Pages

Selasa, 15 Maret 2016

I G A U


Source: Grup OWOP

Joko dan Udin sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk bersama. Tentu saja bukan sebagai pasangan hidup, seperti kasus yang marak akhir-akhir ini. Naudzubillaahi mindzalik, mereka cuma sahabatan yang sepertinya bakal sehidup semati kok. Lagi pula, siapa juga yang mau jadi kaum terkutuk seperti yang ada di kisah Nabi Luth itu? Membayangkan azab Allah saja mereka ngeri.

Hal itu bermula ketika keduanya dilahirkan pada waktu yang sama. Lalu sejak itu kedua orangtua mereka sepakat untuk tak memisahkan mereka. Udin dan Jaka disekolahkan di sekolah yang sama dari mereka TK sampai SMA. Namun malangnya, mereka pun menjadi sesama pengangguran setelah memutuskan keluar dari pabrik rokok yang gajinya lumayan itu. Bukan karena akan dipecat lantas mereka mengundurkan diri terlebih dahulu, tapi lebih pada akhirnya sadar tidak ingin berada di pabrik yang berindikasi bisa membunuh seseorang.

Hingga suatu ketika, mereka mendapat tugas ronda bersama. Mereka tengah di pos ronda dan baru akan keliling pukul sepuluh malam nanti. Udin yang waktu itu sangat mengantuk karena siangnya sibuk melamar pekerjaan ke sana sini, malam itu justru ketiduran. Meninggalkan Jaka yang terbengong-bengong di sampingnya.

Kreok!

Suara apa itu?

Jaka mengerakkan kepalanya ke berbagai arah.

Kreok!

Tapi tidak ada siapa pun di situ.

Kreok!

Jaka mulai panik. Bulu kuduknya merinding. Ia bergerak akan membangunkan Udin, tapi apa yang keluar dari mulut sahabatnya itu membuatnya setengah terlonjak.

“Lapeeelll!”

Kalau ada satu perbedaan yang ada di antara dua sahabat itu, maka itu adalah ketidakmampuan Udin dalam berbicara layaknya manusia normal. Tapi toh meskipun begitu, Jaka tetap setia kepadanya dan mau menerima kekurangan lelaki itu.

“Mak, au maem picang goyeeeeng!”

OH!! ITU SUARA PERUT UDIN? Bunyinya gitu amat kayak dikasi speaker, Jaka meringis dalam hati. Sahabatnya itu mengingau. Jaka garuk-garuk kepala. Bingung.

“Apa? Waaa, Mak macaknya bubul cumcum?”

Sahabatnya itu kembali melakukan dialog imajiner.

“Udin mau jualan picang goyeng aja alo gitu. Bial bisa mam cang goyeng tiap haliiii! Yeeee!”
 “Yeeeeee!” Jaka malah ikut-ikutan bersorak. “Jaka mau jualan bubul cumcum! Biar bisa makan tiap hariiiii!”

“Lo selius, geng?” Tiba-tiba mata Udin terbuka.

WAAAA!! Jaka hampir saja kayang karena saking kagetnya.

Ah, Udin!
* * *

Errr~ ini sebenarnya buat setoran Tantangan #MalamNarasiOWOP. Waktu disodorin gambar di atas itu buat dibikin narasi, langsung shock gitu deh. Nggak biasa nulis komedii soalnya. Jadi maaf aja kalo ga lucu dan rada absurd, meskipun aku sendiri ngebayanginnya lucu sih (?). Hehe. Well, terima kasih sudah mampir! ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))