Pages

Sabtu, 21 Maret 2015

[Book Review] Rectoverso by Dee: Tentang yang Tak Terucap

taken from Goodreads

Judul: Rectoverso (11 Cerita Pendek Dee)
Penulis: Dee
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Cetakan V, Oktober 2013
Tebal: 174 halaman
ISBN: 978-602-7888-03-6

Rectoverso merupakan buku yang memadukan antara literer dan musik yang di dalamnya memuat 11 cerita pendek karya Dee. Setiap kisah memiliki soundtrack-nya masing-masing. Karenanya, di awal setiap kisah kita akan mendapati bait-bait lirik lagu yang menjadi soundtrack-nya.

Curhat buat Sahabat, menjadi pembuka yang manis dari buku ini. Berkisah tentang seorang sahabat yang selalu ada untuk sahabatnya, kapan pun dan di mana pun. Meski terasa cukup jelas ke mana akhir kisah ini akan dibawa, aku menyukai gaya tutur Dee yang menggunakan sudut pandang kedua. Penggunaan sudut pandang kedua ini juga terdapat dalam Selamat Ulang Tahun dan Aku Ada. Jika Aku Ada memiliki akhir kisah yang mengejutkan dengan twist-nya, Selamat Ulang Tahun senada dengan kisah pembukanya. Mengalir, dan kerasa banget ‘luka’-nya.

Malaikat Juga Tahu dan Firasat cukup menohok juga. Tentang cinta tulus yang tak berbalas hanya karena yang mencintai tak memiliki masa depan yang bisa dijanjikan manusia normal lainnya. Tentang firasat yang tak mampu mencegah sesuatu yang tak diinginkan terjadi. 
“Kita tak tahu dan tak pernah pasti tahu hingga semuanya berlalu. Benar atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan cuma waktu. Dan itu membuat kita kadang bertanya: lalu, untuk apa? Untuk apa diberi pertanda jika ternyata tak bisa mengubah apa-apa? Untuk apa tahu sebelum waktunya?

Untuk belajar menerima. Saat kita belajar menerima, kita juga belajar berdamai. Melalui firasat kita belajar menerima diri, dan berdamai dengan hidup ini.”
---Firasat dalam Rectoverso, halaman 116-117
Selanjutnya, Hanya Isyarat membuatku jatuh cinta dengan tokoh utamanya--bahwa tetap di tempat dan tak memaksa adalah cara yang tepat untuk menyikapi keinginan memiliki sesuatu yang tak akan pernah sanggup kita miliki. Aku menyukai bagian ketika si tokoh utama berbicara soal ‘punggung ayam’ dan ‘maksud’ di dalamnya.
Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun, orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik, niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.
---Hanya Isyarat dalam Rectoverso, halaman 52
Ada pun Peluk, Grow A Day Older, dan Tidur menyuruh kita untuk bangkit dan tidak berhenti di satu titik. We just have to move and move, terutama jika titik itu teramat menyakitkan untuk dilalui. Cecak di Dinding meramu sebuah kisah sederhana menjadi sesuatu yang mengejutkan di bagian akhirnya. Dan terakhir, Back to Heaven’s Light sukses menutup buku ini dengan sebuah pesan tentang penerimaan.

Well, Rectoverso adalah buku pertama Dee yang kubaca. Ide kisah-kisah dalam buku ini terbilang amat sederhana, namun cara Dee mengemas dan menuturkan setiap kisahnya membuatku menyukainya. Di beberapa kisah memang terasa ‘ah-ternyata-cuma-gini-doang’-nya, tapi nggak dipungkiri juga kalau rasanya akan berbeda ketika emosi kita dicuri Dee lewat kalimat-kalimatnya.

Bicara soal pesan moral, hampir semuanya implisit. Nggak perlu menebak-nebak apa yang ingin disampaikan penulis, sebagai pembaca aku ibarat penonton—saksi mata atas suatu peristiwa. Jadi begitu selesai membaca setiap kisah, yang kulakukan adalah menarik pelajaran darinya. Dan yang menjadi kisah favoritku adalah Back to Heaven’s Light. Pesan moralnya ngena, tapi cukup mengejutkan juga karena ternyata... uhm~ (just read the book :v).

Daaan, yeah, seperti yang kubilang di awal, Back to Heaven’s Light ini bicara soal penerimaan—bagaimana kita berusaha menerima sesuatu yang terjadi tak sesuai dengan keinginan kita dan melupakan hal kecil yang mengganggu demi menjaga keutuhan makna hal lainnya dalam hidup kita.

Anyway, buku ini masuk kategori ringan dan asyik buat dibaca. Satu bintang untuk gaya penuturannya, satu bintang untuk twist dan hal-hal mengejutkan serta pesan moralnya, satu bintang untuk visual bukunya. 3 of 5 stars. ^^
“There was a point before life itself, when we all decided to forget everything we’ve known. It was necessary so life had a point, so that it would all makes sense. Like fellow blind travelers, we’re all blinded by our unknowingness.

Only from an experiential point of view, the question of right or wrong vanishes. There’s no one to blame. There’s nothing to blame. There shouldn’t be a need to question. He had his choice, and I had mine. We all have our freedom to decide. We all have our preference to experience. I’ve forgiven him for leaving, I’ve forgiven myself for staying, and I’ve forgiven life for creating this drama of birth and death.”
---Back to Heaven’s Light dalam Rectoverso, halaman 161

1 komentar:

  1. udah pernah nonton filmnya.
    kalau bukunya belum,
    tapi kalau dilihat dari filmnya sih memang keren :))

    BalasHapus

Komen, yuuuk ;))