Pages

Minggu, 01 Maret 2015

Hidup Pada Sebuah Momen



Pernah mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi? Aku pernah—justru terlampau sering, kalau boleh kubilang. Pernah sedih karena sesuatu mungkin tidak akan terjadi sesuai dengan harapanmu? Atau bahkan yang terparah, sampai berputus asa hanya karena kau ‘merasa’ mampu memastikan sesuatu yang padahal sama sekali tak mampu kau pastikan?



Aku mengalaminya berkali-berkali, terlampau sering sampai entah berapa kali pula aku jatuh bangun karenanya. Saat perasaan seperti itu datang, beberapa hal terjadi padaku—dan mungkin juga kau. Beberapa hal itu persis seperti yang kukatakan di awal. Ketika kau mulai mengkhawatirkan sesuatu di masa depan, maka kau akan merasa sedih hanya dengan membayangkan segalanya terjadi tak sesuai harapanmu—seolah-olah kau mampu memastikan bahwa itu benar akan terjadi. Padahal apa yang kau pikirkan akan terjadi belum tentu terjadi. Pada akhirnya pikiran-pikiran itu membuatmu berputus asa, merasa tidak ada artinya lagi memperjuangkan hidup dan masa depan karena toh akhirnya semua akan sia-sia saja.



Sepertiku, kau mungkin memiliki segudang target yang ingin kaucapai di masa depan. Ketika kita telah sampai pada saat target itu diwujudkan tapi pada kenyataannya tak terwujud, bagaimana rasanya? Marah, sedih, kecewa, bukan? Pengalaman-pengalaman itulah yang terkadang membuat kita khawatir bahwa apa yang terjadi di masa depan mungkin sama saja dengan yang sekarang. Membuat kita apatis menjalani hidup, tak banyak berharap apalagi berusaha maksimal. Padahal, hei, hidup nggak akan semonoton itu kok ;). Tidak ada orang yang seumur hidupnya gagal terus. Life is full of colour. Hari ini kita gagal, but who knows someday we’ll get what we want. Iya, kan?



Aku sendiri mendapati segalanya jadi teramat rumit ketika mulai mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Merasa takut dan gelisah pada saat yang sama hingga berujung putus asa.  Bagaimana jika semua itu menyulitkanku? Bagaimana jika... blablabla dan segudang pertanyaan ‘bagaimana-jika’ lainnya yang sungguh sulit untuk kujawab. Tanpa sadar, ketika pertanyaan-pertanyaan itu muncullah sesungguhnya kita mulai mengkhawatirkan sesuatu. Mulai menebak-nebak, dan berujung pada prasangka negatif sampai akhirnya kita berputus asa.



Berputus asa tentang hidup bagiku adalah titik paling rendah dalam keimanan kita kepada-Nya. Memberikan peluang bagi syaithan untuk terus menggoda, menjatuhkan, dan membuat kita semakin terpuruk. Seringkali keputusasaan itu datang ketika kondisi keimananku—keimanan kita--sedang tidak baik. Padahal kalau kita sedikit saja berprasangka positif dan mengingat Allah, semuanya akan terasa lebih baik. Kalau toh kita percaya sepenuhnya pada Allah, bahwa hidup dan mati kita untuk Allah, kita seharusnya tak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.



Memang tidak mudah membuat diri kita merasa normal kembali ketika perasaan-perasaan itu datang. Harus ada kontrol diri yang diupayakan berkali-kali. Tapi sayangnya yang lebih banyak kita lakukan adalah membiarkan semuanya mengalir seperti air. Pasrah saja. aku ingin mengatakan bahwa setidaknya dalam kondisi seperti itu pun kita harus punya pegangan. Itulah sebabnya mengapa ruh dan keimanan kita harus di-recharge setiap hari. Paling tidak, ketika kita sudah terlanjur terjerembab ke dalam keputusasaan itu, kita masih ingat kita punya Allah—bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.



Jika kita sudah sampai pada tahap bahwa kita punya Allah, saat itulah kita harus segera bangkit. Buang segala kekhawatiran itu. Kita hanya perlu menjalani apa yang ada saat ini semaksimal mungkin, hidup dan menghidupkan setiap momen. Setiap waktu yang kita miliki berhak atas penghargaan dalam kita menjalaninya, bukan mengisinya dengan kesia-siaan. Jadi berhentilah mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu seburuk yang kita bayangkan, we just have to live life to the fullest. Justru ketika kita—ketika kau—terlalu banyak mengkhawatirkan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi, maka jelas kita telah mengorbankan masa depan bahkan pada saat masa depan itu belum datang. Try and pray hard, Allah with us. x))

Aku sudah sering melihat manusia lahir dan tumbuh menjadi tua lalu akhirnya mati. Jadi aku punya pemikiran pada akhirnya mereka semua akan mati. Tapi mengapa mereka berjuang keras jika pada akhirnya mereka tetap menua, keriput, lalu menghilang? Kenapa mereka harus berjuang dan hidup begitu keras seolah-olah mereka sedang berperang?



Kehidupan manusia jika dilihat hanya dari luar adalah tidak ada harapan dan sia-sia saja. Tapi, setelah berpikir tentang kematian aku menjadi sadar. Tidak ada yang ingin hidup untuk kemudian mati, yang paling penting adalah hidup pada momen itu. Oleh sebab itu, bahkan jika akhirnya sudah ditentukan, kita masih bisa bahagia dan melanjutkan hidup. Ini sederhana, tapi butuh waktu lama untuk menyadarinya.
---Do Min Joon, My Love from Another Star Episode 20 

10 komentar:

  1. Gue juga sering kayak gini. apalagi mikirin masa depan_- . suka banget sama quote nya nih

    BalasHapus
  2. Karena aku yakin, tiap aku nggak bisa mencapai sesuatu yg kuinginkan, Tuhan sudah mempersiapkan yg lebih baik suatu saat nanti :))

    BalasHapus
  3. ini ko rasanya nyindir aku pisan, aku juga sering pas mau ngambil keputusan sering mikir panjang dulu sampai akhirnya yang ada hanya pikiran negatif dan ya jadi ogah buat melangkah. huft

    quote dari si alien gantengnya emang bagus,, sip!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. alien ganteng nan bijak :D dari sekian banyak emang cuma quote itu yang paling nampol :D

      Hapus
  4. hihi si mas ini, komennya selalu saja seperti ini xD

    BalasHapus

Komen, yuuuk ;))