Ketika orang-orang mulai berbicara tentang harapan, mereka
sesungguhnya bicara tentang ketiadaan. Ada banyak kemungkinan tentang ketiadaan,
sebanyak kemungkinan tentang keadaan; untuk mewujudkan ketiadaan.
Seperti perjalanan ini dan jejakmu di persimpangan.
Barangkali akan teramat sulit menemukan tapak kakimu di atas
tanah yang telah basah disiram hujan semalaman. Ia menjadi sesuatu yang seperti
sengaja tersamarkan, atau memang bukan untuk aku itu ditakdirkan? Entahlah. Meski
demikian, tentang apa yang kamu mungkin tidak ketahui itu, sesungguhnya tidak
semudah menyeka debu yang menempel di ujung sepatumu untuk kemudian ditiadakan.
Perlu usaha yang sungguh untuk sekadar memahami bahasa
melupakan. Bersamanya ada rasa yang harus dibantai di antara letupan logika
yang ingin hidup setelah dimatikan.
Kamu tidak perlu menoleh ke belakang untuk melihat aku yang mengikutimu.
Aku memilih berhenti untuk tahu bagaimana kamu berjalan; untuk tahu bagaimana
kamu menyikapi kesulitan, dan berbagai
hal yang ingin kamu lakukan sebelum mencapai tujuan.
Tentang banyak ingin tahuku, itu adalah sebuah
kesalahan.
Kamu adalah yang diinginkan banyak orang di perjalanan. Tak ada
hal lain yang bisa kulakukan. Menjadikanmu harapan adalah suatu keberanian;
harapan selalu diirongi dengan ikhtiar dan doa pasti terkabulkan
BalasHapus