Pages

Minggu, 17 Agustus 2014

Kesaksian

Oleh: Evnaya Sofia


Indonesia, 17 Agustus 2034…

Hei, mari kubisikkan sesuatu. Ini tentangku yang dahulu. Tak perlu tahu aku siapa. Cukup dengarkan kisahku saja dan jangan banyak bertanya. Kaupikir untuk apa aku memberitahumu jika kau sendiri bahkan dengan mudah akan segera tahu aku siapa? Setidaknya aku telah memperingatkanmu untuk tidak membuang waktu dengan menanyakan hal-hal tidak penting karena sebentar lagi kau juga akan tahu.
            Dengarkan baik-baik. Aku tidak akan menceritakanmu sebuah dongeng dari Negeri Peri atau semacamnya. Jadi jangan berharap kau akan menemukan kisah romantis seorang putri buruk rupa yang dikutuk nenek sihir jahat dan pangeran tampan berkuda putih yang jatuh cinta kepadanya. Ini bukan kisah yang layak didengar, asal kau tahu. Bisa jadi kau akan semakin muak dengan semuanya setelah mendengar ini. Dan aku tak menanggung risiko untuk hal yang satu itu. Hanya saja, aku bertekad memberitahumu rahasia hidupku di balik ruang yang kelihatannya gemerlap itu.
            Baiklah, ini tentangku yang dahulu. Dan aku perlu memberitahumu sesuatu.
            Bagi siapa pun, kehadiranku adalah segalanya. Tapi itu tak lantas membuatku murah hati untuk menolong siapa saja, karena bisa dikatakan aku amat selektif dalam memilih teman. Bergaul dengan orang miskin? Huh, yang benar saja. Aku tidak akan mendapat ruang mewah untuk tinggal di sana. Beruntung Tuhan sangat mengerti apa yang kumau. Jadi aku tak perlu hidup susah di tempat tak layak bersama orang-orang miskin yang kumal dan dekil itu. Biarlah saudara-saudaraku yang sok sabar itu tinggal bersama mereka. Aku tak akan tahan setiap hari mencium bau makanan basi yang dimakan orang-orang miskin itu.
Sudah tentu, bersahabat dan tinggal bersama orang-orang kaya itu membuatku bahagia. Bagaimana tidak? Aku ditempatkannya pada ruangan mewah seharga jutaan rupiah. Tak jarang aku diajaknya pergi ke tempat-tempat mewah yang sebelumnya bahkan tak pernah terlintas dalam pikiranku. Aku bahkan sempat beberapa kali diajaknya turut serta dalam perjalanan-perjalanan dinas ke luar negeri dengan tak lupa mengunjungi tempat dengan  pemandangan-pemandangan eksotis di negara itu. Bisa kau bayangkan kan, betapa menyenangkannya jadi aku? Hahaha.
Kau tahu tidak, kehadiranku lebih diinginkan daripada apa pun dan siapa pun. Yah, mungkin aku memang ditakdirkan untuk menjadi sahabat yang spesial. Lupakan soal istri dan anak-anak yang katanya bisa membuat hidup sahabat-sahabatku yang kaya itu sempurna. Omong kosong. Mereka masih lebih tak bisa hidup tanpa aku. Di dunia ini, akulah yang memegang kuasa. Aku memang sahabat orang-orang kaya itu, tapi kau harus tahu siapa yang lebih kuasa; siapa yang menjadi atasan dan siapa yang menjadi bawahan, siapa yang menjadi majikan dan siapa yang menjadi b-a-b-u.
