![]() |
| Taken by Ayu |
“Begitu orang menganggap jujur itu suatu hal yang sepele, di situ saya prihatin.”
Oke,
sepertinya udah lama nggak ngisi label My Life Puzzle yaa. Sebenarnya
bukan karena nggak ada pengalaman atau kejadian yang masuk kategori unforgettable
atau pengen di-share sih, tapi lebih pada ... *ehem* akumalesnulisnya. Padahal
menurutku salah satu cara mengabadikan momen itu adalah dengan menulisnya.
Lewat tulisan kita bisa mengabadikan setiap detail kejadiannya. Ada yang bilang
sih kalau gambar lebih mampu bercerita, tapi kalau pada saat yang sama kita
bisa menulisnya, why not? Dan kemarin-kemarin pengen share acara
Kompas Kampus yang aku ikutin di UGM sih, cuman... ah ya sudahlah~ -,-
Nah, di kesempatan ini aku mau share
tentang pengalamanku Jumat sore kemarin. Aku dan temanku, Ayu (well, thanks
for accompanying me {}) datang ke acara Wedangan Inspirasi-nya Bentang
Pustaka, salah satu penerbit kece Indonesia yang kebetulan ada di Jogja. Aku
tahu tentang info Wedangan ini dari Twitter. Entah waktu itu yang
nyangkut di timeline-ku dari akun @bentangpustaka, @JogjaUpdate, atau
yang lainnya, yang jelas aku langsung excited begitu tahu siapa
narasumbernya.
Jadilah di tengah mendung kami meluncur ke
alamat kantor Bentang Pustaka yang lokasi pastinya aja kami nggak tahu.
Berbekal doa, petunjuk Google Map, dan hasil tanya sana-sini ke
orang-orang yang kami temui pas lagi lampu merah dan pinggir-pinggir jalan,
akhirnya kami sampai juga di sana. Sebuah kompleks yang masih terkesan asri dan
hijau. Sempat lucu juga waktu kami ragu-ragu memasuki halaman gedung bercat
putih itu.
“Maaf, Mbak, kantor Bentang Pustaka di mana
ya?”
“Ya ini, Mbak, kantornya.” Oh.
Sesaat aku takjub juga. Dalam hati, ah...
akhirnya aku bisa ke sini juga (terima kasih, Yaa Allah). Kami pun langsung
masuk, mengisi daftar registrasi, dan menuju mushalla yang terletak beberapa
meter dari saung Bentang Pustaka alias tempat acara berlangsung karena begitu
kami tiba adzan Ashar berkumandang. Kami kembali dari mushalla begitu CEO
Bentang Pustaka, Pak Salman Faridi, selesai memberikan sambutan. Alhamdulillaah,
dapat kursi nomor tiga dari depan karena sebelum shalat sempat booking
duluan sementara yang deretan satu dan dua sudah penuh terisi. (Fyi, ada
angkringan gratisnya juga plus doorprize dan buku-buku yang diskon 20%).
Sebelum acara dimulai, ada perkenalan dengan
editor-editor Penerbit Bentang Pustaka. Katanya sih, ini merupakan tradisi
mereka setiap acara Wedangan Inspirasi itu diselenggarakan. Editor Bentang
berjumlah 7 orang, dan... cewek semua (plus, masih pada keliatan muda-muda
gitu)! Wew. Masing-masing membawa ‘anak’ alias buku jagoan terbitan terbaru
yang mereka menjadi editor di dalamnya. Setelah itu ada Mas Adit juga, yang
sharing soal pekerjaannya sebagai ilustrator Bentang dalam menciptakan
kaver-kaver buku Bentang Pustaka.
Dan akhirnya, dipanggillah nama narasumber
yang ditunggu-tunggu. Andri Rizki Putra. Yah, awalnya juga aku nggak tahu siapa
Andri Rizki Putra ini. Udah lama sih, aku waktu itu iseng-iseng baca berita online
gitu. Dan kebetulan beritanya tentang sosok anak muda ini. Jadi nggak heran kenapa
akhirnya sosok ini bisa jadi bahan pemberitaan karena memang perjalanan
hidupnya sangat menginspirasi banyak orang.
