Pages

Rabu, 02 November 2016

Saat Tidak Tahu Harus Menulis Apa

Bahkan, saat kamu tidak tahu harus menulis apa, tulislah bahwa kamu tidak tahu kamu harus menulis apa. 
Aku menulis ungkapan itu di Twitter kemarin. Itu bukan sesuatu yang tiba-tiba, melainkan untuk menulis ungkapan itu ada serangkaian proses panjang (panjang?) yang di belakangnya. Berupa keresahan betapa tidak produktifnya diriku dalam menulis ketika seharusnya aku bisa menulis banyak hal mengingat waktuku juga cukup luang.  

Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun atau apa pun karena sebenarnya masalahnya ada pada diriku sendiri. Tapi sungguh, soal skripsi dan laporan magang yang masih on process itu membuat pikiranku merasa bersalah jika meninggalkan keduanya—meskipun pada akhirnya tak tersentuh juga dan aku melarikan diri dengan membaca. Jadi setiap kali aku ingin menulis sesuatu yang bukan soal skripsi atau laporan magang, selalu muncul pikiran, “Daripada nulis ini, mending kerjain laporan—mending kerjain skripsi.”

Untuk sesuatu yang bersifat individual, aku kadang terlampau perfeksionis. Buatku tidak masalah jika aku harus berkeras membaca jurnal Bahasa Inggris, menerjemahkannya semampuku, untuk mendapatkan rujukan yang menurutku valid dan sesuai dengan yang kuinginkan. Tapi sejujurnya itu lumayan bikin pikiran jadi sesak juga sih, karena otakku jadi dipaksa untuk kerja maksimal. Dan otak yang terlalu lelah itu bikin mood menulis jadi turun; susah dapat ide dan susah menuangkan pikiran ke dalam kata-kata. Kalau sudah begitu, solusi paling amanku adalah membaca. Paling tidak, aku bisa mengisi waktu luangku dengan hal-hal yang bermanfaat. Paling tidak, membaca adalah obat untuk menulis.

Lalu, ketika Hari Blogger Nasional diperingati beberapa hari yang lalu, aku seolah mendengar blog-ku berteriak nyaring minta diisi. Dan yah, aku nggak ada posting apa pun selama bulan Oktober kemarin itu. Aku memang bukan blogger aktif, hanya seseorang yang kebetulan suka menulis dan punya blog. Tapi tetap saja, tidak mengunjungi rumah ini dengan membawa tulisan membuatku merasa tidak produktif.

Lalu, ketika aku merasa perasaanku sedang tidak cukup baik soal ketidakproduktifan dan berbagai hal lain lagi, aku merasa menulis adalah media katarsis yang cukup ampuh—di samping berdoa. Dan itu efektif sekali untuk melegakan perasaan. Seperti sekarang ini. Rasanya melegakan sekali bisa menulis, bahkan di saat aku tidak tahu harus menulis apa. :))



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))