Pages

Rabu, 13 Agustus 2014

Persahabatan yang Tidak Sempurna


Taken from here
  

            That’s more than just a quote, I think. Aku tiba-tiba saja teringat quote itu sepagian tadi. Berpikir tentang makna yang terkandung di dalamnya. Memutar ingatan ke hari-hari yang tertinggal di belakang, memilah-milah hal-hal yang termasuk dalam kategori itu. Pertemuan-pertemuan yang tak pernah disangka, jalinan yang kemudian mengikat, saling membutuhkan, saling menyemangati dan memberi dukungan, dan lain sebagainya.

            Ada banyak rasa yang melengkapi tiap sisi kehidupan kita, yang tak lepas dari peran orang-orang di sekitar kita. Seperti ketika memasukkan takaran gula pada secangkir kopi pahit, hanya kitalah yang tahu sebatas mana selera kita. Begitu pun dalam hal pertemanan, secara alamiah kita akan terus mencari seseorang yang tepat untuk kita. Seseorang yang ada saat kita tertawa maupun berduka. Seseorang yang bersedia mendengarkan apa saja yang kita ingin dia dengar. Seseorang yang membuat kita nyaman, pendeknya seperti itu.

            Kita tidak bisa memilih siapa orangnya, karena itulah kita berusaha mencari demi menemukan seseorang yang tepat. Dalam setiap fase kehidupan, kita akan menemukan seseorang yang mungkin kita anggap sebagai sahabat. Ketika kanak-kanak, remaja, dewasa, maupun saat usia kita sudah lanjut. Sahabat kita bisa jadi orang yang paling dekat dengan kita ataupun orang yang sama sekali tak memiliki hubungan darah dengan kita. Sekali lagi, kita tidak bisa memilih. Ada banyak faktor yang akan menjadi penentu dalam kita memutuskan siapa yang akan menjadi sahabat kita.

            Jalinan persahabatan tidak terjadi begitu saja. Semuanya dimulai dari proses mengenal dan memahami karakter satu sama lain. Ketika kita mampu memahami karakter dari seseorang, maka akan timbul pengertian. Pengertian bahwa orang lain berbeda dengan kita. Pengertian bahwa setiap manusia unik. Pengertian terhadap hal-hal kecil dan remeh yang jika kita menolak untuk mengerti maka akan rusaklah hubungan persahabatan itu.

            Terkadang kita berpikir kita akan lebih mudah dan merasa nyaman jika bersahabat dengan orang yang memiliki banyak kesamaan dengan kita. Hal itu tidak sepenuhnya benar. Justru perbedaanlah yang kadang membuat kita merasa lengkap. Kesamaan yang kita miliki bisa jadi sering menjadi pemicu pertengkaran antara kita dan sahabat. Jika kita menginginkan hal yang sama, berambisi terhadap sesuatu yang sama, maka tentu kita akan bersaing untuk mendapatkannya. Selama persaingan itu bersifat sportif dan kedua belah pihak dapat menerima tentu akan baik-baik saja, tapi bagaimana jika sebaliknya?

            Hal itu mungkin saja terjadi. Kita tentu tidak bisa mengabaikan keinginan untuk menjadi lebih daripada orang lain, terutama jika kita merasa mampu melakukannya. Kita tidak bisa berbagi, karena hanya ada satu kursi yang bisa diisi. Di saat seperti ini, seorang sahabat yang baik dan penuh kelapangan jiwa pasti akan selalu mendukung sahabatnya, selama semua hal itu masih dalam lingkup kebaikan. Sebaliknya, ia juga akan melarang kita dari hal-hal yang buruk.

            Merangkai jalinan persahabatan diiringi dengan proses penanaman kepercayaan satu sama lain. Dimulai dari hal-hal kecil sampai pada kepercayaan bahwa hubungan persahabatan itu akan bertahan sampai kapan pun. Sahabat kita ataupun kita sendiri bisa jadi sangat beruntung, menjadi orang yang dipercaya dan bisa menjaga kepercayaan satu sama lain. Kita tidak bisa memercayai semua orang yang ada di dunia ini. Butuh banyak proses sampai kita memutuskan kita percaya pada orang lain. Kita dan sahabat adalah dua pihak yang mungkin telah melewati proses itu semua. Percaya bukan soal kata-kata, tapi lebih pada tindak nyata. Tindak nyata untuk memercayai bahwa tidak boleh ada dusta. Tindak nyata untuk saling menjaga rahasia. Tindak nyata menjaga rasa. Tindak nyata berupa penanaman keyakinan bahwa tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia, kecuali jika kita berusaha mempertahankannya.

            Akan ada banyak rasa yang kita cecap dari sebuah jalinan persahabatan. Pahit, manis, asam, asin, hambar, semuanya akan menguji kita pada akhirnya. Sampai batas mana kita sanggup saling menjaga? Sampai batas manakah kita sanggup mempertahankannya? Karenanya, tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Kerikil-kerikil kecil yang menjadi hambatan dan pemicu krisis pemahaman dan kepercayaan bisa jadi hanya sebuah ujian dan proses agar kita lebih banyak belajar memahami dan memercayai satu sama lain. Bisa jadi itu sebuah peringatan agar kita tidak mudah digoyahkan dan harus tetap mengencangkan ikatan. Dan, hei, bukankah kesempurnaan persahabatan itu tercipta ketika kita jatuh bangun berusaha mempertahankannya? ;))

           

“Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.”

--Klaudie, Refrain by Winna Efendi--



 

                                                                                                     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen, yuuuk ;))