Pages

Sabtu, 12 Maret 2016

[Book Review] Ayat-Ayat Cinta 2 by Habiburrahman El Shirazy




Judul: Ayat-Ayat Cinta 2
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Republika
Terbit: Cetakan VI, Desember 2015
Tebal: vi+698 halaman
ISBN: 978-602-0822-15-0

Jauh dari hiruk pikuk Kota Mesir dan menara-menara masjid yang bertebaran di atasnya, Fahri kini telah berada di daratan Eropa. Tepatnya di Edinburgh, Skotlandia. Kehidupan Fahri di Britania Raya itu sangatlah sibuk. Selain mengajar di The University of Edinburg, Fahri juga aktif menelurkan karya berupa jurnal-jurnal ilmiah berskala internasional serta mengurus jaringan bisnisnya yang dirintis bersama Aisha dan telah tersebar di berbagai kota. Ia didampingi lelaki Turki yang dipanggilnya sebagai Paman Hulusi yang dengan setia mengantar ke mana pun majikannya itu ingin pergi.
Segala kesibukan itu ternyata cukup beralasan. Fahri menjadikan segala aktivitasnya sebagai pengalihan atas usahanya melupakan Aisha yang kini tak lagi bersamanya. Aisha hilang dalam sebuah perjalanan bersama Alicia di Palestina. Fahri telah mengerahkan segala upaya untuk mencari istrinya itu, namun nihil. Sebaliknya kabar buruk justru menyatakan bahwa Alicia telah ditemukan meninggal dalam kondisi mengenaskan di Hebron.
Lebih dari dua tahun lamanya Fahri menunggu. Kabar mengenai istrinya tersebut tak juga datang. Sementara itu, berbagai pihak mendesaknya untuk segera mencari pengganti Aisha. Salah satunya datang dari Syaikh Utsman, guru talaqqi-nya yang dahulu menyaksikan proses ta’aruf-nya dengan Aisha. Guru besar yang amat dihormati Fahri itu memintanya untuk menikahi cucunya—yang amat sulit untuk Fahri tolak. Juga Ozan, sepupu Aisha sekaligus rekan bisnisnya yang memintanya untuk menikahi Hulya, adiknya.
Di sisi lain, Fahri juga dihadapkan pada tantangan dakwah dan kehidupan bertetangga di kompleks Stoneyhill Grove yang menjadi tempat tinggalnya. Sebagai seorang Muslim sejati, Fahri berusaha memperbaiki cara pandang orang-orang yang berinteraksi dengannya terkait Islam. Namun demikian, itu bukanlah hal yang mudah. Ia dihadapkan pada kelakuan-kelakuan sinis kedua anak Nyonya Janet, tetangganya, yang amat membenci Islam.
Fahri tidak menyerah. Apa pun dilakukannya untuk membina hubungan harmonis dengan tetangganya; membantu Nenek Catarina yang Yahudi, mencatat nomor taksi yang mencuri dompet Brenda, sampai membiayai kedua anak Nyonya Janet untuk meraih cita-citanya. Fahri juga aktif dalam gerakan kemanusiaan. Ia menyelamatkan Sabina, seorang muslimah yang mengemis dan hidup di jalanan.
Demi melihat keteguhan dan keberanian Sabina dalam membela Rasulullah ketika nama beliau dicela, Fahri pun memiliki alasan untuk menikahi wanita itu. Lagi pula, semua orang berpikiran bahwa sudah saatnya ia kembali menyempurnakan separuh agamanya. Tak disangka, wanita berwajah buruk dan bersuara serak itu menolaknya dan malah menyarankan ia menikah dengan Hulya.
Apakah Fahri menerima saran tersebut?
Ketika kerap kali Sabina terlihat menangis menyadari apa yang dilihat dan didengarnya tetang Fahri, sebenarnya apa yang disimpan wanita itu?
Temukan jawabannya di 698 halaman Ayat-Ayat Cinta 2!!!
Yah, sebelumnya maafkan atas ke-absurd-anku dalam menulis sinopsisnya. Aku nggak jago nulis sinopsis, anyway. Kalau diceritakan terlalu detail malah jadi spoiler nanti, hehe. Dan mungkin, review ini juga nggak kalah absurd-nya. Maafkan ya, hehe.
Oke, kemarin aku sempat menulis bagaimana AAC 1 mempengaruhi hidupku dan membantuku melewati masa remaja dengan benar di sini. Siapa yang bakal percaya kalau buku yang kubaca 9 tahun lalu itu baru kubaca lanjutannya sekarang? Kalau dulu ketika membacanya aku masih belum tahu apa-apa, sewaktu membaca AAC 2 paling tidak aku dalam keadaan sedikit tahu banyak hal. Mungkin AAC 2 memang tidak seperti yang kubayangkan, karena aku mengira setting-nya bakal di Indonesia. Tapi mengambil setting di Edinburgh juga tak kalah menariknya. Penggambaran Kang Abik soal kota itu tak perlu diragukan lagi, sangat detil. Kamu akan diajak menjelajahi setiap sudutnya, membayangkan bangunan-bangunan klasik yang ada di atasnya sembari menikmati musim yang tengah berlangsung pada saat itu.
