Pages

Selasa, 29 Maret 2016

Gerbong

Source: Grup OWOP
Kalau ada yang paling tidak disukai Alika, itu sudah pasti mengikuti kegiatan-kegiatan konyol sebagai persyaratan untuk menjadi anggota klub peminatan di kampusnya. Seperti yang terjadi sekarang. Demi apa pun, keinginan anggota untuk bergabung dalam klub musik sama sekali tidak ada hubungannya dengan kegiatan uji nyali—kalau boleh dibilang begitu—seperti ini.
            “Kegiatan ini akan melatih kalian untuk peka terhadap lingkungan. Seorang calon pemusik harus bisa membaca isyarat dan tanda-tanda untuk menemukan inspirasi. Perlu kalian semua ketahui, di sini kalian tidak hanya berlatih memainkan alat musik. Kita juga akan belajar menulis lirik dan menciptakan nada. Untuk itu, kalian perlu mendengar musik yang sesungguhnya; musik dari alam!”
            Kalimat dari panitia kegiatan itu meraung di kepala Alika. Membuatnya menggeleng keras-keras. Ingin sekali ia menyanggah kalimat asal-asalan itu. Kenapa tidak bilang saja kalau kakak-kakak itu sedang butuh untuk mengerjai anggota baru yang masih polos seperti mereka? Rasanya akan lebih menyenangkan kalau mendengar mereka bicara, “Well, yeah, kami butuh hiburan sebelum memulai program kerja baru.” Atau seperti ini, “Oh, demi apa pun, kalian tidak boleh protes. Ini kegiatan rutin untuk semua calon angggota baru. Dari dulu juga seperti ini.”
            Alika tidak habis pikir tradisi-tradisi macam itu masih saja dipertahankan. Ia kembali merutuk, tapi seketika kemudian menyangkalnya. Ah, peduli amat dengan itu semua! Toh sekarang ia ada di sini. Mengikuti kegiatan konyol itu. Dan barangkali ia harus berhenti mengeluh, jika tidak ingin terlambat kembali ke pos awal. Ia hanya perlu mengujungi satu pos lagi.
            Oke, satu pos lagi! Dan kegiatan konyol ini akan berakhir.
            Alika memperbaiki letak ranselnya yang rasanya kian berat. Efek lelah setelah berkelana dari satu pos menuju pos lain yang totalnya ada 9 pos. Itu memakan waktu seharian; melewati sungai dengan tebing-tebing yang runcing, perkebunan karet, perumahan penduduk yang memelihara anjing-anjing liar yang seperti kesetanan melihat orang asing, dan jalan setapak yang licin sehabis hujan.
            Gadis itu pun berlari. Tak memedulikan sepatu ketsnya yang mulai mengelupas dimakan jalanan. Langkahnya menimbulkan suara, bergesekan dengan dedaunan yang menutupi seluruh permukaan tanah. Melewati pepohonan berdiameter dua kali lebar buku tulis yang tinggi-tinggi. Alika terus berlari, sembari menggumamkan kata kunci yang menjadi petunjuk dari pos yang belum dikunjunginya.
            Brukk! Sesuatu menyentak kakinya. Gadis itu tersungkur. Ujung sepatu ketsnya menyentuh benda keras. Rel?
            Belum sempat mulutnya menggumamkan kata-kata—atau bahkan meringis kesakitan, dalam kelebatan mata sesuatu seperti merangsek menyapu daun telinganya. Itu suara musik, dari sebilah biola yang entah dimainkan oleh siapa. Alika menjentikkan jarinya. Tentu saja gadis itu kegirangan, pos terakhir kini ada dalam jangkauannya. Ia tidak perlu lagi bersusah payah menebak lokasi pos seperti kata kunci yang diberikan, toh tantangan terakhir yang belum dicicipinya adalah tebak lagu. Dan alunan musik itu menjadi semacam petunjuk baginya.   
