Pages

Kamis, 03 November 2016

Selamat Jalan, Babah...

Ketika terbangun, tiba-tiba aku mendapati ponselku berkedip-kedip. Satu pesan masuk dari Bapak. Sebuah berita duka. Sesaat aku hanya memandangi layar itu. Pikiranku beralih ke mana-mana.

Menjalani program magang di balai pelayanan sosial lansia membuatku merefleksikan banyak hal, termasuk yang paling lekat dalam hal itu yaitu kematian—meski kematian sebenarnya tidak menggunakan kriteria apa pun untuk datang pada seseorang. Kamis lalu, aku mendengarkan penuturan seorang Mbah Putri yang bahwasanya selama 3 tahun tinggal di balai pelayanan lansia tersebut ia telah menyaksikan kurang lebih 12 kematian.

Dan tiba-tiba saja pagi ini, aku mendapati diriku mendengar 3 kabar kematian sekaligus, yang salah satunya adalah nenekku sendiri. Aku setengah kaget membaca pesan bapakku itu. Padahal baru kemarin kami saling mengabari dan ketika aku menanyakan keadaan Nenek, Bapak menjawab bahwa beliau masih tidak mau makan (kurang lebih 2 minngu ini aku dikabari bahwa beliau sedang sakit) .

Sejujurnya aku merasa agak tidak enak. Aku sedang dalam proses melakukan pendampingan di salah satu balai pelayanan sosial untuk lansia, sementara di sana barangkali nenekku membutuhkan cucu-cucunya. Perasaan itu muncul ketika aku tahu bahwa sebagian besar masalah yang dialami para lansia yang tinggal di balai pelayanan sosial tersebut adalah kesepian. Setiap kali aku dan temanku datang, mereka akan langsung menyambut ceria. Lalu, saat aku mengatakan bahwa masa pendampingan kami hampir habis, salah seorang Mbah Putri langsung menangis. Dan yang lainnya mengatakan dengan terang-terangan bahwa tanpa kehadiran mahasiswa yang melakukan praktik di sana mereka sungguh kesepian.

Jadi aku berpikir, bagaimana keadaan nenekku di sana?

Aku bersyukur ibuku termasuk yang cukup sering menyuruh anak-anaknya untuk mengunjungi Nenek. Setiapkali aku pulang, mengunjungi Nenek adalah satu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Dan saat ini, saat cucu-cucunya jauh, kabar itu datang. Aku di Yogyakarta sementara adikku di Sukabumi sana—yang bahkan untuk mengabarinya saja cukup sulit karena berarti kami harus menelepon nomor kantor ma’had-nya karena peraturan tidak memperbolehkan mahasantri untuk membawa ponsel.

Lalu, ketika cucu-cucu yang lain saat ini hadir di perpulangan Babah (ya, aku memanggil nenekku dengan panggilan Babah, katanya itu tradisi untuk keturunan Arab—sama halnya ketika memanggil paman dengan panggilan Ammi), aku berada dalam kondisi yang benar-benar tidak memungkinkan untuk pulang.

Babah Mah (nama lengkapnya Fatmah binti Salim Basnan), begitu kami memanggilnya, meninggal pada usianya yang 105 tahun pukul 02.30 tadi. Allahummaghfirlahaa warhamha wa’aafihaa wa’fuanhaa. Selamat jalan, Bah. Semoga Allah permudahkan perpulanganmu ini, semoga Allah tempatkan engkau di tempat terbaik di sisi-Nya, semoga Allah bentangkan kenikmatan-Nya di sana.

Seperti engkau, semoga kami pun semakin giat mempersiapkan perpulangan itu.

Dari aku,
—cucumu yang jauh.
*

P.S.: aku berpikir untuk menulis soal refleksi kematian yang lebih ke a note to myself atau self reminder, tapi barangkali waktunya tidak sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))