Pages

Minggu, 13 April 2014

In Memoriam, UN 2013: Semangat untuk Temanku



Credit: footage.shutterstock.com
                                                     
Untuk teman-temanku,
Teman, tulisan ini sejatinya bukanlah apa-apa. Dan yang menulisnya pun bukan siapa-siapa, hanya seorang ‘aku’ yang bersama kalian dalam dua tahun terakhir sejak kita dipertemukan dalam kelas yang sama. Aku pun berpikir bahwa pada dasarnya kita memiliki tujuan dan mimpi yang sama: menuntut ilmu dan menjadi orang sukses di masa depan. Namun, ternyata egolah yang lebih menguasai kita. Aku ataupun kalian sama-sama menolak berbaur satu sama lain. Kita seolah mampu menatap dunia kita masing-masing tanpa membutuhkan bantuan orang lain.
Pada akhirnya, waktu dan kebersamaanlah yang mendewasakan kita. Perlahan, aku dan kalian sama-sama mencoba menaklukkan tebing curam penuh batu ujian yang mungkin tak akan pernah mampu kita lewati seorang diri. Aku dan kalian berusaha menembus pekatnya malam dengan setitik cahaya pengetahuan yang kita miliki. Sedikit demi sedikit kita pun mulai saling mengisi dan memahami. Saling mengisi bahwa ada banyak gelas kosong yang dapat kita tuangi dengan air berupa ilmu dan pengetahuan yang nantinya dapat kita teguk air-air pengetahuan itu bersama-sama sebagai penyejuk diri kita yang haus akan ilmu. Memahami bahwa bahagia adalah saat kita semua bahagia, dan sedih adalah saat salah seorang di antara kita terluka.
Teman, selama masa perjalanan yang kita lewati, tak sedikit aku mereguk air kehidupan yang kautuang dalam gelasku. Semakin aku mereguknya, semakin pula aku memahami bahwa tak ada yang tak patut disyukuri di dunia ini. Sebagai siapa pun kita dilahirkan, maka sejatinya itulah yang terbaik untuk kita. Namun, aku maupun kalian terlalu naif untuk menyadari dan belajar menerimanya dengan lapang dada.
Hingga akhirnya, kita terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan dan memilih beristirahat sejenak untuk melihat sisi lain dari kehidupan yang menyergap tanpa peringatan. Sisi lain dari kehidupan yang ‘katanya’ menjanjikan ketenangan dan kebahagiaan─walau sejenak─ yang lantas akan menghapus lelah kita sebelum kembali melanjutkan perjalanan: dunia remaja dan segala yang terkait di dalamnya.
Nyatanya, meski ketenangan dan kebahagiaan itu benar-benar kita rasakan, kita justru terlena dibuatnya. Seringkali kita menjadi lalai dan berpikir ‘masa bodoh’ tentang siapa dan apa tugas kita sebenarnya, yaitu pelajar yang harus melanjutkan perjalanan menuntut ilmu. Tak pelak lagi, terlalu banyak nada sumbang yang akhirnya terdengar dari bibir kita manakala satu per satu guru kita berkata, “Tugas pelajar adalah belajar, jadi mengapa kalian harus mengeluh tentang ini dan itu yang memang sejatinya pantas dibebankan pada pelajar?”
Baik aku maupun kalian, kita pun sama-sama mendengungkan nada sumbang itu tanpa suara, “Oh, c’mon! Pelajar juga manusia. Mereka juga ingin menikmati dunia mereka sendiri di luar status mereka sebagai pelajar. Mereka butuh mengenal Facebook, Twitter, atau apa pun itu agar mereka tidak terlihat ‘kuper’. Sedikit banyak, bukankah berinteraksi dengan orang lain juga dapat membentuk kepribadian? Toh, hidup ini nggak melulu tentang teori, kan?”
Baiklah, teman. Kita boleh saja berkata begitu. Namun kita pun harus ingat bahwa segala sesuatu ada batasnya. Dan faktanya, kita lebih memilih untuk melanggar batas-batas itu daripada mematuhinya. Kita justru lebih banyak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang kurang bermanfaat daripada sekedar membuka buku untuk belajar. Kita justru lebih betah berlama-lama online Facebook daripada sekedar mendengarkan pelajaran yang diterangkan guru di kelas.
Layaknya bumi yang terus berputar, waktu pun seakan tak mau berhenti.  Terus berjalan jauh meninggalkan kita tanpa peduli. Dengar teman, waktu kita hampir habis. Sementara, kita tak punya cukup kekuatan untuk berlari mengejarnya. Terlalu banyak gelas yang harus kita isi untuk mengejar ketertinggalan itu karena sejatinya kita telah melupakan apa yang dulu pernah tersimpan di memori kita. Dan lagi-lagi, mengisinya pun cukup memakan waktu hingga akhirnya kita berada dalam kondisi yang serba sulit.
Tapi kataku, teman, kita tak perlu berputus asa. Kita tidak harus menyerah sampai di sini. Ketertinggalan tidak sepatutnya menjadi alasan kita lantas berdiam diri dan menerima apa yang terjadi. Bukankah kita sama-sama telah bertekad untuk menggapai mimpi sekalipun mimpi itu tergantung pada langit tertinggi?
Selalu ada jalan selagi kita mau berusaha. Sesulit apa pun medan yang akan kita tempuh, selama kita masih berpegangan tangan kita pasti mampu melewatinya bersama-sama. Tak boleh ada yang menghalangi langkah kita. Karena sekali lagi, teman, waktu kita hampir habis. Dan kita hanya perlu mendaki beberapa bukit lagi sebelum mencapai puncak di hari Ujian Nasional nanti. Aku ingin aku, kalian, siapa pun, yang pernah menjadi bagian dari kita, dapat menaklukkan bukit-bukit itu dan berdiri dengan wajah berseri ketika menatap lembar pengumuman hasil perjalanan kita dalam kurun waktu tiga tahun ini.
Hingga suatu saat manakala kita dipertemukan kembali, aku bisa melihat diriku, kalian, masih sama-sama berpegangan seiring dengan langkah kita yang memijak angkuh bumi ini. Aku ingin suatu saat nanti aku, kalian, bersama-sama menempuh jalan yang tak akan pernah kita tahu di mana ujungnya ini sebagaimana kita menempuh jalan liku yang mengantarkan kita pada hari ini untuk bersiap menaklukkan ujian di hari penentuan nanti.
Teman, bagi kalian aku mungkin bukanlah siapa-siapa. Lagi-lagi hanya seorang ‘aku’ yang tak sengaja bertemu dan bersama dengan kalian dalam kelas yang sama. Namun bagiku kalian lebih daripada sekedar ‘siapa-siapa’. Cukup percaya pada apa yang kukatakan bahwa kalian begitu berarti. Dan tulisan ini adalah bukti dari sebuah kepedulian juga motivasi bagi kita untuk melangkah lebih jauh lagi.
Dan… Oh cukup, teman. Kurasa harus sampai di sini. Bukankah kita harus kembali melanjutkan perjalanan?  Ayo, semangaaatt!!!

Yang bukan siapa-siapa,

Aku


*** Tulisan ini meraih Juara III Lomba Menulis Bebas tingkat pelajar SMA se-Indonesia yang diadakan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada pada tahun 2012. Terinspirasi oleh kisah nyata dalam melewati masa SMA dan masa sulit persiapan menuju UN.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))