Pertanyaan itu muncul tiba-tiba. Aku terhenyak, sedikit tak
menyangka bahwa seseorang akan bertanya demikian. Aku mampu menjawab dengan
baik bila yang bertanya adalah orang lain. Aku akan dengan mudah mengatakan
bahwa ketertarikanku pada orang-orang lanjut usia awalnya adalah sebatas urusan
akademik; tertarik untuk mengetahui permasalahan mereka sehingga aku bisa
mengangkatnya menjadi sesuatu yang bisa kutulis dalam skripsi.
Namun yang bertanya kali ini bukan orang lain, tetapi
laki-laki tua itu, yang merupakan salah seorang dari sekian residen di balai
pelayanan sosial lansia tersebut. Dan mengalami suatu masa yang kusebut
pembelajaran selama tiga bulan di balai pelayanan tersebut, aku sungguh tidak
bisa mengatakan bahwa ketertarikanku semata-mata hanya urusan akademik. Jauh daripada
itu, aku menemukan banyak hal, termasuk ketertarikan itu sendiri.
Aku mulai bisa mengidentifikasi bahwa ketertarikan yang
berdampak pada pengharapanku akan suatu hal sebenarnya bukan ketertarikan
sejati. Dalam artian, jika aku berharap sesuatu maka berarti aku tidak ikhlas
dalam menjalankan tugas, sampai akhirnya minggu pertamaku di sana itu
benar-benar membuatku berpikir bahwa banyak hal yang menunggu untuk
diselesaikan. Ada banyak persoalan yang butuh untuk ditangani. Pelan-pelan, hal
itu mengubahku bahwa semua itu bukan semata-mata soal akademis, bukan
semata-mata soal nilai, akan tetapi lebih daripada itu ini soal kepedulian.
Jadi, dengan Bahasa Inggris-ku yang terbata aku pun mengatakan,
“It because I can learn many things, from you and from all of the people
here.”
“What things?”
“Many things; life lessons, history of our country that I didin’t
know and hard for me to remember, wisdom, and how to survive and break the limits.”
“Yeah, but you have to know that we came from different
background stories; educational background, family, and status. And what we get
today is what we did in the past. Apa yang kita alami di masa tua adalah
hasil dari apa yang kita lakukan sewaktu muda. Kalau masa tua penuh kepayahan,
mudah sakit, itu masa mudanya gimana?”
Aku tersentak. Itu seperti kata pepatah, bahwa apa yang kita
tanam maka itu pulalah yang akan kita tuai. Laki-laki tua itu lalu kemudian
menjelaskan bahwa untuk mendapatkan tubuh yang sehat di masa tua, ia mengalami
masa muda yang cukup payah karena harus menahan diri terhadap godaan makanan lezat
yang di lain sisi kurang baik untuk kesehatan.
“It’s Sunday, anyway.” Aku menyebutkan nama hari, karena seperti yang kutahu,
laki-laki tua itu tidak bisa mengenali hari tanpa melihat notifikasi yang ada
di layar jam tangannya.
“Oh ya? True. It’s Sunday,” katanya, setelah
mengecek jam tangannya.
“Yeah, while everyone having vacation, ...” Aku ingin
mengatakan bahwa bahkan ketika orang-orang menghabiskan hari Ahad dengan
jalan-jalan, aku hanya ingin pergi ke sana. Ke balai pelayanan sosial lansia
itu. Maksudku, kemarin-kemarin itu aku benar-benar sedang futur, dan aku
punya pemikiran bahwa barangkali dengan pergi ke sana aku akan merasa sedikit
lebih baik.
Seolah paham apa yang kumaksud, laki-laki itu tua itu kemudian
melanjutkan, “... and you are here. What makes you impressed with us?”
Lagi-lagi aku terhenyak. Aku tidak pernah mengantisipasi
untuk pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Memang dari beberapa residen, sering
aku mendapati mereka bertanya, yang bahkan aku sendiri kesulitan untuk
menjawabnya. Pertanyaan-pertanyaan atau bahkan pernyataan yang butuh pemikiran
mendalam, butuh perenungan bahwa hal-hal semacam itu sejatinya bukan pertanyaan
maupun pernyataan biasa.
Aku menjawab, “I’m impressed with how you all survive, how
you all spend this life, and how you all can live together here. Some may have
bad life stories in the past, but it amaze me they can stand on their life till
this day.”
Laki-laki tua itu mengangguk-angguk, meski aku sendiri merasa
tidak cukup mengatakannya hanya dalam beberapa baris kalimat. Aku terlalu gagu
berbicara dengan Bahasa Inggris-ku yang pas-pasan.
“So now, what you have got?”
Errr.
“Life lessons,” aku menjawab dengan yakin. “And it would be the things that can guide me, the things that can help me to face my future life. We
often hear that experience is the best teacher. Ya, pepatah berkata seperti
itu. Aku percaya bahwa itu benar, karena dari pengalaman kalian, aku banyak
belajar.”
Laki-laki tua itu kembali mengangguk. Aku memintanya mengecek
jam tangannya kembali.
“It’s 12.10.”
“Nah, it’s time you have a lunch,” aku mengingatkan.
“Yeah. So, have you take your lunch?” tanyanya.
“Yes, I have.”
“Is it a lunch or a late breakfast?”
Aku tertawa. Yes, it’s a late breakfast, anyway.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))