Dua hari kemarin, aku turut memantau informasi terkait #AksiBelaQuran
4 November 2016. Mulai dari persiapan umat Muslim yang akan melakukan aksi
hingga akhirnya aksi tersebut berakhir. Pun para ulama yang tengah berada di
tengah ratusan ribu umat Muslim dari berbagai daerah di seluruh Indonesia itu
pun secara aktif melaporkan perkembangan di lapangan. Juga akun-akun organisasi
masyarakat Islam melakukan semacam live report.
Hati siapa yang tidak tersentuh melihat ratusan ribu umat
Muslim yang bersatu padu menyuarakan aspirasi untuk membela kitab-Nya? Jauh dari
apa pun, itu sungguh peristiwa paling heroik yang pernah aku lihat terjadi di
negeri ini.
Al-Qur’an adalah pandangan hidup kami. Al-Qur’an adalah
pedoman kami dalam menentukan langkah. Al-Qur’an adalah yang kami harapkan akan
melindungi kami dari terik matahari dalam jengkal tangan di Padang Mahsyar
kelak. Lantas ketika ia dihinakan, tidak ada alasan untuk kami tidak bergerak.
Aku tahu, dalam kapasitasku yang serba terbatas ini, aku
adalah yang tidak turut serta dalam aksi tersebut. Tapi pun seandainya Allah
izinkan, maka alangkah bahagianya jika bisa berjuang bersama para ulama di
sana. Beruntunglah mereka yang Allah mampukan untuk turut memperjuangkan
agama-Nya di sana. Beruntunglah mereka yang Allah gerakkan hati dan langkahnya
untuk sampai di sana.
Namun demikian, betapa diri ini malu karena yang aku lakukan
ini barangkali adalah selemah-lemah iman. Banyak hal yang membuatku maju
muundur, dan
aku tidak tahan untuk tidak menulis ini. Hingga akhirnya kumantapkan hati,
kumohon petunjuk dan bimbingan Allah, agar aku paling tidak bisa melakukan satu
hal kecil untuk membela-Nya.
Adalah suatu hal, ketika pada akhirnya #AksiBelaQuran tersebut
mengundang kontroversi; pro, dan kontra yang bahkan dari kalangan umat Muslim
sendiri. Ketika sebagian besar ulama bersatu dalam sikap untuk menyuarakan
aspirasi agar kasus penistaan Al-Qur’an itu diproses sesuai hukum, ketika itu
merupakan sebuah aksi untuk membela pedoman hidup kita sebagai Muslim, dan yang
paling penting ketika yang melakukan aksi itu adalah para ulama dengan
kapasitas keilmuan yang sebaiknya dijadikan rujukan pendapatnya dalam mengambil
hukum, mengapa kita tidak percaya? Mengapa harus berseberangan pendapat
dengan mereka?
Sedang kita tidak tahu apa-apa, sedang pemahaman kita
terhadap agama sangatlah minim, sedang untuk membaca Al-Qur’an saja kita masih
sering malas, sedang hati kita penuh dengan kedengkian, lalu di mana letak kepantasan kita
untuk berpendapat berseberangan dengan para ulama?
Mereka, para ulama, adalah orang-orang dengan kapasitas keilmuan
yang jelas. Hafal Al-Qur’an, paham hadits, menguasai fiqh, yang ibadahnya
selalu terjaga, yang lisannya tak pernah mengucapkan dusta, lantas kapasitas
apa yang kita miliki untuk berlainan sisi dengan mereka? Mengapa kita tidak
juga percaya?
Aku pribadi tidak memiliki kapasitas apa pun dalam hal ini,
hanya saja sesuatu yang kutahu sedikit ini menggerakkan hatiku untuk
menyampaikan hal yang menurutku benar. Bahwa segala persoalan sejatinya harus
dikembalikan pada Al-Qur’an. Allah swt. berfirman:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ
مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ
فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا
جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ
شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا
آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا
فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Artinya: Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an
dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab
(yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu;
maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang
telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan
aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu
dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap
pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada
Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah
kamu perselisihkan itu. (QS. Al-Ma’idah: 48).
Lalu siapa yang paham akan Al-Qur’an? Siapa yang mengerti
tafsir Al-Qur’an? Maka jawabannya adalah para ulama. Ustadz Nuzul Dzikri, Lc.
dalam sebuah kelas pembelajaran Bimbingan Islam menyampaikan bahwa
permasalahan-permasalahan besar sebaiknya dikembalikan pada ulama. Allah swt.
berfirman:
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ
مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ
وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ
وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلا
قَلِيلا
Artinya: Dan apabila datang kepada mereka suatu berita
tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka
menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah
orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya mengetahuinya dari mereka .
Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu
mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja. (QS. An-Nisaa’: 83) .
Maka, dalam hal #AksiBelaQuran, bagaimana mungkin kita berseberangan
pendapat dengan para ulama yang sehari-harinya penuh kedekatan dengan Al-Qur’an?
Tidakkah kita dengan kapasitas keilmuan yang minim ini percaya pada mereka yang
‘alim?
Waallahu ‘alam bisshawab.
—catatan kegelisahan seorang
pembelajar,
aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))