Pages

Sabtu, 22 September 2018

Cara Memahami Hujan


Kelak bila hujan datang, katakan bahwa di mentari sendu di hari itu, di embusan angin yang dinanti putik bunga itu, tercium wangi tanah basah. Atap bumi yang berubah warna kini terlihat kontras dengan lautan dalam, tempat orang-orang mengunci perasaannya.
 
Kelak, bila hujan datang, orang-orang akan tahu bahwa apa yang selama ini disimpannya di kedalaman lautan itu, telah menguap oleh terikan napas matahari. Menjadi gegumpal kapas putih, diterbangkan angin, lantas mengondensasi sebelum turun sebagai buliran air yang menderas.

Ada yang luruh oleh tinta di atas kertas itu, ada yang luruh di bawah hujan di bawah mata itu; menuju hati.

Demikian cara orang-orang memahami hujan. Demikian caraku memahami hujan, pada awalnya.

Kelak, ketika hujan datang, dan kita sudah memahami beberapa hal, kita akan mengerti bahwa dalam lirih doa-doa di antara itu, dalam pinta-pinta kita tentang kehidupan itu, ada hal lain yang luput dari pencarian, hilang dari ingatan.

Apa tepatnya doamu ketika hujan?

Menikah segera? Daftar buku impian? Perjalanan menyenangkan? Atau hal-hal kecil seperti berharap secangkir cokelat panas?

Tidak apa-apa. Katakan sebanyak yang kau mau. Kita memang harus meminta banyak hal, karena Dia sungguh Mahakaya. Tapi bagaimana bisa kita lupa bahwa sekeras apa pun kita meminta kehidupan, kematian adalah niscaya. Dan kebangkitan setelahnya adalah pasti.

Hujan seperti itu. Ia menghidupkan. Kelak kita akan menyaksikan, petrikor yang menguar di batas penciuman kita lantas mengubah dirinya menjadi aroma segar rerumputan, jatuh sebagai tetes embun dari pucuk dedaunan.

Maka demikian, Allah menghidupkan bumi yang mati dengan hujan-Nya, agar kita mengambil pelajaran bahwa kelak, semudah itu Ia membangkitkan kita dari kematian.

Begitu, cara memahami hujan.

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raaf: 57)
*

Solo, 19 September 2018
―menjelang dan setelah hujan pertama sore itu,

Evnaya Sofia

2 komentar:

Komen, yuuuk ;))