Oleh: Evnaya Sofia
Ini bukan
pertama kalinya bagiku. Melihat banyak lelaki dan perempuan paruh baya dengan pakaian―yang
bisa dibilang sedikit lusuh―berkeliaran di dalam kampus. Bukan, bukan serupa
mereka yang kerap kali memunguti sampah bekas air mineral usai acara besar yang
digelar berbagai komunitas atau organisasi yang ada di kampus. Bukan pula
penjaja minuman atau makanan keliling yang berusaha menuai rezeki dari
kantong-kantong mahasiswa seperti kami. Menurutku, pekerjaan mereka terbilang
unik. Dua tahun sejak aku melihat pekerjaan semacam itu, sampai saat ini aku
hanya bisa menyebutnya sebagai... penjual soal.
Jika kau
beberapa kali terpaksa harus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi karena
tidak lulus tes jalur seleksi berkas nilai dan prestasi, maka kemungkinan besar
kau pernah melihat mereka―atau bahkan membeli ‘barang dagangan’ mereka. Meskipun
begitu―tentu saja, mereka tidak menjual soal bocoran yang akan diujikan, tetapi
soal-soal dari tahun-tahun sebelumnya. Entah, meski menurutku cukup ‘unik’, aku
justru lebih banyak bertanya kepada diriku sendiri. Pekerjaan semacam ini...
adalah sebuah hasil dari proses berpikir kreatif dalam mencari rezeki ataukah
ironi yang berkenaan dengan sulitnya mencari lapangan pekerjaan di negeri ini?
Mungkin salah
satunya, atau bisa jadi gabungan antar keduanya yang memang memiliki ikatan
kausalitas. Hingga detik ini, ketika telah sampai gelarku sebagai mahasiswa
semester empat di salah satu perguruan tinggi favorit negeri ini, aku mengerucut
pada satu kesimpulan bahwa bukan proses kreatif yang menjadikan mereka memilih
pekerjaan itu, tetapi lebih karena sulitnya mencari lapangan pekerjaan sehingga
mereka dituntut kreatif untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri
“Permisi, Mbak.
Ini soalnya bisa dilihat dulu, ada kumpulan soal-soal ujian masuk kampus ini
dilengkapi dengan pembahasannya,” sebuah suara menyentakku. Mengalihkan pandanganku
dari gerombolan penjual soal yang gigih menawarkan paket soal pada calon-calon
mahasiswa baru yang akan mengikuti tes ujian masuk dua hari ke depan.
“Uhm―”
“Kalau Mbak mau,
saya juga bisa memberikan privat khusus untuk pembahasan soal-soal ini,” ujarnya
sebelum aku sempat meneruskan.
“Maaf, Pak. Saya
mahasiswa di sini,” akuku.
“Oh,” ia terperangah.
Langkahnya mundur perlahan dan bergegas berbalik meninggalkanku yang sedari
tadi tak berkutik duduk di taman batu kampus.
“Pak!” aku
mendengar mulutku bersuara. Mencegah, membuat lelaki paruh baya itu urung
melangkah.
“Privat khusus?”
Hanya itu yang tiba-tiba terucap, saat aku tidak tahu bagaimana harus menata
kata demi kata agar tidak terdengar seperti sesuatu yang melukai di telinga
lelaki itu.
“Ya,” jawabnya
pendek. Tak ada penjelasan apa pun, sementara kepalaku masih dipenuhi berbagai
macam pertanyaan.
“Oh, baiklah.
Saya hanya bertanya, Pak. Terima kasih,” ujarku kemudian.
Dengan tertatih,
lelaki paruh baya itu kembali meneruskan langkahnya. Membuatku tersadar,
mungkinkah aku tengah meragukan sesuatu?
* * *
Mungkinkah
aku tengah meragukan sesuatu?
Pertanyaan itu
muncul begitu saja kemarin, sesaat setelah pertemuanku dengan lelaki paruh baya
penjual soal itu. Dan masih berlaku untuk hari ini, karena bagaimana pun aku
belum menemukan sesuatu yang bisa kupastikan sebagai jawaban untuk mengusir
pertanyaan itu. Kau boleh mengatakan ini terdengar seperti sesuatu yang sedikit
menganggap remeh atau bahkan merendahkan sesuatu lainnya. Tetapi tidak, bukan
itu sejatinya maksudku. Aku hanya penasaran, lelaki paruh baya penjual soal itu
menawarkan sesuatu yang berbeda dari sekian penjual soal yang pernah
menghampiriku dan mengiraku sebagai salah satu dari sekian pendaftar kampus ini
hanya karena aku sering berkeliaran pada hari libur.