            Alika memutar arah, beralih mengikuti jalur rel itu. Semakin berjalan, alunan musik itu semakin terasa dekat. Dari balik pepohonan yang lebat, jalur rel itu mengantarkannya pada sebuah tanah lapang. Seratus meter di hadapannya berdiri sebuah gerbong kereta, lengkap dengan peron yang menjadi jalur lalu lintas calon penumpang.
            Gerbong itu tampak kokoh meski hampir habis dimakan usia. Terbukti dari cat merah dan kuningnya yang mengelupas di sana-sini. Menampakkan gurat-gurat karat. Tanah dan dedaunan kering berhamburan di atas peron, juga tempat duduk kayu yang tak jauh dari situ, bakal rapuh dari sekali hentakan. Stasiun kereta yang sudah tidak terpakai, begitu pikir Alika.
            Senja telah menggantung di langit-langit. Gadis itu harus segera menyelesaikan tantangan terakhir jika tidak ingin kehabisan waktu sampai di pos awal dan menjadi satu-satunya yang dihukum dari 20 anggota baru. Alika mempercepat langkahnya. Dari balik kacanya yang tertutup debu, Alika bisa mengetahui seseorang yang tengah memainkan biola itu.
            Kak Edgar!
            Ah, Alika rasanya bisa menarik napas lega sekarang. Beruntung sekali pos yang terakhir dikunjunginya dijaga oleh seorang kakak yang ia dengar amat baik hati namun cukup dingin juga. Jadi ia tidak perlu berbasa-basi dan bisa fokus pada tantangannya saja begitu selesai memberi hormat. Dan ya, lihat saja, orang yang kini duduk di seberangnya itu bahkan tidak mengatakan apa pun dan beralih dari satu lagu yang dimainkannya ke lagu lain—yang untungnya Alika tahu judulnya.
            Yesterday, The Beatles!”
            Ah, memangnya siapa yang tidak tahu lagu itu?
            Edgar masih memainkan lagu itu, meski Alika sudah berhasil menebaknya. Menjelang klimaks, lagu itu berhenti; digantikan lagu yang kini mengesankan pilu, depresif, dan—gelap, kalau boleh dikatakan begitu. Gadis itu memutar ingatannya; memainkan nada semua daftar lagu yang ada di playlist ponselnya.
            Day is Done, Taps?” Pada akhirnya yang keluar dari mulutnya bukanlah lagu yang berasal dari playlist ponselnya, melainkan yang pernah diajarkan guru musiknya sewaktu di SMA, yang dijawabnya ragu-ragu.
            Nada-nada itu otomatis berhenti, beralih ke lagu selanjutnya. Pertanda jawaban gadis itu benar. Baiklah, satu lagu lagi yang harus ditebaknya untuk mendapatkan satu pita merah yang tertinggal. Alika memantapkan dirinya, bersiap menebak. Lima detik, sepuluh detik, gadis itu terus menyimak. Lagu yang dimainkan kakak tingkatnya itu, rasa-rasanya ia mengenalnya. Ia kembali memutar ingatannya. Kali ini pada sederet lagu dari album Coldplay yang menjadi koleksi papanya. Ia yakin nada yang tengah dimainkan itu adalah salah satu dari sederet yang menjadi lagu favorit papanya.
            Semenit, gadis itu belum juga menemukannya. Edgar masih dengan santai memainkan lagu tersebut. Semenit lewat empat puluh lima detik, gadis itu menguap. Dua menit lebih lima detik, Alika kembali berusaha mengingat. Judul lagu itu telah di ujung lidah, namun belum bisa dikatakannya. Matanya memejam, berusaha mengingat sembari mengikuti irama nada itu dengan pikirannya.
            Tiga menit lewat lima... Brukk! Kepalanya jatuh ke bahu.
* * *

