![]() |
| Source: Grup OWOP |
Kalau
ada yang paling tidak disukai Alika, itu sudah pasti mengikuti kegiatan-kegiatan
konyol sebagai persyaratan untuk menjadi anggota klub peminatan di kampusnya. Seperti
yang terjadi sekarang. Demi apa pun, keinginan anggota untuk bergabung dalam
klub musik sama sekali tidak ada hubungannya dengan kegiatan uji nyali—kalau boleh
dibilang begitu—seperti ini.
“Kegiatan
ini akan melatih kalian untuk peka terhadap lingkungan. Seorang calon pemusik
harus bisa membaca isyarat dan tanda-tanda untuk menemukan inspirasi. Perlu kalian
semua ketahui, di sini kalian tidak hanya berlatih memainkan alat musik. Kita juga
akan belajar menulis lirik dan menciptakan nada. Untuk itu, kalian perlu mendengar
musik yang sesungguhnya; musik dari alam!”
Kalimat
dari panitia kegiatan itu meraung di kepala Alika. Membuatnya menggeleng keras-keras.
Ingin sekali ia menyanggah kalimat asal-asalan itu. Kenapa tidak bilang saja kalau
kakak-kakak itu sedang butuh untuk mengerjai anggota baru yang masih polos seperti
mereka? Rasanya akan lebih menyenangkan kalau mendengar mereka bicara, “Well,
yeah, kami butuh hiburan sebelum memulai program kerja baru.” Atau
seperti ini, “Oh, demi apa pun, kalian tidak boleh protes. Ini kegiatan rutin untuk
semua calon angggota baru. Dari dulu juga seperti ini.”
Alika
tidak habis pikir tradisi-tradisi macam itu masih saja dipertahankan. Ia kembali
merutuk, tapi seketika kemudian menyangkalnya. Ah, peduli amat dengan itu semua!
Toh sekarang ia ada di sini. Mengikuti kegiatan konyol itu. Dan barangkali ia
harus berhenti mengeluh, jika tidak ingin terlambat kembali ke pos awal. Ia hanya
perlu mengujungi satu pos lagi.
Oke,
satu pos lagi! Dan kegiatan konyol ini akan berakhir.
Alika
memperbaiki letak ranselnya yang rasanya kian berat. Efek lelah setelah berkelana
dari satu pos menuju pos lain yang totalnya ada 9 pos. Itu memakan waktu
seharian; melewati sungai dengan tebing-tebing yang runcing, perkebunan karet, perumahan
penduduk yang memelihara anjing-anjing liar yang seperti kesetanan melihat
orang asing, dan jalan setapak yang licin sehabis hujan.
Gadis
itu pun berlari. Tak memedulikan sepatu ketsnya yang mulai mengelupas dimakan
jalanan. Langkahnya menimbulkan suara, bergesekan dengan dedaunan yang menutupi
seluruh permukaan tanah. Melewati pepohonan berdiameter dua kali lebar buku
tulis yang tinggi-tinggi. Alika terus berlari, sembari menggumamkan kata kunci yang
menjadi petunjuk dari pos yang belum dikunjunginya.
Brukk!
Sesuatu menyentak kakinya. Gadis itu tersungkur. Ujung sepatu ketsnya
menyentuh benda keras. Rel?
Belum
sempat mulutnya menggumamkan kata-kata—atau bahkan meringis kesakitan, dalam
kelebatan mata sesuatu seperti merangsek menyapu daun telinganya. Itu suara
musik, dari sebilah biola yang entah dimainkan oleh siapa. Alika menjentikkan
jarinya. Tentu saja gadis itu kegirangan, pos terakhir kini ada dalam
jangkauannya. Ia tidak perlu lagi bersusah payah menebak lokasi pos seperti
kata kunci yang diberikan, toh tantangan terakhir yang belum dicicipinya adalah
tebak lagu. Dan alunan musik itu menjadi semacam petunjuk baginya.
