Pages

Senin, 09 Maret 2015

Everything Happens for A Reason

Percaya tidak kalau segalanya terjadi karena sebuah alasan?

Aku percaya, tentu saja—meski terkadang teramat susah menerima saja apa yang terjadi, terutama apabila yang terjadi itu adalah sesuatu yang tidak kuinginkan; sesuatu yang membuat kecewa, sesuatu yang menyedihkan, sesuatu yang memutuskan harapan, dan semacamnya.

Mempercayainya mungkin hal yang mudah. Tapi nyatanya kepercayaan itu tak sepenuhnya mampu menutup luka di hati kita. Sungguh tidak mudah berusaha melapangkan dada kita sementara kita merasa sedih. Adalah sebuah pertanyaan saat kita merasa yakin, percaya, dan tahu benar sesuatu terjadi karena sebuah alasan—atau mungkin beberapa alasan—tetapi di lain sisi kita masih merasa sulit melapangkan hati untuk menerimanya.

Sungguh, dalam hal ini kepercayaan tersebut bukanlah sebuah kesalahan. Melainkan adalah sebuah kewajaran kita merasa sedih, kecewa, dan terluka ketika sesuatu yang tidak kita harapkan berdiri di depan mata kita. Kesalahan adalah ketika kita terlalu melarutkan diri di dalam kesedihan itu, seolah-olah semuanya akan ikut hancur bersama peristiwa itu. Padahal, hei, time is running. Waktu akan terus bergulir. Masih ada hari esok, esok, dan esoknya lagi yang harus kita hadapi. Make your own life goes on dan jangan mau hanya tertinggal di belakang. Stay in silence behind people’s back is wasting time. Apa yang bisa kamu lakukan untuk hidupmu jika sepanjang waktu kamu hanya sibuk memandangi punggung-punggung itu berlari menjauhimu?

Nothing.

Kamu—kita akan menyesal saat menyadarinya. Tidak bisa melakukan apa-apa selain berusaha keras menggenapkan waktu yang telah kita lalui dengan sia-sia. Mengumpulkan semuanya menjadi satu sampai kita kembali bisa berlari beriringan dengan manusia-manusia lainnya; study hard, try hard, pray hard, karena tentu bukan hal yang mudah untuk mengejar ketertinggalan.
Menanamkan kepercayaan dan mengingatkan hati kita setiap saat bahwa segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan tentu tidak terjadi secara instan. Kita perlu mengalami banyak hal dalam hidup kita untuk mulai menyadari itu. Dan ketika semua itu telah kita alami, barulah dari sana kita tahu dan bisa mengambil pelajaran bahwa apa yang telah kita alami sebelumnya itu terjadi karena sebuah alasan sehingga ke depannya kita tak perlu lagi bertanya-tanya mengapa seolah-olah semuanya selalu terjadi di luar keinginan kita.

Pengalaman-pengalaman sebelumnya dalam menghadapi sesuatu yang terjadi tak sesuai dengan harapan kita itu akan menuntun kita menjadi pribadi yang lebih bijak di masa depan. Menanamkan kepercayaan akan adanya hikmah di baliknya secara perlahan ke dalam hati kita lambat laun akan membuat kita mudah melapangkan dada hanya dengan meyakininya saja. Ketika kita telah berhasil meyakinkan diri kita sepenuhnya, maka ruang untuk berputus asa, ruang untuk sesal itu akan terkerdilkan dengan sendirinya. 
“Things always happen for a reason, that what everybody says.”

“But often, not for the reasons we wanted.”

“Yeah, it’s like a rule of life, or something. But I think believing that things happen for a reason makes it easier for us to keep going. Dengan menerima kenyataan, kita akan lebih mudah bergerak maju, mengecilkan ruang untuk sesal.”
---Dialog antara Max dan Laura dalam Melbourne: Rewind by Winna Efendi, halaman 123
Di sisi lain, alasan-alasan, ibrah, atau hikmah di balik semua yang kita alami itu tentu tidak akan kita ketahui secara langsung; baik sesaat setelah peristiwa itu terjadi maupun sesaat setelah kita memutuskan untuk bangkit. Semua telah diatur dan akan ada saat terbaik untuk kita tahu. Bukankah butuh rentang waktu yang lama ketika kita pada akhirnya tersadar dan mengatakan, “Oh, ternyata memang ini yang terbaik untukku. Terima kasih Yaa Allah, kalau bukan karena peristiwa itu aku tidak akan menjadi seperti sekarang.”

Ketika kita memutuskan untuk tidak terlalu melarutkan diri dalam kesedihan dan berusaha untuk belajar menerima segalanya, saat itulah disadari aaupun tidak disadari kita telah percaya bahwa segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Kita meyakini bahwa pasti ada hikmah di balik peristiwa itu, bahwa selalu ada ibrah atau pelajaran yang bisa kita petik dari sana. Terlebih lagi, kita akan menyadari bahwa itu adalah bukti kasih sayang dari Allah untuk kita. Allah adalah Penulis Skenario Terhebat dalam hidup kita, karenanya sungguh, Ia tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.

“... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

1 komentar:

Komen, yuuuk ;))