Pertanyaan sederhana semacam itu ternyata butuh waktu juga
untuk menjawabnya. Kita seringkali terjebak pada keluguan kata-kata yang
sebenarnya membutuhkan jauh lebih banyak penalaran terkait sesuatu yang
esensial. Dan mungkin ini sedikit tak berdasar, tapi aku akan mengikuti kata
pikiranku saja. Pikiran jelas yang paling tahu tentang apa yang paling dekat
itu, bukan?
Katanya, itu adalah ingatan. Dan ini adalah untuk ‘apa’. Memori.
Sekumpulan peristiwa yang mengendap amat jauh di dalam batas kesadaranmu; yang
kamu bahkan tidak pernah berpikir ia akan tinggal sekian lama—tanpa merasa
perlu tergantikan oleh kebaruan-kebaruan yang terus berdatangan. Tanpa perlu
merasa sesak.
Aku memanggilnya ingatan. Aku memanggilnya, ingatan—yang
selalu datang tepat waktu melebihi ketepatan matahari untuk sampai ke bumi.
Sesuatu yang menjadi kebutuhan sepanjang kita ada; yang barangkali kehadirannya
bisa jadi lebih penting dari apa pun.
Dan itu bisa jauh lebih penting lagi dari apa pun ketika ada ‘siapa’
dalam ingatan itu.
Aku tidak sedang mencoba menarik objek seorang makhluk atau
apa pun itu ketika berkaitan dengan kata ‘siapa’. Tapi sesuatu yang krusial
terkadang dimulai justru dengan kata itu. Semacam kepentingan yang tidak bisa
kita abaikan karena amat kita butuhkan. Sesuatu yang menjadikan ketiadaan dan
keadaan bisa jadi satu kesatuan yang harus ada pada saat yang sama.
Sesuatu yang jauh tertanam itu, seringkali muncul ke
permukaan. Menjadi sebentuk ingatan dalam samaran. Kita pernah dan telah sama
tahu; ingatan akan kacau, jika ia adalah soal siapa itu ada di hadapanmu.
Maka kukatakan, ketika itu soal kau, ingatan tak boleh
tentang kau. Ia menjadi sesuatu yang harus kuasingkan, yang harus kulepaskan,
dan harus kutanam jauh di tempat yang tak mungkin kujangkau untuk kedua
kalinya. Karena akan tiba masanya ia menjadi sesuatu yang halal untuk
diperjuangkan.
Jadi mulai sekarang, berhentilah. Karena soal apa pun atau
siapa pun yang paling dekat dengan pikiran akan menjadi ingatan. Dan sesuatu
yang menjadi ingatan akan lebih banyak mendominasi pikiran.
Bukankah kita tidak pernah mau menduakan-Nya?
Dengan sesuatu sekecil ingatan dalam pikiran tentang siapa
pun dan apa pun sekali pun.
Ingatan atau kenangan. Dua2nya emang sering hadir tanpa diminta. Prosa yang manis :)
BalasHapusIya, Mbak Kiki, keduanya tersimpan di alam bawah sadar :(
HapusTerima kasih, Mbak, sudah mampir :))