Hai, Matahari...
Apa kabarmu hari ini? Akhirnya Tuhan menggariskanmu terbit lagi. Seperti kemarin, dua kali kemarin, dan kemarin-kemarinnya lagi. Ah, barangkali aku yang salah. Kau bahkan tak pernah absen terbit dan tenggelam tiap harinya. Hanya saja kau harus cukup tabah ketika kehadiranmu bersisian dengan awan-awan kelam yang kemudian menurunkan hujan. Hujan berkepanjangan yang lantas membuat manusia-manusia bertanya, "Di mana matahari?" Ah, kalau saja mereka tahu bahwa kau masih di tempatmu, menunggu giliran sampai hujan reda dan mengambil alih bumi yang selama ini selalu patuh berevolusi padamu.
Hai, Matahari...
Apa yang bisa kukisahkan padamu hari ini? Sungguh, aku takut tak ada sesuatu baru yang bisa kukisahkan padamu hari ini. Aku masih di tempatku, diam dan apa-apa tak tahu. Seperti kemarin-kemarin, aku membiarkanmu berlalu tanpa sedikit pun membawa kisah dariku. Entahlah, aku bahkan butuh segunung keberanian untuk memutuskan menyapamu hari ini.
Hai, Matahari...
Sungguh, apa yang ingin kukisahkan tidaklah seterang cahayamu. Entah mengapa mendadak semuanya menjadi abu-abu, persis seperti awan-awan yang kemarin berlalu. Hanya saja, kau ataupun aku cukup tahu bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa disampaikan secara jelas. Ada beberapa hal yang kadang membuat kita sulit untuk mengerti tapi kita dituntut untuk mengerti. Aku juga tidak tahu mengapa sesuatu terkadang bisa jadi amat rumit untuk dipahami. Sama halnya dengan rumitnya alasanku menyapamu pagi ini. Padahal kau pun tahu aku tak ada apa-apa untuk sekadar dikisahkan. Ah, maafkan aku.
Hai, Matahari...
Aku ingin berkata lebih banyak, tapi tidak tahu apa. Nah, dengar kan? Ini saja sudah cukup rumit jika dipertanyakan. Entahlah, aku hanya ingin menulis. Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang. Kau masih mau berlama-lama kusapa, kan? Aku berharap ya.
Oh, baiklah, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Kalau begitu mari kuceritakan tentang hujan tiga hari lalu. Hujan yang tiba-tiba menggantikanmu seharian dan membuatku gigil sepanjang hari. Pagi itu aku terjaga dan mendengar hujan telah datang. Aku memeluk tubuh kedinginan, terpekur di atas kasur sembari menatap langit-langit. Aku ingin mengatakan pada hujan aku bahagia dia datang meski harus menggigil kedinginan. Ya, begitulah, kadang kebahagian-kebahagian kecil pun harus didapat dengan pengorbanan. Tapi kala itu aku diam, Ri. Tak berusaha mengeluh pada hujan tentang dingin yang menusuk itu. Aku diam, terus diam tak bergerak menikmati deru suaranya. Di sela-sela itu, hujan berkisah tentang sesuatu.
Masih ingat sajak tempo hari lalu? Nah, itulah kisah darinya. Hujan pandai merangkai dan menyusun satu persatu rasa yang abstrak itu. Mengisahkannya lewat larik-larik kalimat yang mungkin hanya aku dan dia yang tahu. Aku yakin, sekarang yang mengerti bukan hanya aku dan hujan, tapi juga kau. Iya, kan? Aku tak perlu lagi menjelaskannya di sini.
Hai, Matahari...
