Pages

Rabu, 23 Maret 2016

Doa-doa Pelan



Ketika orang-orang mulai berbicara tentang harapan, mereka sesungguhnya bicara tentang ketiadaan. Ada banyak kemungkinan tentang ketiadaan, sebanyak kemungkinan tentang keadaan; untuk mewujudkan ketiadaan.

Seperti perjalanan ini dan jejakmu di persimpangan.

Barangkali akan teramat sulit menemukan tapak kakimu di atas tanah yang telah basah disiram hujan semalaman. Ia menjadi sesuatu yang seperti sengaja tersamarkan, atau memang bukan untuk aku itu ditakdirkan? Entahlah. Meski demikian, tentang apa yang kamu mungkin tidak ketahui itu, sesungguhnya tidak semudah menyeka debu yang menempel di ujung sepatumu untuk kemudian ditiadakan.

Perlu usaha yang sungguh untuk sekadar memahami bahasa melupakan. Bersamanya ada rasa yang harus dibantai di antara letupan logika yang ingin hidup setelah dimatikan.

Kamu tidak perlu menoleh ke belakang untuk melihat aku yang mengikutimu. Aku memilih berhenti untuk tahu bagaimana kamu berjalan; untuk tahu bagaimana kamu menyikapi  kesulitan, dan berbagai hal yang ingin kamu lakukan sebelum mencapai tujuan.

Tentang banyak ingin tahuku, itu adalah sebuah kesalahan.

Kamu adalah yang diinginkan banyak orang di perjalanan. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan. Menjadikanmu harapan adalah suatu keberanian;

... yang hanya bisa kuagungkan lewat doa-doa pelan.

1 komentar:

  1. harapan selalu diirongi dengan ikhtiar dan doa pasti terkabulkan

    BalasHapus

Komen, yuuuk ;))