Aku mencari
lelaki paruh baya itu; di antara sekian banyak manusia yang datang ke kampus
hari ini.
Mataku sibuk
mengamati orang-orang yang berlalu-lalang; para penjual soal―yang kini terlihat
lebih gigih lagi―dan para pendaftar, yang sepertinya tak cukup peduli dengan
kehadiran mereka. Adalah sebuah kewajaran, mengingat harga yang dibanderol
untuk satu paket soal yang hanya lembaran fotokopian itu hanya beda tipis
dengan harga satu buku cetak latihan soal yang telah dilengkapi CD simulasi,
kunci jawaban, dan pembahasan.
Para penjual
soal itu terus mendesak, menawarkan barang dagangannya yang lagi-lagi hanya
mendapat pengabaian dari calon-calon mahasiswa. Mungkin ada beberapa yang
terpaksa membeli karena iba, dan itu sudah cukup membuat mereka bahagia. Bisa
jadi, uang itu menjadi hidupnya sehari itu.
Langkahku kian
menapak. Aku tidak menemukannya, lelaki penjual soal itu. Seharusnya ini tidak
terjadi. Seharusnya ia datang ke kampus hari ini. Padahal ini adalah hari yang
penting mengingat esok seleksi ujian masuk akan dilaksanakan. Kau tahu maksudku,
itu berarti hari ini adalah hari terakhir bagi mereka, para penjual soal, untuk
mengais rezeki dari para calon mahasiswa baru.
Pencarianku terhenti manakala kakiku sampai di jajaran
kantin untuk mahasiswa. Aku memutuskan untuk menyerah dan melangkah masuk ke
dalam kantin. Di hari libur seperti ini, kantin-kantin yang serupa jajaran kios
itu biasanya tutup, kecuali satu kantin yang disebut-disebut memiliki menu soto
terenak. Aku mendaratkan diriku di salah satu bangku yang masih kosong setelah
memesan semangkuk soto ketika sayup-sayup terdengar seseorang tengah berceloteh
tentang berbagai macam teori Ekonomi, yang lantas membuat telingaku sedikit
sensitif karena aku adalah mahasiswa Ekonomi.
Bola mataku memutari segala sisi. Mencari asal suara itu.
Di tengah-tengah keramaian, dua meja jaraknya dari sebelah kiriku, aku
mendapati dua orang laki-laki tengah serius mengobrol sambil tertawa-tawa.
Kalau saja samar-samar aku tak mendengar apa yang mereka bicarakan, jelas aku
tak akan mengira mereka tengah membicarakan teori-teori Ekonomi yang menguras
otak itu. Bagaimana mungkin membicarakan teori-teori yang banyak membutuhkan
penalaran bisa dilakukan sambil tertawa-tawa?
Aku diam-diam mengamati keduanya. Tampak jelas di mataku
dua figur lelaki itu. Satunya terlihat lebih muda, sedang asyik menyimak
pemaparan teori Ekonomi serta rumus-rumusnya dari lelaki di hadapannya.
Sementara lelaki yang lebih tua itu, berkacamata minus, tampak sibuk
mencorat-coret sesuatu di atas kertas. Mereka lebih serupa kakak-adik daripada
jika disebut ‘pengajar-pembelajar’.
Pesananku datang. Dan laki-laki itu dengan fasih
menjelaskan kepada sosok lebih muda di hadapannya tentang permasalahan ekonomi
makro dan kebijakan yang diambil pemerintah untuk mengatasinya. Aku masih terus
mendengarkan sampai lelaki pengajar itu menyebut-nyebut soal MEA. Ya,
Masyarakat Ekonomi ASEAN di penghujung 2015 yang memungkinkan adanya perdagangan
bebas antara negara-negara ASEAN. MEA menjadi isu yang amat penting bagi
Indonesia untuk turut serta mengembangkan diri dalam sektor perekonomian
melalui perdagangan bebas; mencakup SDM atau tenaga kerja, arus barang dan
jasa, arus modal, dan hal lainnya yang terkait.
“Kamu tahu, ini bisa menjadi semacam bahaya bagi
Indonesia ketika kita sebagai warga negara tidak siap akan itu,” lelaki
pengajar berujar, setelah mengurai panjang perihal MEA yang disimak dengan baik
oleh lelaki pembelajar―juga aku.
Perlahan populasi manusia di kantin ini berkurang, memperbesar
ruang dengarku terhadap perbicangan kedua lelaki itu.