Apa? Kau harus beranjak? Ah ya, baiklah, maaf sekali aku menyapamu terlalu lama. Berkata hal-hal tak penting yang juga tak sepenuhnya bermakna. Aku tahu. Aku tahu. Sebentar lagi kau harus naik, naik, dan naik. Semoga saat kau turun nanti aku bisa membekalimu dengan kisah-kisah tentang hari ini. Selamat bertugas, dan... terima kasih telah membirukan langit hari ini. :))
Bulu, 17 Juli 2014--di bawah cahaya waktu dhuhamu,
Evnaya Sofia
Apa kabarmu hari ini? Akhirnya Tuhan menggariskanmu terbit lagi. Seperti kemarin, dua kali kemarin, dan kemarin-kemarinnya lagi. Ah, barangkali aku yang salah. Kau bahkan tak pernah absen terbit dan tenggelam tiap harinya. Hanya saja kau harus cukup tabah ketika kehadiranmu bersisian dengan awan-awan kelam yang kemudian menurunkan hujan. Hujan berkepanjangan yang lantas membuat manusia-manusia bertanya, "Di mana matahari?" Ah, kalau saja mereka tahu bahwa kau masih di tempatmu, menunggu giliran sampai hujan reda dan mengambil alih bumi yang selama ini selalu patuh berevolusi padamu.
Hai, Matahari...
Apa yang bisa kukisahkan padamu hari ini? Sungguh, aku takut tak ada sesuatu baru yang bisa kukisahkan padamu hari ini. Aku masih di tempatku, diam dan apa-apa tak tahu. Seperti kemarin-kemarin, aku membiarkanmu berlalu tanpa sedikit pun membawa kisah dariku. Entahlah, aku bahkan butuh segunung keberanian untuk memutuskan menyapamu hari ini.
Hai, Matahari...
Sungguh, apa yang ingin kukisahkan tidaklah seterang cahayamu. Entah mengapa mendadak semuanya menjadi abu-abu, persis seperti awan-awan yang kemarin berlalu. Hanya saja, kau ataupun aku cukup tahu bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa disampaikan secara jelas. Ada beberapa hal yang kadang membuat kita sulit untuk mengerti tapi kita dituntut untuk mengerti. Aku juga tidak tahu mengapa sesuatu terkadang bisa jadi amat rumit untuk dipahami. Sama halnya dengan rumitnya alasanku menyapamu pagi ini. Padahal kau pun tahu aku tak ada apa-apa untuk sekadar dikisahkan. Ah, maafkan aku.
Hai, Matahari...
Aku ingin berkata lebih banyak, tapi tidak tahu apa. Nah, dengar kan? Ini saja sudah cukup rumit jika dipertanyakan. Entahlah, aku hanya ingin menulis. Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang. Kau masih mau berlama-lama kusapa, kan? Aku berharap ya.
Oh, baiklah, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Kalau begitu mari kuceritakan tentang hujan tiga hari lalu. Hujan yang tiba-tiba menggantikanmu seharian dan membuatku gigil sepanjang hari. Pagi itu aku terjaga dan mendengar hujan telah datang. Aku memeluk tubuh kedinginan, terpekur di atas kasur sembari menatap langit-langit. Aku ingin mengatakan pada hujan aku bahagia dia datang meski harus menggigil kedinginan. Ya, begitulah, kadang kebahagian-kebahagian kecil pun harus didapat dengan pengorbanan. Tapi kala itu aku diam, Ri. Tak berusaha mengeluh pada hujan tentang dingin yang menusuk itu. Aku diam, terus diam tak bergerak menikmati deru suaranya. Di sela-sela itu, hujan berkisah tentang sesuatu.
Masih ingat sajak tempo hari lalu? Nah, itulah kisah darinya. Hujan pandai merangkai dan menyusun satu persatu rasa yang abstrak itu. Mengisahkannya lewat larik-larik kalimat yang mungkin hanya aku dan dia yang tahu. Aku yakin, sekarang yang mengerti bukan hanya aku dan hujan, tapi juga kau. Iya, kan? Aku tak perlu lagi menjelaskannya di sini.
Hai, Matahari...
Apa? Kau harus beranjak? Ah ya, baiklah, maaf sekali aku menyapamu terlalu lama. Berkata hal-hal tak penting yang juga tak sepenuhnya bermakna. Aku tahu. Aku tahu. Sebentar lagi kau harus naik, naik, dan naik. Semoga saat kau turun nanti aku bisa membekalimu dengan kisah-kisah tentang hari ini. Selamat bertugas, dan... terima kasih telah membirukan langit hari ini. :))
Bulu, 17 Juli 2014--di bawah cahaya waktu dhuhamu,
Evnaya Sofia
* * *
Catatan: sajak yang kumaksud di atas ada di sini
Catatan: sajak yang kumaksud di atas ada di sini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))