Sudah kubilang, aku adalah segalanya. Tanpaku, mereka bisa apa? Bahkan untuk membuatku mau bersahabat dengan mereka, mereka sanggup melakukan segala cara. Kurasa, aku membuat mereka gila. Melupakan aturan Tuhan untuk mendapatkanku? Ah, sudah biasa. Itu urusan belakangan. Toh Tuhan Maha Pemaaf.
Ah ya, sekarang kau sudah tahu paling tidak beberapa hal tentangku yang dahulu. Dengar, ceritaku masih panjang, dan… jangan bertanya siapa aku. Silakan saja menebak sesukamu selagi aku membawamu pada kisah masa itu.
Kala itu, laki-laki itu bangun kesiangan. Laki-laki yang kumaksud di sini adalah laki-laki kaya yang menjadi sahabatku (meskipun dia menganggapku di atas segalanya rasanya tidak etis jika aku menyebutnya bawahanku, sekalipun ia menjadi terhormat karenaku). Pertandingan sepakbola yang tayang sampai larut memaksanya tidak tidur semalaman. Ia lantas dengan sigap begegas tatkala ingat rapat yang akan berlangsung pagi itu.
Aku mencium aroma parfum mahal pada jas mewah belasan juta yang dikenakannya ketika ia meraihku dan mendudukkanku di jok depan mobil mewahnya yang mengilat. Jangan coba-coba menebak berapa harga mobil mewah keluaran terbaru itu. Kau tak akan sanggup melihat deretan angkanya. Lalu dengan gesit dibawanya aku meliuk bersama mobil mewah itu melintasi jalanan ibukota yang padat kendaraan. Macet di beberapa lokasi, tetapi beruntung itu tak membuatnya terlambat untuk mengikuti rapat di kantornya.
Kantor lelaki itu adalah bangunan megah berlantaientahlah, aku enggan menghitungnyadengan cat putih bersih dan sistem keamanan yang ketat. Tak sembarang orang bisa masuk ke gedung mewah itu. Hanya mereka yang terhormat yang diijinkan masuk. Gedung itu tak hanya tempat bekerja yang nyaman, tetapi juga bisa menjadi tempat beristirahat dari penatnya bekerja paling nyaman yang pernah ada. Tak hanya ada seseorang yang bisa diminta untuk melakukan ini itu, fasilitas yang ada di sana pun tak kalah dengan fasilitas hotel bintang lima. Wajar sajalah, mereka bekerja untuk negara.
Laki-laki itu menyusup ke ruangan yang telah penuh oleh peserta rapat dan mengambil kursi di samping teman karibnya. Ah, hampir saja ia terlambat.
“Kesiangan, Bos?” teman karibnya menyapa.
Laki-laki itu meringis.
“Beberapa wartawan hadir mengikuti rapat ini,” ujar temannya lagi, kali ini berbisik ke telinga lelaki itu.
“Oh ya?” Mata laki-laki itu berkedip tak percaya demi mendengar berita itu. Yang benar saja, ia hampir terlambat hari ini. Bisa dipastikan wartawan-wartawan itu akan menulis berita tak sedap tentangnya.
Ia mengedarkan pandangan sekilas untuk memastikan apa yang didengarnya dari temannya. Melihat itu, temannya kembali berbisik, “Kau pasti bisa menyelesaikannya, Bos.”
Laki-laki itu mengangguk mantap. Senyum kecil tergambar di bibirnya. “Tentu. Aku pasti akan menyelesaikannya.”
* * *

