Ouch. Menohok sekali. Sejenak aku terdiam; antara sedikit shock dan
spontan ingin tertawa. Baru kali seseorang bertanya hal seperti itu padaku, and
I’m surprised.
*
Selalu ada banyak hal mengejutkan ketika mengobrol dengan simbah-simbah
di balai pelayanan sosial lansia tempatku magang kemarin itu. Termasuk yang
satu itu tadi. Pada awalnya aku dan temanku sedang mengobrol dengan laki-laki
tua yang lain, sementara ia baru saja selesai mengikuti bimbingan rohani. Ketika
pembimbing rohaninya pergi, laki-laki itu duduk termenung di seberang tempat
dudukku. Ia menatap jauh ke depan, seperti tengah memikirkan sesuatu yang
berat. Tidak ada rutinitas seperti biasanya, membaca buku ataupun mengisi TTS. Aku
tidak tega melihatnya sendirian, jadi aku pun menghampirinya.
“Mbah nggak baca?” Pertanyaan itu yang pertama kali terlontar
ketika aku akhirnya mendarat di sampingnya. Rasanya sangat aneh melihat
laki-laki tua itu tanpa buku.
“I don’t know, I’m too lazy to do anything,” jawabnya.
“Why? Bukannya seharusnya Mbah lebih semangat selesai bimbingan rohani?”
“Yeah. Tapi prakteknya nggak mudah, you know.”
Aku mengangguk, membenarkan. Aku kemudian bertanya mengenai
hasil bimbingnnya tadi.
“No, I’m just asking whether it’s good for me to move to
Semarang.”
“You will move to Semarang?” Sesaat aku merasa sedikit
khawatir.
“That’s just a plan. There is my sister live in Semarang.
Bu Kristin said that she and her husband will accompany me whenever I
want to move to Semarang.”
“Is it okay, uhm I mean, apakah di sana akan
lebih baik nantinya? Have you told your children about this?”
“I don’t know, but, at least, I have someone to go.
Setidaknya saya punya seseorang untuk dituju, dan saya sudah pernah bilang ke
anak-anak saya. Mereka menyerahkan semua pilihan itu kepada saya selama itu
baik menurut saya.”
Aku kembali mengangguk. Sejenak kami tidak membicarakan apa
pun. Ada perasaan iba, khawatir, dan sesuatu yang bahkan aku sendiri sulit
untuk menjelaskannya. Setelah hening beberapa saat itu, aku pun kembali membuka
percakapan, “Mbah, bacaan yang kemarin gimana?”
“Majalah itu? Saya belum selesai membacanya, dan ada beberapa
buku lain yang belum saya selesaikan juga. Kamu suka baca juga nggak?”
“Yes, I love reading too. But I usually read novel.
Mbah suka baca novel juga kan ya? Mbah baca Bumi Manusia kan?”
“Did I tell you that?” Ia menatapku dengan dahi berkerut.
Aku tertawa sembari mengangguk. Laki-laki tua itu juga ikut mengangguk. Aku kembali
bertanya, “So, who is your favorite writer?”
“In Indonesia, my favorite is Pramoedya Ananta Toer. And in
international, my favorite is Leo Tolstoy.” Jelas aku semacam salut gitu
mendengar jawabannya. Meski kedua nama itu sama sekali tidak asing di telinga,
tapi sampai saat ini belum satu pun dari karya keduanya yang kubaca. Jadi setelah
itu bahasan kami adalah tentang buku. Aku mengatakan bahwa aku hanya sedikit
membaca novel klasik Indonesia, di antaranya: Sitti Nurbaya, Salah
Asuhan, dan Layar Terkembang. Ketika aku menyebutkan judul-judul
novel itu, di usianya yang 81 tahun laki-laki tua itu bahkan masih hafal nama
penulisnya.
“I read it all when I was in junior high school. Dan itu
sudah lama sekali.”
“Oh ya? How about Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck?”
“Karyanya Hamka kan? Saya juga baca itu, tapi lupa persisnya
ceritanya bagaimana.”
