Pages

Sabtu, 05 November 2016

#AksiBelaQuran: Mengapa Tidak Percaya pada Ulama?

Dua hari kemarin, aku turut memantau informasi terkait #AksiBelaQuran 4 November 2016. Mulai dari persiapan umat Muslim yang akan melakukan aksi hingga akhirnya aksi tersebut berakhir. Pun para ulama yang tengah berada di tengah ratusan ribu umat Muslim dari berbagai daerah di seluruh Indonesia itu pun secara aktif melaporkan perkembangan di lapangan. Juga akun-akun organisasi masyarakat Islam melakukan semacam live report.

Hati siapa yang tidak tersentuh melihat ratusan ribu umat Muslim yang bersatu padu menyuarakan aspirasi untuk membela kitab-Nya? Jauh dari apa pun, itu sungguh peristiwa paling heroik yang pernah aku lihat terjadi di negeri ini.

Al-Qur’an adalah pandangan hidup kami. Al-Qur’an adalah pedoman kami dalam menentukan langkah. Al-Qur’an adalah yang kami harapkan akan melindungi kami dari terik matahari dalam jengkal tangan di Padang Mahsyar kelak. Lantas ketika ia dihinakan, tidak ada alasan untuk kami tidak bergerak.

Aku tahu, dalam kapasitasku yang serba terbatas ini, aku adalah yang tidak turut serta dalam aksi tersebut. Tapi pun seandainya Allah izinkan, maka alangkah bahagianya jika bisa berjuang bersama para ulama di sana. Beruntunglah mereka yang Allah mampukan untuk turut memperjuangkan agama-Nya di sana. Beruntunglah mereka yang Allah gerakkan hati dan langkahnya untuk sampai di sana.

Namun demikian, betapa diri ini malu karena yang aku lakukan ini barangkali adalah selemah-lemah iman. Banyak hal yang membuatku maju muundur, dan aku tidak tahan untuk tidak menulis ini. Hingga akhirnya kumantapkan hati, kumohon petunjuk dan bimbingan Allah, agar aku paling tidak bisa melakukan satu hal kecil untuk membela-Nya.

Adalah suatu hal, ketika pada akhirnya #AksiBelaQuran tersebut mengundang kontroversi; pro, dan kontra yang bahkan dari kalangan umat Muslim sendiri. Ketika sebagian besar ulama bersatu dalam sikap untuk menyuarakan aspirasi agar kasus penistaan Al-Qur’an itu diproses sesuai hukum, ketika itu merupakan sebuah aksi untuk membela pedoman hidup kita sebagai Muslim, dan yang paling penting ketika yang melakukan aksi itu adalah para ulama dengan kapasitas keilmuan yang sebaiknya dijadikan rujukan pendapatnya dalam mengambil hukum, mengapa kita tidak percaya? Mengapa harus berseberangan pendapat dengan mereka?

Sedang kita tidak tahu apa-apa, sedang pemahaman kita terhadap agama sangatlah minim, sedang untuk membaca Al-Qur’an saja kita masih sering malas, sedang hati kita penuh dengan kedengkian, lalu di mana letak kepantasan kita untuk berpendapat berseberangan dengan para ulama?

Mereka, para ulama, adalah orang-orang dengan kapasitas keilmuan yang jelas. Hafal Al-Qur’an, paham hadits, menguasai fiqh, yang ibadahnya selalu terjaga, yang lisannya tak pernah mengucapkan dusta, lantas kapasitas apa yang kita miliki untuk berlainan sisi dengan mereka? Mengapa kita tidak juga percaya?

Aku pribadi tidak memiliki kapasitas apa pun dalam hal ini, hanya saja sesuatu yang kutahu sedikit ini menggerakkan hatiku untuk menyampaikan hal yang menurutku benar. Bahwa segala persoalan sejatinya harus dikembalikan pada Al-Qur’an. Allah swt. berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Artinya: Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS. Al-Ma’idah: 48).

Lalu siapa yang paham akan Al-Qur’an? Siapa yang mengerti tafsir Al-Qur’an? Maka jawabannya adalah para ulama. Ustadz Nuzul Dzikri, Lc. dalam sebuah kelas pembelajaran Bimbingan Islam menyampaikan bahwa permasalahan-permasalahan besar sebaiknya dikembalikan pada ulama. Allah swt. berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلا قَلِيلا

Artinya: Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya mengetahuinya dari mereka . Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja. (QS. An-Nisaa’: 83) .

Maka, dalam hal #AksiBelaQuran, bagaimana mungkin kita berseberangan pendapat dengan para ulama yang sehari-harinya penuh kedekatan dengan Al-Qur’an? Tidakkah kita dengan kapasitas keilmuan yang minim ini percaya pada mereka yang ‘alim?

Waallahu ‘alam bisshawab.

—catatan kegelisahan seorang pembelajar,
aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))