            Astaga! Demi apa ia tertidur dalam rapat sepenting ini?! Benar-benar parah, matanya tak bisa diajak kompromi. Wartawan-wartawan itu pasti sibuk menyorotkan kameranya sejak tadi ke arahnya. Men-zoom wajahnya. Berapa lama ia tertidur? Sepuluh menit? Lima belas menit? Ah, bahkan tak sampai lima belas menit! Begitu rapat ini selesai, orang-orang di seantero negeri pasti akan mencaci-makinya demi melihatnya tertidur dalam rapat penting para pejabat negara yang terpampang di portal berita online.
            “Kau ceroboh, Bos,” ujar teman karibnya yang tadi membangunkannya. “Sepertinya ada banyak yang harus diselesaikan setelah ini.”        
Laki-laki itu mendesah. Dalam hati, ia mengutuk kesialannya hari ini. Temannya menepuk pundaknya berkali-kali. Menguraikan rasa simpati.
Aku bisa menyelesaikannya, gumam laki-laki itu pasti.
* * *

            Ternyata urusannya tak semudah yang dibayangkannya. Beberapa wartawan mencoba mengajaknya bernegosiasi saat ia menyorongkan sejumlah amplop cokelat ke arah mereka. Dan karena itu ia terpaksa membayar lebih. Yah, tak ada pilihan lain demi menjaga agar citranya tak terlihat buruk dan menjadi konsumsi publik. Urusan pekerjaan saja sudah cukup membuatnya penat, ditambah lagi kesialan yang menimpanya hari ini. Rasanya ia perlu sedikit bersenang-senang.
            Laki-laki itu meraih ponsel di saku jasnya dan memencet nomor yang telah dihafalnya di luar kepala. Nomor yang tak ada dalam daftar kontak ponselnya. 
* * *

Kali ini, laki-laki itu kembali membawaku menembus liku-liku jalanan ibukota. Ia bersiul sembari menikmati musik yang mengalun dari radio di mobilnya. Lepas dari jalanan yang padat, mobil laki-laki itu berbelok memasuki gerbang kompleks perumahan elit di salah satu sudut wilayah ibukota. Begitu mobilnya berhenti di depan salah satu rumah di kompleks itu, gerbang secara otomatis terbuka. Ia kembali melajukan mobilnya menuju garasi rumah itu sementara gerbang di belakangnya kembali menutup secara otomatis.
            Laki-laki itu meraihku yang tergeletak di sampingnya sebelum keluar dari mobilnya. Ia lantas menekan bel begitu menginjakkan sepatu mahalnya di depan pintu rumah mewah itu. Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Seorang gadis cantik dengan pakaian serba minim menyambutnya hangat. Sembari meraihku yang ada dalam genggaman laki-laki itu, ia menggelayut manja pada lengan laki-laki itu dan menggiringnya masuk.
            Menuju neraka.
            Dan itulah definisi bersenang-senang bagi laki-laki itu.
* * *

