Pages

Senin, 24 Desember 2018

Cara Memahami Hujan #3


Menunggu selalu merupakan pekerjaan yang memakan waktu. Entah lama atau sebentar, tetap ada detik-detik yang kemudian tidak akan pernah bisa diulang. Setiap harinya, matahari perlu menunggu untuk bisa disebut terbit dan terbenam. Dan perlu masing-masing dua kali dalam setahun singgah tepat di atas khatulistiwa untuk kemudian bisa disebut sebagai vernal atau autumnal equinox.

Untuk musim yang tak sejalan—tentang terik kemarin-kemarin yang terasa begitu panjang, perkara menunggu hujan juga demikian. Mendung-mendung yang pekat hanya sebuah pertanda dan bukan merupakan jaminan. Tidaklah apa-apa yang ada di semesta ini berjalan tanpa ada yang menggerakkan. Semua menunggu titah-Nya.

Tetapi, Allah memberitahu kita sebuah rahasia. Bahwa perkara menunggu bukan berdiam diri, melainkan sembari mengupayakan. Demikian yang terjadi bila hujan tak kunjung datang. Membasahkan lisan dengan istighfar menjadi semacam upaya, sebagaimana yang dahulu Khalifah Umar bin Khattab lakukan ketika salat meminta hujan.

Istighfar adalah upaya mengetuk pintu langit bersebab apa-apa yang berasal dari langit cenderung bersifat rahmat. Hujan senyatanya adalah demikian. Ia mengubah terik menjadi sejuk. Membungkam debu untuk kemudian menguar sebagai petrikor. Menumbuhkan bebijian menjadi dahan-dahan hijau. Atau dalam bentuk-bentuk yang sederhana, kedatangannya merupakan suatu kebahagiaan tersendiri yang sulit diungkapkan kata-kata.

Maka lihatlah kelak, sejauh apa lisan kita basah oleh istighfar. Yang dengannya Allah telah jaminkan curahan hujan dari langit. Yang dengannya Allah akan luaskan rezeki kita, perbanyak anak-anak kita, dan sejahterakan kehidupan kita melalui kebun-kebun yang hijau dan sungai-sungai yang mengalirkan air untuk kehidupan. Lalu, dengan seruan beristighfar ini pulalah Nabi Nuh ‘alaihissalaam menasihati kaumnya. Yang mengeluh akan kekeringan, kemiskinan, dan kurangnya keturunan. Tetapi mereka tak kunjung beriman, meski dakwah berlangsung siang malam.

Di sisi lain, membasahkan lisan dengan istighfar juga bukan hanya perkara apa yang akan kita dapat, melainkan tentang keutamaan istighfar itu sendiri. Dan yang terpenting, fakta bahwa dosa-dosa kita terlampau banyak. Maka istighfar terselip sebagai bacaan setiap usai salat, dalam zikir pagi dan petang, dan menjadi sesuatu yang harus senantiasa kita lisankan dalam setiap kesempatan.

ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا (٨) ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا (٩) فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (١٠) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (١١) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (١٢)

Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS.Nuh: 8-12).
*

... terinspirasi setelah menonton video tadabbur Al-Qur’an dari Ustadz Bachtiar Nasir: Meraih Kebahagiaan. Kemudian aku teringat bahwa beliau ada kajian tadabbur QS. Nuh, jadilah aku mendengarkan kajian tadabbur beliau QS. Nuh: 11-15 itu di sini. Kebetulan, aku sendiri juga memiliki buku Ustadz Bachtiar Nasir yang berjudul “Tadabbur Al-Qur’an: Panduan Hidup Bersama Al-Qur’an (Juz 29 & 30)” yang kubaca sebelum menulis ini. Terima kasih. ^^

1 komentar:

  1. Bagaimana siklus air hingga terjadinya hujan sejatinya menjadi tanda-tanda bagi orang yang berfikir kata guru saya

    BalasHapus

Komen, yuuuk ;))