Aku mengangguk. Lalu tiba saatnya bahwa aku ingat temanku ingin
berbicara dengan laki-laki tua itu. Sama sepertiku, ia juga ingin melatih
kemampuan speaking. Dan sewaktu kemarin-kemarin laki-laki tua itu
kuberitahu bahwa aku ingin berlatih Bahasa Inggris, ia senang sekali. Pernah
suatu ketika aku terlalu gagu mengatakan sesuatu dalam Bahasa Inggris, jadi aku
mengatakannya dengan Bahasa Indonesia dan ia langsung berkomentar, “In
English, please.” Spontan saja aku
langsung tertawa. Begitu pun ketika ia menjadi narasumber penelitianku, aku
mengatakan, “You can answer my questions in English, or in Bahasa, that’s
okay. But I will just ask you in Bahasa, okay?”
“How about in Javanese?”
Aku tertawa. “Noooo. Not in Javanese, please, kayaknya
saya bakal lebih paham kalau dijawab pake bahasa Inggris daripada Bahasa Jawa,
Mbah.” Meskipun nggak gitu juga sih sebenarnya, haha. Tapi kalo Bahasa Jawa
yang halus sih memang aku hanya mengerti beberapa kata saja. Mendengar
jawabanku, ia tertawa lepas. Dan kadang memang seperti itulah laki-laki tua itu,
tidak seserius kelihatannya. “Someday, if you want to improve your english
by reading, I will lend you a novel, and it’s in english,” tambahnya.
Jadi kembali lagi ke soal temanku. Aku mengotak-atik ponsel
menghubunginya, sembari mengatakan, “My friend want to know you, Mbah. Tapi
dia nggak angkat nih.”
“Who? Your boyfriend?”
“Ha?”
“Is it your boyfriend?”
“No, it’s my friend.”
“You don’t have a boyfriend?”
“Hahaha. No, I don’t. I don’t have a boyfriend, Mbah.”
“Why? Is it too difficult to find a boyfriend?”
Ouch. “Nooo, not like that. But, I think I will not have a boyfriend until I’m
being married.” Eaaaa.
“Kenapa begitu? Justru sebelum menikah seharusnya kamu penjajakan terlebih dahulu, supaya nanti ketika menikah tidak ada yang tidak sesuai dengan harapan.”
Sejenak aku berpikir: ini aku ngejelasinnya gimana coba
kan? Tapi kemudian kujelaskan begini, “Uhmm, di agama saya diajarkan
seperti itu, Mbah. Laki-laki dan perempuan dilarang berinteraksi melampaui
batas. Jadi sebisa mungkin mereka harus menjaga jarak agar tidak terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi saya punya prinsip yang diajarkan oleh agama saya
sendiri.”
Laki-laki itu menyimak.
“Kalo yang namanya penjajakan, there’s a process called
taaruf. Di proses taaruf ini, laki-laki maupun perempuan yang serius akan
menikah bisa mengenal satu sama lain dengan perantara pihak ketiga. Jadi jika
pun pada akhirnya proses itu batal atau tidak berlanjut, tidak akan ada pihak
yang dikecewakan dan semuanya berlangsung baik. Begitu alasannya, Mbah.”
Laki-laki itu menganguk-angguk mendengar pernyataanku. Mungkin
baru kali ini ia mendengar prinsip ajaran Islam dengan sedikit lebih detail. “That’s
good,” ungkapnya.
Aku tersenyum. Sejauh ini aku menyadari bahwa ternyata tidak
punya pacar itu masih menjadi hal yang tabu, setidaknya untuk beberapa pihak. Bahkan
ada salah seorang simbah kakung lainnya pernah bertanya begini, “Karo sopo
dolanane? Yangmu?”
“Ha? Saya ora Yang-yangan, Mbah.”
“Lha ngopo?”
“Ya nggak apa-apa, Mbah, nanti aja kalau sudah nikah.”
“Ho-oh, ora usah mikir Yang-yangan saiki. Sekolah
sing bener, biar besok iso dadi pegawai, entuk gaji
akeh. Nek kamu diajak main sama laki-laki itu jangan mau, dikasi
apa-apa itu jangan mau,” simbah kakung lain ikut berkomentar.
“Aamiin. Siaap, Mbah! Doain ya Mbah yaa.” Hahaha.
“Iyaaa, tak doa’ke. Semoga kamu dikasih laki-laki yang
baik sama Gusti Allah.”
Aamiin :’)
Baguuuss :D
BalasHapus