وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَخَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَالْمُفْلِحُونَ
Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr: 9)
Ayat 9 dari surah Al-Hasyr ini menjelaskan tentang keutamaan kaum Anshar. Bila kita membaca ayat-ayat sebelumnya, maka kaum Anshar ini merupakan salah satu yang disebutkan oleh Allah mendapat harta rampasan, baik melalui peperangan maupun tidak. Namun, sesuai tema Qur'an Journaling dari @thequranjournal.id, kita hanya akan membahas satu hal yang berkaitan dengan kaum Anshar ini, yaitu sikap dermawan (generosity).
Menurut Buya Hamka, ada lima keutamaan dan pujian bagi kaum Anshar yang disebutkan Allah dalam ayat ini:
1. Dalam keimanan, mereka menunggu saudara mereka, Muhajirin, di kota mereka.
2. Mereka mencintai kaum Muhajirin yang datang berhijrah ke Madinah.
3. Orang-orang Anshar tidak merasa dengki atau iri hati terhadap Muhajirin yang mendapat lebih banyak bagian dalam harta rampasan.
4. Orang-orang Anshar lebih mengutamakan kaum Muhajirin daripada diri mereka sendiri.
5. Mereka berhasil mengatasi sifat kikir sehingga menjadi orang-orang yang beruntung.
Lebih detail lagi, terkait beberapa keutamaan di atas, Ustadz Nouman Ali Khan banyak menjelaskan hal menarik yang baru kuketahui. Well, hampir dua per tiga Al-Qur'an itu diturunkan di Makkah, Rasullulah berdakwah di sana lebih dari satu dekade, yang mana di antara orang-orang yang beliau sampaikan dakwahnya itu adalah keluarganya sendiri. Tapi lihat apa yang terjadi? Sebagian mereka justru nggak percaya, nggak mendengarkan, nggak beriman.
At the same time, kaum Anshar ini bukan orang-orang yang dari awal berinteraksi dengan Rasulullah, bukan keluarga Rasulullah, bukan seperti Muhajirin yang mereka adalah assabiqunal awwalun... tapi mereka menerima Rasulullah dan kemudian beriman atas kerasulannya. وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ, Allah mengapresiasi mereka yang telah memiliki bibit iman di dalam hati bahkan sebelum hijrahnya Rasulullah.
Trus, biasanya nih, imigran itu cenderung ga disukai karena justru menambah masalah suatu negara, apalagi negara yang didatangi itu adalah negara yang perekonomiannya sedang berkembang dan bukan negara maju. Tapi beda sama orang-orang Anshar ini, mereka justru cinta banget, senang banget, sewaktu kaum Muhajirin datang. Mereka ga ada perasaan dengki sama pengutamaan harta rampasan yang diberikan pada kaum Muhajirin.
Dan saking cintanya, mereka rela berkorban untuk Muhajirin. خَصَاصَةٌ, pengorbanan mereka tuh ibarat mereka lebih memilih memberi makan orang-orang Muhajirin meskipun mereka sendiri lagi lapaaar banget sampe rasanya mau mati. 😭Mereka mengutamakan Muhajirin dalam hal apa pun meski mereka juga lagi kesusahan, lagi menghadapi situasi yang gentiiing banget. Dan bersikap dermawan saat lagi sempit ini lebih utama dibanding saat kita memberikan sesuatu yang paling kita cintai. Maa syaa Allah.
Kalo kita, seringnya baru sedekah kalo udah lebih aja, kalo kita sendiri udah merasa tercukupi. Nolongin orang ya kalo pas lagi ga sibuk aja. Kalo ga rugi-rugi amat di kitanya, baru deh kita mau berkorban. Kan jleb. 😩
Bahkan nih, ketika kita mampu berbuat baik, mampu sedekah, mampu menolong orang lain, seringnya dalam hati kita timbul perasaan superior, merasa hebat. Orang-orang Anshar ga kayak gitu, mereka ga kikir. Ketika bisa bantuin meskipun lagi genting, mereka sama sekali ga merasa superior. Makanya, Allah sebut mereka sebagai orang-orang yang beruntung.
[] Referensi:
1. Tafsir Al-Azhar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))