Acara Wedangan Inspirasi dengan format acara talkshow
ini dimoderatori oleh Mbak Intan, salah satu editor Bentang yang ikut membidani
kelahiran buku Orang Jujur Tidak Sekolah milik Andri Rizki Putra. Yah,
Andri Rizki Putra atau yang biasa disapa Rizki (atau Kiki kalau udah akrab) ini
selain sebagai founder dari Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) juga
merupakan seorang penulis buku Orang Jujur Tidak Sekolah.
Mengapa dikatakan sebagai sosok inspiratif,
ini karena buku Orang Jujur Tidak Sekolah tersebut lahir dari
pengalamannya sendiri. Baru-baru ini, ia menyabet penghargaan Kick Andy Young
Heroes 2015. Di acara tersebut Rizki bercerita soal pengalamannya
mendirikan dan mengelola YPAB serta latar belakang di baliknya. Jauh sebelum
mendirikan YPAB, Rizki yang saat itu berusia 14 tahun dan duduk di bangku kelas
3 SMP gemas melihat kecurangan Ujian Nasional yang terstruktur dan sistematis, dimana
hal itu tidak hanya dilakukan oleh siswa, tapi juga oknum-oknum di lembaga
pendidikan. Saat itu ia protes pada guru, kepala sekolah, sampai akhirnya nekat
menelepon KPK, ICW, dan lain sebagainya.
“Dalam hidup kita akan selalu bertemu dengan yang namanya sistem. Ketika kita tidak suka dengan suatu sistem, apa yang kita lakukan? Tiga hal: 1) beradaptasi dengan sistem yang berlaku, 2) mengubah sistem itu dari dalam, 3) menciptakan sistem kita sendiri.”
Saat itu, Rizki memilih poin yang ketiga.
Setelah mengalami krisis kepercayaan terhadap lembaga pendidikan, ia memutuskan
untuk keluar setelah sempat menempuh pendidikan selama 2 bulan (kalo nggak
salah :v) di SMA. Ia berpikir untuk apa ia sekolah jika toh akhirnya tetap
sama, ia akan kembali melihat praktek kecurangan itu selama 3 hari dalam waktu
3 tahun yang telah ditempuhnya. Keputusannya itu lantas ditentang oleh keluarga
besarnya, bagaimana akhirnya ia dan ibunya disidang karena keputusan Rizki yang
lebih memilih untuk belajar sendiri dan mengambil program kesetaraan Paket C.
“Pendidikan itu adalah media untuk membentuk karakter seseorang menjadi lebih baik. Di institusi pendidikanlah lahir calon pemimpin itu sendiri. Ketika suatu institusi pedidikan itu telah dinodai oleh bentuk-bentuk praktek yang negatif, tandanya ia akan membentuk karakter yang negatif bagi kita warga terdidik.”
Ketika memutuskan untuk keluar dari lembaga
pendidikan formal, Rizki berusaha keras untuk belajar sendiri. Ia mengetik
bahan pelajarannya sendiri dari buku-buku hasil pinjaman, buku-buku bekas, dan
hibah mengingat ia sendiri bukan berasal dari keluarga yang berada. Kurikulumnya
pun bukan kurikulum terkini, melainkan kurikulum 94 yang terbilang jadul. Ringkasan-ringkasan
pelajaran itu ia tempel di dinding kamarnya, memenuhi dinding dari atas ke
bawah, dari samping kanan ke samping kiri. “Saya tidak mengizinkan siapa pun
masuk ke kamar saya karena saya takut orang mengira saya gila.”
Di masa-masa itu, Rizki sempat mengalami
depresi. Di usianya saat itu, tentu terasa berat memikul sebuah tanggung jawab
yang dibebankan kepadanya, terutama ketika ia memilih pilihan yang berbeda
dibanding anak seusianya. Ia merasa bertanggung jawab kepada Tuhan sebagai
makhluk pembelajar, karenanya ia ingin mendapat pendidikan yang baik dan dengan
cara yang baik pula. Ia juga bertanggung jawab kepada ibunya yang telah percaya
dan mendukung sepenuh hati keputusannya. Tapi akhirnya ia yakin, ketika
sesuatu dimulai dengan kebaikan, terlepas badai apa pun yang merintanginya,
maka hasilnya akan baik.