“Lalu bagaimana caranya supaya kita siap?”
“Kalau boleh kubilang, ini bisa jadi semacam lingkaran
setan. Nilai rupiah merosot tajam. UKM sulit berkembang. Parahnya lagi,
kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah kita tidak banyak membantu.”
“Kak, we are in 2015 now! Jadi bagaimana bisa kita
menghadapi hal-hal semacam itu dengan kondisi seperti ini? Mungkin ini
terdengar pesimistik, tapi apakah tenaga kerja kita, SDM kita mampu bersaing
dengan mereka yang berasal dari negara lain?!”
Alih-alih menjabarkan teori-teori ekonomi dan
rumus-rumusnya itu, mereka sekarang lebih terdengar seperti sedang berdiskusi.
“Apa jawabanmu?”
“Aku tidak terlalu yakin. Itu saja.”
“Begini...” lelaki berkacamata minus itu mendehem sejenak
sebelum melanjutkan, “kita memang tidak bisa dikatakan seratus persen siap.
Tetapi, masih ada waktu untuk mengembangkan diri. Paling tidak, kita perlahan
bisa mengubah satu hal, dari segi SDM.”
Lelaki yang lebih muda itu antusias, tampak tertarik dan
tidak sabar menunggu kalimat-kalimat yang akan dilontarkan lawan bicaranya.
“Kita bisa memperbaiki kualitas SDM kita sedikit demi
sedikit, meskipun kelihatannya sangat mustahil tanpa kesadaran dari orang
banyak juga pemerintah. Mereka perlu mengembangkan skill yang mereka
punya, mendorong untuk berinovasi, dan yang paling sederhana namun cukup
penting adalah kemampuan berkomunikasi dengan bahasa internasional.”
“Tidak mudah untuk masuk ke ranah itu, Kak!”
Laki-laki yang lebih tua itu bangkit, disusul yang lebih
muda kemudian.
“Kita bisa melakukannya melalui jalan pendidikan dan
pemberdayaan, dan itu tidak harus dilakukan di sekolah formal mengingat sasaran
kita tidak hanya generasi muda.”
Adalah kalimat itu yang terakhir kudengar, sebelum lelaki
yang lebih muda itu menyuarakan sesuatu yang entah apa. Pandangan mataku
terfokus ke satu titik, ketika lelaki berkacamata minus dengan kemeja biru tua
itu mengangkat tumpukan sesuatu dengan sebelah lengannya dan berjalan persis
melewati mejaku.
Lelaki itu... penjual soal?
* * *
Aku memang memutuskan untuk menyerah saja setelah tak
menemukan lelaki paruh baya kemarin itu. Sementara kali ini aku justru
dikejutkan dengan kehadiran orang baru. Lelaki penjual soal, yang juga bisa
kubilang terlihat berbeda dengan para penjual soal lainnya, termasuk lelaki
paruh baya itu. Sedikit aneh jika seorang penjual soal berbicara tentang
berbagai macam teori Ekonomi dan permasalahan riil yang terjadi sama mahirnya
dengan bicara dosenku di ruang perkuliahan.
Itulah mengapa aku juga penasaran pada laki-laki paruh
baya kemarin yang ternyata tak hanya menjual soal, tapi juga menawarkan privat
khusus untuk membahas soal-soal yang dijualnya. Tak hanya itu, ada hal lain
yang lebih krusial daripada sekadar penawaran privat khusus yang
diberikannya. Lalu laki-laki ini, yang membuatku terengah-engah berlari
mengejarnya karena teledor meninggalkan kunci motornya di meja kantin juga
menarik rasa penasaranku.
“Mencari ini?” aku mengacungkan kunci motornya di udara
ketika ia tengah sibuk merogoh-rogoh saku mencarinya.
“Eh?” Mata laki-laki itu berbinar, nampak lega.
“Kamu meninggalkannya di meja.”
“Ah, ya... Aku tidak sadar telah melakukan itu. Terima
kasih,” ujarnya sesaat setelah menerima uluran kunci motor itu dari tanganku.
“Uhm, itu apa? Paket soal?” aku memberanikan diri
bertanya, di samping pura-pura tidak tahu.
“Iya. Paket soal yang kujual,” ia memburaikan senyum.
“Dan yeah, bonus privat untuk pembelinya.”
