Kelak bila hujan datang, katakan bahwa di mentari sendu di hari itu, di embusan angin yang dinanti putik bunga itu, tercium wangi tanah basah. Atap bumi yang berubah warna kini terlihat kontras dengan lautan dalam, tempat orang-orang mengunci perasaannya.
Kelak, bila hujan datang, orang-orang akan tahu bahwa apa
yang selama ini disimpannya di kedalaman lautan itu, telah menguap oleh terikan
napas matahari. Menjadi gegumpal kapas putih, diterbangkan angin, lantas
mengondensasi sebelum turun sebagai buliran air yang menderas.
Ada yang luruh oleh tinta di atas kertas itu, ada yang luruh
di bawah hujan di bawah mata itu; menuju hati.
Demikian cara orang-orang memahami hujan. Demikian caraku
memahami hujan, pada awalnya.
Kelak, ketika hujan datang, dan kita sudah memahami beberapa
hal, kita akan mengerti bahwa dalam lirih doa-doa di antara itu, dalam
pinta-pinta kita tentang kehidupan itu, ada hal lain yang luput dari pencarian,
hilang dari ingatan.
Apa tepatnya doamu ketika hujan?
Menikah segera? Daftar buku impian? Perjalanan menyenangkan?
Atau hal-hal kecil seperti berharap secangkir cokelat panas?
Tidak apa-apa. Katakan sebanyak yang kau mau. Kita memang
harus meminta banyak hal, karena Dia sungguh Mahakaya. Tapi bagaimana bisa kita
lupa bahwa sekeras apa pun kita meminta kehidupan, kematian adalah niscaya. Dan
kebangkitan setelahnya adalah pasti.
Hujan seperti itu. Ia menghidupkan. Kelak kita akan menyaksikan,
petrikor yang menguar di batas penciuman kita lantas mengubah dirinya menjadi
aroma segar rerumputan, jatuh sebagai tetes embun dari pucuk dedaunan.
Maka demikian, Allah menghidupkan bumi yang mati dengan
hujan-Nya, agar kita mengambil pelajaran bahwa kelak, semudah itu Ia
membangkitkan kita dari kematian.
Begitu, cara memahami hujan.
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ
يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ
مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ
كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita
gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah
membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami
turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu
pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang
telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raaf: 57)
*
Solo, 19 September 2018
―menjelang dan setelah hujan pertama sore itu,
Evnaya Sofia
Kata guru saya rahmat turun bersama hujan
BalasHapusBenar~ ^^
Hapus