Bahkan, saat kamu tidak tahu harus menulis apa, tulislah bahwa kamu tidak tahu kamu harus menulis apa.
Aku menulis ungkapan itu di Twitter kemarin. Itu bukan
sesuatu yang tiba-tiba, melainkan untuk menulis ungkapan itu ada serangkaian
proses panjang (panjang?) yang di belakangnya. Berupa keresahan betapa
tidak produktifnya diriku dalam menulis ketika seharusnya aku bisa menulis
banyak hal mengingat waktuku juga cukup luang.
Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun atau apa pun karena
sebenarnya masalahnya ada pada diriku sendiri. Tapi sungguh, soal skripsi dan
laporan magang yang masih on process itu membuat pikiranku merasa
bersalah jika meninggalkan keduanya—meskipun pada akhirnya tak tersentuh juga
dan aku melarikan diri dengan membaca. Jadi setiap kali aku ingin menulis
sesuatu yang bukan soal skripsi atau laporan magang, selalu muncul pikiran, “Daripada
nulis ini, mending kerjain laporan—mending kerjain skripsi.”
Untuk sesuatu yang bersifat individual, aku kadang terlampau
perfeksionis. Buatku tidak masalah jika aku harus berkeras membaca jurnal
Bahasa Inggris, menerjemahkannya semampuku, untuk mendapatkan rujukan yang
menurutku valid dan sesuai dengan yang kuinginkan. Tapi sejujurnya itu lumayan
bikin pikiran jadi sesak juga sih, karena otakku jadi dipaksa untuk
kerja maksimal. Dan otak yang terlalu lelah itu bikin mood menulis jadi
turun; susah dapat ide dan susah menuangkan pikiran ke dalam kata-kata. Kalau
sudah begitu, solusi paling amanku adalah membaca. Paling tidak, aku bisa
mengisi waktu luangku dengan hal-hal yang bermanfaat. Paling tidak, membaca
adalah obat untuk menulis.
Lalu, ketika Hari Blogger Nasional diperingati beberapa hari
yang lalu, aku seolah mendengar blog-ku
berteriak nyaring minta diisi. Dan yah, aku nggak ada posting apa pun
selama bulan Oktober kemarin itu. Aku memang bukan blogger aktif, hanya
seseorang yang kebetulan suka menulis dan punya blog. Tapi tetap saja, tidak
mengunjungi rumah ini dengan membawa tulisan membuatku merasa tidak produktif.
Lalu, ketika aku merasa perasaanku sedang tidak cukup baik
soal ketidakproduktifan dan berbagai hal lain lagi, aku merasa menulis adalah
media katarsis yang cukup ampuh—di samping berdoa. Dan itu efektif sekali untuk
melegakan perasaan. Seperti sekarang ini. Rasanya melegakan sekali bisa
menulis, bahkan di saat aku tidak tahu harus menulis apa. :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))