Judul: Shadow Light
Penulis: Putu Felisia
Penerbit: Gradien Mediatama
Terbit: Cetakan I, 2011
Tebal: 280 halaman
ISBN: 978-602-208-013-8
“Dia Shadow… Dan, aku Light.
Cahaya dan bayangan, selamanya akan bertentangan.”
Seolah
ditakdirkan, Lee Shin beserta identitas rahasianya, Detektif Light,
selalu berupaya mengalahkan Shadow, pembunuh bayaran yang selalu
mengalahkannya. Selama sepuluh tahun, menangkap Shadow telah menjadi
obsesi Shin, walau dia harus mempertaruhan semua… pikiran, perasaan,
bahkan nyawanya.
Shin hampir putus asa saat dikeluarkan
dari tugas lapangan. Namun, takdir menariknya kembali pada Shadow.
Bersamaan, muncul seorang gadis bermata sendu dengan aura kematian yang
menyengat Shin. Agni, gadis misterius itu, membawanya terlibat dalam
kasus pembunuhan. Perlahan, bersama Agni, dia memasuki dunia rumit
organisasi Death Hand—Tangan Kematian yan bertanggung jawab atas
berbagai pembunuhan yang terjadi di berbagai penjuru dunia.
Review:
Bacaan yang berat! Saya menggumam sendiri begitu mengelus kaver dan
membuka-buka halaman novel tersebut. Pastinya membaca novel dengan kategori
‘bacaan berat’ membutuhkan waktu khusus, dengan begitu saya bisa memahami
sepenuhnya sisi yang ‘tidak biasa’ dari novel ini tanpa harus membagi pikiran
dengan segala hal di luarnya.
Shadow Light adalah ‘bacaan yang berat’; berat di sini maksudnya adalah ketika
membacanya dibutuhkan konsentrasi penuh dan ingatan yang kuat tentang hal-hal
yang diutarakan penulis mengenai sebuah fakta dan peristiwa yang menjadi dasar
konflik-konflik selanjutnya. Saya mendapati diri saya kembali membuka
halaman-halaman sebelumnya ketika mulai dibingungkan dengan jalan ceritanya.
Selain itu, novel ini juga menampilkan cerita dengan genre tidak biasa, criminal
yang dibumbui dengan sedikit unsur
romance.
Kematian, kematian, dan kematian… Sisi gelap yang paling mengerikan. Kau
bisa bersenang-senang, kau bisa tertawa, menikmati hidup dalam gelimangan
harta, tapi tanpa kau sadari kematian
membayangimu dari sisi yang tak kau duga. Kau tak bisa mengadakan perlawanan jika
kematian telah menghampirimu. Tapi, bagaimana jika kematian disajikan dalam
bentuk yang sedemikian indah?
Kau bisa melihatnya pada Joong
atau… Shadow, Sang Bayangan. Tampan, pembunuh bayaran
yang sanggup membuat Agni melakukan
apa pun untuknya, bahkan menyerahkan kehidupannya sekalipun. Dan rival Shadow adalah Light, Cahaya… yang merupakan identitas seorang detektif jenius
bernama Lee Shin. Selalu ada kejutan
di balik sebuah peristiwa. Hanya saja perseteruan antara Shadow dan Light
kurang ditonjolkan. Mungkin akan lebih ‘menggigit’ jika pada akhirnya Shadow,
Agni, dan Shin berada pada satu pertempuran. Namun yang saya sukai adalah bumbu
romance di dalamnya: ketika kau
mencintai musuh kekasihmu. Saya seolah merasakan apa yang dirasakan Shin ketika
tahu Agni adalah kekasih Joong.
Next, alurnya tak terasa terlalu lambat
maupun cepat. Hanya saja akhir ceritanya sangat menggantung, dan tahu bahwa
lanjutannya sedang dikerjakan oleh penulis membuat saya sedikit lega. Dari segi
penampilan fisik, menurut saya novel ini hampir sempurna. Ukurannya yang pas di
tangan, tidak terlalu besar ataupun kecil, judul di kavernya yang timbul, serta
kertasnya yang wangi. Gambar kavernya juga menarik, dua buah pistol dan…
katana─pedang panjang Jepang. Kereeen!!
Pada intinya, kalau kamu menyukai novel yang tidak biasa, novel inilah
jawabannya. Shadow Light akan
membawamu menyingkap sisi gelap dari kehidupan yang kamu tidak ketahui
sebelumnya.
“Jika kau pernah menerima hidup dari
kematian, maka selamanya, kau akan… menjadi bagian dari kematian...”
*First published on: https://www.facebook.com/notes/evi-sofia-inayati/novel-review-shadow-light-ketika-bayangan-dan-cahaya-bertentangan/10150939336094518

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))