Pages

Sabtu, 03 Oktober 2015

Tentang Pulang

Orang-orang mengartikan pulang dengan kembali ke rumah; berkumpul bersama keluarga setelah jam-jam kerja yang padat dan melelahkan.

Aku melihatnya.

Ketika trotoar, stasiun, juga halte dipadati orang-orang yang bergegas untuk pulang. Berebut memasuki kendaraan di penghujung senja musim dingin yang beku.

Apa yang terjadi ketika orang-orang menginginkan pulang?

Bukan berarti aku tidak ingin, atau bahkan tidak suka pulang. Hanya saja, pulang terlalu sederhana jika diartikan sebagaimana yang orang-orang pikirkan. Singgah sesaat untuk meletak lelah.

Demikian, yang kebanyakan orang lakukan di negeri ini. Sebagian merasa cukup puas hanya dengan itu. Tapi entah, ada banyak orang yang bahkan tidak memiliki siapa pun atau apa pun yang bisa dijadikan tujuan untuk pulang. Anak-anak jalanan, pengemis yang menadah di setiap persimpangan jalan... Bagaimana, kau mengartikan pulang untuk mereka?

Katamu, "Aku pulang, paling tidak... lima kali sehari." Aku mengernyit tak paham sampai kamu kembali mengulang kalimatmu dan melanjutkan, “Yang kau butuhkan dari pulang adalah sebuah kendaraan yang mampu mengantarmu ke dalam dirimu sendiri. Sesuatu seperti perenungan, dan doa-doa yang dilangitkan. Sesuatu yang kaubutuhkan untuk mengingat siapa dirimu dan untuk apa kau diciptakan. Bagaimana kedengarannya?”

Aku tidak butuh berpikir lama untuk mengatakan bahwa semua itu terasa benar. Sesuatu yang kaubutuhkan untuk mengingat siapa dirimu dan untuk apa kau diciptakan.

Ya, kita butuh itu untuk pulang. Ke dalam diri kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))