Kita sepakat bahwa setiap perjalanan memiliki artinya
masing-masing. Entah itu perjalanan yang membawa kita pada arti sebuah impian,
kehidupan di masa depan, atau bahkan kesenangan-kesenangan kecil yang
kelihatannya remeh namun cukup berharga untuk kita miliki.
Kita menganalogikan perjalanan kita seperti dua buah garis
sejajar. Ada aku dan kau di setiap ujungnya. Selalu bersisian, sesuatu yang
bahkan tidak pernah kita tahu sebelumnya. Kita berjalan, pada tepian yang
menjadi bagian kita. Aku terjatuh, mungkin kau juga. Aku bangkit, tertawa,
menangis—dan mungkin kau juga.
Dan itu bukan kendali kita, ketika dua garis yang tadinya
sejajar bertemu di sebuah titik perpotongan.
Sesuatu yang tidak kita duga. Tidak pula merupakan yang kita
inginkan. Tetapi segala hal seolah seperti kebetulan. Kebetulan saja aku lelah.
Kebetulan saja kau memiliki persediaan air minum yang cukup. Dan kebetulan saja
aku membutuhkan air itu.
Dengan mimpi berbeda, dan pemaknaan hidup yang berbeda atau bahkan
bisa jadi sama, kita mengisi ruang kosong yang disediakan waktu untuk
bercerita. Tentang apa pun dan siapa pun.
Perjalanan mengajarkan kita banyak hal, bukan? Tentang
kesabaran, keteguhan, mengobati kesakitan-kesakitan, dan sesuatu bernama
penerimaan. Perjalanan adalah kehidupan, dan kehidupan adalah perjalanan. Sampai
akhirnya, kita tersadar. Perjalanan selalu menyisakan dua hal; tujuan dan
pulang.
Aku tidak tahu bagaimana mendefinisikan diri kita pada kita
dalam perjalanan ini. Pemaknaanku terhadap sesuatu bisa jadi berlebihan. Satu-satunya
yang kutahu adalah dua garis sejajar selayaknya harus tetap dibiarkan sebagai
dua garis sejajar. Dan aku berharap aku selalu ingat. Sampai kau atau entah
siapa pun di kemudian hari berbicara kepadaku tentang tujuan dan pulang;
... juga perjalanan selanjutnya.
Keren bu ketu
BalasHapusNtab! Hidup adalah perjalanan.
BalasHapus