menerimanya dengan lapang dada.
Hingga akhirnya, kita terlalu lelah untuk melanjutkan
perjalanan dan memilih beristirahat sejenak untuk melihat sisi lain dari kehidupan
yang menyergap tanpa peringatan. Sisi lain dari kehidupan yang ‘katanya’
menjanjikan ketenangan dan kebahagiaan─walau sejenak─ yang lantas akan menghapus lelah kita sebelum
kembali melanjutkan perjalanan: dunia remaja dan segala yang terkait di
dalamnya.
Nyatanya, meski ketenangan dan kebahagiaan itu
benar-benar kita rasakan, kita justru terlena dibuatnya. Seringkali kita
menjadi lalai dan berpikir ‘masa bodoh’ tentang siapa dan apa tugas kita
sebenarnya, yaitu pelajar yang harus melanjutkan perjalanan menuntut ilmu. Tak
pelak lagi, terlalu banyak nada sumbang yang akhirnya terdengar dari bibir kita
manakala satu per satu guru kita berkata, “Tugas pelajar adalah belajar, jadi
mengapa kalian harus mengeluh tentang ini dan itu yang memang sejatinya pantas dibebankan
pada pelajar?”
Baik aku maupun kalian, kita pun
sama-sama mendengungkan nada sumbang itu tanpa suara, “Oh, c’mon! Pelajar juga manusia. Mereka juga ingin menikmati dunia
mereka sendiri di luar status mereka sebagai pelajar. Mereka butuh mengenal Facebook, Twitter, atau apa pun itu agar mereka tidak terlihat ‘kuper’. Sedikit
banyak, bukankah berinteraksi dengan orang lain juga dapat membentuk
kepribadian? Toh, hidup ini nggak melulu tentang
teori, kan?”
Baiklah, teman. Kita boleh saja
berkata begitu. Namun kita pun harus ingat bahwa segala sesuatu ada batasnya. Dan
faktanya, kita lebih memilih untuk melanggar batas-batas itu daripada
mematuhinya. Kita justru lebih banyak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang
kurang bermanfaat daripada sekedar membuka buku untuk belajar. Kita justru
lebih betah berlama-lama online Facebook daripada
sekedar mendengarkan pelajaran yang diterangkan guru di kelas.
Layaknya bumi yang terus berputar,
waktu pun seakan tak mau berhenti. Terus
berjalan jauh meninggalkan kita tanpa peduli. Dengar teman, waktu kita hampir
habis. Sementara, kita tak punya cukup kekuatan untuk berlari mengejarnya.
Terlalu banyak gelas yang harus kita isi untuk mengejar ketertinggalan itu
karena sejatinya kita telah melupakan apa yang dulu pernah tersimpan di memori
kita. Dan lagi-lagi, mengisinya pun cukup memakan waktu hingga akhirnya kita berada
dalam kondisi yang serba sulit.
Tapi kataku, teman, kita tak perlu berputus
asa. Kita tidak harus menyerah sampai di sini. Ketertinggalan tidak sepatutnya
menjadi alasan kita lantas berdiam diri dan menerima apa yang terjadi. Bukankah
kita sama-sama telah bertekad untuk menggapai mimpi sekalipun mimpi itu
tergantung pada langit tertinggi?
Selalu ada jalan selagi kita mau
berusaha. Sesulit apa pun medan yang akan kita tempuh, selama kita masih
berpegangan tangan kita pasti mampu melewatinya bersama-sama. Tak boleh ada
yang menghalangi langkah kita. Karena sekali lagi, teman, waktu kita hampir
habis. Dan kita hanya perlu mendaki beberapa bukit lagi sebelum mencapai puncak
di hari Ujian Nasional nanti. Aku ingin aku, kalian, siapa pun, yang pernah
menjadi bagian dari kita, dapat menaklukkan bukit-bukit itu dan berdiri dengan
wajah berseri ketika menatap lembar pengumuman hasil perjalanan kita dalam
kurun waktu tiga tahun ini.
Hingga suatu saat manakala kita dipertemukan kembali,
aku bisa melihat diriku, kalian, masih sama-sama berpegangan seiring dengan
langkah kita yang memijak angkuh bumi ini. Aku ingin suatu saat nanti aku,
kalian, bersama-sama menempuh jalan yang tak akan pernah kita tahu di mana
ujungnya ini sebagaimana kita menempuh jalan liku yang mengantarkan kita pada
hari ini untuk bersiap menaklukkan ujian di hari penentuan nanti.
Teman, bagi kalian aku mungkin bukanlah siapa-siapa.
Lagi-lagi hanya seorang ‘aku’ yang tak sengaja bertemu dan bersama dengan
kalian dalam kelas yang sama. Namun bagiku kalian lebih daripada sekedar
‘siapa-siapa’. Cukup percaya pada apa yang kukatakan bahwa kalian begitu
berarti. Dan tulisan ini adalah bukti dari sebuah kepedulian juga motivasi bagi
kita untuk melangkah lebih jauh lagi.
Dan… Oh cukup, teman. Kurasa harus sampai di sini. Bukankah
kita harus kembali melanjutkan perjalanan?
Ayo, semangaaatt!!!
Yang bukan
siapa-siapa,
Aku
*** Tulisan ini meraih Juara III Lomba
Menulis Bebas tingkat pelajar SMA se-Indonesia yang diadakan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada pada
tahun 2012. Terinspirasi oleh kisah nyata dalam melewati masa SMA dan masa sulit persiapan menuju UN.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))