Alika
memutar arah, beralih mengikuti jalur rel itu. Semakin berjalan, alunan musik
itu semakin terasa dekat. Dari balik pepohonan yang lebat, jalur rel itu
mengantarkannya pada sebuah tanah lapang. Seratus meter di hadapannya berdiri
sebuah gerbong kereta, lengkap dengan peron yang menjadi jalur lalu lintas
calon penumpang.
Gerbong
itu tampak kokoh meski hampir habis dimakan usia. Terbukti dari cat merah dan
kuningnya yang mengelupas di sana-sini. Menampakkan gurat-gurat karat. Tanah
dan dedaunan kering berhamburan di atas peron, juga tempat duduk kayu yang tak
jauh dari situ, bakal rapuh dari sekali hentakan. Stasiun kereta yang sudah
tidak terpakai, begitu pikir Alika.
Senja
telah menggantung di langit-langit. Gadis itu harus segera menyelesaikan
tantangan terakhir jika tidak ingin kehabisan waktu sampai di pos awal dan
menjadi satu-satunya yang dihukum dari 20 anggota baru. Alika mempercepat
langkahnya. Dari balik kacanya yang tertutup debu, Alika bisa mengetahui
seseorang yang tengah memainkan biola itu.
Kak
Edgar!
Ah,
Alika rasanya bisa menarik napas lega sekarang. Beruntung sekali pos yang
terakhir dikunjunginya dijaga oleh seorang kakak yang ia dengar amat baik hati
namun cukup dingin juga. Jadi ia tidak perlu berbasa-basi dan bisa fokus pada
tantangannya saja begitu selesai memberi hormat. Dan ya, lihat saja, orang yang
kini duduk di seberangnya itu bahkan tidak mengatakan apa pun dan beralih dari
satu lagu yang dimainkannya ke lagu lain—yang untungnya Alika tahu judulnya.
“Yesterday,
The Beatles!”
Ah,
memangnya siapa yang tidak tahu lagu itu?
Edgar
masih memainkan lagu itu, meski Alika sudah berhasil menebaknya. Menjelang klimaks,
lagu itu berhenti; digantikan lagu yang kini mengesankan pilu, depresif, dan—gelap,
kalau boleh dikatakan begitu. Gadis itu memutar ingatannya; memainkan nada semua
daftar lagu yang ada di playlist ponselnya.
“Day
is Done, Taps?” Pada akhirnya yang keluar dari mulutnya bukanlah lagu yang
berasal dari playlist ponselnya, melainkan yang pernah diajarkan guru
musiknya sewaktu di SMA, yang dijawabnya ragu-ragu.
Nada-nada
itu otomatis berhenti, beralih ke lagu selanjutnya. Pertanda jawaban gadis itu
benar. Baiklah, satu lagu lagi yang harus ditebaknya untuk mendapatkan satu
pita merah yang tertinggal. Alika memantapkan dirinya, bersiap menebak. Lima detik,
sepuluh detik, gadis itu terus menyimak. Lagu yang dimainkan kakak tingkatnya
itu, rasa-rasanya ia mengenalnya. Ia kembali memutar ingatannya. Kali ini pada
sederet lagu dari album Coldplay yang menjadi koleksi papanya. Ia yakin nada
yang tengah dimainkan itu adalah salah satu dari sederet yang menjadi lagu
favorit papanya.
Semenit,
gadis itu belum juga menemukannya. Edgar masih dengan santai memainkan lagu
tersebut. Semenit lewat empat puluh lima detik, gadis itu menguap. Dua menit
lebih lima detik, Alika kembali berusaha mengingat. Judul lagu itu telah di
ujung lidah, namun belum bisa dikatakannya. Matanya memejam, berusaha mengingat
sembari mengikuti irama nada itu dengan pikirannya.
Tiga
menit lewat lima... Brukk! Kepalanya jatuh ke bahu.
* * *
“ALIKA!”