Berbekal keyakinan dan doa dari ibunya itulah
kemudian Rizki mengikti program kesetaraan Kejar Paket C, yang ijazahnya ia
gunakan untuk mendaftar di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia, Universitas
Indonesia. Ia pun dinyatakan lulus dalam waktu 3 tahun dengan predikat cumlaude.
Menurutnya, pintar saja tidak cukup. Harus ada integritas, karena semakin
pintar seseorang ia akan semakin memiliki cara untuk berbuat kejahatan di
level-level yang lebih mutakhir. Let say, koruptor-koruptor kita,
kurang pintar apa mereka?
“Saya tidak bisa mengubah pandangan orang atas pandangan saya terhadap fenomena yang terjadi. Saya nggak bisa maksa orang, nyontek itu jelek jangan diikutin. Saya nggak akan bisa. Semua orang punya privilege, semua orang punya hak prerogatif atas pikirannya sendiri. Saya tidak bisa berekspektasi pemerintah akan mengubah regulasi. Saya tidak bisa berekspektasi sekolah akan mengubah kebijakan supaya menyontek dihapuskan. Yang bisa saya ubah adalah diri saya. Mulailah mengubahnya dari diri kita sendiri, dan itu ke depannya akan menjadi suatu virus yang menyebar ke berbagai kalangan.”
Hal itulah yang kemudian berusaha ditanamkan
Rizki dan para volunteer di YPAB. Mereka diberikan pendidikan yang baik
dengan cara yang baik pula. Oh iya, tentu YPAB ini nggak berdiri secara instan
ya. Pada awalnya Rizki bahkan sempat mengadakan program masjid schooling,
dimana program ini dilakukan di masjid-masjid untuk memberdayakan anak-anak
putus sekolah dalam bidang pendidikan.
Oh iya, sebelum sesi tanya jawab berakhir,
Rizki sempat memberikan tips belajar nih. Nah, ada dua hal yang harus dipahami
dalam belajar, yaitu belajar keras dan belajar cerdas. Belajar keras,
tapi nggak tahu strateginya, gagal. Belajar cerdas tapi tidak diimbangi dengan frekuensi
yang maksimal, hasilnya setengah-setengah. Jadi kombinasikan kedua hal itu, dan
yang pasti jangan lupa doa juga dong ya x))
Well, senang
banget bisa mendengar langsung kisah inspiratif dari Rizki. Terutama ketika
mendengar kisah asisten rumah tangga yang juga ikut belajar di YPAB dan
berharap mendapat pendidikan yang jujur karena ia akan menjadi seorang ibu dari
anak-anaknya kelak serta memberikan pendidikan bagi mereka. Yah, kejujuran itu
sebenarnya adalah sesuatu yang mahal, tapi sayangnya manusia sendiri yang
justru menjadikannya ‘murahan’. Menjadi tamparan tersendiri begitu
mendengarnya. Aku jadi berpikir sudah sebatas manakah aku mampu beruat jujur.
Memang tidak dipungkiri, dalam pendidikan kejujuran itu terkadang menjadi hal
yang dilematis, terutama bagi mereka yang berada di lembaga pendidikan itu
sendiri dan mendapat tuntutan dari atasan. Tapi sekali lagi, ketika sesuatu
dimulai dengan kebaikan, terlepas badai apa pun yang merintanginya, maka
hasilnya akan baik.
Mendengar pertanyaan-pertanyaan dan sharing
dari audiens serta jawaban Rizki, kejujuran memang bisa membuat seseorang
dipandang dari dua sisi, baik dan buruk. Yup, itu di mata manusia gitu kan?
Tapi di mata Allah, kejujuran itu tentu baik. Jadi, ada satu kalimat dari Rizki
yang bikin trenyuh—yang sekaligus akan menutup postingan ini (?). Karena lupa
persisnya gimana, jadi kira-kira begini bunyinya:
“Saya tidak tahu ke depannya akan seperti apa. Berhasil ataukah gagal dalam proses itu. Tapi yang saya tahu, kita semua pasti mati. Dan ketika Tuhan bertanya, saya ingin mengatakan kepada Tuhan bahwa saya telah melaksanakan tugas saya sebagai manusia.”
Yah, semoga kita bisa terus menjadi orang
yang jujur dan selalu berusaha untuk jujur ya, teman-teman. Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))