| Taken from here |
That’s more than just a quote, I
think. Aku tiba-tiba saja teringat quote itu sepagian tadi. Berpikir tentang makna yang
terkandung di dalamnya. Memutar ingatan ke hari-hari yang tertinggal di
belakang, memilah-milah hal-hal yang termasuk dalam kategori itu. Pertemuan-pertemuan yang
tak pernah disangka, jalinan yang kemudian mengikat, saling membutuhkan, saling
menyemangati dan memberi dukungan, dan lain sebagainya.
Ada banyak rasa yang melengkapi tiap
sisi kehidupan kita, yang tak lepas dari peran orang-orang di sekitar kita. Seperti
ketika memasukkan takaran gula pada secangkir kopi pahit, hanya kitalah yang
tahu sebatas mana selera kita. Begitu pun dalam hal pertemanan, secara alamiah kita
akan terus mencari seseorang yang tepat untuk kita. Seseorang yang ada saat
kita tertawa maupun berduka. Seseorang yang bersedia mendengarkan apa saja yang
kita ingin dia dengar. Seseorang yang membuat kita nyaman, pendeknya seperti
itu.
Kita tidak bisa memilih siapa
orangnya, karena itulah kita berusaha mencari demi menemukan seseorang yang
tepat. Dalam setiap fase kehidupan, kita akan menemukan seseorang yang mungkin
kita anggap sebagai sahabat. Ketika kanak-kanak, remaja, dewasa, maupun saat
usia kita sudah lanjut. Sahabat kita bisa jadi orang yang paling dekat dengan
kita ataupun orang yang sama sekali tak memiliki hubungan darah dengan kita. Sekali
lagi, kita tidak bisa memilih. Ada banyak faktor yang akan menjadi penentu
dalam kita memutuskan siapa yang akan menjadi sahabat kita.
Jalinan persahabatan tidak terjadi
begitu saja. Semuanya dimulai dari proses mengenal dan memahami karakter satu
sama lain. Ketika kita mampu memahami karakter dari seseorang, maka akan timbul
pengertian. Pengertian bahwa orang lain berbeda dengan kita. Pengertian bahwa
setiap manusia unik. Pengertian terhadap hal-hal kecil dan remeh yang jika kita
menolak untuk mengerti maka akan rusaklah hubungan persahabatan itu.
Terkadang kita berpikir kita akan
lebih mudah dan merasa nyaman jika bersahabat dengan orang yang memiliki banyak
kesamaan dengan kita. Hal itu tidak sepenuhnya benar. Justru perbedaanlah yang kadang membuat kita merasa lengkap. Kesamaan yang kita miliki
bisa jadi sering menjadi pemicu pertengkaran antara kita dan sahabat. Jika kita
menginginkan hal yang sama, berambisi terhadap sesuatu yang sama, maka tentu
kita akan bersaing untuk mendapatkannya. Selama persaingan itu bersifat sportif
dan kedua belah pihak dapat menerima tentu akan baik-baik saja, tapi bagaimana
jika sebaliknya?
Hal itu mungkin saja terjadi. Kita tentu
tidak bisa mengabaikan keinginan untuk menjadi lebih daripada orang lain,
terutama jika kita merasa mampu melakukannya. Kita tidak bisa berbagi, karena
hanya ada satu kursi yang bisa diisi. Di saat seperti ini, seorang sahabat yang
baik dan penuh kelapangan jiwa pasti akan selalu mendukung sahabatnya, selama
semua hal itu masih dalam lingkup kebaikan. Sebaliknya, ia juga akan melarang
kita dari hal-hal yang buruk.
Merangkai jalinan persahabatan diiringi
dengan proses penanaman kepercayaan satu sama lain. Dimulai dari hal-hal kecil
sampai pada kepercayaan bahwa hubungan persahabatan itu akan bertahan sampai
kapan pun. Sahabat kita ataupun kita sendiri bisa jadi sangat beruntung,
menjadi orang yang dipercaya dan bisa menjaga kepercayaan satu sama lain. Kita tidak
bisa memercayai semua orang yang ada di dunia ini. Butuh banyak proses sampai
kita memutuskan kita percaya pada orang lain. Kita dan sahabat adalah dua pihak
yang mungkin telah melewati proses itu semua. Percaya bukan soal kata-kata,
tapi lebih pada tindak nyata. Tindak nyata untuk memercayai bahwa tidak boleh
ada dusta. Tindak nyata untuk saling menjaga rahasia. Tindak nyata menjaga
rasa. Tindak nyata berupa penanaman keyakinan bahwa tidak ada persahabatan yang
sempurna di dunia, kecuali jika kita berusaha mempertahankannya.
Akan ada banyak rasa yang kita cecap
dari sebuah jalinan persahabatan. Pahit, manis, asam, asin, hambar, semuanya
akan menguji kita pada akhirnya. Sampai batas mana kita sanggup saling menjaga?
Sampai batas manakah kita sanggup mempertahankannya? Karenanya, tidak ada
persahabatan yang sempurna di dunia ini. Kerikil-kerikil kecil yang menjadi
hambatan dan pemicu krisis pemahaman dan kepercayaan bisa jadi hanya sebuah
ujian dan proses agar kita lebih banyak belajar memahami dan memercayai satu
sama lain. Bisa jadi itu sebuah peringatan agar kita tidak mudah digoyahkan dan
harus tetap mengencangkan ikatan. Dan, hei, bukankah kesempurnaan persahabatan
itu tercipta ketika kita jatuh bangun berusaha mempertahankannya? ;))
“Tidak
ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanya orang-orang yang
berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.”
--Klaudie,
Refrain by Winna Efendi--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen, yuuuk ;))