Suara
itu menggema di kepalanya. Gadis itu terlonjak. Ke mana, Kak Edgar?
Alika
bangkit dari kursi penumpang dalam gerbong yang lapuk itu dan melonjak turun. Ia
melihat ke arloji di pergelangan tangannya. Ya Tuhan, waktunya hampir habis. Setengah
jam lagi adzan maghrib berkumandang. Alika mengomeli dirinya sendiri yang
bahkan bisa tertidur di saat-saa genting seperti itu. Seolah itu belum cukup,
kakak tingkatnya itu malah meninggalkannya alih-alih membangunkannya.
Alika
mengerahkan seluruh tenaganya. Diikutinya jalur rel tadi, masuk ke semak-semak,
melewati pepohonan yang menutupi cahaya langit.
“Alika!”
Gadis
itu menoleh. Itu Ro, anak laki-laki berkacamata bulat yang jago memainkan
saksofon. Calon anggota klub musik yang, berani taruhan, juga mengutuki
kegiatan-kegiatan konyol semacam ini.
“Gue
kira cuman gue yang bakal telat kayak gini. Medannya nggak asik,” aku laki-laki
itu. Ia menjajari langkah Alika, lalu mengulurkan tangan kanannya ketika berkata,
“Lewat sini!”
Ro
tahu jalur pintasnya. Itu juga karena dia sempat tersesat. Dan pada saat
genting seperti ini, ternyata ada untungnya juga.
Keduanya
pun sampai di pos awal, yang seolah tak tahu cara menyambut yang lebih menyenangkan,
ketua panitia yang garang itu meneriakinya. Yeah, baik Alika maupun Ro,
keduanya tahu bahwa mereka telah melampaui batas yang telah ditentukan.
Ketua
panitia itu menagih pita Ro. Dan itu membuat Alika ingat kalau pitanya belum
lengkap, gara-gara ia tidak berhasil menebak lagu terakhir yang membuatnya benar-benar
ketiduran. Lagi pula itu bukan sepenuhnya salahnya kalau dipikir-pikir, jadi
setelah mengatakan tidak bisa menebak dan ketiduran, ia menambahkan, “... lagi
pula, Kak Edgar nggak bangunin saya. Bahkan, seharusnya Kak Edgar mengganti
lagu itu dengan lagu lain dan tidak membiarkan saya ketiduran di gerbong itu.”
Edgar
yang mendengar namanya disebut maju mendekati rekannya, berhadapan dengan Alika
dan Ro. Ro berjengit, menatap Alika hati-hati. Badannya menegang saat tubuh
tegap Edgar berdiri di antara Alika dan Nino, ketua panitia itu.
“Gue
nggak liat ada Alika datang ke pos gue, No,” Edgar mengonfirmasi. Matanya
memicing, menatap ke arah Alika—antara bingung dan berusaha membabat habis
kebohongan yang mungkin disampaikan gadis itu.
“Jadi,
kamu salah orang, Alika. Saya nggak jaga di gerbong. Lagi pula, memangnya ada
yang semacam itu di sini?”
“Itu
...”
“Alika
...” panggil Ro. Anak laki-laki itu maju selangkah. “Aku juga bertemu Kak
Edgar. Di gerbong kereta itu.” Napasnya tersengal, lalu dengan susah payah
mengatakan, “Tapi itu bukan dia. Benar-benar bukan dia. Itu... hantu.”
* * *
#WritingChallenge #MalamNarasiOWOP #ceritanyamaksa
#ehmaafin XDD

Hebat bisa panjang gitu. Hehee
BalasHapusSering baca novel ya?
Tadinya juga mau dibikin flashfic yang cuma sehalaman, tapi ternyata kelewat panjang juga pengantarnya (?)
HapusSejauh ini sih iya :D
Bagus, mbak suka banyak novel yah 😜😜
HapusBagus, mbak suka banyak novel yah 😜😜
HapusDiih, mbaknya kalo komen satu aja geh 😜
Hapus