Pages

Sabtu, 05 Maret 2016

Yang Paling Dekat dengan Pikiran

Apa yang paling dekat dengan pikiran?

Pertanyaan sederhana semacam itu ternyata butuh waktu juga untuk menjawabnya. Kita seringkali terjebak pada keluguan kata-kata yang sebenarnya membutuhkan jauh lebih banyak penalaran terkait sesuatu yang esensial. Dan mungkin ini sedikit tak berdasar, tapi aku akan mengikuti kata pikiranku saja. Pikiran jelas yang paling tahu tentang apa yang paling dekat itu, bukan?

Katanya, itu adalah ingatan. Dan ini adalah untuk ‘apa’. Memori. Sekumpulan peristiwa yang mengendap amat jauh di dalam batas kesadaranmu; yang kamu bahkan tidak pernah berpikir ia akan tinggal sekian lama—tanpa merasa perlu tergantikan oleh kebaruan-kebaruan yang terus berdatangan. Tanpa perlu merasa sesak.

Aku memanggilnya ingatan. Aku memanggilnya, ingatan—yang selalu datang tepat waktu melebihi ketepatan matahari untuk sampai ke bumi. Sesuatu yang menjadi kebutuhan sepanjang kita ada; yang barangkali kehadirannya bisa jadi lebih penting dari apa pun.

Dan itu bisa jauh lebih penting lagi dari apa pun ketika ada ‘siapa’ dalam ingatan itu.

Aku tidak sedang mencoba menarik objek seorang makhluk atau apa pun itu ketika berkaitan dengan kata ‘siapa’. Tapi sesuatu yang krusial terkadang dimulai justru dengan kata itu. Semacam kepentingan yang tidak bisa kita abaikan karena amat kita butuhkan. Sesuatu yang menjadikan ketiadaan dan keadaan bisa jadi satu kesatuan yang harus ada pada saat yang sama.

Sesuatu yang jauh tertanam itu, seringkali muncul ke permukaan. Menjadi sebentuk ingatan dalam samaran. Kita pernah dan telah sama tahu; ingatan akan kacau, jika ia adalah soal siapa itu ada di hadapanmu.

Maka kukatakan, ketika itu soal kau, ingatan tak boleh tentang kau. Ia menjadi sesuatu yang harus kuasingkan, yang harus kulepaskan, dan harus kutanam jauh di tempat yang tak mungkin kujangkau untuk kedua kalinya. Karena akan tiba masanya ia menjadi sesuatu yang halal untuk diperjuangkan.

Jadi mulai sekarang, berhentilah. Karena soal apa pun atau siapa pun yang paling dekat dengan pikiran akan menjadi ingatan. Dan sesuatu yang menjadi ingatan akan lebih banyak mendominasi pikiran.

Bukankah kita tidak pernah mau menduakan-Nya?
Dengan sesuatu sekecil ingatan dalam pikiran tentang siapa pun dan apa pun sekali pun.


2 komentar:

  1. Ingatan atau kenangan. Dua2nya emang sering hadir tanpa diminta. Prosa yang manis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Kiki, keduanya tersimpan di alam bawah sadar :(

      Terima kasih, Mbak, sudah mampir :))

      Hapus

Komen, yuuuk ;))