Lalu, aku kembali dibuat jatuh cinta pada tokoh Fahri. My first ex-crush sebagai tokoh fiksi (haha apa banget deh ya wkwkwk). Sukaaa banget cara dia merespon berbagai hal; entah itu gerak tubuhnya, kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya. Dialog-dialog yang diucapkan Fahri serasa tepat, ngalir. Jokes yang dilontarkannya juga ‘masuk’. Kalau kamu benar-benar menghayati sewaktu membacaya, kamu akan merasa Fahri di sini berbeda dengan Fahri di Ayat-Ayat Cinta sebelumnya. Ia lebih dewasa, kebapakan, dan berwibawa. Ya tentu, ini sangat sesuai mengingat apa pekerjaan dan posisinya, sedang Fahri dalam AAC 1 lebih seperti anak muda yang pintar, supel, dan karismatik. Sementara itu, sebagian besar tokoh dalam Ayat-Ayat Cinta 2 ini adalah orang-orang baru, meski ada beberapa kali kemunculan tokoh lama seperti Syaikh Utsman (favorit banget waktu Fahri ketemu Syaikh Utsman), Nurul Azkia, Mishbah, dan lain-lain.
Banyak hal yang bikin greget dalam novel ini. Kang Abik dengan piawai menghadirkan permasalahan-permasalahan yang terjadi di dunia Islam berikut solusi-solusinya melalui pemikiran dan perilaku para tokohnya. Isu-isu terkait antaragama, pluralisme, juga dijelaskan secara gamblang. Apalagi mengenai konsep amalek. Semua itu merupakan hal baru yang kudapatkan usai membacanya. Dan untuk mengetahui banyak hal seperti itu mungkin kita harus melahap berbagai jenis buku yang berbeda. Tapi dalam Ayat-Ayat Cinta 2 kita bisa mendapatkan semuanya, lengkap dengan berbagai pemikiran ulama juga dalil yang kuat.
Membaca Ayat-Ayat Cinta 2 seperti menghadiri kuliah Perbandingan Agama, Fiqh Muamalah, Tafsir, Hadits—karena kamu akan pelan-pelan diajak untuk belajar itu semua. Dan yang tak kalah pentingnya kita benar-benar bisa berkaca, bagaimana seharusnya menjadi seorang Muslim sejati. Muslim yang mencintai Tuhannya, Rasulnya, dan sesama yang tercermin dalam perilaku tokoh-tokohnya.
Dan karena novel ini bercerita soal kehidupan laki-laki dewasa yang berumah tangga, maka secara tidak langsung kamu akan seolah-olah seperti mengikuti seminar pranikah. Haha. Itu bagian yang paling bikin baper, sejujurnya. Entah kenapa sewaktu membacanya aku lebih banyak memiliki perasaan Aisha, sekalipun Aisha tidak hadir di sana. Aku merasakan bagaimana cemburunya menjadi Aisha. Aku greget pada Hulya yang terlalu agresif pada Fahri meskipun sebenarnya Aisha tidak akan seperti itu. Tentu saja, bagian kisah rumah tangga Fahri ini menjadi bagian yang paling menguras perasaan.
Di sisi lain, Kang Abik banyak menyisipkan tamparan-tamparan halus yang akan membuatmu banyak berpikir, dan tentu saja merasa itu adalah hal yang sangat ironis. Seperti ketidakbisaan Fahri menyangkal argumen Profesor Charlotte yang menyatakan bahwa sekalipun ia sudah menamatkan Kitab Tafsir Ibnu Katsir, tapi itu tak lantas membuatnya tertarik untuk masuk Islam melihat kondisi umat Islam saat ini tidak bisa membuatnya simpati. Sangat jauh dari tuntunan Islam yang penuh cahaya.
Intinya, banyak hal yang akan kamu dapatkan seusai membaca novel ini. Tidak hanya pengetahuan umum, tapi juga pengetahuan agama yang sangat mendalam namun dalam bahasa sastra yang mudah dipahami. Novel yang sangat ‘berani’, yang menggandeng kecerdasan pikir penulisnya. A must read!
“... itu semua rasanya sama jika di dalam dada ada Tuhan. Yang memiliki Tuhan dan disertai Tuhan, ia akan terus merasa bahagia.”
---Sabina kepada Nyonya Janet dalam Ayat-Ayat Cinta 2, halaman 407



4 komentar:

  1. Assalamu'alaykum wr wb

    Afwan ukh,
    Setalah baca review-nya, ana tertarik dan ingin mempublishnya di mading kampus.
    Ana minta izin penulis agar berkenan tulisannya ini kami publish, tepatnya di FORSIS-ITS.

    a.n Suhartono

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alayakumussalaam.

      Iya, silakan :) kalau bisa dicantumkan sumbernya dan saya minta dokumentasi foto pemuatannya dikirimkan via twitter, ke @evnayasofia :) terima kasih.

      Hapus
    2. Baik,
      pekan kedua insyaaAllah.
      via fb bagaimana?

      Hapus

Komen, yuuuk ;))