Pernah mengkhawatirkan sesuatu
yang belum tentu terjadi? Aku pernah—justru terlampau sering, kalau boleh
kubilang. Pernah sedih karena sesuatu mungkin tidak akan terjadi sesuai dengan
harapanmu? Atau bahkan yang terparah, sampai berputus asa hanya karena kau
‘merasa’ mampu memastikan sesuatu yang padahal sama sekali tak mampu kau pastikan?
Aku mengalaminya berkali-berkali,
terlampau sering sampai entah berapa kali pula aku jatuh bangun karenanya. Saat
perasaan seperti itu datang, beberapa hal terjadi padaku—dan mungkin juga kau.
Beberapa hal itu persis seperti yang kukatakan di awal. Ketika kau mulai
mengkhawatirkan sesuatu di masa depan, maka kau akan merasa sedih hanya dengan
membayangkan segalanya terjadi tak sesuai harapanmu—seolah-olah kau mampu
memastikan bahwa itu benar akan terjadi. Padahal apa yang kau pikirkan akan
terjadi belum tentu terjadi. Pada akhirnya pikiran-pikiran itu membuatmu
berputus asa, merasa tidak ada artinya lagi memperjuangkan hidup dan masa depan
karena toh akhirnya semua akan sia-sia saja.
Sepertiku, kau mungkin memiliki
segudang target yang ingin kaucapai di masa depan. Ketika kita telah sampai
pada saat target itu diwujudkan tapi pada kenyataannya tak terwujud, bagaimana
rasanya? Marah, sedih, kecewa, bukan? Pengalaman-pengalaman itulah yang
terkadang membuat kita khawatir bahwa apa yang terjadi di masa depan mungkin
sama saja dengan yang sekarang. Membuat kita apatis menjalani hidup, tak banyak
berharap apalagi berusaha maksimal. Padahal, hei, hidup nggak akan semonoton
itu kok ;). Tidak ada orang yang seumur hidupnya gagal terus. Life is full of
colour. Hari ini kita gagal, but who knows someday we’ll get what we want. Iya,
kan?
Aku sendiri mendapati segalanya
jadi teramat rumit ketika mulai mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu
terjadi. Merasa takut dan gelisah pada saat yang sama hingga berujung putus asa.
Bagaimana jika semua itu menyulitkanku?
Bagaimana jika... blablabla dan segudang pertanyaan ‘bagaimana-jika’ lainnya
yang sungguh sulit untuk kujawab. Tanpa sadar, ketika pertanyaan-pertanyaan itu
muncullah sesungguhnya kita mulai mengkhawatirkan sesuatu. Mulai menebak-nebak,
dan berujung pada prasangka negatif sampai akhirnya kita berputus asa.
Berputus asa tentang hidup bagiku
adalah titik paling rendah dalam keimanan kita kepada-Nya. Memberikan peluang
bagi syaithan untuk terus menggoda, menjatuhkan, dan membuat kita semakin
terpuruk. Seringkali keputusasaan itu datang ketika kondisi keimananku—keimanan
kita--sedang tidak baik. Padahal kalau kita sedikit saja berprasangka positif
dan mengingat Allah, semuanya akan terasa lebih baik. Kalau toh kita percaya
sepenuhnya pada Allah, bahwa hidup dan mati kita untuk Allah, kita seharusnya
tak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.
Memang tidak mudah membuat diri
kita merasa normal kembali ketika perasaan-perasaan itu datang. Harus ada
kontrol diri yang diupayakan berkali-kali. Tapi sayangnya yang lebih banyak
kita lakukan adalah membiarkan semuanya mengalir seperti air. Pasrah saja. aku
ingin mengatakan bahwa setidaknya dalam kondisi seperti itu pun kita harus
punya pegangan. Itulah sebabnya mengapa ruh dan keimanan kita harus di-recharge
setiap hari. Paling tidak, ketika kita sudah terlanjur terjerembab ke dalam
keputusasaan itu, kita masih ingat kita punya Allah—bahwa Allah Mahakuasa atas
segala sesuatu.
Jika kita sudah sampai pada tahap
bahwa kita punya Allah, saat itulah kita harus segera bangkit. Buang segala
kekhawatiran itu. Kita hanya perlu menjalani apa yang ada saat ini semaksimal
mungkin, hidup dan menghidupkan setiap momen. Setiap waktu yang kita miliki
berhak atas penghargaan dalam kita menjalaninya, bukan mengisinya dengan
kesia-siaan. Jadi berhentilah mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu seburuk
yang kita bayangkan, we just have to live life to the fullest. Justru ketika
kita—ketika kau—terlalu banyak mengkhawatirkan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi,
maka jelas kita telah mengorbankan masa depan bahkan pada saat masa depan itu
belum datang. Try and pray hard, Allah with us. x))
Aku sudah sering melihat manusia lahir dan tumbuh menjadi tua lalu akhirnya mati. Jadi aku punya pemikiran pada akhirnya mereka semua akan mati. Tapi mengapa mereka berjuang keras jika pada akhirnya mereka tetap menua, keriput, lalu menghilang? Kenapa mereka harus berjuang dan hidup begitu keras seolah-olah mereka sedang berperang?
Kehidupan manusia jika dilihat hanya dari luar adalah tidak ada harapan dan sia-sia saja. Tapi, setelah berpikir tentang kematian aku menjadi sadar. Tidak ada yang ingin hidup untuk kemudian mati, yang paling penting adalah hidup pada momen itu. Oleh sebab itu, bahkan jika akhirnya sudah ditentukan, kita masih bisa bahagia dan melanjutkan hidup. Ini sederhana, tapi butuh waktu lama untuk menyadarinya.---Do Min Joon, My Love from Another Star Episode 20
Gue juga sering kayak gini. apalagi mikirin masa depan_- . suka banget sama quote nya nih
BalasHapusYup :))
HapusMomen yang begitu menyenangkan :)
BalasHapussalam kenal yah :)
BalasHapusSalam kenal juga~ makasih sudah mampir ^^
HapusKarena aku yakin, tiap aku nggak bisa mencapai sesuatu yg kuinginkan, Tuhan sudah mempersiapkan yg lebih baik suatu saat nanti :))
BalasHapusBener banget :))
Hapusini ko rasanya nyindir aku pisan, aku juga sering pas mau ngambil keputusan sering mikir panjang dulu sampai akhirnya yang ada hanya pikiran negatif dan ya jadi ogah buat melangkah. huft
BalasHapusquote dari si alien gantengnya emang bagus,, sip!!
alien ganteng nan bijak :D dari sekian banyak emang cuma quote itu yang paling nampol :D
Hapushihi si mas ini, komennya selalu saja seperti ini xD
BalasHapus