Aku melihatnya.
Ketika trotoar, stasiun, juga halte dipadati orang-orang yang
bergegas untuk pulang. Berebut memasuki kendaraan di penghujung senja musim
dingin yang beku.
Apa yang terjadi ketika orang-orang menginginkan pulang?
Bukan berarti aku tidak ingin, atau bahkan tidak suka pulang.
Hanya saja, pulang terlalu sederhana jika diartikan sebagaimana yang
orang-orang pikirkan. Singgah sesaat untuk meletak lelah.
Demikian, yang kebanyakan orang lakukan di negeri ini. Sebagian
merasa cukup puas hanya dengan itu. Tapi entah, ada banyak orang yang bahkan
tidak memiliki siapa pun atau apa pun yang bisa dijadikan tujuan untuk
pulang. Anak-anak jalanan, pengemis yang menadah di setiap persimpangan jalan... Bagaimana, kau mengartikan pulang untuk mereka?
Katamu, "Aku pulang, paling tidak... lima kali sehari." Aku
mengernyit tak paham sampai kamu kembali mengulang kalimatmu dan melanjutkan, “Yang
kau butuhkan dari pulang adalah sebuah kendaraan yang mampu mengantarmu
ke dalam dirimu sendiri. Sesuatu seperti perenungan, dan doa-doa yang
dilangitkan. Sesuatu yang kaubutuhkan untuk mengingat siapa dirimu dan untuk
apa kau diciptakan. Bagaimana kedengarannya?”
Aku tidak butuh berpikir lama untuk mengatakan bahwa semua itu terasa benar. Sesuatu yang kaubutuhkan untuk mengingat siapa dirimu dan untuk
apa kau diciptakan.
Ya, kita butuh
itu untuk pulang. Ke dalam diri kita sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))