Hei, kurasa kau tak akan lelah untuk menduga-duga siapa aku. Atau jangan-jangan… kau sudah tahu? Ah, aku hanya berharap dugaanmu benar lantas kau berhenti bertanya.
Sampai detik ini, kau sudah tahu sebagian kecil rahasia hidupku. Meski kubilang aku hidup bahagia bersama sahabat-sahabatku yang kaya itu, tapi entah mengapa kebahagiaan itu terasa semu. Berada di ruang gemerlap itu memang membuatku lebih nyaman dibanding harus tinggal di gubuk tua yang bau busuk. Tapi, yah… fakta bahwa aku diperlakukan secara tidak benar membuatku tersenyum miris. Dan apa yang menimpaku dahulu itu sungguh di luar batas kewajaran. Seolah-olah aku tercipta hanya untuk memuaskan hasrat mereka. Memenuhi kerakusan mereka. Kalau sudah begitu, rasanya aku seperti tak memiliki harga diri.
Kau tentu ingat, dua puluh tahun lalu—2014— dan tahun-tahun sebelumnya, banyak kasus terungkap karena aku. Entah itu fee yang diberikan pada seorang wanita yang berasal dari dana untuk pembangunan gedung X, tutup mulut untuk kasus Y, penggelapan dana pengurusan pajak Z, dan kasus XYZ lainnya yang membuat rakyat muak. Mereka seperti menuhankanku, lupa pada hakikat dan tujuan mereka diciptakan. Tentu saja, hal itu perlahan membuatku tidak betah bersahabat dengan mereka. Saat menyadari aku tak punya pilihan, aku meneguhkan diriku dan mengingat bahwa mungkin Tuhan menjadikanku alat untuk menguji keimanan mereka.
Tapi tetap saja, cerita saudara-saudaraku membuatku iri. Ya, saudara-saudaraku yang tinggal bersama orang-orang miskin itu. Yang kudengar mereka justru hidup bahagia di sana. Bukan kebahagiaan semu seperti yang kumiliki, melainkan kebahagiaan yang benar-benar kebahagiaan. Keberadaan mereka begitu dihargai. Tidak sepertiku, mereka diperlakukan semestinya. Hanya menyadari kehadiran saudaraku di sekeliling mereka saja sudah membuat mereka bersyukur luar biasa, meskipun sebenarnya tidak banyak dan jauh dari kata cukup. Kalau tahu begitu, sejak awal mungkin aku akan lebih memilih bersahabat dengan orang-orang miskin itu saja. Hanya saja, Tuhan telah mengatur hidup sebagian besar dari keturunanku untuk bersahabat dengan orang-orang kaya itu.
Banyak yang pesimis saat itu, mengingat betapa bobroknya negeri tempatmu berpijak ini. Korupsi. Bencana. Perekonomian terpuruk. Janji palsu. Kalau sudah begitu, apa lagi yang bisa diharapkan dari negeri ini? Tapi di antara mereka yang pesimis, banyak orang-orang yang dengan senang hati tertatih membangun semuanya. Sedikit demi sedikit. Perlahan-lahan. Memperbaiki sistem. Menyerukan agar memperlakukanku secara benar.
Tahu siapa mereka? Mungkin di antaranya ada kau. Ya, kau yang sejak dulu mempunyai tekad membangun negeri dan berjuang keras untuk mewujudkannya. Kau yang mau bersusah-payah duduk di kursi hanya untuk mendengarkan mereka yang pandai berbicara berjam-jam di depan kelasmu. Kau yang berani menyuarakan tidak di antara mereka yang memilih patuh pada yang tidak semestinya dipatuhi.
Meski belum semuanya terjamah, setidaknya negeri ini sudah lebih baik. Orang-orang kaya itu sepertinya mulai belajar menghargaiku. Memperlakukanku secara benar. Meski ada beberapa orang yang mencoba melanggar, mereka dipastikan akan mendapat sanksi yang tidak bisa ditawar-tawar. Tidak ada bui sekelas hotel bintang lima. Tidak ada sipir penjara yang bisa disuap hanya karena kau jenuh berada di dalam bui lantas dengan bebas melancong ke Bali. Tidak akan ada.
Setelah sekian lama, mungkin ini saat yang tepat untukku bersuara. Memberitahumu semua kisahku kala itu. Aku tidak bisa lagi menutup mulutku rapat-rapat dan membiarkan anak-anak muda yang terlena oleh kecanggihan teknologi ini buta sejarah. Bukan apa-apa, hanya sebagai refleksi untuk menjadi lebih baik lagi. Aku tidak mau kelak ketika mereka memimpin, negeri ini tak lebih baik dari saat ini.
Dan, hei, hari ini 17 Agustus 2034. Kibaran bendera Merah Putih yang diiringi dengungan lagu Indonesia Raya dalam upacara di Istana Negara hari ini membuncahkanku haru. Delapan puluh sembilan tahun umur kemerdekaan, dan 20 tahun melangkah dari kebobrokan untuk membangun kembali negeri ini. Paling tidak, berikan sesuatu yang berharga untuk negeri ini. Pemikiranmu. Karyamu. Pengabdianmu. Apa pun itu. Jangan membuatku menunggu. Aku sudah tidak sabar berada dalam genggaman orang-orang bijak sepertimu demi memperlakukanku secara benar untuk mewujudkan ide brilian membangun negeri ini. Aku siap membantu negeri ini menjadi lebih baik, kau?
Yah, aku bahkan telah memulainya dengan menceritakan kisah hidupku sebagai bekalmu membangun negeri ini. Dan kau pun telah meluangkan waktumu untuk mendengarku bersuara, terima kasih untuk itu. Lalu… sudah tahu siapa aku? Aku menebak kau sudah tahu. Hanya saja aku perlu memberimu petunjuk untuk memastikan kau tidak ragu dengan jawabanmu.
Sekarang, buka dompetmu. Mungkin ada aku di dalamnya?
Ya, itu aku.
* * *

*** Cerpen ini diikutsertakan dalam Lomba Pekan Menulis BEM FAI UMY dengan tema “Indonesia 20 Tahun Kedepan” beberapa bulan lalu. Judul versi awalnya adalah “Biarkan Aku Bersuara”, tapi karena sepertinya kurang pas, aku menggantinya dengan “Kesaksian”. Kupersembahkan cerpen ini untuk Indonesia-ku, dengan segala rasa cinta dan hormatku sebagai abdinya di Hari Kemerdekaan yang ke-69. Tetaplah jaya, Indonesia-ku. ^^
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))