Pages

Selasa, 08 November 2016

Pembelajaran dari Masa Lalu

“Why are you interested to old people?”

Pertanyaan itu muncul tiba-tiba. Aku terhenyak, sedikit tak menyangka bahwa seseorang akan bertanya demikian. Aku mampu menjawab dengan baik bila yang bertanya adalah orang lain. Aku akan dengan mudah mengatakan bahwa ketertarikanku pada orang-orang lanjut usia awalnya adalah sebatas urusan akademik; tertarik untuk mengetahui permasalahan mereka sehingga aku bisa mengangkatnya menjadi sesuatu yang bisa kutulis dalam skripsi.  

Namun yang bertanya kali ini bukan orang lain, tetapi laki-laki tua itu, yang merupakan salah seorang dari sekian residen di balai pelayanan sosial lansia tersebut. Dan mengalami suatu masa yang kusebut pembelajaran selama tiga bulan di balai pelayanan tersebut, aku sungguh tidak bisa mengatakan bahwa ketertarikanku semata-mata hanya urusan akademik. Jauh daripada itu, aku menemukan banyak hal, termasuk ketertarikan itu sendiri.

Aku mulai bisa mengidentifikasi bahwa ketertarikan yang berdampak pada pengharapanku akan suatu hal sebenarnya bukan ketertarikan sejati. Dalam artian, jika aku berharap sesuatu maka berarti aku tidak ikhlas dalam menjalankan tugas, sampai akhirnya minggu pertamaku di sana itu benar-benar membuatku berpikir bahwa banyak hal yang menunggu untuk diselesaikan. Ada banyak persoalan yang butuh untuk ditangani. Pelan-pelan, hal itu mengubahku bahwa semua itu bukan semata-mata soal akademis, bukan semata-mata soal nilai, akan tetapi lebih daripada itu ini soal kepedulian.  

Jadi, dengan Bahasa Inggris-ku yang terbata aku pun mengatakan, “It because I can learn many things, from you and from all of the people here.”

“What things?”

“Many things; life lessons, history of our country that I didin’t know and hard for me to remember, wisdom, and how to survive and break the limits.”

Yeah, but you have to know that we came from different background stories; educational background, family, and status. And what we get today is what we did in the past. Apa yang kita alami di masa tua adalah hasil dari apa yang kita lakukan sewaktu muda. Kalau masa tua penuh kepayahan, mudah sakit, itu masa mudanya gimana?”

Aku tersentak. Itu seperti kata pepatah, bahwa apa yang kita tanam maka itu pulalah yang akan kita tuai. Laki-laki tua itu lalu kemudian menjelaskan bahwa untuk mendapatkan tubuh yang sehat di masa tua, ia mengalami masa muda yang cukup payah karena harus menahan diri terhadap godaan makanan lezat yang di lain sisi kurang baik untuk kesehatan.

“It’s Sunday, anyway.” Aku menyebutkan nama hari, karena seperti yang kutahu, laki-laki tua itu tidak bisa mengenali hari tanpa melihat notifikasi yang ada di layar jam tangannya.  

“Oh ya? True. It’s Sunday,” katanya, setelah mengecek jam tangannya.

Yeah, while everyone having vacation, ...” Aku ingin mengatakan bahwa bahkan ketika orang-orang menghabiskan hari Ahad dengan jalan-jalan, aku hanya ingin pergi ke sana. Ke balai pelayanan sosial lansia itu. Maksudku, kemarin-kemarin itu aku benar-benar sedang futur, dan aku punya pemikiran bahwa barangkali dengan pergi ke sana aku akan merasa sedikit lebih baik.

Seolah paham apa yang kumaksud, laki-laki itu tua itu kemudian melanjutkan, “... and you are here. What makes you impressed with us?”

Lagi-lagi aku terhenyak. Aku tidak pernah mengantisipasi untuk pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Memang dari beberapa residen, sering aku mendapati mereka bertanya, yang bahkan aku sendiri kesulitan untuk menjawabnya. Pertanyaan-pertanyaan atau bahkan pernyataan yang butuh pemikiran mendalam, butuh perenungan bahwa hal-hal semacam itu sejatinya bukan pertanyaan maupun pernyataan biasa.  

Aku menjawab, “I’m impressed with how you all survive, how you all spend this life, and how you all can live together here. Some may have bad life stories in the past, but it amaze me they can stand on their life till this day.”

Laki-laki tua itu mengangguk-angguk, meski aku sendiri merasa tidak cukup mengatakannya hanya dalam beberapa baris kalimat. Aku terlalu gagu berbicara dengan Bahasa Inggris-ku yang pas-pasan.

“So now, what you have got?”

Errr.

“Life lessons,” aku menjawab dengan yakin. “And it would be the things that can guide me, the things that can help me to face my future life. We often hear that experience is the best teacher. Ya, pepatah berkata seperti itu. Aku percaya bahwa itu benar, karena dari pengalaman kalian, aku banyak belajar.”

Laki-laki tua itu kembali mengangguk. Aku memintanya mengecek jam tangannya kembali.

“It’s 12.10.”

“Nah, it’s time you have a lunch,” aku mengingatkan.

Yeah. So, have you take your lunch?” tanyanya.

Yes, I have.”

Is it a lunch or a late breakfast?”

Aku tertawa. Yes, it’s a late breakfast, anyway.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))