            “ALIKA!”
            Suara itu menggema di kepalanya. Gadis itu terlonjak. Ke mana, Kak Edgar?
            Alika bangkit dari kursi penumpang dalam gerbong yang lapuk itu dan melonjak turun. Ia melihat ke arloji di pergelangan tangannya. Ya Tuhan, waktunya hampir habis. Setengah jam lagi adzan maghrib berkumandang. Alika mengomeli dirinya sendiri yang bahkan bisa tertidur di saat-saa genting seperti itu. Seolah itu belum cukup, kakak tingkatnya itu malah meninggalkannya alih-alih membangunkannya.
            Alika mengerahkan seluruh tenaganya. Diikutinya jalur rel tadi, masuk ke semak-semak, melewati pepohonan yang menutupi cahaya langit.
            “Alika!”
            Gadis itu menoleh. Itu Ro, anak laki-laki berkacamata bulat yang jago memainkan saksofon. Calon anggota klub musik yang, berani taruhan, juga mengutuki kegiatan-kegiatan konyol semacam ini.
            “Gue kira cuman gue yang bakal telat kayak gini. Medannya nggak asik,” aku laki-laki itu. Ia menjajari langkah Alika, lalu mengulurkan tangan kanannya ketika berkata, “Lewat sini!”
            Ro tahu jalur pintasnya. Itu juga karena dia sempat tersesat. Dan pada saat genting seperti ini, ternyata ada untungnya juga.
            Keduanya pun sampai di pos awal, yang seolah tak tahu cara menyambut yang lebih menyenangkan, ketua panitia yang garang itu meneriakinya. Yeah, baik Alika maupun Ro, keduanya tahu bahwa mereka telah melampaui batas yang telah ditentukan.
            Ketua panitia itu menagih pita Ro. Dan itu membuat Alika ingat kalau pitanya belum lengkap, gara-gara ia tidak berhasil menebak lagu terakhir yang membuatnya benar-benar ketiduran. Lagi pula itu bukan sepenuhnya salahnya kalau dipikir-pikir, jadi setelah mengatakan tidak bisa menebak dan ketiduran, ia menambahkan, “... lagi pula, Kak Edgar nggak bangunin saya. Bahkan, seharusnya Kak Edgar mengganti lagu itu dengan lagu lain dan tidak membiarkan saya ketiduran di gerbong itu.”
            Edgar yang mendengar namanya disebut maju mendekati rekannya, berhadapan dengan Alika dan Ro. Ro berjengit, menatap Alika hati-hati. Badannya menegang saat tubuh tegap Edgar berdiri di antara Alika dan Nino, ketua panitia itu.
            “Gue nggak liat ada Alika datang ke pos gue, No,” Edgar mengonfirmasi. Matanya memicing, menatap ke arah Alika—antara bingung dan berusaha membabat habis kebohongan yang mungkin disampaikan gadis itu.
            “Jadi, kamu salah orang, Alika. Saya nggak jaga di gerbong. Lagi pula, memangnya ada yang semacam itu di sini?”
            “Itu ...”
            “Alika ...” panggil Ro. Anak laki-laki itu maju selangkah. “Aku juga bertemu Kak Edgar. Di gerbong kereta itu.” Napasnya tersengal, lalu dengan susah payah mengatakan, “Tapi itu bukan dia. Benar-benar bukan dia. Itu... hantu.”
* * *
#WritingChallenge #MalamNarasiOWOP #ceritanyamaksa #ehmaafin XDD

5 komentar:

  1. Hebat bisa panjang gitu. Hehee

    Sering baca novel ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadinya juga mau dibikin flashfic yang cuma sehalaman, tapi ternyata kelewat panjang juga pengantarnya (?)

      Sejauh ini sih iya :D

      Hapus
    2. Bagus, mbak suka banyak novel yah 😜😜

      Hapus
    3. Bagus, mbak suka banyak novel yah 😜😜

      Hapus
    4. Diih, mbaknya kalo komen satu aja geh 😜

      Hapus

Komen, yuuuk ;))