Aku percaya, tentu saja—meski
terkadang teramat susah menerima saja apa yang terjadi, terutama apabila yang
terjadi itu adalah sesuatu yang tidak kuinginkan; sesuatu yang membuat kecewa,
sesuatu yang menyedihkan, sesuatu yang memutuskan harapan, dan semacamnya.
Mempercayainya mungkin hal yang
mudah. Tapi nyatanya kepercayaan itu tak sepenuhnya mampu menutup luka di hati
kita. Sungguh tidak mudah berusaha melapangkan dada kita sementara kita merasa
sedih. Adalah sebuah pertanyaan saat kita merasa yakin, percaya, dan tahu benar
sesuatu terjadi karena sebuah alasan—atau mungkin beberapa alasan—tetapi di lain
sisi kita masih merasa sulit melapangkan hati untuk menerimanya.
Sungguh, dalam hal ini
kepercayaan tersebut bukanlah sebuah kesalahan. Melainkan adalah sebuah
kewajaran kita merasa sedih, kecewa, dan terluka ketika sesuatu yang tidak kita
harapkan berdiri di depan mata kita. Kesalahan adalah ketika kita terlalu
melarutkan diri di dalam kesedihan itu, seolah-olah semuanya akan ikut hancur bersama
peristiwa itu. Padahal, hei, time is running. Waktu akan terus bergulir.
Masih ada hari esok, esok, dan esoknya lagi yang harus kita hadapi. Make
your own life goes on dan jangan mau hanya tertinggal di belakang. Stay in
silence behind people’s back is wasting time. Apa yang bisa kamu lakukan
untuk hidupmu jika sepanjang waktu kamu hanya sibuk memandangi
punggung-punggung itu berlari menjauhimu?
Nothing.
Kamu—kita akan menyesal saat
menyadarinya. Tidak bisa melakukan apa-apa selain berusaha keras menggenapkan
waktu yang telah kita lalui dengan sia-sia. Mengumpulkan semuanya menjadi satu
sampai kita kembali bisa berlari beriringan dengan manusia-manusia lainnya; study
hard, try hard, pray hard, karena tentu bukan hal yang mudah untuk mengejar
ketertinggalan.
Menanamkan kepercayaan dan
mengingatkan hati kita setiap saat bahwa segala sesuatu terjadi karena sebuah
alasan tentu tidak terjadi secara instan. Kita perlu mengalami banyak hal dalam
hidup kita untuk mulai menyadari itu. Dan ketika semua itu telah kita alami,
barulah dari sana kita tahu dan bisa mengambil pelajaran bahwa apa yang telah
kita alami sebelumnya itu terjadi karena sebuah alasan sehingga ke depannya kita
tak perlu lagi bertanya-tanya mengapa seolah-olah semuanya selalu terjadi di
luar keinginan kita.
Pengalaman-pengalaman sebelumnya
dalam menghadapi sesuatu yang terjadi tak sesuai dengan harapan kita itu akan
menuntun kita menjadi pribadi yang lebih bijak di masa depan. Menanamkan
kepercayaan akan adanya hikmah di baliknya secara perlahan ke dalam hati kita
lambat laun akan membuat kita mudah melapangkan dada hanya dengan meyakininya
saja. Ketika kita telah berhasil meyakinkan diri kita sepenuhnya, maka ruang
untuk berputus asa, ruang untuk sesal itu akan terkerdilkan dengan sendirinya.
“Things always happen for a reason, that what everybody says.”“But often, not for the reasons we wanted.”“Yeah, it’s like a rule of life, or something. But I think believing that things happen for a reason makes it easier for us to keep going. Dengan menerima kenyataan, kita akan lebih mudah bergerak maju, mengecilkan ruang untuk sesal.”---Dialog antara Max dan Laura dalam Melbourne: Rewind by Winna Efendi, halaman 123
Di sisi lain, alasan-alasan, ibrah,
atau hikmah di balik semua yang kita alami itu tentu tidak akan kita ketahui
secara langsung; baik sesaat setelah peristiwa itu terjadi maupun sesaat
setelah kita memutuskan untuk bangkit. Semua telah diatur dan akan ada saat
terbaik untuk kita tahu. Bukankah butuh rentang waktu yang lama ketika kita
pada akhirnya tersadar dan mengatakan, “Oh, ternyata memang ini yang terbaik
untukku. Terima kasih Yaa Allah, kalau bukan karena peristiwa itu aku tidak
akan menjadi seperti sekarang.”
Ketika kita memutuskan untuk
tidak terlalu melarutkan diri dalam kesedihan dan berusaha untuk belajar
menerima segalanya, saat itulah disadari aaupun tidak disadari kita telah
percaya bahwa segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Kita meyakini bahwa
pasti ada hikmah di balik peristiwa itu, bahwa selalu ada ibrah atau
pelajaran yang bisa kita petik dari sana. Terlebih lagi, kita akan menyadari
bahwa itu adalah bukti kasih sayang dari Allah untuk kita. Allah adalah Penulis
Skenario Terhebat dalam hidup kita, karenanya sungguh, Ia tidak akan memberikan
cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.
“... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Keren kak quote akhirnya :)
BalasHapus