* * *
Aku tidak memberitahu Al―lelaki penjual soal yang fasih
berbicara teori Ekonomi itu―bahwa aku akan datang ke komunitasnya hari ini. Di
ujung pertemuan kami kemarin, ia bercerita panjang lebar tentang komunitas
jalanan yang dibinanya. Aku juga tidak menyangka kami akan berbicara banyak hal
seperti itu. Al hanya menyuruhku datang kapan pun aku memiliki waktu luang.
Pikirnya ia membutuhkan banyak relawan untuk komunitas itu dan barangkali aku
bersedia membantu.
Al tertawa mendengar pengakuanku bahwa aku tak sengaja
mendengarkan semua pembicaraannya di kantin hanya karena telingaku teramat
sensitif jika mendengar teori-teori Ekonomi, sementara aku lebih terkejut lagi
saat mengetahui bahwa seorang calon sarjana Teknik Elektro ternyata mampu
berbicara banyak hal mengenai Ilmu Ekonomi.
Aku bertanya mengapa ia perlu repot-repot menjadi penjual
soal, yang kemudian dijawabnya dengan senyuman kecil. “Seorang lelaki paruh baya
melakukan seperti kamu lakukan. Menjual soal dan menawarkan privat khusus. Ia
menghampiriku kemarin dan aku tidak sempat bertanya banyak hal tentang itu.”
“Oh ya? Kamu bertemu dengannya hari ini?”
Aku menggeleng. “Aku mencarinya tapi sepertinya ia tidak
datang. Padahal, bukankah ini adalah hari terpenting bagi para penjual soal?”
Al mengangguk, sebelum akhirnya ia berkelakar, “Mungkin
ia takut bersaing denganku.”
Aku menjejakkan kaki turun begitu bus mini yang
kutumpangi melipir ke sisi trotoar. Mataku sibuk menerawang ke segala sisi. Ada
banyak perkumpulan di sepanjang trotoar nol kilometer Yogyakarta ini. Perkumpulan
mana yang merupakan komunitasmu, Al?
Aku terus berjalan sambil mengamati masing-masing orang dalam
perkumpulan-perkumpulan itu. Aku mencari sosok Al, satu-satunya orang yang akan
menjadi kunci perhentianku. Mungkin aku akan terus mencari, menyusuri sepanjang
trotoar ini, kalau mataku tidak tiba-tiba menangkap sosok yang amat kukenal
berada dalam salah satu perkumpulan itu.
“Pak!” aku berseru tertahan, berjalan cepat ke arah
lelaki paruh baya penjual soal yang pernah kutemui beberapa hari lalu itu. Aku
tak memedulikan pandangan orang-orang yang ada di sekitarnya yang tampak heran
saat aku memanggil lelaki itu.
Lelaki itu tak mengenaliku, tentu saja. Atau lebih
tepatnya, sulit mengenaliku.
“Mbak siapa?” salah seorang lelaki, yang usianya
kemungkinan setara dengan bapak penjual soal itu bertanya padaku.
“Siapa?” kali ini lelaki penjual soal itu yang bersuara.
“Saya mahasiswa yang kemarin Bapak tawari paket soal
ujian masuk kampus itu, Pak,” jawabku. “Bapak ingat?”
Lelaki itu terdiam untuk beberapa saat, kemudian
mengangguk-angguk sebelum mengatakan, “Oh iya, saya ingat.”
Aku pun duduk bersimpuh, melupakan tujuan awalku
mendatangi komunitas Al. Lelaki penjual soal itu bercerita banyak hal; hidupnya
yang sebatang kara, kecelakaan parah yang menjadikannya seperti sekarang,
perubahan profesinya dari tukang becak menjadi penjual koran dan soal-soal,
termasuk tentang perkumpulan yang diikutinya bersama sejumlah lelaki dan
perempuan lain yang ada di sana.
Aku bisa kapan saja datang ke komunitas Al, tapi bertemu
laki-laki penjual soal ini... aku tidak bisa memastikan kapan bisa bertemu
dengannya lagi. Lagi pula, di kartu nama yang diberikan Al sudah tertera nomor
ponselnya dan aku isa menghubunginya lain kali.
“Jadi, seseorang membentuk komunitas ini untuk
memberdayakan kami. Membina agar skill kami berkembang, membantu
mengusahakan perbaikan perekonomian bagi kami,” lelaki penjual soal itu
menjelaskan.
“Ia mendorong kami untuk berwirausaha, memberikan saran
produk atau jasa yang bisa kami jual atau ambil, dan berinovasi,” imbuh seorang
perempuan yang sehari-harinya mengaku berprofesi sebagai pengamen.
