Ketika terbangun, tiba-tiba aku mendapati ponselku berkedip-kedip.
Satu pesan masuk dari Bapak. Sebuah berita duka. Sesaat aku hanya memandangi layar
itu. Pikiranku beralih ke mana-mana.
Menjalani program magang di balai pelayanan sosial lansia
membuatku merefleksikan banyak hal, termasuk yang paling lekat dalam hal itu
yaitu kematian—meski kematian sebenarnya tidak menggunakan kriteria
apa pun untuk datang pada seseorang. Kamis lalu, aku mendengarkan penuturan
seorang Mbah Putri yang bahwasanya selama 3 tahun tinggal di balai pelayanan
lansia tersebut ia telah menyaksikan kurang lebih 12 kematian.
Dan tiba-tiba saja pagi ini, aku mendapati diriku mendengar 3
kabar kematian sekaligus, yang salah satunya adalah nenekku sendiri. Aku setengah
kaget membaca pesan bapakku itu. Padahal baru kemarin kami saling mengabari dan
ketika aku menanyakan keadaan Nenek, Bapak menjawab bahwa beliau masih tidak
mau makan (kurang lebih 2 minngu ini aku dikabari bahwa beliau sedang sakit) .
Sejujurnya aku merasa agak tidak enak. Aku sedang dalam
proses melakukan pendampingan di salah satu balai pelayanan sosial untuk lansia,
sementara di sana barangkali nenekku membutuhkan cucu-cucunya. Perasaan itu
muncul ketika aku tahu bahwa sebagian besar masalah yang dialami para lansia
yang tinggal di balai pelayanan sosial tersebut adalah kesepian. Setiap kali
aku dan temanku datang, mereka akan langsung menyambut ceria. Lalu, saat aku
mengatakan bahwa masa pendampingan kami hampir habis, salah seorang Mbah Putri
langsung menangis. Dan yang lainnya mengatakan dengan terang-terangan bahwa
tanpa kehadiran mahasiswa yang melakukan praktik di sana mereka sungguh
kesepian.
Jadi aku berpikir, bagaimana keadaan nenekku di sana?
Aku bersyukur ibuku termasuk yang cukup sering menyuruh
anak-anaknya untuk mengunjungi Nenek. Setiapkali aku pulang, mengunjungi Nenek
adalah satu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Dan saat ini, saat
cucu-cucunya jauh, kabar itu datang. Aku di Yogyakarta sementara adikku di
Sukabumi sana—yang bahkan untuk mengabarinya saja cukup sulit karena berarti
kami harus menelepon nomor kantor ma’had-nya karena peraturan tidak memperbolehkan
mahasantri untuk membawa ponsel.
Lalu, ketika cucu-cucu yang lain saat ini hadir di perpulangan
Babah (ya, aku memanggil nenekku dengan panggilan Babah, katanya itu tradisi
untuk keturunan Arab—sama halnya ketika memanggil paman dengan panggilan Ammi),
aku berada dalam kondisi yang benar-benar tidak memungkinkan untuk pulang.
Babah Mah (nama lengkapnya Fatmah binti Salim Basnan), begitu
kami memanggilnya, meninggal pada usianya yang 105 tahun pukul 02.30 tadi. Allahummaghfirlahaa
warhamha wa’aafihaa wa’fuanhaa. Selamat jalan, Bah. Semoga Allah
permudahkan perpulanganmu ini, semoga Allah tempatkan engkau di tempat terbaik
di sisi-Nya, semoga Allah bentangkan kenikmatan-Nya di sana.
Seperti engkau, semoga kami pun semakin giat mempersiapkan perpulangan
itu.
Dari aku,
—cucumu yang jauh.
*
P.S.: aku berpikir untuk menulis soal refleksi kematian yang
lebih ke a note to myself atau self reminder, tapi barangkali
waktunya tidak sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))