![]() |
| Source: Grup OWOP |
Joko dan Udin sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk
bersama. Tentu saja bukan sebagai pasangan hidup, seperti kasus yang marak
akhir-akhir ini. Naudzubillaahi mindzalik, mereka cuma sahabatan yang
sepertinya bakal sehidup semati kok. Lagi pula, siapa juga yang mau jadi kaum
terkutuk seperti yang ada di kisah Nabi Luth itu? Membayangkan azab Allah saja
mereka ngeri.
Hal itu bermula ketika keduanya dilahirkan pada waktu yang
sama. Lalu sejak itu kedua orangtua mereka sepakat untuk tak memisahkan mereka.
Udin dan Jaka disekolahkan di sekolah yang sama dari mereka TK sampai SMA.
Namun malangnya, mereka pun menjadi sesama pengangguran setelah memutuskan
keluar dari pabrik rokok yang gajinya lumayan itu. Bukan karena akan dipecat
lantas mereka mengundurkan diri terlebih dahulu, tapi lebih pada akhirnya sadar
tidak ingin berada di pabrik yang berindikasi bisa membunuh seseorang.
Hingga suatu ketika, mereka mendapat tugas ronda bersama. Mereka
tengah di pos ronda dan baru akan keliling pukul sepuluh malam nanti. Udin yang
waktu itu sangat mengantuk karena siangnya sibuk melamar pekerjaan ke sana
sini, malam itu justru ketiduran. Meninggalkan Jaka yang terbengong-bengong di
sampingnya.
Kreok!
Suara apa itu?
Jaka mengerakkan kepalanya ke berbagai arah.
Kreok!
Tapi tidak ada siapa pun di situ.
Kreok!
Jaka mulai panik. Bulu kuduknya merinding. Ia bergerak akan
membangunkan Udin, tapi apa yang keluar dari mulut sahabatnya itu membuatnya
setengah terlonjak.
“Lapeeelll!”
Kalau ada satu perbedaan yang ada di antara dua sahabat itu,
maka itu adalah ketidakmampuan Udin dalam berbicara layaknya manusia normal.
Tapi toh meskipun begitu, Jaka tetap setia kepadanya dan mau menerima
kekurangan lelaki itu.
“Mak, au maem picang goyeeeeng!”
OH!! ITU SUARA PERUT UDIN? Bunyinya gitu amat kayak dikasi speaker,
Jaka meringis dalam hati. Sahabatnya itu mengingau. Jaka garuk-garuk kepala.
Bingung.
“Apa? Waaa, Mak macaknya bubul cumcum?”
Sahabatnya itu kembali melakukan dialog imajiner.
“Udin mau jualan picang goyeng aja alo gitu. Bial bisa mam
cang goyeng tiap haliiii! Yeeee!”
“Yeeeeee!” Jaka malah
ikut-ikutan bersorak. “Jaka mau jualan bubul cumcum! Biar bisa makan tiap
hariiiii!”
“Lo selius, geng?” Tiba-tiba mata Udin terbuka.
WAAAA!! Jaka hampir saja kayang karena saking kagetnya.
Ah, Udin!
* * *
Errr~ ini sebenarnya buat setoran Tantangan #MalamNarasiOWOP.
Waktu disodorin gambar di atas itu buat dibikin narasi, langsung shock gitu
deh. Nggak biasa nulis komedii soalnya. Jadi maaf aja kalo ga lucu dan rada absurd,
meskipun aku sendiri ngebayanginnya lucu sih (?). Hehe. Well, terima
kasih sudah mampir! ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))