“Komunitas ini masih muda, baru sekitar empat bulan lalu
kami pertama kali dikumpulkan. Tetapi kemudian banyak orang yang datang
mengajari kami berbagai hal, termasuk berbicara dengan bahasa Indonesia yang
baik dan benar serta sedikit demi sedikit percakapan dalam bahasa Inggris,”
seseorang lainnya bersuara.
Aku tidak bisa berhenti mengagumi mereka. Ternyata
rasanya memang berbeda jika kita bisa melihat langsung kerasnya kehidupan di
jalanan.
“Ya, katanya bahasa Inggris itu sangat perlu untuk kita
mencari pekerjaan ke depannya. Mbak bisa bayangkan kami-kami yang sudah tua ini
harus menghafal 5 kosakata dalam bahasa Inggris setiap harinya,” kini lelaki
penjual soal yang kembali berbicara. “Oh ya, sepertinya Mbak ragu ya saya bisa
memberikan privat khusus itu?”
Aku menelan ludah. Bagaimana lelaki ini bisa tahu?
“Mbak sampai perlu bertanya kepada saya kemarin itu,”
katanya lagi.
Orang-orang menyebutnya awkward moment, dan
kini aku mengalaminya. Seseorang bisa menebak apa yang kupikirkan dan aku tidak
bisa mengelak.
“Itu sebenarnya hanya spontan terucap, Mbak. Habisnya
seharian berjualan hanya laku 3 paket saja. untungnya Mbak mahasiswa, saya
nggak tahu deh kalau Mbak beneran mau beli dan minta di-privat. Bisa jadi saya minta
Mas Al untuk datang dan privat ke Mbak,” lelaki paruh baya itu tertawa.
“Nah, ini Mbak, orangnya datang,” seorang ibu memberitahu.
Aku lantas menoleh ke belakang. Dalam jarak satu setengah meter ke arah kami,
lelaki itu tampak tidak kaget ada aku di komunitas ini―komunitasnya.
Al mengucap salam dan meminta maaf atas keterlambatannya.
Ia beralih ke arahku yang masih terlihat sedikit shock sambil tersenyum
dan berkata, “Kemarin kamu bertanya mengapa aku harus repot-repot menjadi
penjual soal dan tidak memilih pekerjaan paruh waktu lainnya, jawabannya karena
aku menggantikan ayah angkatku―seseorang yang kamu cari. Aku sengaja menawarkan
privat khusus untuk sekadar menarik pembeli, yang akhirnya malah kamu dengar
lebih seperti diskusi karena bahasan kami berujung pada solusi untuk menghadapi
Masyarakat Ekonomi ASEAN.”
Aku masih belum mengatakan apa pun sampai ia kembali
melanjutkan, “Kalau kamu merasa aneh mengapa sarjana Teknik Elektro sepertiku
mahir berbicara banyak hal tentang teori Ekonomi dan permasalahannya, itu
karena aku tengah bergelut di dalamnya―di komunitas ini. Ingat saat aku
mengatakan bahwa kita harus menyiapkan warga negara ini agar mampu bersaing
dalam MEA? Ini adalah solusi yang kutawarkan, satu-satunya hal yang bisa
kulakukan dalam peranku sebagai mahasiswa, generasi muda negeri ini. Mungkin
terlihat sederhana, tapi tidak sesederhana ketika kamu melakukannya.”
Tenggorokanku tercekat. Kepingan puzzle itu kini
tersusun sempurna. Membuatku bahagia dan amat malu pada saat yang sama. Bahagia
karena aku dipertemukan dengan orang-orang dalam komunitas ini, dan malu karena
mahasiswa Ekonomi sepertiku tidak tanggap terhadap permasalahan Ekonomi yang kemungkinan
bisa mengancam negerinya sendiri. Aku malu pada Al, pada orang-orang dalam
komunitas ini, lebih-lebih pada lelaki paruh baya penjual soal itu yang untuk
berjalan saja ia harus tertatih mengingat kecelakaan besar yang menjadikannya sebagai
seorang―uhm―tunanetra.
Dan yang paling tinggi, aku malu pada Tuhan atas
ke-’diam’-an dalam kesempurnaan ini.
* * *
*Diikutsertakan dalam Lomba
Menulis Cerpen dengan tema “Peran Mahasiswa dalam Menghadapi MEA” -- Pekan
Menulis BEM FAI UMY beberapa bulan lalu.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBagus fi ....banyak pelajaran yg bisa d ambil. Juara brpa?
BalasHapusMakasih, Mbak Lia~ ^ ^
HapusJuara 1, alhamdulillah.