Menunggu
selalu merupakan pekerjaan yang memakan waktu. Entah lama atau sebentar, tetap
ada detik-detik yang kemudian tidak akan pernah bisa diulang. Setiap harinya,
matahari perlu menunggu untuk bisa disebut terbit dan terbenam. Dan perlu
masing-masing dua kali dalam setahun singgah tepat di atas khatulistiwa untuk
kemudian bisa disebut sebagai vernal atau autumnal equinox.
Untuk
musim yang tak sejalan—tentang terik kemarin-kemarin yang terasa begitu
panjang, perkara menunggu hujan juga demikian. Mendung-mendung yang pekat hanya
sebuah pertanda dan bukan merupakan jaminan. Tidaklah apa-apa yang ada di
semesta ini berjalan tanpa ada yang menggerakkan. Semua menunggu titah-Nya.
Tetapi,
Allah memberitahu kita sebuah rahasia. Bahwa perkara menunggu bukan berdiam
diri, melainkan sembari mengupayakan. Demikian yang terjadi bila hujan tak
kunjung datang. Membasahkan lisan dengan istighfar menjadi semacam upaya,
sebagaimana yang dahulu Khalifah Umar bin Khattab lakukan ketika salat meminta
hujan.
Istighfar
adalah upaya mengetuk pintu langit bersebab apa-apa yang berasal dari langit
cenderung bersifat rahmat. Hujan senyatanya adalah demikian. Ia mengubah terik
menjadi sejuk. Membungkam debu untuk kemudian menguar sebagai petrikor.
Menumbuhkan bebijian menjadi dahan-dahan hijau. Atau dalam bentuk-bentuk yang
sederhana, kedatangannya merupakan suatu kebahagiaan tersendiri yang sulit
diungkapkan kata-kata.
Maka
lihatlah kelak, sejauh apa lisan kita basah oleh istighfar. Yang dengannya
Allah telah jaminkan curahan hujan dari langit. Yang dengannya Allah akan
luaskan rezeki kita, perbanyak anak-anak kita, dan sejahterakan kehidupan kita
melalui kebun-kebun yang hijau dan sungai-sungai yang mengalirkan air untuk
kehidupan. Lalu, dengan seruan beristighfar ini pulalah Nabi Nuh ‘alaihissalaam
menasihati kaumnya. Yang mengeluh akan kekeringan, kemiskinan, dan kurangnya
keturunan. Tetapi mereka tak kunjung beriman, meski dakwah berlangsung siang
malam.
Di
sisi lain, membasahkan lisan dengan istighfar juga bukan hanya perkara apa yang
akan kita dapat, melainkan tentang keutamaan istighfar itu sendiri. Dan yang
terpenting, fakta bahwa dosa-dosa kita terlampau banyak. Maka istighfar
terselip sebagai bacaan setiap usai salat, dalam zikir pagi dan petang, dan menjadi
sesuatu yang harus senantiasa kita lisankan dalam setiap kesempatan.
ثُمَّ
إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا (٨)
ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا (٩) فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ
إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (١٠)
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (١١)
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ
لَكُمْ أَنْهَارًا (١٢)
“Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman)
dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi)
dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun
kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan
lebat, dan
membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu
sungai-sungai.” (QS.Nuh: 8-12).
*
... terinspirasi setelah menonton video tadabbur Al-Qur’an dari Ustadz
Bachtiar Nasir: Meraih Kebahagiaan. Kemudian
aku teringat bahwa beliau ada kajian tadabbur QS. Nuh, jadilah aku mendengarkan
kajian tadabbur beliau QS. Nuh: 11-15 itu di sini. Kebetulan, aku
sendiri juga memiliki buku Ustadz Bachtiar Nasir yang berjudul “Tadabbur Al-Qur’an:
Panduan Hidup Bersama Al-Qur’an (Juz 29 & 30)” yang kubaca sebelum menulis
ini. Terima kasih. ^^
Bagaimana siklus air hingga terjadinya hujan sejatinya menjadi tanda-tanda bagi orang yang berfikir kata guru saya
BalasHapus